Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Penyerahan Warisan


__ADS_3

Tidak ada yang bersuara ketika semuanya sedang makan. Bukan karena tidak mau bicara, melainkan karena adanya Saras yang ikut bergabung makan malam bersama di rumah Dika. Hanya suara dentingan sendok dan piring mengiringi setiap suapan demi suapan.


Dita mengajak Rey dan Fira makan malam di rumahnya mengingat jika Fira sudah lama tidak menginap di rumah Dika. Firapun menyetujui ajakan sang Mami setelah mendapatkan izin dari suaminya.


"Fir, ada yang ingin Mami katakan sama kamu dan Reyhan. Mami tunggu kalian di ruang keluarga!" ucap Dita setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.


Firapun mengangguk. Saras sendiri bingung melihat tingkah Dita tidak seperti biasanya. "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘵𝘢 𝘨𝘪𝘭𝘢? 𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢.


Dika dan istrinya lebih dulu meninggalkan meja makan. Tinggal keluarga Arman yang belum selesai.


"Bunda, Uti akan membelikan walisan yang banyak buat Bunda." Celetuk Felix di saat mulut masih penuh dengan makanan.


Fira mengernyit bingung. "Tahu dari mana kalau Uti akan memberikan warisan?" tanya Fira.


"Tahu saja." Felix menjawab cuek karena fokusnya masih pada makanan ayam krispi buatan Syafira.


"Ck, sok tahu," cebik Saras sangat pelan.


"Aku tahu Nenek lampil eh salah Nenek buyut kalena aku bisa membaca pikiran olang telmasuk pikilan Nenek buyut." Jawab Felix santai.


Fira diam memperhatikan bagaimana anaknya bisa mengetahui pikiran Saras. Begitupun dengan Arman, Dinda, Sofi, Amel, dan juga Reyhan yang ingin tahu apa ucapan Felix.


"Sok tahu, mana mungkin bocah sepertimu bisa membaca pikiran orang, tidak mungkin!" balas Saras.


"Ya sudah kalau tidak pelcaya mah. Lagian aku sama Bunda tahu lencana Nenek lampil." Sahut Felix kemudian turun dari kursi. Sebelum pergi dia menghampiri Saras dan berkata, "Anda sedang memikilkan uang 15 milyal." Lirih Felix pelan menatap polos Saras.


Saras terkejut melototkan matanya. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶?"


"Aku hanya belcanda Nenek buyut. Mana mungkin aku bisa membaca pikiran olang." Balas Felix terkekeh menutup mulutnya menggunakan tangan mungilnya. Saraspun bernapas lega.


Fira menatap Saras dengan tatapan sulit di artikan dan sudut bibirnya sedikit terangkat tersenyum tipis.

__ADS_1


****


Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Mereka menatap serius Dita yang sedang membuka lembar surat-surat.


"Berhubung kamu sudah berumur lebih dari dua puluh tahun dan kamu sudah menikah, maka dari itu Mami menyerahkan surat wasiat yang kakek sediakan untukmu." Dita menyodorkan suratnya di atas meja. "Ini adalah warisan bahwa harta milik kakekmu sudah sah menjadi milikmu."


"Warisan?!" celetuk Saras yang langsung terkejut mendengar kata warisan.


Dita melirik ke arah Saras kemudian melanjutkan lagi ucapannya. "Di situ tertulis jika perusahaan berlian AS JEWELRY terbesar se Asia menjadi milikmu setelah kamu berumur 20 tahun dan sudah menikah. Dan sekarang kamu berhak memegang kendali perusahaan itu bersama suamimu."


"Kenapa harus aku? kan Mami anaknya kakek." Tanya Fira enggan menerima.


"Hanya kamu satu-satunya penerus keluarga Albern Alexander. Mami juga mendapatkan warisan namun bagian Mami berhasil di curi oleh Mahendra." Dita melirik ke Saras dan Suaminya secara berganti ingin melihat wajah keduanya.


Saras cengo memperlihatkan wajah terkejut sedangkan wajah Dika murung.


"Jadi janda ehh Syafira bukan orang miskin?" ucap Saras pelan namun masih bisa di dengar.


Geplakan di paha terdengar di telinga semuanya. "Aawww, geplakanmu sungguh terasa sakit!" pekik Rey terkejut.


"Ucapanmu itu tidak bermutu," ujar Fira tidak habis pikir mengenai suaminya itu.


"Bibirnya jangan manyun seperti itu, Sayang. Yang ada aku ingin menyesapnya." Balas Reyhan gemas dan tentunya kecanduan Fira.


"Maaas...." Fira melototkan matanya, ia merasa malu akan suaminya yang suka ceplas-ceplos.


Para orang tua tersenyum melihatnya. Mereka mendoakan keduanya agar bahagia dan langgeng sampai akhir hayat keduanya.


Amel sendiri mencebik kesal melihat tingkah sang Abang. "Yang punya ayang pamer teruuuuussss, sampai lupa ada jomblo di sini. Di kira patung kali sampai harus bermesraan di depanku." Ucap Amel menyindir keras sang Abang.


Rey mendelik iapun memiliki ide mengerjai adiknya. Reyhan tiba-tiba saja memeluk Fira dan mengecupnya di hadapan semua orang.

__ADS_1


"Iya dong, Mel. Tidak kayak kamu hanya di PHP-in orang," pamer Rey.


"Ck, Abang durhaka. Awas ya, aku akan membalas Abang kalau aku udah punya Ayang yang halal." Sergah Amel kesal.


"Sudah-sudah, kalian ini selalu saja ribut. Kita lagi dirumah orang, jaga kesopanan kalian!" sela Arman melerai perang kata adik dan kaka.


"Tidak apa, kami justru senang karena rumah kami jadi terasa ramai." Balas Dika tidak keberatan.


"Sekarang kamu yang akan memegang kendali perusahaan itu. Mami percaya sama kamu dan juga Suamimu bahwa kalian mampu mengelolanya." Lanjut Dita membahas masalah perusahaan.


"Kami merasa tidak pantas mendapatkan ini semua, Mi." Tolak Reyhan secara halus.


"Benar, Mi. Bagaimana kalau perusahaan kakek malah bangkrut ketika kita kelola?" timpal Fira.


"Sudah ambil saja! Warisan gede gitu sayang kalau tidak di ambil," celetuk Saras tergiur.


"Bunda dan Ayah tidak sepelti Nenek buyut yang gila halta," sahut Felix yang dari tadi anteng memainkan robot Ultraman kesayangan dia namun telinga mendengarkan dengan seksama.


"Eh bocah, dari tadi kau menimpali ucapanku terus apa kau tidak di ajarkan sopan santun? dasar anak tidak jelas, dasar anak haram," bentak Saras kesal. Saras belum tahu mengenai siapa Felix.


Fira yang mendengar Felix di katai anak haram menjadi geram. "Anak yang Anda katai anak haram nyatanya adalah cucu kandung Mama Sofi, anak dari anaknya mama Sofi sekaligus cicit kandung Anda, Nyonya. Anda selalu mengatai anakku anak haram lalu apa bedanya dengan Anda yang juga terlahir tanpa seorang ayah?" telak Fira sedikit membuka aib Saras dulu.


"Apa maksudmu bilang seperti itu?" Saras terkejut sekaligus panik takut rahasia dulu di ketahui banyak orang.


"Baiklah akan ku katakan siapa dirimu supaya kau sadar dan mengaca pada dirimu sendiri." Fira menatap serius wajah Saras.


"Kau Nyonya Saraswati anak dari seorang wanita malam yang lahir tanpa seorang Ayah. Kehidupanmu juga tidak jauh dari ibumu yang hidup di dunia malam. Kau berhasil menjerat seorang saudagar kaya bernama Al-Hussein orang terkaya di kotanya sampai melahirkan seorang Arman Al-Hussein. Jika di bandingan dengan Mama Sofi yang kau usir akibat hamil di luar nikah, hidupmu jauh lebih hina karena Anda seorang wanita malam yang mencari uang demi mencukupi kehidupan Anda yang glamor." Ucap Fira tegas menekankan setiap kata supaya Saras sadar siapa dirinya.


Duaaarrrr... Semua orang terkejut akan penuturan Fira. Mereka tidak ada yang tahu satupun mengenai siapa Saras yang sebenarnya kecuali Dita. Saras sudah diam mematung karena Fira membuka siapa dirinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2