Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Pengusiran


__ADS_3

Ratih membanting pintu mobil secara kasar, dia kesal, dia marah karena Heru menghalanginya. "Kenapa Bapak menghalangiku? Dia sudah berani menggoda kalian!" bentak Ratih setelah sampai di dalam rumah.


"Bapak mohon sama Ibu untuk tidak mengusik Syafira! Bapak tidak mau ibu kena masalah!" pinta Heru pada istrinya.


"Siapa dia sampai bapak segitu membelanya, hah? aku tidak akan diam saja seperti patung menyaksikan wanita murahan itu menggoda Bapak dan Haikal!"


"Bapak sudah bilang, Fira bukan wanita murahan, Bu! Dan jangan pernah melakukan tindakan bodoh!" sergah Heru merasa prustasi sebab istrinya tidak mau mengerti.


"Ibu akan tetap memberikan dia pelajaran! Kalau bisa Ibu akan membuatnya malu dan di usir dari kampung sini! Enak saja dia mau menggoda kalian." Pekik Ratih lalu berjalan keluar rumah merencanakan sesuatu.


"Bu, jangan gegabah, Bu! Kau jangan melakukan hal-hal yang membuat dia murka, Bu!" Heru mengejar istrinya berusaha mencegah.


"Diam! Jangan mengatur diriku! Ibu muak pada janda itu, Ibu muak dia terus menerus mendekati kalian. Ibu tidak mau harta kita habis olehnya, dia matre, Pak." Bentak Ratih sambil terus melangkah keluar pagar.


Pertengkaran keduanya di perhatikan oleh para tetangga yang kebetulan sebagian orang sudah pulang.


"Mereka kenapa, ya? tumben-tumbenan mereka berantem?"


"Saya juga tidak tahu, mang. Sepertinya ini gara-gara wanita karena tadi Bu Ratih sempat bilang dia matre."


"Kau benar, ini pasti karena orang ketiga.


Ketika sedang berjalan kaki, Ratih menelpon Bella meminta bantuan. "Bella, Tante minta orang-orang kamu kesini untuk membantu Tante menyingkirkan Syafira!"


"Kau jangan lakukan itu, Bu." Heru mencegah.


"Diam! Jangan ikut campur urusan Ibu!"


Orang yang ada di sebrang telpon tersenyum keji. "Baiklah, aku akan menyuruh anak buah papa kesana! Kalau bisa arak dan telanjangi janda murahan itu agar dia malu dan hancur sehancur-hancurnya."


"Baik, saya akan pastikan itu. Saya sudah benci banget, dia sudah berhasil menggoda anak dan suami saya."


"Itulah dia, janda miskin murahan kurang belaian." Cibir Bella menghina habis-habisan Syafira.


Ratih mematikan telponnya. "Jangan macam-macam, Bu! Kalau tidak kau akan menyesal!" cegah Heru.

__ADS_1


"Bapak ini kenapa terus membelanya, hah? Ibu akan tetap memberikan dia pelajaran!" Ratih terus melangkah sambil berteriak meminta para warga berkumpul.


"Hei, kalian semua kumpul! Para warga keluar!" teriaknya.


Orang-orang sudah banyak yang keluar. "Ada apa ini Jeng? kenapa kau teriak-teriak tidak jelas?" tanya ibu-ibu rempong.


"Saya berteriak untuk memberitahukan kalian bahwa si janda miskin itu bukan wanita baik-baik. Dia itu ja**ng, kita harus mengusirnya dari sini! Saya tidak mau kampung sini tercemar olehnya!" pekik Ratih murka.


"Jangan percaya! Istri saya bohong!" cegah Heru agar semua warga tidak percaya.


"Saya tidak bohong! Saya punya bukti jika dia wanita murahan." Ratih mengeluarkan semua foto dari dalam tas yang sebelumnya telah di persiapkan olehnya.


"Lihatlah! Dia wanita murahan! Sudah beberapa kali saya melihatnya dengan pria yang berbeda!" Ratih membagikan Foto itu kepada semuanya. Di sana ada Fira memeluk Doni, ada foto dengan Reyhan ketika di dalam mobil. Ada Fira dengan Doni ketika mau masuk ke apartemen.


"Ini sudah tidak bisa di biarkan, terlihat jelas di foto ini Fira bukan wanita baik-baik. Bisa saja uang yang selama ini di infakkan dan dibagikan adalah uang hasil ngelonte." Kata tetangga.


"Kau benar, kita usir saja dia daripada kampung kita terkena musibah!" usul salah satu dari mereka.


"Betul, betul, saya setuju itu. Ayo kita usir dia." Ajaknya.


"Ini bukan fitnah! Suamiku sendiri sudah tergoda oleh janda murahan itu! Dia sudah selingkuh dengannya! Saya sendiri melihat suami saya keluar dari dalam ruangan." pekik Ratih menuding suaminya.


"Astaghfirullah, Bu! Aku tidak percaya kau seperti itu. Sumpah demi Allah Bapak tidak selingkuh dengan Fira. Dia wanita baik-baik!" Bentak Heru yang mulai prustasi akan tindakan istrinya.


"Kita usir dia dari sini!" teriak para warga. Mereka sudah terprovokasi oleh Ratih. Sedangkan Ratih tersenyum puas.


"Kau akan menyesal, Ratih!" bentak Heru menyebut nama Istrinya. Ratih terdiam, jika suaminya sudah menyebut namanya itu tandanya suaminya murka dan apa yang dikatakan suaminya benar. Tapi karena ego, benci dan amarah membuat Ratih gelap mata.


"Usir Fira dari sini! Usir ja**ng itu! " semua orang berbondong-bondong meneriaki Fira.


"Pak, kenapa mereka?" tanya Bu Siti dalam Rumah. Mereka bertiga keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" pak Komar bertanya kepada warga yang sudah berada di dekat rumah Fira.


"Usir janda itu dan anaknya dari sini!" Para warga berdemo di depan rumah Fira. Sebagian sudah menggedor pintu rumahnya.

__ADS_1


"Fira, keluar kau! Jangan bersembunyi!" Teriak bapak-bapak.


"Kita bisa membicarakannya baik-baik! Jangan main hakim sendiri!" Heru mencegah.


"Benar kata pak Heru. Bisa jadi ini fitnah untuknya." Timpal pak Komar merasa yakin jika Fira tidak melakukan apapun.


"Halah, kalian bisa jadi bersekongkol dengannya. Kami lebih percaya bukti daripada kalian." Sahut seorang pria bertubuh tegap nan gagah. Sepertinya itu orang suruhan Bella karena dia baru saja bergabung.


"Benar, kami percaya bukti!" seru semua warga.


"Dobrak saja pintunya!" pekik Ratih memprovokasi.


Para warga mendengarkan perintah Ratih, mereka berusaha membuka pintu secara paksa. Setelah berhasil mereka mengeluarkan semua pakaian Fira dan Felix.


"Fadil, coba kamu telpon nak Fira! Ini sudah keterlaluan!" kata Bu Siti khawatir dan takut.


Fadil berusaha menelpon Fira, namun tidak di angkat. "Tidak di angkat terus, Bu." Fadil juga sudah khawatir.


"Apa yang kalian lakukan?" pekik Fira baru saja turun dari motor. Fira mendapat laporan dari orang-orangnya bahwa rumahnya di serbu warga.


Mereka menoleh. "Nah, ini dia ja**ng nya. Usir dia dari sini! Kalau perlu telanjangi saja dia dan arak keliling kampung!" pekik Ratih murka.


"Bu! Setan mana yang telah merasuki mu?" Bentak Heru, dia tak habis pikir istrinya seperti itu.


"Kau pergi dari sini janda murahan! Kami tidak mau kampung kita terkena azab akibat ulahmu!" serga para warga.


"Aku tidak melakukan apapun! Ini fitnah! Saya berani bersumpah jika saya tidak seperti itu!" ucap Fira membela dirinya. Dia masih terlihat santai, namun raut wajah dan tatapannya sudah terlihat menakutkan.


"Sumpahmu palsu janda murahan!" bentak Ratih marah dan...


Plok....Ratih melemparkan telur tepat ke kening Fira. Safira terpejam, dia masih berusaha sabar.


Plak....Kali ini Heru yang murka, dia sudah geram akan tingkah istrinya. "Sudah ku bilang jangan mencari masalah sama Syafira, Bu! Kau sudah keterlaluan!" Bentak Heru di hadapan semua orang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2