Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Cacicang


__ADS_3

Bocah kecil bermata bulat dan berambut keriting sedang bermain kelinci di gazebo atas bareng nenek-neneknya. Kaki kecilnya tidak sengaja kesandung kaki dirinya sendiri sampai jatuh tengkurap. "π˜‰π˜Άπ˜―π˜₯𝘒." Tiba-tiba saja Felix teringat kepada Bundanya.


Felix berdiri langsung berlari masuk menghampiri Dita dan Sofi yang sedang mengobrol "Oma, Uti, aku mau ke Bunda." Felix merengek ingin bertemu Fira. Padahal bocah itu sedang asyik bermain dengan kelinci kesayangan nya di rumah Dika bareng Sofi.


"Sebentar lagi juga Bunda mu pasti pulang, Nak. Kita tunggu di sini saja ya!" kata Dita.


"Tidak mau! Aku mau ketemu Bunda sekalang juga." Rengek Felix menarik tangan kedua nenek nya.


"Sayang, Bunda sedang bekerja. Kita tunggu saja ya." Sofi juga ikut membujuk.


"Aku mau Bunda sekalang!" pekik Felix tegas. Bocah itu terus merengek minta ketemu Bundanya. Mata bulatnya sudah berkaca-kaca mungkin sebentar lagi akan menangis.


"Gimana ini? tidak biasanya Felix seperti ini?" Sofi bingung juga jadinya. Dia tidak pernah tahu kalau kedua batin ibu dan anak itu sudah saling menyatu satu sama lain. Jiwa Felix terasa terpanggil jikalau sang Bunda sedang dalam kesulitan. Felix akan terus merengek minta bertemu bundanya sampai dia melihat secara langsung keadaan sang Ibu.


"Kita telpon saja Syafira nya!" usul Dita.


Sofi pun menelpon Fira. Sudah beberapa kali memanggil tidak di jawab juga.


"Bagaimana?" tanya Dita.


"Belum di angkat juga." Kata Sofi masih berusaha menghubungi Fira.


Sofi menjadi khawatir, Felix masih saja merengek.


"Coba telpon Amel! Siapa tahu lagi bersama Amel dan Reyhan," usul Dita.


Sofipun mengikuti usul Dita.


****


"Sayang..." Reyhan langsung saja memeluk sang istri dan mengecup seluruh wajah istrinya sebagai tanda syukur istrinya selamat.


"Mas, tubuhku basah kuyup."


"Aku tidak peduli, yang ku pikirkan hanya kamu. Kenapa kamu nekat..." Belum juga selesai, Fira sudah menyela ucapan Reyhan.


"Di tunda dulu nanya nya! Aku harus menolong dulu Bela." Fira ingin menghubungi nomor darurat pelayanan medis. Ia lupa kalau handphone nya tertinggal di ruangan kerjanya.


"Mel, tolong hubungi pelayanan medis untuk meminta bantuan! Handphone ku tertinggal di ruangan kerjaku." titah Fira pada Amel.

__ADS_1


"Iya." Amel pun segera menghubunginya.


Syafira meletakan telinganya pada mulut lalu ke hidung Bela. Dia memastikan apakah ada hembusan napas yang keluar, dan matanya memperhatikan dada Bela apakah masih bergerak atau tidak.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Rey.


Fira menggelengkan kepalanya. Syafira kembali melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan memposisikan dua telapak tangan saling menindih. Memastikan tidak mengenai tulang rusuk lalu menekan dada pada hitungan 100-120 tekanan per/menit atau lebih. Dia memeriksa apakah Bela sudah mulai bernafas kembali atau tidak.


Setelah beberapa kali mencoba, Bela terbatuk mengeluarkan air. Tubuh Bela masih lemah, namun ia bisa melihat bayangan orang yang menolongnya. "Syafira!" lirih Bela lemah.


"Kamu jangan banyak bicara dan jangan banyak tanya!" kata Fira tegas.


****


Rumah Sakit


Fira, Rey, dan Amel sedang menunggu di ruang pemeriksaan. Mereka menunggu Dokter yang menangani Bela keluar. Tak berselang lama, sang Dokter keluar dan Fira langsung menghampiri nya.


"Bagaimana keadaannya dok? lalu janin yang di kandungnya juga bagaimana?" tanya Fira serius.


"Alhamdulillah keadaan keduanya baik-baik saja. Semuanya atas izin Allah. Meski nona Bela mengalami pemaksaan dalam hubungan badan, janin di dalam kandungannya sangat kuat. Namun saya sarankan agar nona Bela harus lebih mengurangi kegiatan di atas ranjang. Sebab kemungkinan besar jika terus-menerus akan mengakibatkan keguguran mengingat usia kandungannya baru 1 bulan." Jelas sang dokter wanita.


"Sama-sama, kalau gitu saya permisi dulu." Izin dokter dan di angguki oleh mereka.


"Kenapa kamu membahayakan nyawamu demi dia? kamu tahu sendiri Bela sudah jahat bahkan sering mencemooh dan menghinamu, tapi kenapa kamu masih baik padanya?" Dari tadi Reyhan penasaran ingin menanyakan nya, dan baru sekarang waktu yang tepat menanyakan semuanya.


Fira tersenyum tulus penuh ketenangan. "Mas, aku tidak akan membiarkan orang yang ada di hadapanku dalam bahaya meski orang tersebut telah jahat padaku. Aku tipekal orang yang akan melakukan apapun demi kebaikan dan akan menjadi jahat kepada mereka yang tidak bisa di beri kesempatan sekalipun itu saudara ku sendiri. Lagian Tuhan saja maha pemaaf, masa kita sebagai umatnya tidak bisa memaafkan. Maka dari itu aku memaafkan kesalahan Bela termasuk mereka yang sudah berbuat jahat padaku. Tapi, kalau sampai mereka mengulanginya lagi jangan harap aku memberikan ampun kepada nya."


"Lembut namun tegas," sahut Amel.


Terdengar panggilan masuk ke handphone Amel dan diapun mengangkatnya.


"Halo."


"Mel, apa Syafira bersama kamu? Felix merengek bahkan mau menangis ingin bertemu Bundanya." kata Sofi.


Amel menoleh ke Fira dan Rey secara bergantian "Aku sedang di rumah sakit. Syafira..." belum juga selesai, panggilannya sudah mati. "Halo, halo." Amel melihat hp nya. "Yah, mati."


"Siapa?" tanya Rey dan Fira secara bersamaan.

__ADS_1


"Bibi Sofi, hp aku nya malah mati abis daya."


"Oh, aku kedalam dulu mau melihat keadaan Bela. Kamu mau ikut masuk gak, Mas?"


"Kamu saja dulu, Mas mau beli baju buat kamu. Nanti kamu kedinginan dan masuk angin kalau pakai baju yang itu."


"Tidak perlu repot, Mas! Kan ada kamu yang ngangetin aku dan ngerokin aku." Masih sempatnya Fira ngegombal di situasi seserius ini.


Reyhan tersenyum, wajahnya memerah, di goda begitu saja sudah banyak pikiran mesum masuk ke kepalanya. "Nanti di rumah ku bikin hangat dan nikmat." Rey mengedip-ngedikan kedua matanya membuat Amel salah paham.


Amel melongo melihat kedua Kakanya. Dia tidak mengerti. "Abang kenapa? cacicang ya?" tanya Amel kepo.


"Tidak, Abang tidak cacingan. Emangnya kenapa?" tanya Rey balik bingung.


"Itu mata Abang kedip-kedip kayak orang cacicang. Kalau cacicang aku belikan obat cacing ya?" ucap Amel polos.


"Iiisshh, dasar telmi." Rey mendelik jengah kemudian menjitak kepada adiknya.


"Awww, kenapa malah di jitak sih?" pekik Amel kesal mengusap bagian yang di jitak Abangnya.


"Biar otakmu cepak terkoneksi."


"Ini juga sudah terkoneksi, makanya aku berinisiatif nawarin buat membelikan Abang obat cacing."


Fira menghelakan nafasnya. "π˜’π˜¦π˜£π˜ͺ𝘒𝘴𝘒𝘒𝘯," dia memutuskan meninggalkan kedua manusia yang sedang berdebat.


"Amelia Putri Al-Hussein.... Orang kedip-kedip mata bukan berati cacicang. Tidak semuanya seperti itu bocah." Rey menggeram kesal.


"Reyhan Al-Hussein... Di mana-mana kalau orang kedip-kedip seperti tadi itu tandanya cacingan." Balas Amel kekeh.


"Abang bukan cacingan, melainkan sedang mengerlingkan mata menggoda Kaka Iparmu, bukan begitu, Sayang?" Amel menoleh di mana Syafira berada. "Loh!! kemana istriku?" Rey celingukan.


"Udah masuk." Celetuk Amel memperlihatkan wajah polosnya.


"Kenapa tidak bilang Ameeeel...." kesal Rey menjitak kembali kepala sang adik.


"Abaaaang... Dasar Abang durhaka!" pekik Amel ikut geram.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2