Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
EXTRA PART ( drama sebelum melahirkan )


__ADS_3

Sembilan bulan telah berlalu, kehidupan rumah tangga pasangan REYSYA sangatlah harmonis jauh dari kata pertengkaran. Ya, walaupun ada selisih pendapat namun mereka bisa menyelesaikannya tanpa harus berlarut terlalu lama.


Dalam setiap rumah tangga pasti akan ada godaan orang ketiga. Bagi mereka, orang ketiga tidak akan bisa memasuki kehidupan keduanya karena mereka selalu mengabaikan, membicarakan jika ada seseorang yang mendekati, tidak mudah terpengaruh akan gosip murahan, dan yang pasti tidak memberikan cela bagi pebinor/pelakor masuk ke dalam rumah tangga keduanya karena PEBINOR/PELAKOR MASUK DIMANA ADA KESEMPATAN DAN TUAN RUMAH MEMPERSILAKAN.


Syafira berjalan pelan menuju ranjang dimana ada Felix dan Reyhan. Tangan kanan memegang perut buncitnya dan tangan kiri memegang pinggangnya.


Dengan perlahan Fira duduk di dekat Felix. "Felix, bangun sayang! Ini sudah siang, kamu harus sekolah." Fira berusaha membangunkan anaknya dengan mengusap lembut kepala sang anak.


Bukannya bangun, Felix malah semakin malas sebab usapan Fira membuat Felix nyaman. "Bentar lagi, Bunda." Gumam Felix menarik selimut sampai menutupi bahunya.


Fira menggeleng, matanya beralih kepada sang suami yang juga tertidur bareng Felix di kamar anaknya. Fira berpindah duduk ke sisi ranjang dekat sang Suami.


"Mas, bangun! Ini sudah siang, bukannya kamu hari ini ada pertemuan dengan supplier?" Fira mengusap lembut pipi Reyhan.


Reyhan memegang tangan istrinya dan mendekap tangan itu ke dada. "Sebentar lagi, Sayang."


Anak dan Ayah ini sama-sama sulit di bangunkan. Fira harus ekstra sabar kalau sudah membangunkan kedua orang yang ia sayangi.


"Ayo dong, Mas, Felix, bangun! Ini udah siang." Fira berusaha membangunkan keduanya.


Salah satu tangannya terus mengusap perut sebab ia mulai merasakan sesuatu ketika rasa sakit muncul lalu rasa sakit itu tidak ada lagi.


"Mas, ayo bangun!" Fira mencengkram kuat tangan Rey ketika rasa sakit itu kembali lagi dan rasanya semakin kuat.


Dalam tidurnya Rey mengernyit kenapa istrinya mencengkram. Dia membuka mata untuk melihat, dan dia terkejut melihat wajah Fira kesakitan beserta buliran keringat dingin mulai membasahi area wajah.


"Sayang..! Kamu kenapa? apa ada yang sakit?!" Tentu saja Rey panik, ia segera bangun dan duduk memeriksa istrinya.


"Mas, perut aku sakit." Lirih Fira masih mencengkram kuat tangan Rey mencari kekuatan untuk bisa menahan sakitnya.


"Aduuhhh, gimana ini? aku harus apa?" Rey panik, tangannya memegang kepala saking bingung harus apa."


Felix yang mendengar Bundanya memekik kesakitan langsung bangun. Bocah itu juga ikut panik. "Bunda, Dede bayinya udah mau keluar ya?" Felix menghampiri dimana Fira duduk.


Felix mengusap perut sang Bunda penuh sayang.


"Iya, sayang. Sepertinya Dede bayi udah tidak sabar ketemu Abang."

__ADS_1


"Apa? maksudnya kamu mau melahirkan gitu?" Rey cengo, bukannya segera membawa Fira malah diam dengan wajah linglung.


"Ayah, cepetan bawa Bunda kerumah sakit!"


Fira berusaha tenang, dia mengatur napasnya.


"Sekarang?"


"Enggak, tahun depan saja. Kamu ini gimana sih, perut aku udah sakit banget malah diam cengo seperti orang linglung." Sergah Fira gemas.


"Ah, iya." Rey segera turun dari ranjang berlari ke luar kamar.


"Ayah mau kemana?" pekik Felix.


"Papa, Mama, Daddy, Mami, Mama Sofi, Syafira mau melahirkan...!" pekik Rey berteriak kencang dari atas.


Para orang tua yang kebetulan menginap di rumah Rey sontak terkejut. "Apa?! mau melahirkan?"


Mereka yang sedang berada di meja makan pun langsung berdiri berlari ke atas begitu tergesa sampai ada yang tersandung tangga dan jatuh.


"Buruan, Pah! Cucu kita mau lahir." Dinda menyeret paksa Arman.


"Sayang, ayo kita kerumah sakit!" ucap mereka kompak.


Fira pun segera berdiri di bantu para orang tua dan Felix masih setia menuntun tangan sang Bunda karena Felix tidak ingin jauh dari Bundanya.


"Reyhan, cepat bawa perlengkapan bayinya!" titah Sofi pada Rey. Dan Reypun mengambil tas yang sudah di siapkan.


Saat akan keluar kamar, tubuh mereka tidak muat sebab mereka pada ikut memapah Fira.


"Kenapa ini tidak muat sih? pintunya kekecilan atau tukang kayunya yang tidak bisa bikin pintu?" Kali ini Dika yang ngoceh.


"Tau, nih. Kita sampai tidak bisa keluar gara-gara pintu kekecilan," timpal Arman.


"Aduuhhh,, perutku makin mules, Mah." Fira mendesis menahan sakit.


"Sabar ya, Sayang. Kita sedang berusaha keluar dari kamar Felix." Sofi berusaha menenangkan.

__ADS_1


Para orang tua malah sibuk memperdebatkan masalah pintu sedangkan perut Fira semakin kencang saja.


"Bunda, mending kita segera kedepan, kelamaan nungguin mereka. Felix bantu ya Bunda." Fira mengangguk, tanpa banyak pikir dan tanpa menghiraukan mereka, Felix menuntun sang Bunda dan keduanya pergi duluan meninggalkan mereka.


"Kalian ini kenapa mendadak bodoh sih? ini kita yang secara bersamaan ingin keluar jadi pintunya tidak muat," sahut Dita kesal melihat kebodohan para lelaki.


"Ayo buruan! Kenapa malah drama. Istriku sudah kesakitan!" sergah Rey.


"Ya kitanya jangan saling dempet begini, harus ada yang mengalah dong." Ucap Sofi.


Syafira yang sudah berada di bawah tangga pun berteriak. "Kalian mau ikut kerumah sakit tidak?"


Para orang tua dan Rey terdiam, mereka saling pandang dan melihat dimana tadi Fira berada. "Syafira....!"


Mereka semua malah saling berebut ingin lebih dulu keluar alhasil mereka malah terjatuh saling bertumpuk.


"Aduuuuuh, tubuh ku tertindih badak." Pekik Dika dan Arman yang kebetulan jatuh paling bawah.


" Lama," Rey yang kebetulan tidak jatuh segera berlari menyusul istrinya.


"Reyhan pake baju dan celanamu dulu! Masa ke rumah sakit pakai kolor," pekik Dinda bangkit.


Rey yang baru sampai ujung tangga melihat penampilannya.


Rey menepuk jidat, "Aduuuh... gustiiiiii... kok gue sampai lupa sih," dan langsung saja Rey balik lagi mengambil baju dan celana di kamar.


Para orang tua sudah berdiri, sebagian dari mereka menyusul Fira ke bawah.


"Reyhan, buruan..!!" teriak Sofi.


"Iya, tunggu..!! Di baju dulu," dengan tergesa Rey mengenakan baju sambil berlari.


"Reyhan bajumu kebalik..!" tegur semua orang saat Rey sudah tiba di dekat mobil.


Rey meneliti pakaiannya, dan ternyata baju serta celananya kebalik, dia menepuk jidat kembali. "Alaaamaakkk, bodohnya aku...!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2