
Setelah selesai meeting, mereka membubarkan diri, sebagian dari mereka ada yang kembali ke Cafe di tempat yang berbeda, dan di antarkan oleh mobil milik perusahaan.
Sebagiannya lagi memulai aktifitas, Fira membantu karyawannya menurunkan kursi masih menggunakan pakaian formal.
"Bu, jangan! Ini pekerjaan kita," cegah pegawai.
Fira tersenyum ramah. "Gak pa pa, biar cepat selesai."
****
Toko Mainan.
Reyhan yang baru masuk langsung duduk di dekat kasir, dia mengacak-acak rambutnya karena prustasi di suruh nikah sama Bela oleh sang Nenek.
"Loe, kenapa bos? Muka lo kusut bener!" tanya Gilang ikut duduk di depan meja kasir.
"Gak kusut gimana? dia di suruh nikah," celetuk Daffa yang baru bergabung.
"Tinggal nikah saja, apa susahnya sih?" ujar Gilang.
"Enggak semudah itu, dodol! Masalahnya, gue gak suka sama Bela, kalian tahu 'kan gue tidak punya pacar," kata Rey kesal.
"Kata Amel, loe sudah punya calon istri," ucap Daffa.
Rey mengernyitkan dahinya, "Siapa?" tanya Rey bingung.
"Masa loe lupa sama calon istri loe? Syafira!" jelas Daffa
"Ko gue gak tahu ya?" timpal Gilang.
"Kalau loe tahu dia, beehhh..... loe bakal tertarik, Lang. Dia janda namun seperti gadis," ujar Daffa.
Gilang bertanya, "cantik?"
Daffa menjawab, "banget."
"Terus body nya?" tanya Gilang lagi.
"Aduhaaaay banget," ucap Daffa sambil kedua tangannya membentuk lekukan.
Plak.... Reyhan meninju pundak Daffa keras.
"Aduhh, kenapa malah di tonjok, Bos?" tanya Daffa kaget.
"Gak usah loe pragakan dan di bayangkan juga lekukannya!" cebik Rey kesal.
"Lah kenapa? Emang kenyataanya gitu kok! Atau jangan-jangan loe cemburu?" Daffa memicingkan matanya curiga.
"Enggak! Siapa bilang gue cemburu?" Rey berusaha berkilah.
"Masa sih?" ledek Daffa.
"Gue bilang enggak, ya enggak!" kata Rey.
"Itu cafe baru ya?" celetuk Gilang tiba-tiba.
Saat Daffa dan Rey berdebat, mata Gilang terus tertuju ke sebrang arah. Melihat sebagian orang sibuk menata cafenya.
__ADS_1
"Oh itu, katanya sih iya. Dan katanya juga hari ini pembukaan yang pertama," saut Daffa.
"Daf, loe lihat cewek itu deh! Gila cantik bener, wajahnya seperti boneka hidup, tubuhnya beehh muantaap," kata Gilang.
Daffa menoleh kebelakang, karena posisinya membelakangi kaca. Sedangkan Rey hanya tertunduk memainkan permainan di handphone nya.
"Yang mana?" tanya Daffa.
"Itu," tunjuk Gilang. "Ayo menoleh dong!" ucap lirih Gilang.
Dan perempuan itu menoleh, mata Daffa melotot kaget. "Syafira!" kagetnya.
Rey yang mendengar nama Syafira langsung mendongak.
"Jadi dia yang namanya Syafira, janda muda, yang loe maksud tadi?" tanya Gilang.
Daffa mengangguk, ia melirik kearah Reyhan, kemudian melirik ke Gilang dan mereka berdua saling kode.
"Kalau jandanya kayak gini mah gue juga mau, Daf," ujar Gilang.
Reyhan, tidak suka jika ada yang mau mendekati Fira. Tiba-tiba wajahnya terasa panas menahan amarah, rahangnya mengeras, dan itu tak luput dari pandangan Daffa.
"Kalau suka kejar! Toh, tak ada yang miliki dia, jadi bebaslah buat loe dekati," kata Daffa mengompori Reyhan.
Batin Daffa berkata, "ππΆπ¦ π¬π¦π³π«π’πͺπ― ππ°π¦, π±π’π―π’π΄, π±π’π―π’π΄ π₯π’π©, π΄πͺπ’π±π’ π΄πΆπ³πΆπ© π¨π¦π―π¨π΄πͺ."
Wajah Rey semakin memerah.
"Siap gue mah, jika udah dapat, akan gue jaga lahir dan batin. Karena gue yakin cewek yang kayak gitu banyak yang ngincar."
Rey yang mendengarnya langsung berdiri, kemudian berjalan ke luar dengan wajah kesal dan tangan mengepal.
Tawa Daffa dan Gilang pecah.
"Kita berhasil, Lang," ujar Daffa sambil bertos ria dengan Gilang.
"Geli gue lihat wajah cemburu Reyhan," kata Gilang terkekeh.
Rey berjalan ke arah Cafe, tanpa permisi dia menarik tangan Fira.
"Ayo ikut!" kata Rey tegas.
"Hei, apa-apa sih?" Fira berusaha melepas genggaman tangan Rey.
"Maaf Mas, jangan sembarangan menarik orang!" ucap Sari pegawai Fira yang berusaha mencegah.
"Mbak, tolong kasih tahu atasannya, saya pinjam karyawannya sebentar!" kata Rey.
"Aku tuh lagi kerja, jangan main pinjam saja!" kata Fira.
"Gue gak peduli! Ayo ikut!" Rey kembali berjalan menarik tangan Fira.
"Tolong kamu lanjutkan ini!" ucap Fira pada pegawainya.
Reyhan membawa Fira ke dalam mobilnya kemudian meluncur pergi meninggalkan tempat itu.
"Sari, kemana Syafira?" tanya Doni menghampiri setelah beberapa saat Fira pergi.
__ADS_1
"Ehhh, itu..anu..hmmm...anu," jawab Sari gelagapan.
"Anu itu, anu itu, anu apaan, yang jelas kalau bicara?"
"Anu pak Bos, Bu Syafira di bawa pria pergi," kata Sari gugup.
Doni melotot kaget, "apa? pria siapa? apa kamu kenal dia?" tanya Doni dengan kaget, ia takut jika pria itu suruhan seseorang untuk mencelakai Fira.
"Saya gak kenal, pak. Tapi kayaknya Bu Syafira kenal."
Doni menghelakan nafas secara kasar. "Ya sudah, kamu lanjutkan lagi pekerjaan kamu!" ucap Doni sambil mengambil benda pipih di sakunya.
"Baik, pak. Saya permisi dulu," ucap Sari dan Doni mengangguk.
****
Kediaman Arman.
"Bu, aku gak suka Ibu menjodohkan Reyhan. Dia itu sudah besar, biar dia sendiri memilih pendamping hidupnya!" kata Arman.
Sebelum berangkat ke toko, Saras sempat bilang jika Rey sudah di jodohkan dengan Bela. Semuanya menolak keras, termasuk Rey sendiri.
"Bela itu baik Arman, dia berasal dari keluarga terhormat, dia pantas menjadi menantu kita, dan Ibu sudah membicarakan perjodohannya dengan Elsa," kekeh Saras.
"Kenapa Ibu tidak membicarakannya dulu dengan kita? Aku ayahnya dan Dinda ibunya, seharusnya Ibu tahu itu!" ucap Arman.
"Jadi maksud kamu, Ibu tidak berhak atas Reyhan? Ibu juga Neneknya, Ibu berhak ikut campur, dan Ibu akan mencarikan dia pendamping yang terbaik!"
"Tapi tidak menjodohkannya, Bu! Reyhan sudah mempunyai calon sendiri," ujar Arman yang tidak mau mengalah.
Sedangkan Dinda hanya diam mendengarkan.
"Janda itu maksudmu? Sampai kapanpun Ibu tidak sudi dan tidak akan setuju cucuku dengan janda pelakor itu!" ucap Saras meninggi.
"Dia bukan pelakor, Bu. Dan kenapa jika dia janda? yang penting dia baik, tulus, serta jujur," sahut Dinda.
"Pokoknya Ibu gak suka, dia janda pelakor yang miskin, gak pantas dengan cucuku."
"Cukup!" bentak Arman. "Aku ayahnya, dan aku tidak akan membiarkan anakku memilih yang salah! Meski Ibu neneknya, Ibu tidak berhak mengatur kehidupan anakku!" kata Arman dengan tegas.
"Kamu mau melawan Ibu, Arman? apa karena janda itu kamu jadi seperti ini? dan apa kamu bilang? pilihan Ibu salah? justru pilihan kalian yang salah! Dia itu janda pelakor yang miskin," bentak Saras.
Arman geram, dia tidak menyangka ibunya memiliki sifat seperti ini.
"Kita lihat saja! Perasaan mana yang benar? feeling seorang ayah atau seorang nenek. Satu lagi, jangan pernah menilai seseorang dari luarnya saja!" ucap Arman sedikit meninggi.
"Pah," kata Dinda mengusap tangan suami berusaha menenangkan Arman.
Arman hanya menoleh, kemudian pergi ke luar meninggalkan mereka. Dinda menghelakan nafasnya secara kasar, kemudian berdiri dan berkata.
"Feeling aku sama seperti mas Arman, Bu. Jika Syafira adalah yang terbaik untuk Reyhan," ucap Dinda sambil pergi meninggalkan Saras sendiri.
"Heiii...buka mata kalian? kenapa kalian malah membela janda sialan itu hah?" kata Saras dengan suara tingginya.
"Ini semua gara-gara janda miskin itu semua keluargaku menentang ku."
Bersambung....
__ADS_1