
"Sayang, tolong ambilkan aku handuk! Aku lupa membawanya kedalam." Reyhan meminta bantuan istrinya. Hanya kepalanya saja yang nongol. "Sayang..."
"Tunggu bentar, Sayang. Aku lagi mengambilkannya." Balas Fira yang kebetulan sedang berada di dalam ruangan ganti pakaian mengambilkan baju untuk suaminya kenakan.
Fira menyodorkan handuknya. "Ini, Mas."
Rey tersenyum melihat istrinya masih mengenakan handuk minim memperlihatkan kulit putih mulus berjejak akibat ulahnya.
"Ini ambil! Bukannya tadi minta handuk? kenapa malah senyam senyum gitu?" Fira masih menyodorkannya.
Rey mengambilnya, dan langsung menarik tangan sang istri membawanya kedalam.
"Mas...!" Fira memekik terkejut saat suaminya langsung membuka lilitan handuknya dan langsung membawa ia kebawah guyuran shower.
"Kamu, **** banget sayang. Aku tidak bisa membiarkan kamu menganggur." Rey menarik pinggang Fira sampai keduanya benar-benar merapat.
"Barusan kita sudah melakukannya, Mas. Rambutku saja masih basah." Fira memanyunkan bibirnya kesal.
"Aku ingin lagi, boleh ya!" izin Rey memohon.
"Tapi..." belum juga selesai, Rey langsung ******* bibir merah Fira. Yang ada dalam istrinya sudah menjadi candu baginya.
Dan keduanya kembali melakukan hubungan suami istri di bawah guyuran shower.
****
"Kita mampir dulu ke warung nasi uduk, Mah. Aku lapar." Amel memberhentikan larinya.
"Ya sudah, kita ke warung Bu Kokom saja." Ajak Dinda.
Sofi, Amel, dan Felix mengangguk.
"Apa kamu tidak capek mengayuh sepedanya?" tanya Sofi pada Felix di saat mereka berjalan menuju warung.
"Tidak, Oma. Aku kan laki, aku harus kuat seperti Bunda dan Ayah." Felix masih bersemangat mengayuh sepeda nya.
"Harus dong, Felix anak Bunda Syafira jadi Felix harus kuat seperti bundanya. Iya kan?" timpal Amel.
"Ia Aunty. Aku harus kuat supaya bisa menolong banyak orang dan bisa melindungi Bunda dari orang jahat."
__ADS_1
Sofi tersenyum, ia mengusap kepala cucunya ketika mereka sudah duduk dan Felix duduk di samping Sofi.
"Oma, aku mau balon itu." Tunjuk Felix pada kakek penjual balon keliling.
"Mel, panggil tukang balonnya ke sini!" titah Dinda.
Dan Amelpun memanggilnya lalu mengantar Felix membeli balon itu. Saat sedang memilih, datang Nicho menghampiri karena kebetulan tujuannya ke rumah Arman.
"Mel, Felix, kalian di sini?"
Keduanya menoleh. "Eh, Om. Iya, kami habis lari pagi dan mampir dulu untuk beli makanan." Kata Amel sambil membayar balonnya.
"Opa, kalau mau ketemu Oma ada kok. Tuh!" Felix menoleh ke belakang dan menunjuk Sofi yang sedang makan dan duduk membelakangi jalan.
Waktu itu, Sofi memberitahukan semuanya mengenai anaknya dan siapa cucunya. Jadi Nicho tidak terkejut dan tidak sungkan lagi ketika Felix memanggilnya Opa.
Nicho mengacak rambut Felix, ia tersenyum. "Kamu tahu saja kalau Opa mau menemui Omamu."
"Kita gabung saja, Om!" usul Amel.
Nicho pun mengiakan. Dia mendekati Sofi dan berdiri di belakangnya. "Hai, boleh aku duduk di sampingmu?" Bisik Nicho di dekat kuping Sofi.
Sofi tentu saja terkejut, ia menoleh kan kepalanya ke belakang. "Kau?! ngapain ke sini?" masih ada rasa takut ketika Nicho mendekatinya.
"Ba bagaimana kau memulainya?" Sofi gugup karena takut.
"Opa, mending Opa ajak Oma jalan-jalan lalu bicara berdua." Felix mengusulkan.
Sofi menggelengkan kepalanya. "Oma, tidak mau." Ada rasa takut kembali muncul di dirinya ketika berdua bersama Nicho.
"Bi, ini salah satu cara supaya Bibi bisa cepat menghilangkan trauma nya. Siapa tahu dengan kalian sering ketemu, sering jalan, perlahan bisa menyembuhkan trauma yang Bibi rasakan." Timpal Amel menambahkan perkataan Felix. Amel mendukung keduanya sebab Amel tahu jika Nicho adalah orang baik dan setia.
Dan apa yang terjadi ketika itu adalah kesalahan pertama dan terakhir yang Nicho lakukan. Mabuk untuk yang pertama kalinya dan menyakiti wanita untuk yang pertama kalinya meski tanpa di sengaja.
"Iya, pergilah bersamanya. Kamu harus bisa melawan segalanya, kamu pasti bisa!" Dinda menyemangati Sofi.
Sofi berpikir dulu lalu ia pun mengangguk mengiakan. Nicho merasa lega sebab usaha mendapatkan hati dan menghilangkan trauma Sofi akan segera di mulai.
Biarlah di kata tua-tua bucin karena cinta tak mandang usia. Biarlah di kata telat jatuh cinta karena hati tak bisa menolaknya.
__ADS_1
****
Cafe
"Mbak, Rani. Tolong panggilkan dokter kandungan ke mari ya!" Fira menelpon asistennya, sekarang dia sedang berada di ruangan kerjanya.
Rani yang di sebrang telpon mengernyit, dalam hati berkata, "Kenapa Syafira menyuruhku memanggilkan dokter kandungan? siapa yang hamil? apa mungkin si bos? ah tidak mungkin, dia kan belum menikah." Belum terlalu banyak orang yang mengetahui pernikahan Syafira dan Rey karena mereka mendadak nikah di malam hari dan belum mengadakan resepsi.
"Siap, Bu Bos. Laksanakan." Rani mengikuti saja kata bos nya.
Setelah menunggu beberapa lama kemudian, dokternya tiba di ruangan Fira.
"Ini, Ra. Dia dokter kandungannya."
Fira tersenyum ramah kepada mereka. "Terima kasih, Mbak. Oh iya dok, silahkan duduk!" Fira mempersilahkan dokter perempuan bernama Sela untuk duduk.
"Aku kembali ke depan dulu, Ra." Izin Rani.
"Tidak perlu, Mbak. Mbak tunggu di sini saja sekalian aku mau membicarakan sesuatu agar tidak ada kesalah fahaman nantinya."
Rani pun meengangguk, dan sang dokter mulai memeriksa Fira. Dokter Sela mulai memeriksa detak jantung Fira, tekanan darahnya, dan frekuensi pernapasan.
"Apa keluhan yang anda alami?" tanya Dokter sambil memeriksa tekanan darah Fira.
"Sudah lebih dari satu bulan ini saya telat menstruasi, Dok. Saya ingin mengetahuinya apakah saya hamil atau tidak?" Fira menjawab sambil membaringkan tubuhnya atas suruhan dokter.
Dokter Sela mengangguk. "Apakah ada tanda-tanda seperti muntah, pusing, atau ingin sesuatu atau tanda-tanda yang lainnya?" tanya Dokter Sela kembali ketika menekan pelan perut Fira memeriksanya dan memastikan perkiraannya.
Fira menggeleng gugup takut perkiraan dia tidak sesuai hasilnya. "Selama ini belum ada tanda-tanda seperti yang dokter bilang tadi."
Rani tentunya terkejut mengetahui sang bos hamil. Dia bertanya dalam hati, "Siapa yang sudah menghamili Syafira?"
Dokter Sela tersenyum, dan dia menyuruh Fira kembali duduk. Fira sudah deg-degan tak menentu.
"Saya ucapkan selamat kalau Anda dinyatakan hamil dan perkiraan usia kandungannya kurang lebih dua bulan. Anda bisa memastikan kembali dengan cara mengetes pakai alat pengecek kehamilan atau bisa langsung periksa ke rumah sakit untuk mengetahui lebih detail tentang hasilnya." Dokter Sela memberikan saran jikalau Syafira masih meragukannya dan dia juga memberikan sebuah alat pengecek kehamilan.
"Cobalah ini dulu agar Anda bisa mengetahui nya!"
Tangan Fira gemetar menerima alat itu dan iapun segera pergi ke toilet memeriksa hasilnya. Setelah menunggu beberapa menit hasilnya sudah keluar. Fira mengangkat alatnya guna melihat hasilnya dan dia tak kuasa meneteskan air mata bahagia di kala alat itu menunjukan garis dua. Dia mengerti artinya dan dia pun mengusap perutnya.
__ADS_1
"Dia sudah ada, Mas." Lirih Fira menangis haru sebab apa yang suaminya inginkan akan terwujud tinggal bagaimana dia memberitahukan perihal kehamilannya kepada sang Suami.
Bersambung....