
"Mas, aku malu. Pasti Daffa akan menyangka yang tidak-tidak mengenai diriku. Mereka kan tidak ada yang tahu kita sudah menikah." Wajah Fira sudah merona malu kepergok Daffa. Reyhan memang tidak tahu tempat, di manapun main sosor.
"Kamunya gemesin sih, jadi aku tidak bisa kalau tidak menyentuhmu." Keduanya sedang duduk di sofa dan Syafira sendiri menyuapi Reyhan.
"Tapi tidak sembarang tempat juga." kata Fira memanyunkan bibirnya.
"Salah dia sendiri masuk tidak ketuk pintu dulu, kan jadinya harus menyaksikan adegan live kita." Reyhan tidak peduli tentang Daffa, dia malah lebih asik memakan makanan yang di bawa istrinya.
"Tapi kan.." Belum juga selesai, Rey malah kembali mengecup Fira dan menyesapnya.
"Bawel banget istriku ini, biarin kata orang bicara apa yang penting kita sudah halal melakukan apapun juga, termasuk Bobo bareng kamu." Reyhan menaik turunkan alisnya tersenyum mempesona.
"Isshh," Fira mendesis kesal, namun wajahnya tak urung merona dan bibirnya tersenyum manis.
"Oh iya, setelah dari sini aku mau ke daerah blok M. Aku mau minjam motor kamu, Mas. Boleh ya?" izin Fira sambil membereskan rantang makanan. Keduanya telah selesai makan siang.
"Mau ngapain ke sana?" tanya Reyhan penasaran menatap lekat wajah cantik sang istri.
"Aku mau melihat keadaan di sana. Cafe yang di blok M sudah lama tidak ku kunjungi dan mumpung ada waktu, aku mau melihatnya sekalian mau mengecek bahan baku untuk Cafenya," jelas Fira.
"Hhmmm, baiklah aku izinkan. Tapi, kamu harus hati-hati, jangan ngebut, dan jangan keluyuran apalagi tebar pesona sama pria lain!" Reyhan memperingati Fira sedemikian rupa.
Fira tersenyum menatap suaminya. "Tidak akan suamiku. Kamulah pemenang nya dan tidak mudah bagiku berpaling darimu." Fira memengang pipi Rey dan mengusap nya.
Reyhan memegang tangan Fira yang ada di pipinya. Dia pun kembali mengecup Fira yang sudah menjadi candu untuknya. Reyhan membaringkan Fira di sofa dan dia mengukung istrinya. Tangan Rey sudah bergelia kemana pun yang ia mau.
****
__ADS_1
Daffa terus mondar mandi di depan pintu ruangan Reyhan. "Masuk tidak, masuk tidak, ini laporan harus segera di serahkan untuk segera di cek. Siapa tadi ya yang bersama Reyhan? berani sekali Bos kurang ajar itu kissing?" Daffa menggerutu kesal dan penasaran wanita yang ada di dalam sebab tadi Fira membelakangi pintu masuk jadi tidak bisa melihat wajah Fira.
"Daff, ngapain Loe mondar-mandir gak jelas? buruan, laporannya harus segera di berikan karena banyak barang yang baru turun harus segera kita periksa." Celetuk Gilang menyusul Daffa.
"Anu hmmm, itu si Bos lagi anu..." Daffa menggaruk kepalanya bingung menjelaskannya.
"Anu anu, anu apaan? Lama bener, sini, gue saja yang berikan!" Gilang merebut map yang di pegang Daffa.
"Aduuhh, jangan Lang! Biar gue saja!" Daffa mencegah agar Gilang tidak masuk takut jika Reyhan masih melakukan adegan tadi.
"Loe aneh banget." Gilang masuk tanpa mengetuk pintu. Dia terkejut melihat pemandangan di dalam.
"Astaga, Bos! Gue tidak lihat!" Gilang menutup matanya pakai tangan ketika melihat Rey dan Fira bertumpang tindih sambil kissing. Namun Gilang mengintip di sela jari-jarinya karena penasaran.
Reyhan mendongak kesal. "Gilaaang.... Daffa...Kalau kalian masuk ketuk pintu dulu..!" Semprot Reyhan kesal mengganggu aktivitas nya. Fira sendiri menelusupkan wajahnya ke dada bidang Reyhan akibat malu yang luar biasa.
****
Setelah kejadian kemarin rumah Arman menjadi terasa sepi. Tiada lagi canda tawa, tiada lagi acara kumpul keluarga, bahkan para orang-orang nya saja selalu menyibukan diri.
Reyhan tidak pulang ke rumah orang tuanya melaikan pulang ke rumah dirinya sendiri bersama Syafira. Amel pun kadang menginap di kantor bersama Dinda dan Arman.
Saras termenung sendirian di dekat jendela ruang tamu menatap hamparan bunga mawar. Dia merasa kesepian dan merasa anak cucunya menjauhi dirinya. Jika di sapapun mereka hanya menjawab singkat.
Terdengar suara mobil berhenti di pekarangan rumah. Saras menoleh ingin tahu siapa yang datang berkunjung ke rumahnya.
"Siang nyonya Saras." Sapa Mahendra masuk begitu saja dan duduk tanpa permisi di hadapan Saras.
__ADS_1
Rupanya Mahendralah yang datang menemui Saras. Saras sendiri bingung kenapa Mahendra tiba-tiba datang ke rumahnya?
Hendra datang setelah dari rumah sakit langsung menemui Saras. Hendra masih mengenakan perban di punggung nya akibat peluru yang di layangkan Elsa kemarin Malam.
"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Saras langsung pada intinya.
Hendra senyum menyeringai. "Rupanya kau tidak bisa basa basi, Nyonya." Hendra menumpangkan satu kakinya ke atas paha, punggungnya di senderkan ke kursi, dan kedua tangannya di lipat di dada.
"Ok, langsung saja pada inti sesuai pertanyaan Anda. Saya ingin meminta kembali uang yang pernah saya berikan kepada Anda, 10 milyar!" ucap Hendra serius.
Saras melotot kaget. "Tidak bisa begitu! Uangnya sudah lama habis dan kau sendiri yang memberikannya padaku tanpa di minta mengembalikan lagi padamu!" Saras tidak punya uang bila harus mengembalikannya.
"Terserah Anda mau mendapatkannya dari mana! Saya ingin uang saya kembali karena kau gagal memberikan Sofi padaku atau..." Hendra sengaja menggantung ucapannya agar Saras penasaran.
"Atau apa?" tanya Saras penasaran.
"Atau Anda membatuku mendapatkan Sofi kembali, dan membantu menyingkirkan Syafira, maka saya akan menganggap lunas uang itu setelah Anda berhasil dan saya akan memberikan Anda uang sebesar 10 milyar lagi. Itu penawaran yang luar biasa bukan? atau Anda akan masuk penjara dan nama baik Anda akan kembali tercoreng. Bisa jadi Anda akan di cemooh banyak orang." Hendra sengaja memberikan penawaran dan ancaman sekaligus karena Hendra tahu jika Saras gila uang dan akan melindungi nama baiknya.
Saras diam memikirkan ucapan Hendra. Dia bingung antara menerima dan menolak. Jika menerima, dia harus kembali mengorbankan keluarganya. Jika menolak, sayang uangnya dan nama dia akan tercoreng bahkan kena hujat para netizen bermulut pedas.
"Saya tambah menjadi 15 milyar sebagai penawaran terakhir!" kata Hendra penuh penekanan.
Mata Saras membola membayangkan uang sebanyak itu di hadapannya. Membayangkannya saja air liurnya ingin menetes, apalagi melihat secara langsung?
"Baiklah, saya terima tawaranmu. Apa yang harus saya lakukan?" ucap Saras final menerima tawaran Hendra tanpa berpikir bagaimana perasaan anaknya dan akan seperti apa keadaan dia kedepannya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah uang dan kehormatan. (Saras lupa kalau namanya sudah tercoreng bahkan sudah di ketahui kejahatannya di saat acara pernikahan Rey dan Bela gagal. Namanya juga nenek-nenek, pasti udah pikun)
"Akan ku beri tahu nanti!" Hendra menyeringai merencanakan sesuatu.
__ADS_1
Bersambung....