
Jam sudah menunjukan puku tujuh pagi, Mahendra sudah bersiap diri untuk pergi ke kantor. Dirinya berjalan menghampiri meja makan dan membuka tudung saji yang ada di atas meja. Tidak ada makanan yang tersedia.
"Elsa...kemari! Dimana kau? ini sudah pagi kenapa makanannya tidak ada?" Hendra berteriak memanggil istrinya. "Kemana wanita itu?" Hendra mencari kesetiap tempat namun tidak menemukannya. Dirinya berjalan ke depan rumah. "Elsaa...Bela..." pekik Hendra kembali.
Ketika membuka pintu, kakinya tidak sengaja kesandung sesuatu dan Hendra menunduk. "Pengemis mana yang sudah berani tidur di depan rumahku?" Hendra menendang-nendang tubuh orang itu membangunkan nya.
"Hei, bangun! Ini bukan tempat penampungan gembel sepertimu." Hendra tidak bisa melihat wajahnya sebab wanita itu tidur menyamping dan wajahnya tertutup rambut. Sudah beberapa kali di bangunkan tidak bangun juga, Hendra memanggil salah satu anak buahnya.
"Jhon, bawakan air satu ember!" teriak Hendra.
Tak berselang lama Jhon membawakan airnya kemudian Hendra langsung saja mengguyur orang yang ia sangka gembel.
"Banjiiiirrr....Hujaaaan...." orang itu sontak saja bangun kemudian berdiri. Tapi, karena lantainya tergenang air membuat dia terpeleset jatuh kelantai.
Sreeeeett... blugggh...
Jhon sudah mengulum senyum sedangkan Hendra kesal. "Eehhh, pengemis, pergi dari sini! Ini bukan tempat gelandangan seperti mu!" bentak Hendra.
Orang itu mengangkat wajahnya, dan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya. "Ini saya brengsekkk...! Berani sekali kau mengatai saya gelandangan. Saya tidak semiskin itu." Semprot nya kesal.
Hendra terkejut mengetahui siapa dia. "Nyonya Saras! Ngapain Anda tidur di depan rumah saya? apa namanya jika bukan gelandangan?"
"Saya terpaksa numpang tidur di sini karena semalam saya habis kerampokan." Saras kesal, dan dia terpaksa tidur di depan rumah Mahendra.
Sepulang dari club malam, Saras mabuk sempoyongan. Nenek tua itu berjalan kaki mencari taksi, dan ketika di jalan tasnya di jambret orang. Semua uangnya di bawa kabur hanya tersisa handphone di saku bajunya. Meski umurnya sudah kepala 7 namun penampilan dan wajahnya seperti kepala 5. Itulah kekuatan uang yang bisa merubah bentuk tubuh alias operasi plastik.
Hendra mendapatkan ide setelah mendengar cerita Saras. "Saya ingin Anda membantu saya sekarang juga dan saya akan memberikan sebagian uang yang saya janjikan sebagai uang muka. Setelah semuanya berhasil, saya akan memberikan sisanya."
"Apa yang harus saya lakukan?" kata Saras tergiur. (Kana duit mah meunika hejo)
Hendra menyeringai diapun mengungkapkan apa rencananya kepada Saras.
"Baiklah, saya akan melakukannya hari ini juga." Kata Saras serius.
Hendra pun masuk ke dalam mengambil uang sebesar 5 milyar lalu ia serahkan kepada Saras. "Itu uangnya. Anda harus berhasil!" Hendra menyodorkan satu koper besar berisikan uang asli.
Saras melotot, matanya berbinar saat melihat uang itu. Dan dengan segera Nenek tua itu menelpon seseorang menggunakan telponnya.
****
__ADS_1
"Bunda, aku mau susu, susunya susu coklat." Pekik Felix berlarian menerbangkan pesawat yang di pegangnya.
"Iya, sayang. Nanti Bunda buatin." Jawab Fira sambil menyiapkan sarapan untuk semua orang.
Dan Syafira pun menyeduh susu permintaan anaknya. Ketika sedang mengaduk minuman, ada tangan melingkar di pinggangnya.
"Sayang, aku juga mau susu. Susu langsung dari pabriknya." Bisik Rey di telinga Fira dan sebelah tangannya sudah meremas benda kesukaannya.
"Mas!" Fira melepaskan tangan nakal sang Suami. "Ini dapur, dan ini rumah Mami."
"Aku tahu ini rumah Mami, lagian mereka masih belum bangun." Reyhan kembali meremas kedua aset istrinya dari belakang secara lembut. Tubuh Fira memanas, mulutnya ia bekap menahan agar suara merdunya tidak keluar. Rey memberikan tanda kissmark di leher jengjang sang istri yang begitu menggoda di matanya.
"Mas, ini di dapur." Lirih Fira melepaskan kedua tangan Rey yang sedang berada di kedua miliknya.
"Aku pengen lagi, sayang."
"Pengen apa Rey?" celetuk seseorang.
Rey dan Fira terkejut, terutama Reyhan langsung melepaskan genggamannya dan menjauhkan tubuhnya.
"Eh, Mami, Bibi! Sejak kapan kalian di situ?" tanya Rey kikuk, wajah keduanya sudah merah seperti kepiting rebus.
"Se selama itu?!" tanya Rey kaget. "Berarti mereka lihat semuanya dong? aaaaa malu banget guu," batin Rey.
Reyhan cengengesan dan menggaruk tengkuknya.
"Lain kali di kamar ya! Takutnya orang lain melihat, kan kasihan yang tidak punya pasangan." Kata Dita menasehati.
Keduanya tidak menjawab, Fira menyibukan diri menghidangkan sarapan sedangkan Rey, langsung ikut duduk tak peduli rasa panas akibat malu kepergok mertua dan Bibinya.
Tak lama kemudian Dika dan Felix ikut bergabung. Mereka makan tanpa mengeluarkan suara. Ketika sedang makan, handphone Sofi berbunyi terus dan yang lain melirik ke Sofi.
"Angkatlah! Siapa tahu itu sangat penting," kata Dika dan Sofipun mengangkatnya.
Seketika wajahnya terkejut dan panik. "Apa?! Ibu kerampokan dan orang itu mencoba melenyapkan ibu?"
"Iya, Nak. Hiks hiks tolong Ibu! Ibu takut, mereka membawa senjata tajam. Ibu sedang bersembunyi karena takut di bunuh dan mereka masih mengejar Ibu." Ucap seseorang di sebrang telpon.
Orang yang ada di meja makan menatap serius Sofi, mereka sampai memberhentikan suapannya.
__ADS_1
"Baik, aku akan kesana! Ibu kirimkan saja alamatnya!" Sofipun mematikan panggilannya.
Tring...tanda pesan masuk pun berbunyi.
"Ada apa, Mah?" tanya Fira penasaran.
"Ibu, Ibu di rampok begal dan sekarang lagi bersembunyi menyelamatkan benda berharganya." Jawab Sofi panik, ia sudah berdiri dari duduknya.
"Tunggu dulu, Mah! Kita jangan mudah percaya, takutnya ini sebuah jebakan untuk Mama." Fira mencegah karena hatinya yakin jika ini sebuah rencana seseorang.
"Benar, Fi. Kamu jangan mudah terkecoh oleh sesuatu yang belum pasti," timpal Dika.
"Aku yakin Ibu sedang dalam masalah, Mama bisa mendengar kekhawatiran, ketakutan, di suaranya Ibu. Mama harus kesana membantunya." Sofi tidak mendengar mereka, dia pergi begitu saja.
"Mah..." Pekik Fira ingin mengejar namun terhenti ketika suara panggilan masuk berbunyi dan Firapun mengangkatnya.
"Halo, Mbak Rani. Ada apa?"
"Ra, Cafe kita di serang seseorang tidak di kenal. Mereka menghancurkan tempat ini dan berteriak memanggil nama kamu." Kata Rani juga terdengar panik.
"Apa?! Siapa mereka? kenapa mereka menyerang kita?" tanya Fira ikutan terkejut dan panik.
"Aku juga tidak tahu, cepetan kamu kesini! Sebagian karyawan kita sedang melawan mereka."
"Baik-baik, aku akan kesana sekarang juga. Tetap awasi pergerakan mereka!" Fira mematikan panggilannya.
"Ada apa, sayang?" tanya Mereka secara bersamaan.
Fira menatap ketiganya secara bergantian. "Ada orang yang menyerang Cafe, aku harus kesana. Ada kejanggalan yang ku rasakan."
"Aku ikut kamu! Felix, kamu tunggu di sini sama Uti dan Kakung ya!" kata Reyhan.
"Iya, Ayah. Kalian hati-hati!" jawab Felix.
"Iya, Nak." Balas Fira dan Rey bersamaan.
Merekapun berjalan keluar. "Halo, bang Leo. Keluarkan semua anak buah kita! Sepertinya mereka sudah bertindak dan tolong ikuti Mama Sofi! Sebagian mereka ikut aku, sebagian menjaga rumah Daddy, sebagian menjaga rumah Papa Arman dan sebagian juga mengawasi Mama Sofi."
Reyhan tidak bisa berkata apapun mengenai istrinya. Dalam hati ia berkata, "Begitu berkuasanya Istriku sampai anak buahnya di mana-mana?" batin Rey.
__ADS_1
Bersambung....