Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Memohon


__ADS_3

Deg...!


Semua orang tertegun tapi tidak dengan Fira dan Felix.


"Ma maksud kau?" Nicho sudah tak menentu, tubuhnya benar-benar gugup, bibirnya sulit sekali berkata jujur.


"Jangan bertele-tele! Jujur padaku, kau kan yang sudah merenggut paksa kesucian adikku?" bentak Arman yang sudah bisa mengartikan arti kegugupan Nicho.


Sofi sendiri sudah meneteskan air mata, dia semakin menundukan wajahnya dan Arman bisa melihat ketakutan dan kesedihan di diri adiknya. Arman yang kebetulan duduk di dekat Sofi mengangkat dagu adiknya menatap sakit sang adik.


"Apa dia orangnya?" Sofi tidak menjawab, dia terpejam tak mau membuka mata dan tak mau melihat Nicho yang ada di hadapannya.


"Jawab! Apa dia orang yang sudah merenggut nya?" tanya Arman penuh penekanan.


Air mata sialan itu semakin deras meski dalam keadaan mata terpejam.


"Iya, akulah orangnya. Kau benar, akulah orang yang sudah merenggut nya." Pekik Nicho mengakui segalanya. Dia tidak bisa berdiam diri lagi di saat semuanya mulai terbongkar.


Arman menoleh, amarahnya benar-benar sudah tak bisa lagi di kendalikan. Arman berdiri dan langsung menarik kerah baju Nicho lalu memukulnya.


Bugh.. Bugh.. Bugh..


Semua terkejut. Dika segera menarik Arman dan menahan tubuh Arman untuk memisahkan keduanya. "Arman, sudah! Jangan kau pukul dia lagi. Dia sudah babak belur."

__ADS_1


"Brengsek, baji***n, kenapa harus adiku, hah?" bentak Arman setelah memukul wajah Nicho tiga kali sampai Nicho tersungkur ke lantai.


Karin mendekati anaknya dan membantu Nicho berdiri. Nicho tidak melawan karena dia sadar bahwa dirinya yang salah. Nicho berdiri di bantu Karin, tangannya memegang pipi yang terkena pukulan.


"Aku minta maaf, kau sudah tau ceritanya kalau pada saat itu aku mabuk akibat sakit hati di khianati tunangan ku." Nicho benar-benar menyesali segalanya. Selama ini hidupnya di penuhi rasa penyesalan dan rasa takut.


"Tapi tidak harus melampiaskan nya pada seorang wanita, Nicho!" Arman masih ingin mengejar Nicho, tapi di hadang oleh Dika.


"Sabar, Man. Jangan emosi seperti ini." Dika masih menahan tubuh Arman agar tidak kembali memukul Nicho.


"Kau masih bisa cari pelampiasan positif, tapi tidak dengan mabuk dan melakukan tindakan brengsek seperti itu." Amarah Arman masih belum redam.


"Aku tahu saya salah, maka dari itu saya akan mempertanggungjawabkan segalanya walau terlambat."


Sofi sudah menangis sesegukan di pelukan Dinda dan Fira. Posisi Sofi berada di tengah keduanya. Sakit rasanya di kala mengingat kembali setiap kejadian demi kejadian yang ia alami. Meski kejadiannya sudah sangat lama, namun itu benar-benar membekas di hati dan masih berputar di kepalanya.


Nicho mematung, dia tidak bisa berkata-kata, bibirnya terasa kelu hanya sekedar berkata maaf saja. Dia semakin merasa bersalah mendengar cerita Arman dan dia tidak menyangka akibat ulahnya membuat seorang wanita benar-benar terluka baik lahir maupun batin. Dan Nicho semakin terkejut saja ketika Arman menangis, sehancur itukah hidup wanita yang ia rusak? di tambah Arman mengucapkan kata hamil membuat Nicho lemas dan terhunyung terduduk di kursi.


"Kau sudah membuat dia hancur, Nicho...! Di saat usia dia yang seharusnya menikmati masa remaja, dia harus di hadapi masalah sebesar itu di hidupnya. Dia sampai terluntang lantung di kota orang karena kau..! karena kau..!" Arman memaki Nicho habis-habisan tanpa ada yang berani mencegah Arman. Mereka membiarkan Arman mengeluarkan kesedihannya.


"Ka..." lirih Sofi menatap Kakanya dengan derai air mata yang tidak bisa berhenti.


Arman menoleh, "Maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu, maafkan aku yang tidak pernah ingin mencari tahu. Seandainya dulu ku mencari kebenarannya, seandainya dulu ku cepat mengetahui segalanya, kamu tidak akan semenderita itu. Maafkan aku...." Arman benar-benar menangis dan menyesal tidak bisa melindungi adiknya.

__ADS_1


Para wanita sudah ikutan menangis, Reyhan pun ikutan mengeluarkan air mata namun ia menengadahkan wajahnya, mengerjapkan mata agar air mata tidak tumpah.


"Di sini aku yang salah karena tidak bisa melindungi diriku sendiri. Seandainya aku bisa melawan, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tapi aku masih bersyukur, dengan adanya kejadian itu aku di karuniai seorang anak dan cucu yang luar biasa." Meski perjalanan hidupnya teramat menyayat hati, Sofi masih mensyukuri segalanya.


"Anak, cucu, lalu di mana mereka?" Karin yang dari tadi menyimak penasaran. Dia juga tidak membela anaknya karena memang Nicho yang salah dan ini sudah menjadi resiko bagi sang anak.


"Ck, Nicho sendiri tidak mengetahuinya bukan? mana mungkin dia mencari tahu sedangkan dulu ia hanya sibuk mengurusi mantan tunangannya." Arman menyindir pedas masalah Nicho dulu.


"Saya salah, saya memang salah. Di saat itu saya malah meninggalkan adikmu sendirian di rumah dan malah mengurusi mantan tunanganku dulu. Tapi, saya bersumpah pada saat itu saya benar-benar ingin bertanggungjawab atas apa yang telah saya lakukan padanya. Namun di saat saya kembali ke rumah, adikmu sudah tidak ada di sana. Saya sudah mencari keberadannya tapi tidak bisa ketemu. Sampai pada akhirnya saya di pindah tugaskan ke luar kota oleh Papa dan saya semakin sulit mencari keberadaannya." Jelas Nicho.


Nicho berdiri mendekati Arman dan menumpukan kedua lututnya bersimpuh di dekat kaki Arman.


Aksi Nicho membuat semua orang terkejut termasuk Sofi sendiri.


"Arman, saya mengakui kesalahan saya. Maka dari itu izinkan saya bertanggungjawab atas segalanya. Saya mohon, Izinkan saya menebus segalanya. Saya berjanji akan membahagiakan adikmu." Nicho menunduk mengatupkan kedua tangannya. Mata Nicho meneteskan air mata sampai jatuh ke lantai.


Karin tidak menyangka anaknya akan melakukan tindakan seperti ini. Dia tahu kalau Nicho tipe orang yang tidak suka memohon terhadap orang lain.


"Ck, kau memohon seperti ini pasti karena kau ingin menyembuhkan penyakit impoten mu bukan? kau bilang hanya wanita yang kau renggut yang mampu menyembuhkannya."


Deg...!


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2