
"Salah satu cuplikan bab 54 ( Karena kamu, takdirku.)
"Aku tidak mengerti kenapa kamu masih..?" Alvin menggantung ucapannya karena merasa tidak enak membicarakannya.
"Perawan," kata Riana mengerti.
"Iya."
"Saat A Vino menikahiku, dia belum sempat menyentuhku karena aku dalam keadaan halangan. Ketika aku siap menyerahkannya, dia malah..." Riana menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar.
"Tidak usah melanjutkan ucapannya kalau kamu tidak sanggup bicara." Alvin memeluk erat Riana dari belakang.
__ADS_1
Ada rasa bahagia dan sedih yang Alvin rasakan. Bahagia karena dialah orang pertama yang mengambil kehormatan istrinya dan sedih atas meninggalnya Vino. Namun ia bersyukur karena Riana sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Akan ada hikmah dari setiap kejadian yang terjadi. Seberapa besarpun cobaan yang kita alami, percayalah akan ada kebaikan yang tersemat dalam musibah tersebut.
"Kak, aku ingin bertanya sesuatu. Tapi, aku minta kamu jawab yang jujur." Tanya Riana mengusap tangan Alvin yang ada di perutnya.
Dia membalikan badannya sehingga menghadap ke arah Alvin alhasil keduanya saling berhadapan. Tangan lentiknya mengusap rahang kokoh milik suaminya dengan lembut lembut.
"Tanya apa? aku akan menjawabnya secara jujur." Balas Alvin juga mengusap pipi sang Istri.
"Karena kamu, takdirku." Ucap Alvin serius.
"Seberapa keras pun aku berusaha melupakanmu, seberapa jauh pun kita berada, seberapa lamapun kita terpisah jarak dan waktu, dan sekeras apapun aku menolak jika kamu takdirku maka akan kembali padamu. Apa yang telah di gariskan dan takdirkan untukku akan tetap menjadi milikku seperti kamu yang juga kembali kepadaku meski banyak rintangan menghadang. Dan yang pasti aku mencintaimu karena Allah." Lanjut Alvin menatap sayang istrinya.
__ADS_1
Riana tidak bisa berkata apapun, dia langsung saja memeluk sang suami dan menangis di pelukan suaminya saking terharu mendengar perkataan suami. "Terima kasih sudah mencintaiku begitu dalam. Maaf aku pernah mengecewakan mu."
"Ssstttt, tidak ada yang salah. Semuanya sudah menjadi takdir hidup kita." Alvin membalas pelukan istrinya sesekali mengecup pucuk kepada dan kening sang istri.
Sampai beberapa saat keduanya saling berpelukan menyalurkan rasa cinta dan sayang. "Sayang, kamu membangunkan sesuatu."
"Kak, aku lelah." Lirih Riana memukul manja dada bidang suaminya.
"Sekali lagi ya, sayang." Pinta Alvin memohon.
Riana tak tega melihat suaminya memohon, dan akhirnya dia mengangguk. Keduanya kembali melakukan hubungan suami istri sampai benar-benar kelelahan dan ketiduran dalam posisi berpelukan.
Takdir, kita berdua sudah di takdirkan oleh yang maha kuasa. Kita akan tetap bersama meski banyak rintangan dan waktu memisahkan. Meskipun cinta kita pernah di uji dengan adanya kehadiran a Vino, meskipun cinta kita pernah di uji dengan jangka waktu lama, namun cinta kita akan kembali bersatu seiring berjalannya waktu yang telah di tentukan oleh Allah.
__ADS_1
Kini kita sudah bersatu baik jiwa maupun raga, dan kini kami tinggal menikmati indahnya bahtera rumah tangga dalam suka maupun duka. Kita di pertemukan karena takdir dan di persatuan pula karena takdir.
Ya kamulah takdirku, Kak Alvino. Kamu takdir yang Allah berikan untukku, untuk menemaniku di sisa hidupku, untuk membagi suka duka dalam segalanya, untuk menjadikanmu pelindungku setelah Bapakku karena aku adalah tulang rusukmu.