Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Jambret...!


__ADS_3

Mahardika menoleh keasal suara.


Deg!...Dika tertegun ketika melihat wajah Syafira.


Batin Dika berkata, "Mama! Kenapa wajahnya begitu mirip dengan mertuaku?"


"Om, siapa?" Felix yang ada ada di pangkuan Dita bertanya, mata bulatnya terus menatap Dika.


"Saya suaminya." Dika menatap Felix, dia kembali termangu menatap bocah berambut kriwil dengan mata bulat, bulu mata lentik dan hidung mungil mancung. "Wajahnya seperti?"


Fira yang mendengarnya merasa lega, akhirnya dia bertemu salah satu keluarga Dita.


"Kita pulang, ya!" Mahardika terus membujuk istrinya pulang, tapi Dita sendiri tidak mau.


"Gak mau, mau Fira, mau Felix, mau ikut mereka." Dita berontak memukul Dika bahkan mendorongnya untuk keluar.


"Uti aku ikut ke lumah uti boleh?" celetuk Felix. "Kita main cepuacnya di sana. Uti mau 'kan?" Felix kembali berucap.


( Ingat ya! di sini Felix belum bisa bicara huruf S dan R )


"Mau mau, main ya rumah uti mau." Dita bertepuk tangan dan menganggukan kepalanya.


"Bunda, bolehkan aku main ke lumah uti?" Felix menoleh ke Fira dan meminta izin kepada sang Bunda.


"Saya mohon! Boleh ya." Sahut Dita menatap Fira penuh permohonan.


Mereka memohon kepada Fira, sedangkan Dika bingung antara mengiakan keinginan sang istri atau menolaknya. Fira yang melihat mata mereka akhirnya luluh juga, dia merasa tidak tega melihat wajah mereka yang penuh permohonan.


Fira mengangguk mengiakan. "Boleh, asal jangan menyusahkan Uti!" kata Fira penuh peringatan.


Mereka berdua terlihat bahagia. Dika yang melihat istrinya bahagia merasa tersentuh, karena ada orang yang mau berdekatan dengannya tanpa melihat gangguan kejiwaan yang Dita alami.


"Hole, telima kacih, Bunda." Ucap Dita dan Felix secara bersamaan.


"Uti, kenapa bicalanya kayak Felix?"


"Hehehe," Dita hanya terkekeh.


Fira dan Dika ikut terkekeh melihat tingkah Dita.


"Bolehkah saya meminta no hp dan alamat rumahmu? Jangan salah faham dulu!" ucap Dika.


"Tidak kok, saya tahu maksud Anda." Fira menjawab seolah tahu apa yang di pikirkan Dika. Diapun memberikan alamat kontrakan beserta no hp nya.


"Terima kasih, nanti saya akan antarkan anakmu pulang."


Firapun mengangguk, dan Felix ikut bersama Dita ke rumah Dika.


****


Syafira terus melajukan mobilnya dan matanya mencari penumpang. Mulutnya terus mengunyah permen karet sesekali meniupnya hingga berbunyi.


Ketika berada di jalan dekat Bank, dia melihat seorang pria yang mencurigakan. Fira memberhentikan mobilnya di pinggir karena tidak ada penumpang dan dia memperhatikan setiap gerak gerik pria itu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja si pria yang Fira curigai menarik tas orang yang baru keluar dari dalam Bank lalu kabur bersama temannya. Dengan segera Fira menghampiri orang yang sedang teriak jambret.


"Jambret...! Jambret...!" Teriaknya, bukannya mengejar malah teriak jambret.


"Ada apa?" tanya satpam yang ada di sana.


"Tas saya di jambret orang, Pak."


"Kenapa, Pak?" tanya Fira pura-pura tidak tahu.


"Tas nya di jambret, Mbak." jawab satpam.


Saat melihat seseorang menggunakan motor gede berhenti dan turun disana, Fira segera mengambil kunci motornya lalu menaiki motor sport berwarna merah, hitam itu.


"Bang, gue pinjam motor nya sebentar! Om tunggu di situ jangan pergi dulu!" pekik Fira langsung meluncur pergi.


Dia termangu, sedetik kemudian dia sadar.


"Hey, cewek gila, mau di bawa kemana motor gue?" teriak Rey.


Rupanya motor yang di pinjam Fira punya Rey. Reyhan kesal, dia menghampiri papahnya.


"Ada apa, Pah?" Reyhan bingung sebab orang mengkerumuni Arman.


"Papah di jambret, Rey. Di dalam tas itu ada uang untuk gaji karyawan." Arman menjelaskan apa yang terjadi.


Tadi Arman mengambil uang di Bank bareng Reyhan. Arman mengantri sedangkan Rey ke toko dulu, ketika Arman memberitahukan sudah selesai, barulah Rey datang.


Syafira terus mengejar, ia menjalankan motor sangat kencang di tengah keramaian kendaraan, badannya ke kiri ke kanan bak pembalap profesional. Ketika jalan merasa sepi dan kecil, ia menyalip motor sang jambret dan memalangkannya di tengah jalan.


Para jambret tadi mengerem motornya mendadak karena kaget.


"Loe cari mati, hah?" Bentak salah satu dari mereka, kemudian mereka turun menghampiri Fira.


Fira turun, dengan santai dia menyenderkan tubuhnya ke motor, mulutnya terus mengunyah permen karet sambil kedua tangannya di lipat di dada.


Fira memakai jaket kulit warna hitam, pakaian dalam tank top berwana biru muda, celana jeans sobak sebelah di bagian lutut, serta sepatu sneaker berwarna putih, dan rambut pirangnya ia urai.


"Minggir loe! Gue gak ada urusan sama loe bocah," gertaknya.


"Ada bang, gue ingin kalian mengembalikan tas itu!" jawab Fira santai.


"Cuihh, gak akan gue berikan, ini milik kita."


Mereka berdua berbalik, tapi Fira dengan gesit merebut tasnya dan menendang keduanya dari belakang.


Kedua jambret itu marah lalu menyerang Fira, dengan mudah Syafira mengelak. Saat salah satu dari mereka ingin meninju, Fira memegang kepalannya dan...


Krek.....


"Aaaaaaaaaa," jeritnya.


Melihat temannya terluka membuat yang satunya lagi membalas dengan berusaha menendang, tapi Fira memegang pergelangan kakinya dengan kuat dan....

__ADS_1


Krek.....


Tanpa ampun Fira memutar pergelangan tangan dan kaki mereka hingga berbunyi, Keduanya menjerit kesakitan dan memohon ampun.


"A ampuni kami, Nona!" mereka memohon ampun sambil menahan sakit.


"Itu salah satu balasan dari perbuatan kalian, bertaubatlah sebelum ajal menjembut! Jika kalian ingin bekerja datanglah ke alamat ini!" Fira memberikan kartu nama nya kepada mereka.


"Dan ini, cek sebagai tanda maaf saya dan sebagai pengobatan untuk kalian. Kalian tenang saja, tangan dan kaki kalian tidak aku patahkan hanya mungkin retak sedikit saja." Fira menuliskan sejumlah nominal di cek yang ia bawa di tas gendongnya. Lalu memberikan cek itu kepada kedua preman tadi.


Kemudian ia membuang permen karet yang ia kunyah dan berlalu meninggalkan kedua orang tersebut.


Tak lama kemudian dia sampai ke tempat dimana Arman berada.


"Ini Pak, tasnya. Lain kali Anda harus hati-hati, dan kalau bisa Anda bawa pengawal atau aparat kepolisian untuk menjaga Anda." Ucap Fira menambahkan lelucon di ujung kalimatnya.


"Iya, Nak. Maafkan saya, saya akui saya teledor, ini uang gaji para karyawan saya." Balas Arman menerima uluran tas dari Fira.


"Mending Anda transfer saja ke rekening mereka masing-masing, itu jauh lebih aman dan bisa di kerjakan di manapun berada," kata Fira.


Ucapan Fira di angguki olehnya, dia terus mengucapkan terima kasih kepada Fira.


"Ini, kuncinya saya balikin. Thanks ya, udah mau minjemin motornya." Ucap Fira pada Reyhan.


"Ck, pinjam ko maksa." Reyhan mencebik kesal.


"Daripada uang bapak ini keburu hilang mending gue maksa minjam motor loe."


"Karena urusan saya udah selesai, saya pamit dulu, pak. Sekali lagi hati-hati!" Fira terus saja memperingati Arman untuk hati-hati.


"Silahkan! Sekali lagi terima kasih."


Firapun pergi, mata Rey tak pernah bisa lepas dari wanita itu, dia terus menatap langkah Fira sampai dia benar-benar pergi menaiki angkot. "Menarik."


"Reyhan," Arman mengguncang pundak Rey. Reypun tersadar.


"Ah, iya." Jawab Rey terkejut.


"Mau sampai kapan kamu di situ? Ayo pulang!" ajak Arman, dia bingung dengan tingkah anaknya.


Dan merekapun pulang setelah uang Arman kembali.


Bersambung.....


****



Seperti inilah kiranya penampilan Fira. Hanya gaya pakaian nya saja yang seperti itu.



Dan ini motor milik Reyhan yang di kenakan Fira untuk mengejar Jambret.

__ADS_1


__ADS_2