Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Menikah?!


__ADS_3

Kediaman Arman


Suasana rumah terasa hening seperti kuburan. Para penghuninya diam seribu bahasa tak berkata. Mereka terlanjur kecewa kepada sang anak yang sudah berbuat sesuatu di luar dugaan mereka. Saras sudah menceritakan semuanya kepada Arman dan juga Dinda. Saras juga memberikan bukti akurat menurut dirinya.


Reyhan tiba di pekarangan rumah, wajahnya terus tersenyum cerah seolah tak ada beban di benaknya.


"Darimana saja kamu?" sergah Saras.


Reyhan berhenti. "Main." Jawab Rey simpel dan kembali masuk melewati keberadaan mereka.


"Main perempuan maksudmu?" sahut Saras kembali.


Rey kembali berhenti. "Aku tidak pernah bermain dengan perempuan manapun."


"Lalu ini apa, hah? kau bilang tidak pernah bermain dengan perempuan tapi kau berhasil membuat perempuan mengandung anakmu!" pekik Saras melemparkan amplop coklat ke bagian tubuh Rey berisi foto-fotonya.


Rey mengambil dan melihatnya. Mata dia melotot sempurna, dia tidak mengerti kenapa dirinya bisa bersama Bela. Reyhan menatap silih berganti ketiga orang dewasa di hadapannya.


"Ini bukan aku! Ada yang menfitnahku! Percayalah, aku tidak seperti itu, Pah, Mah."


"Jelas-jelas itu kamu, Reyhan. Kamu mau menyangkal seribu kali pun tidak akan bisa karena itu buktinya nyata." Bentak Dinda meneteskan air mata kecewa.


"Aku bilang itu bukan aku! Kenapa kalian tidak mempercayaiku yang jelas-jelas keluarga kandung kalian? kenapa kalian malah percaya pada mereka?" pekik Rey tidak terima di tuduh seperti itu. "Kalian tahu bukan aku seperti apa? dan kalian juga tahu bahwa aku tidak seperti itu."


"Kau berbohong, Reyhan. Orang bisa saja berubah setelah dia dewasa, dan kau sudah menyentuhnya akibat mabuk," tuding Saras.


"Omong kosong apa lagi yang nenek ucapkan? nenek sudah termakan rayuan harta dari Bela." Reyhan semakin kesal tak ada satupun dari mereka mempercayainya.


"Pokonya kamu haru menikahi Bela sebelum janinnya membesar! Nenek lebih percaya mereka daripada kamu! Lusa kamu akan menikah dengannya! Tidak ada penolakan!" Saras sudah bulat untuk menikahkan Rey lusa.


"Apa-apaan ini? aku yang berhak menentukan siapa yang akan kunikahi bukan Nenek! Lagian aku sudah menyentuh Syafira dan aku sudah berjanji akan menikahinya." Pekik Reyhan marah.


"Reyhan...!" plak.. "Anak kurang ajar, kamu sudah berani menyentuh Fira setelah menghamili Bela? apa ini sifatmu yang asli?" Dinda marah dan kecewa anaknya seperti itu.


Rey mengkerutkan alisnya. "𝘎𝘶𝘦 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘪𝘣𝘪𝘳 𝘍𝘪𝘳𝘢, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩? 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘳 𝘨𝘶𝘦? 𝘴𝘴𝘴𝘵𝘵𝘩𝘩, 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪." 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯.


"Lusa kamu harus menikah dengan Bela!" ucap Saras final.


"Terserah kalian! Aku akan buktikan jika itu bukan aku. Jangan pernah menyesal karena sudah menuduhku Nenek." Reyhan lebih marah pada sang Nenek daripada orang tuanya karena Rey yakin Bela sudah menjanjikan sesuatu pada Saras sampai Neneknya kekeh.


"Reyhan mau kemana lagi kamu?" pekik Saras.


"Tidur di rumah Syafira." Jawab Rey asal.


"Bang," panggil Amel ketika berpas-pasan dengan Rey di pintu keluar.


"Abang mau pergi mencari sesuatu."

__ADS_1


"Amel, cegah abangmu untuk tidak keluar rumah lagi!" pekik Saras dari dalam.


Sontak saja Reyhan langsung segera berlari menyalakan motor dan meluncur kesuatu tempat.


"Mana abangmu?"


"Sudah pergi, Nek." Jawab Amel santai.


"Kenapa tidak di cegah! Dia akan pergi kerumah janda miskin itu. Seharusnya Abangmu diam dirumah mempersiapkan segalanya karena lusa akan menikah dengan Bela." Sergah Saras kesal.


"Biarkan saja dia pergi kalau gitu." Amel nyelonong masuk saja, dia males apabila sudah mengenai Bela.


****


Bel apartemen terus berbunyi, orang yang berada di dalam pun membuka untuk melihat siapa gerangan yang berkunjung.


"Reyhan."


"Bi, aku numpang tidur di sini ya?" kata Rey memohon.


"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Sofi.


Rey masuk langsung saja membaringkan tubuhnya di sofa.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sofi setelah duduk.


"Ibu memang keras kepala, dia selalu ingin setiap tujuannya tercapai dan terpenuhi. Dia juga akan berusaha apapun untuk bisa menjaga nama baik dirinya saja. Walau harus mengusirpun dia lakukan itu." Sofi mengingat kembali kejadian dulu.


"Bi, apa Bibi dan Tante Dita sudah menemukan yang kalian cari? aku tidak mau sampai hal itu gagal dan malah membuatku menikah dengan Bela." Reyhan bangun lalu menatap serius wanita paruh baya yang masih terlihat muda.


"Sudah, tinggal kamu ikuti saja permintaan nenekmu!" balas Saras.


"Kenapa harus seperti itu sih? aku males." Rey kesal mengacak rambutnya prustasi.


"Itu waktu yang tepat untuk memperlihatkan siapa Bela yang sebenarnya di hadapan mereka. Agar Ibu juga tahu siapa Bela sebenarnya."


"Tidak ada cara lain? aku tidak mau menyakiti Syafira!" lirih Rey pilu.


"Tidak ada, ini momen yang paling pas." Jawab Sofi yakin.


Rey membuang nafas lesu. "Bi, hmmmm, bolehkah aku menikahi Syafira hari ini juga?" tanya Rey secara tiba-tiba.


Sofi mengernyit. "Jangan konyol kamu, menikah bukan permainan, Rey."


"Aku serius, aku akan menikahi Fira dulu sebelum lusa. Yang penting halal Dulu, Bi." pinta Rey kekeh dengan keinginannya.


"Tidak, Bibi tidak mengijinkan mu, nanti orang tuamu marah."

__ADS_1


"Aku tidak peduli, hari ini juga aku akan membawa Fira kawin lari. Mau mereka marah silahkan, mau tidak juga terserah. Aku akan melakukan apapun untuk bersama Fira!" ucapnya yakin kemudian berdiri meninggalkan apartemen Sofi.


"Ck, anak muda itu." Tapi, Sofi ikut senang melihat kesungguhan keponakannya walau dengan cara yang salah. Dia ingin tahu Rey beneran akan bertindak sesuai keinginannya atau tidak.


****


Reyhan sudah tiba di Apartemen Fira. Dia terus memencet bel, dan tak lama kemudian pintu terbuka.


"Hai, Jayang." Sapa Rey tersenyum manis.


Fira memperhatikan penampilan Reyhan. "Kamu belum pulang juga? ini udah jam 7 malam loh." Fira bingung.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" Rey nyelonong masuk melewati pemiliknya. Reyhan tahu apartemen Fira dari Sofi. "Felix sudah bobo?" tanya Rey karena tidak melihat Felix.


"Dia menginap bersama paman Doni. Felix tidak mau pulang, katanya banyak kelinci disana." Jelas Fira.


"Sayang," Rey mengambil kedua tangan Fira. "Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Rey serius memastikan dulu Syafira.


"Aku mau," jawabnya malu lalu menunduk. Rey lega, sekarang dia yakin untuk melakukannya.


"Ikut aku!" ajak Rey menggandeng tangan Fira.


"Kemana?"


"Ikut saja, nanti kamu juga tahu."


Fira pasrah lelaki yang menggandengnya membawa dia.


****


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘙𝘦𝘺 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺?"


Rey terus menggandeng Fira memasuki rumah Dika. Kemudian mereka masuk setelah di persilahkan oleh ART untuk duduk.


"Rey, tumben malam-malam main kemari?" Dika keluar dari kamar saat mendengar bel berbunyi.


"Om," Rey menyalami Dika begitupun Fira.


"Ada apa? sepertinya penting sekali."


"Aku perlu bantuan Om Dika untuk menjadi saksi di pernikahan kami."


"Menikah?!" Dika Dan Fira terkejut.


"Iya, aku mau menikahi Fira hari ini juga." Kata Rey yakin.


"Hari ini?!" keduanya semakin terkejut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2