
"Ayah, kenapa Bunda lama sekali?" Felix dari tadi terus merengek ingin segera ketemu sang Ibu.
"Aunty Amel bilang, jika mereka berada di rumah sakit menjenguk seseorang."
"Aku ingin ketemu Bunda!" rengek nya kembali.
Reyhan memijat pelipis, kepalanya terasa pening mendengar rengekan Felix.
"Anak loe kenapa bos?" Gilang menghampiri Reyhan ke bagian kasir ketika mendengar Felix merengek.
"Pengen ke ibunya." Rey melirik arloji, dan rupanya jam sudah menunjukan pukul 17.30
"Ayah, aku lindu Bunda."
"Felix sayang, mereka sedang di perjalanan kesini. Kita tunggu saja ok!" Reyhan berusaha membujuk Felix agar berhenti merengek.
"Benelan Bunda sedang di jalan?" tanya Felix menatap polos.
"Beneran, mereka sedang di jalan menuju kemari."
Dan akhirnya Felix pun tidak merengek kembali. Bocah berambut kriting itu terus berdoa supaya Bundanya selamat sampai tempat dimana dirinya berada. "𝘠𝘢 𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘉𝘶𝘯𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶, 𝘢𝘢𝘮𝘪𝘪𝘯." 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘦𝘭𝘪𝘹.
****
"Kita pamit dulu ya, Bu, Pak. Soalnya aku harus jemput Felix." Fira berpamitan kepada mereka.
"Iya, Nak. Sekali lagi terima kasih sudah membantu kami."
"Sama-sama, Pak. Aku senang bisa membantu kalian. Kalau gitu, kami permisi dulu."
Setelah berpamitan Fira langsung menjalankan mobilnya.
"Kita ikuti angkot itu!" perintah seseorang kepada beberapa anak buahnya.
"Bos, target sudah keluar dari rumah sakit, kami sedang mengikutinya." Lapor dia pada Jhon.
"Ikuti kemana mobil itu pergi! Setelah ada kesempatan kita habisi!" jawab Jhon di balik topi yang menutupi wajahnya karena posisi Jhon sedang menyenderkan tubuhnya di jok, matanya pun terpejam.
"Baik, Bos."
Jhon terus mengikuti mobil yang di kendarai Syafira, dia memakai topeng untuk menutupi identitas wajah aslinya.
Syafira terus melajukan mobilnya santai, sesekali matanya melirik ke spion belakang. "𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘓𝘦𝘰 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪. 𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯."
"Mel, jika nanti ada sesuatu yang terjadi, kamu jangan keluar dari mobil!" perintah Fira.
"Emangnya akan terjadi apa?" Amel menatap Fira bingung.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti. Ingat! Jangan keluar, kunci mobil dari dalam!" balas Fira tegas.
Fira menaikan kaca mobilnya sampai tertutup rapat, sedangkan pintu belakang angkot sudah di kunci pada saat keluar dari rumah sakit.
Mobil yang Fira curigai melaju kencang lalu menghalangi angkot Fira. Fira sudah mengerem mobilnya saat melihat mobil lain mendahului.
"Syafira, siapa mereka? Mau apa mereka mencegat kami?" Amel panik melihat mobil yang ada di depan.
"Kamu tunggu di sini! Ingat pesan ku tadi!" Syafira membuka pintu kemudian keluar.
"Fira! Ini bahaya!" pekik Amel. "Ya Tuhan, lindungi kami."
Fira mendekati mobil itu. Bukannya takut, jiwa perkelahian Fira meronta ingin melampiaskan pukulan pada mereka.
Saat Fira mendekati pintu masuk, orang yang ada di dalam membukanya dengan kencang sehingga membentur tubuh Fira.
Buugh....Syafira mundur beberapa langkah akibat terkena benturan pintu.
Amel membekap mulutnya, berusaha tidak menjerit. Tubuhnya sudah gemetar takut terjadi sesuatu kepada Fira.
Tanpa aba-aba pria yang tadi mendorong pintu langsung menyerang Fira. Dengan gesit dan lincah Syafira mengelak, meliuk-liukan tubuhnya menghindari setiap terjangan, pukulan, dari tiga orang pria bertubuh besar.
"Siapa yang menyuruh kalian?" bentak Fira masih berusaha melawan ketiganya.
"Kau harus mati!"
Melihat anak buahnya kewalahan Jhon keluar mengendap-endap menghampiri Amel. "Buka!" Jhon mengetuk kaca angkot.
Amel ketakutan, keringat dingin terus bercucuran membasahi dahinya. Dia melihat Fira sedang berjuang melumpuhkan lawannya, Amel lupa jika dia tidak mengunci pintu mobil sehingga memudahkan Jhon membuka.
"Turun! Ikut!" Jhon menyeret Amel ke luar, menempelkan pistol di kepala Amel.
"Ja jangan bu bunuh saya, Tuan!".
Ketika Syafira ingin meninju salah satu anak buah Jhon, Jhon berteriak. "Berhenti! Atau nyawa temanmu kami habisi."
Fira mematung di tempat, kepalan siap tonjok menggantung di udara, dia menoleh kebelakang dan matanya membola melihat Amel menjadi sandera.
"Ck, gue paling tidak suka orang lemah jadi tawanan." Gumam Fira pelan.
"Apa mau kalian sebenarnya? Lepaskan dia! Dia tidak ada hubungannya denganku!" kata Fira berusaha tenang sambil berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan Amel.
"Yang ku inginkan nyawamu! Menyerahlah! Atau kau jadi partner ranjang ku saja, cantik!"
"Cuiihhj, gue tidak sudi." bentak Fira.
"Berhenti di situ atau pistol ini akan meledak di kepalanya!"
__ADS_1
Amel sudah berderai air mata, dia putus asa, mereka hanya dua wanita yang lemah dan pastinya mereka akan kalah.
"Kau ingin nyawaku bukan? Habisi aku sekarang juga! Lepaskan dia!" Fira perlahan mendekat ke Amel.
Jhon terus memundurkan langkah kebelakang menyandera Amel. Amel menggeleng menyuruh Fira untuk tidak mendekat.
"Kalian semua! Habisi dia! Cambuk dia sampai mati!" tidak Jhon pada anak buahnya.
"Tidak! Jangan sakiti dia!" teriak Amel ketika melihat salah satu dari anak buah Jhon memukul Fira dari belakang.
Jhon memalingkan wajahnya saat mata dia dan mata Fira bertubrukan. Fira tidak melawan ketika dirinya terus di pukuli dari belakang menggunakan ikat pinggang.
Fira tersenyum tulus ke arah Jhon. "Jika nyawaku bisa membuatmu sadar aku ikhlas Bang Jhon. Aku tahu itu kamu, aku tahu jika kamu juga yang menyerang kami di kota M." Ucap Fira berusaha menahan sakit di tubuhnya.
Deg!....
"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶?"
"Stop! Jangan memukuli Syafira! Kalian jahat! Kalian biadab!" teriak Amel histeris melihat Fira di cambuk.
Jhon terdiam mendengar penuturan Fira, di saat itulah Fira menggunakan kesempatan untuk melawan.
Syafira menangkap ikat pinggang yang mereka cambukan ke tubuhnya, mengangkat kuat ikatan itu ke atas sampai orangnya pun ikut terangkat, secepat kilat dia memutar tubuh mengambil sesuatu yang ia selipkan di pinggang dan...
Dooorr... Dooorr...Dooorr..
Lalu Fira menerjang ketiga orang di belakangnya hingga mereka tersungkur. Dengan gagah Fira meniup ujung senjatanya bak penembak yang profesional. "Huuu...Tepat sasaran!"
Amel mematung di tempat seakan syaraf di tubuhnya tidak berfungsi lagi. Cairan bening pun ikut berhenti ketika suara tembakan menggema.
"Bang Leo, Bang Alex, keluar! Atraksinya sudah selesai, Bang." pekik Fira kepada seseorang yang sedang bersembunyi.
Leo dan Alex keluar dari tempat tersembunyi, mereka ternyata bersembunyi di balik pohon besar dekat jalan.
"Kau luar biasa! Tembakanmu tepat sasaran Syafira," ucap Leo bangga.
"A apa aku su sudah mati?" tanya Amel tak percaya.
Ketiga orang itu menoleh ke arah Amel. "Kamu masih hidup, Mel." pekik Fira menyadarkan Amel dari keterkejutannya.
Amel melirik ke Fira, dan Fira menggerakkan matanya ke bawah Amel. Amelpun mengikuti gerakan mata Fira, seketika matanya membola melihat seseorang tergeletak di belakangnya.
Jhon tergeletak karena Fira menembak kedua kaki Jhon dan tangan yang memegang senjata. Pria itu meringis kesakitan tak bisa bergerak ingin bangun pun terasa susah.
"Aaaaaaa, Syafira! Kau hebat! Aku seperti melihat film Hollywood di dunia nyata!" pekik Amel kegirangan setelah ia tersadar dari keterkejutannya.
"Haah!" Ketiga orang di hadapan Amel melongo tak percaya.
__ADS_1
Bersambung...