
Deg...!
"Tidak. Saya benar-benar ingin bertanggungjawab dan karena memang saya mencintai adikmu. Apa yang ku lakukan sekarang tidak ada sangkut pautnya dengan penyakitku ini." Nicho mengakui perasaannya.
"Semenjak saat itu, saya tidak bisa melupakannya. Ada rasa tidak biasa yang ku rasakan saat pertama kali melihat wajahnya. Bayangan dia seakan terus berputar, dan semakin hari bahkan sampai sekarang perasaan itu masih ada. Izinkan saya menikahinya." Nicho benar-benar serius dalam ucapannya.
Sofi termangu, kata mencintai dan impoten membuat ia berpikir dan bertanya-tanya. Felix turun dari pangkuan Reyhan menghampiri Sofi lalu tiba-tiba memegang wajah Sofi dan menghapus air matanya.
"Oma, percayalah, pria itu akan membahagiakanmu, dia sudah menyesali segalanya. Felix bisa melihat dia juga sama menderitanya seperti Oma. Felix mohon, lupakanlah kenangan buruk dan buatlah kenangan indah bersama kami semua!" Felix berubah serius seperti orang dewasa di saat seperti ini dan akan kembali menjadi anak-anak pada umumnya di saat situasi seperti biasa.
"Yang Felix katakan benar. Bangunlah om!" Fira membantu Nicho berdiri dari tumpuannya.
"Tapi..." Nicho seolah terhipnotis dan malah tidak melanjutkan ucapannya saat Fira menatap serius mata Nicho lalu ia menuruti Fira.
"Duduklah, Om! Pah, aku mohon!" Fira menatap keduanya silih berganti. Dan anehnya tatapan Fira mampu membuat keduanya menuruti setiap perkataan Syafira.
Semua orangpun sudah duduk lalu Fira kembali melanjutkan ucapan dia.
"Semua yang terjadi dulu lupakan! Lupakan bukan berarti tidak mengingatnya melainkan melupakan rasa dendam, rasa kecewa, rasa sakit hati, dan amarah yang ada di diri kita. Apa yang terjadi dulu adalah sebuah pelajaran bagi kita menjadi dewasa. Dewasa dalam mengambil tindakan, dewasa dalam pola pikir, dewasa dalam menyelesaikan masalah, dan dewasa dalam segalanya."
"Apa yang di lakukan Om Nicho emang salah. Namun, bukan berarti kita tidak memaafkan kesalahannya juga. Bukan kah kita hanya manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa dan salah? lalu kenapa kita tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki kesalahannya?"
__ADS_1
"Aku tahu apa yang di hadapi Mama Sofi tidaklah semudah seperti kita berbicara. Butuh perjuangan, butuh kekuatan, butuh mental kuat dalam menghadapi semua yang terjadi kepadanya sampai dimana Mama Sofi bisa seperti sekarang ini. Semua itu memang tidak mudah."
"Tapi, di sini, kita semua sudah sama-sama dewasa, sudah menelan asam, manis, pahitnya sebuah kehidupan. Maka dari itu, aku harap kalian mampu berpikir dewasa bukan hanya menuruti hawa nafsu dan amarah semata." Fira memperhatikan semuanya, dia melihat silih berganti wajah Arman, Nicho dan Sofi.
"Saya sudah berpikir dari dulu dan sudah memutuskannya bahwa saya akan menikahi Sofi," ucap Nicho serius.
Tidak ada yang menyela ucapan Nicho dan Firapun kembali bertanya, "Bagaimana dengan Mama? apa Mama memaafkan Om Nicho dan bersedia menerima pertanggungjawaban dari Om Nicho? tolong jawab dengan jujur sesuai kata hati Mama!"
Sofi diam menunduk, pikiran dan hatinya sedang berperang menentukan segalanya. Hati ingin memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, namun pikiran terus terbayang di saat Nicho memaksanya.
Dia perlahan menarik nafas dan membuangnya. "Kalau boleh jujur, Mama masih trauma atas apa yang telah dia lakukan pada Mama. Tapi, bukan berarti Mama tidak memaafkannya. Mama sudah memaafkan dia sejak ada kamu hadir di kehidupan Mama. Dan untuk pertanggungjawaban dia terhadap apa yang terjadi, Mama rasa itu tidak perlu!"
Fira dan Felix menatap serius Sofi, keduanya berkata, "Bukan tidak perlu, melainkan trauma akan pemaksaan yang Om Nicho lakukan sehingga Mama takut menerima dia." Ucap keduanya kompak dan itu sukses membuat semua orang melongo.
"Luar biasa, mereka bisa membaca pikiran orang," batin Amel takjub kepada keduanya.
Arman membuang nafasnya secara kasar, dia menyenderkan punggungnya ke kursi. Arman tidak bisa mencegah jika Sofi sendiri sudah memaafkannya.
"Inti dari mengangguk Mama adalah, beliau mau menerima pertanggungjawaban dari Om Nicho namun masih takut atas apa yang dulu pernah terjadi. Mama trauma akan pelecehan yang om Nicho lakukan kepadanya." Ucap Fira mengambil isi dari apa yang Sofi rasakan.
Reyhan terharu dan tentunya bangga bisa mendapatkan Istri seperti istrinya. Dia sampai tidak bisa berkata saking terpesona akan tindakan sang istri yang begitu dewasa dan bijaksana. Tak terasa satu tetes air mata bahagia menetes di pipinya mensyukuri segalanya karena ia tidak salah memilih pasangan.
__ADS_1
Rey segera menghapusnya agar tidak ada yang tahu jika ia menangis. Perkiraan Rey salah, Felix melihatnya karena kebetulan ia sedang memperhatikan setiap wajah orang-orang di sekitarnya.
"Ck, Ayah lebay. Sudah tua kok nangis, cengeng." Ledek Felix mencairkan suasana.
Rey gelagapan, "Ehhh, siapa bilang Ayah nangis? Mata Ayah kelilipan kemasukan debu." Reyhan mengelak dan mengerjap-ngerjapkan matanya
"Ayah, aku dan Bunda tidak bisa di bohongi loh!" Kata Felix serius lagi. Rey cengengesan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi keputusannya apa?" tanya Karin, sedangkan Nicho memperhatikan bocah kecil yang mencuri perhatiannya. Dia seperti melihat Nicho kecil di dalam diri Felix.
"Mah," ucap Fira meminta Mamanya yang menjawab.
"Baiklah, aku akan menerima dia. Mungkin dengan bersamanya trauma ku perlahan bisa sembuh." Sofi pun memutuskan untuk memulai hidup baru dan berharap bisa menghilangkan rasa trauma itu.
Trauma adalah salah satu kejadian ketika seseorang mengalami peristiwa yang membuatnya sulit untuk melupakannya. Kejadian yang membuat trauma bisa sangat menyedihkan, menakutkan atau bahkan mengancam keamanan. Salah satunya yaitu trauma pelecehan seksual.
Korban pelecehan seksual sering kali menyalahkan diri sendiri ketika kejadian tersebut terjadi. Entah itu menyalahkan diri sendiri karena memakai rok mini atau baju dengan belahan dada yang rendah.
Karena sebenarnya, ada korban lain yang mengalami perlakuan yang serupa meskipun sedang memakai pakaian yang sangat tertutup. Oleh karena itu, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ingat bahwa apa yang terjadi bukan sepenuhnya salah Anda dan Anda bukan penyebab mengapa orang lain tidak bisa mengendalikan dirinya.
Dalam hal ini, pelaku pelecehan seksuallah yang sebenarnya salah karena mereka tak bisa mengendalikan dirinya dengan melecehkan Anda terlepas apapun alasannya.
__ADS_1
Setiap orang memiliki cara dan pemikiran sendiri untuk mengatasi rasa trauma yang pernah di alaminya begitupun dengan yang Sofi lakukan. Mungkin dengan menerima Nicho bisa membantu menghilangkan rasa trauma yang ada dalam dirinya.
Bersambung....