Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Hamil


__ADS_3

Langit cerah secerah dua insang yang sedang kasmaran. Hari-hari yang dilewati keduanya terasa indah. Beda halnya dengan Bela, harinya terasa buruk bagaikan bunga layu terbakar api. Dunianya terasa hancur ketika sang dokter menyatakan dirinya hamil 3 Minggu.


"Selamat ya Bu, Anda sedang mengandung buah hati Anda. Sekarang usianya baru 3 Minggu. Keram perut dan pendarahan terjadi akibat anda terlalu banyak beraktifitas sehingga membuatnya kelelahan. Untungnya janin anda kuat sehingga masih bisa terselamatkan. Saya harap Anda dan suami Anda harus lebih ekstra menjaganya." Tutur sang dokter wanita setelah memeriksa Bela setelahnya dokter itu pamit keluar.


Bela diam, dia masih syok kala dirinya dinyatakan hamil. Dia tidak menyangka bahwa apa yang telah dilakukannya membuahkan hasil. Padahal para pria selalu pakai pengaman di saat melakukannya.


Awal mula Bela merasakan keram perut setelah pulang berkeliling mall bersama Saras, awalnya ia tidak curiga apapun karena dirinya begitu gembira mempersiapkan hari pertunangannya dengan Reyhan. Tapi, sakit itu semakin terasa ketika darah keluar dari sela kedua kakinya, dan dirinya semakin syok saat melihat kalender tertera di meja rias. Bela baru ingat jika bulan ini dirinya belum menstruasi. Lalu dia berteriak meminta tolong karena sakitnya semakin luar biasa. Pembantu di rumahnya lah yang membantu membawa Bela kerumah sakit.


"Anak siapa dia Bela?" tanya Elsa baru saja masuk dan dia mendengar semua yang di bicarakan oleh dokter. Elsa datang setelah mendengar laporan dari asisten rumah tangganya bahwa anaknya di bawa ke rumah sakit.


Deg...!


"Ma Mama!" Bela semakin terkejut melihat ibunya berada di sana. "𝘈𝘱𝘢 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘵𝘢𝘥𝘪? 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪?" Bela panik sendiri sebab orang tuanya tidak tahu apapun mengenai dirinya.


Elsa menghampiri anaknya dan mencengkram kuat kedua bahu sang anak. "Jawab Mama! Anak siapa yang kau kandung?" Elsa bertanya penuh penekanan. Bela menggeleng.


"Maksudmu menggelengkan kepala apa?" Suara Elsa semakin meninggi menatap tajam sang anak satu-satunya.


Bela menunduk tak berani menatap wajah mamanya. Mata dia sudah ingin menangis menahan cengkraman yang semakin kuat dan merasa bersalah kepada ibunya.


"Jawab, Bela! Kau punya mulut untuk bicara lalu kenapa kau malah diam saja, hah?" bentak Elsa menggoyangkan tubuh Bela.


"A aku tidak tahu a ayah dari janin yang ku kandung." lirih Bela gugup masih menundukan kepala.


Elsa syok, cengkraman nya melemah dan terlepas dari pundak Bela. "Ka kamu tidak tahu siapa ayahnya? bagaimana bisa? apa kamu melakukannya bukan hanya dengan satu pria?" tanya Elsa mulai mencurigai anaknya.


Bela hanya diam tidak menjawab, namun air matanya sudah mulai berjatuhan akibat mata tak mampu lagi membendungnya.


Keterdiaman Bela membuat Elsa yakin jika sang anak sering melakukan dengan banyak pria.


Plak....


Tiba-tiba saja Elsa menampar pipi Bela. "Mama tidak pernah mengajarkanmu menjadi wanita liar! Mama selalu menyuruhmu menjaga kehormatanmu untuk suami mu kelak. Tapi kau, kau malah seperti ini?" bentak Elsa merasa gagal menjadi ibu dan menjaga anaknya.

__ADS_1


Sejahat-jahatnya Elsa, seliciknya dia, prinsip nya satu kehormatan wanita untuk suaminya.


"Maafkan aku, Mah. Aku menyesal." Lirih Bela menyesali perbuatannya


"Percuma kau meminta maaf, maafmu tak akan mengembalikan semuanya. Mama terlanjur kecewa padamu."


Bela menangis sesegukan, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. "Aku harus bagaimana dengan anak ini? aku tidak mau dia lahir tanpa ayah yang jelas." Lirih Bela di sela tangisannya.


"Siapa orang yang terakhir kali tidur denganmu?" tanya Elsa melemah.


Bela diam, namun masih sesegukan. Dia mengingat siapa orangnya. "𝘑𝘩𝘰𝘯, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘑𝘩𝘰𝘯. 𝘉𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘴, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯


𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘑𝘩𝘰𝘯. 𝘐𝘺𝘢 𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯!" 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶.


"Kamu mengingatnya?" tanya Elsa lagi.


Bela mengangguk, ia ragu untuk mengatakannya.


"Siapa dia? jawab jujur pertanyaan Mama!" desak Elsa.


Elsa memejamkan mata menarik nafas dan membuangnya. "Kita minta pertanggung jawaban padanya. Walau bagaimanapun juga janin yang kau kandung adalah anaknya. Kita ke kantor Papa sekarang!"


"Tidak, Mah! Jangan ke kantor Papa! Aku tidak mau Papa tahu dan marah," cegah Bela. Bela yakin Mahendra akan murka jika tahu dirinya hamil.


Dan keduanya memutuskan untuk menemui Jhon di salah satu Cafe SC and R.


****


Jhon sudah melangkah masuk ke dalam Cafe, dia memesan ruangan VVIP agar tidak di ketahui banyak orang. Dirinya penasaran apa yang ingin di sampaikan oleh bos nya. Seketika langkahnya terhenti saat melihat Syafira sedang melayani pembeli. Sejenak dia memperhatikan gadis yang masih ia cintai sedari dulu.


"𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬, 𝘙𝘢. 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪." Jhon menyesali perbuatannya terhadap Fira sampai menyebabkan kedua Kakanya meninggal.


Merasa ada yang memperhatikan, Fira menoleh ke samping dan matanya langsung tertuju kepada seorang pria yang mematung di depan meja resepsionis. Fira tersenyum ramah padanya. Jhonpun jadi salah tingkah ketahuan memperhatikan Fira, kemudian dia kembali berjalan masuk ke ruangan yang ia pesan.

__ADS_1


Tak lama kemudian Elsa dan juga Bela sampai, langsung saja mereka menemui Jhon.


"Ada apa kalian mengajakku ketemuan?" Jhon langsung bertanya setelah kedua wanita di hadapannya duduk.


"Saya mau meminta pertanggungjawaban darimu!" sergah Elsa tak sabar.


Bela sendiri malah menunduk, matanya terlihat sembab, kedua tangannya di tautkan kemudian di remas-remas akibat rasa gugup yang mendera ke seluruh tubuhnya.


Jhon mengernyit. "Pertanggungjawaban apa? saya tidak pernah merasa melakukan hal yang salah?"


"Bela sedang mengandung anakmu, usia kandungannya 3 Minggu," tutur Elsa.


Bela semakin mencengkram kuat jari-jarinya karena takut Jhon tidak mau bertanggungjawab.


"Apa kalian yakin?" tanya Jhon santai menatap silih berganti wanita di hadapannya.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? kami yakin ini anakmu. Bela bilang terakhir kali melakukannya denganmu." Sahut Elsa meninggi.


"Ck, bisa jadi itu anak orang lain. Dia melakukannya bukan hanya denganku saja. Dia bagaikan piala bergilir di pakai dan di pegang kesana kemari." Cibir Jhon menghina wanita teman tidurnya.


Deg...!


Dada Bela terasa sesak mendengar penghinaan lelaki di hadapannya. Dirinya mengakui jika ia memang sering tidur bersama pria lain. Tapi, kali ini ia jujur bahwa dua bulan terakhir ini hanya Jhon yang menyentuhnya.


"Kau! Jangan pernah kau menghina putriku!" pekik Elsa murka.


"Saya tidak menghinanya, itulah kenyataannya. Saya tidak akan bertanggungjawab atas janin itu karena saya merasa dia bukan anak saya!" tegas Jhon lalu berdiri ingin meninggalkan tempat itu.


"Aku berani bersumpah jika ini anakmu Jhon." Pekik Bela prustasi.


"Ck, saya tidak percaya ucapan wanita murahan sepertimu!" Jhonpun pergi meninggalkan keduanya.


Bela lemas dan sakit hati. "Aku harus bagaimana, Mah. Dia sendiri tidak mau bertanggungjawab."

__ADS_1


Elsa berpikir. "Reyhan..!" ucap Elsa.


Bersambung....


__ADS_2