
"Waahhh si bos kawin juga. Selamat ya Bos." Celetuk Daffa menyalami kedua mempelai memberikan ucapan selamat.
"Nikah pea, bukan kawin. Emangnya loe kawin dulu nikah belom." Gilang yang ada di belakang Daffa mengomentari ucapan Daffa.
"Eh oncom, jangan sekate-kate kalau ngomong! Loe bisa menjatuhkan harga diri gue di depan para wanita." Daffa tidak terima, padahal dia memang pernah melakukannya bersama mantan tunangan dia yang seorang janda.
"Aduuuuuh, ini dari tadi pea dan oncom berdebat mulu. Nanti di lanjutin lagi perdebatannya setelah turun dari sini. Kalian lihat noh kebelakang! Antrian menyalami mempelai sangat panjang sepanjang jalan kereta."
"Aduuuuuh, ni anak satu dari tadi kenapa ngintilin kita mulu." Gilang dan Daffa tidak mengerti kenapa selalu ada Panu di dekat mereka.
Panu adalah salah satu karyawan Rey yang tadi juga melihat perdebatan Daffa dan Gilang.
Rey menggelengkan kepala melihat para teman-temannya. Sedangkan Syafira tersenyum lucu melihat tingkah mereka.
"Kata Panu benar, mending di lanjutin di bawah saja berdebatnya. Mau adu jotos juga enggak apa asalkan jangan di atas panggung pelaminan," timpal Reyhan.
"Tuh kan! Kata si Bos juga apa. Buruan maju!" Panu mendorong tubuh Gilang dan Gilang mendorong tubuh Daffa.
"Iya, iya, kita selesaikan dulu salamannya." Ucap Daffa.
Wajah Daffa tersenyum ramah melihat wajah cantik Syafira, Rey mencebik tidak menyukai tatapan Daffa yang begitu terpesona pada istrinya.
"Hai, Ra. Cantik bener sih, andai gue yang lebih dulu..." Belum juga selesai, Rey dan Gilang sudah mendorong punggung Daffa.
"Udah-udah, pergi, kelamaan loe Daff." Ucap Gilang.
"Eh, oncom. Gue belum selesai ngucapinnya." Daffa kesal dia ingin balik lagi ke atas.
"Udah gue wakilin tadi." Gilang menarik tubuh Daffa lebih tepatnya memeluk menahan Daffa supaya tidak kembali naik.
Fira mengulum senyum, dia benar-benar ingin tertawa.
"Kenapa, kamu senang kan ada yang terpesona sama kamu? ck, jangan harap dia bisa deketin kamu!" Rey mendadak geram dan cemburu.
Fira menatap wajah suaminya yang terlihat kesal. Tangan Rey ia gandeng, "Siapa yang senang? aku lebih senang bisa bersanding denganmu. Kamu yang terbaik untukku, Sayang."
Seketika wajah Rey cerah, tangannya menarik pinggang sang istri ingin mengecup bibirnya.
"Woy, masih banyak tamu yang ngantri!" pekik Doni mengagetkan keduanya.
Reyhan mencebik, Fira kikuk.
__ADS_1
"Ganggu saja. Oh Tuhan, bisa tidak acaranya di singkat supaya bisa berduaan dengan istri cantikku ini." Gumam Rey namun masih bisa di dengar.
"Tidak bisa!" Ucap Doni dan Amel bersamaan.
"Eh, ternyata ada kamu di belakang aku." Doni menoleh ke belakang. "Kita juga kompak dalam berucap. Jangan-jangan kita jodoh." Doni menaik turunkan alisnya dan mengerlingkan sebelah mata.
"Iiiii, om cacingan. Awas! jangan dekat-dekat denganku!" Amel bergidik ngeri dan dia langsung berjalan duluan memberikan selamat kepada Abangnya dan Fira dan dengan tergesa meninggalkan tempat itu.
Doni melongo melihat Amel. "Rey, adikmu waras tidak sih? masa kerlingan mata di sangka cacingan?"
Tawa Fira meledak melihat wajah bodoh Doni. "Hahaha om tidak cocok mengerlingkan mata sebab wajahnya terlihat seperti orang cacingan hahahaha."
Doni menggeram, "Syafiraaa! Kalau saja tidak di atas pelaminan Paman piting kepala kamu."
Fira malah menjulurkan lidahnya meledek Doni. Dan Donipun segera turun setelah mengucapkan selamat kepada keduanya.
"Nak Fira, Nak Rey, selamat ya atas pernikahan kalian. Kami doa kan semoga pernikahan kalian Sakina mawadah warahmah." Ucap Tulus Bu Siti.
Kini giliran keluarga Bu Siti dan Pak Komar yang memberikan ucapan selamat.
"Terima kasih, Bu." jawab Fira dan Rey bersamaan.
"Semoga kamu menjadi suami yang bertanggung jawab dan selalu membahagiakan orang baik seperti Nak Fira." Kata Pak Komar pada Rey dengan menepuk-nepuk pundak Rey.
Keluarga pa Komar sudah turun dan sekarang keluarga Pak Heru yang hadir memberikan selamat.
"Selamat ya, Bu Bos. Dan maaf atas kesalahan yang pernah istri saya lakukan." Pak Heru masih merasa tidak enak hati. Meski istrinya salah namun Fira masih memperkerjakan dia dan membebaskan Ratih setelah 6 bulan di penjara.
Wanita yang ada di belakang Heru menunduk malu dan pastinya menyesal. Dia enggan menatap Wajah kedua mempelai.
"Bu..." panggil Heru memberikan kode untuk mengucapkan selamat.
"Se selamat atas pernikahan kalian." Kata Ratih menunduk.
Rey merangkul pinggang istrinya masih ada rasa marah ketika mendengar cerita mengenai Ratih terhadap istrinya.
Fira tersenyum ramah. "Terima kasih, Bu. Lupakan yang dulu, buka lembaran baru. Silahkan untuk menikmati hidangannya!"
Keluarga Herupun meninggalkan tempat pelaminan setelah selesai memberi ucapan selamat.
"Kenapa kamu baik banget padahal mereka sering jahat sama kamu?" tanya Rey menatap bola mata istrinya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin ada dendam di hatiku. Tuhan selalu mengajarkan kita untuk saling memaafkan, maka dari itu aku berusaha memaafkan mereka agar hidupku terasa damai."
Reyhan menatap kagum pada wanita yang ada di hadapannya. Cinta Rey untuk istrinya semakin bertambah. Dia berjanji dan berusaha untuk menjaga wanita langka yang telah Tuhan berikan dalam kehidupannya.
"Syafiraaa." pekik dua orang gadis mengagetkan acara mandang memandang kedua nya.
Fira menoleh seketika matanya membola dan ia ikut memekik. "Aaaa Kania, Fitri, gue kangen sama kalian berdua." Ketiganya berpelukan mengungkapkan perasaan rindu.
"Kita juga kangen, Ra. By the way, selamat ya atas pernikahannya. Gue tidak menyangka kalau loe akan mendapatkan jodoh di tempat ini." Ucap Kania mengurai pelukannya.
Ketiganya masih saling rangkul. "Iya, Ra. Gue pikir tidak akan ada yang mau sama cewek laki kayak loe. Eh, tak tahunya ada juga malah ganteng lagi," sahut Fitri menaik turunkan alisnya menggoda Fira.
Kania dan Fitri datang bareng orang tua mereka dari kota M. Mereka mendapatkan undangan dari Doni atas suruhan Dita.
Reyhan kesal, ia merasa di cuekin oleh istrinya. "Hmmm hmmmm sepertinya ada yang lupa nih sama lakinya." Rey berdehem menyindir Fira dan kawan-kawan.
"Oh, iya. Kenalin, ini Reyhan suami yang paliiiing aku cintai." Fira merangkul tangan Rey memperkenalkan suaminya.
"Ck, sejak kapan loe jadi alay seperti ini?" tanya Kania merasa gelay.
"Sejak kenal Mas Reyku." Fira menatap wajah Suaminya penuh cinta. Rey membalas tatapan istrinya penuh cinta juga.
"Iiihhhh ternyata cinta mampu merubah segalanya." Fitri ikut geli melihat kebucinan sang sahabat.
"Biarin, pasti kalian iri kan melihat kami? kan kalian jomblo." ledek Fira sebab dia tahu kalau kedua sahabatnya sudah tidak punya pacar.
"Darimana kau tahu?" tanya keduanya heran.
"Darimana saja boleh. Eh, mau tidak aku jodohin sama orang sini?" usul Fira.
"Boleh deh, daripada kita jomblo." Kania semangat. Sedangkan Fitri biasa saja.
"Tuh, ada dua cowok jomblo di sana!" Fira menunjuk ke arah dimana Gilang dan Daffa duduk.
Kania dan Fitri mengikuti arah yang di tunjuk Fira, seketika matanya terbelalak kaget. "Mereka?! ogah!" jawab keduanya.
Fira dan Rey saling tatap bingung.
Tadi Kania dan Fitri sempat tidak sengaja melihat keduanya saling berpelukan saat baru memasuki area green ballroom. Padahal tadi Gilang sedang menghalangi Daffa untuk tidak kembali ke atas panggung pelaminan. Namun keduanya salah paham karena Gilang dan Daffa terlihat seperti sedang berpelukan mesra.
Setiap rangkaian acara satu persatu telah usai. Para tamu undangan sedang menyantap hidangannya masing-masing. Namun tiba-tiba saja lampu mendadak padam.
__ADS_1
Ada apakah? apakah tejadi sesuatu atau akan ada kejutan untuk keduanya?
Bersambung....