
"Semoga rencana kita berhasil, Fi. Aku sudah tidak sabar melihat mereka hancur." Dia menampilkan senyum misterius.
"Apa ini tidak terlalu jahat?" Sofi sedikit merasa tidak tega melakukan ini pada mereka.
"Jahat? kau bilang ini terlalu jahat? Lalu bagaimana dengan mereka yang selalu berusaha melenyapkan putriku? mereka juga tega melenyapkan putra dan menantumu tanpa belas kasih. Bahkan Mahendralah yang telah membuatmu seperti ini. Ini tidak seberapa jika di bandingkan dengan kehilangan orang yang kita sayangi. Kau harus ingat! Hidup itu keras, selembut apapun kita jika mereka tidak menyukai kita sampai kapanpun mereka akan tetap membenci kita. Kita harus kasih mereka pelajaran agar mendapat sedikit efek jera."
Sofi terdiam, dia membenarkan ucapan Dita. Dia sudah merasakan kejamnya kehidupan, jika bukan tanpa Doni dan Dita, dia tidak akan menjadi seperti sekarang. Mungkin saja Sofi sudah di gilir oleh para preman, dan mungkin saja dia menjadi stress atau nekat bunuh diri.
"Aku hanya tidak tega saja." Balas Sofi mengutarakan isi hatinya.
Dita membuang nafas secara kasar. "Berani berbuat berani bertanggung jawab. Bela melakukan semuanya tanpa berpikir kedepannya seperti apa. Maka dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya meski dia melakukan itu karena sakit hati. Dan apa kamu rela jika keponakanmu menikah dengan Bela yang notabene nya adalah wanita bayaran yang hanya terobsesi saja pada Reyhan? kalau aku sih tidak rela. Itu terserah kamu, mau menyetujuinya menikah dengan Bela silahkan, mau tidak juga terserah. Tapi, jika Rey anakku atau keponakanku tak akan ku biarkan dia menikah dengan orang yang tidak di cintainya. Ingat! Reyhan berhak bahagia bersama pilihannya. Dan pilihan Reyhan jatuh pada putriku Syafira." Dita berucap panjang lebar berharap Sofi mau mengerti tentang semua yang terjadi saat ini.
Sofi memikirkan apa yang dikatakan Dita. "Lalu rencana selanjutnya apa?"
"Apa yang kalian rencanakan?" sahut seseorang yang berada di belakang keduanya.
Dita dan Sofi menoleh kebelakang dan keduanya seketika tertegun melototkan mata. Dita yang sedang memegang minuman menjatuhkan gelasnya ke lantai akibat terkejut. Sofi juga ikut tersedak makanan melihat seorang pria berdiri tegak di belakang mereka.
"Papi!"
"Dika!" ucap keduanya.
Dika menatap tajam ke arah istrinya. Selama ini dirinya merasa di bohongi oleh sikap sang istri yang ternyata hanya pura-pura gila. Dika mengadakan meeting dengan supplier pemasok bahan mentah untuk restorannya, dan kebetulan Dika meeting di Cafe yang istrinya kunjungi. Saat ingin keluar Cafe, matanya tak sengaja melihat orang yang ia kenali. Awalnya ragu, karena penasaran Dika mendekati keduanya dan ternyata itu memang sang istri.
"Jadi selama ini kau tidak gila?" tanya Dika menusuk.
__ADS_1
Dita gelagapan, "𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩?" 𝘶𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.
"A aku bisa jelasin, Pih." Jawab Dita terbata dan juga gugup.
"Aku tunggu penjelasan kalian berdua di rumah!" ucap Dika tegas penuh perintah. Lalu dia pergi meninggalkan dua wanita paruh baya itu.
Dita menyenggol lengan Sofi. "Gimana ini? apa yang harus ku lakukan?" bisik Dita saat keduanya berdiri melangkah keluar Cafe.
"Aku juga tidak tahu. Mending kita jujur saja! Mungkin ini saatnya dia harus tahu jika anak kalian masih hidup dan dia juga harus tahu apa yang telah Kakanya lakukan pada kalian." Jawab Sofi memberikan solusi.
"Baiklah, semoga saja Dika tidak murka."
"Mudah-mudahan saja."
****
"Ada yang mau menjelaskan?" tanya Dika menatap tajam keduanya. Dika menumpangkan sebelah kakinya ke kaki yang satu lagi, tangannya bersidekap di dada, punggungnya di senderkan ke kursi.
"A aku hanya ingin melindungi anak kita." Dita memberanikan diri menjawab pertanyaan suaminya.
Dika mengernyit heran. "Anak kita siapa? bukankah dia sudah tiada?" Setahu Dika, putrinya meninggal di usia dua tahun akibat terbawa arus dan jasadnya tidak bisa di temukan.
Dita tiba-tiba saja bersimpuh di hadapan suaminya. Belum saja menjelaskan, Dita sudah menangis duluan. "Maafkan aku, Pih. Selama ini aku hanya pura-pura gila demi melindungi putri kita. Aku telah membohongimu selama bertahun-tahun dan menyembunyikan kebenaran mengenai anak kita. Maafkan aku, Pih." Dengan tulus dan bersalah Dita mengakui semuanya di hadapan suami.
Deg..!
__ADS_1
"Jujur, aku merasa bersalah kepada kamu. Tapi, aku punya alasan melakukan semua ini, Pih."
"Aku tidak mengerti, jelaskan semuanya!" Kata Dika masih belum mengerti akan semuanya.
Perlahan Dita menarik napasnya kemudian ia buang. "Sebenarnya, Aurel tidak di culik dan tidak pernah hanyut," ucap Dita. "Maafkan aku. Aku tidak akan membiarkan Kakamu melenyapkan putriku." Lanjutnya mmengepalkan tangan marah.
Dika terdiam, kaget dan juga bingung. "Maksudmu, Mas Mahendra?" tanya Dika terkejut, lalu mencondongkan tubuhnya kehadapan sang istri. Dika meminta penjelasan detail kepada wanita di hadapannya.
"Mahendra sudah empat kali mencoba melenyapkan putri kita, dan aku selalu menggagalkannya. Karena geram, aku berniat merencanakan sebuah penculikan dan merekayasa agar mobil penculiknya terlihat terjun ke sungai. Padahal semuanya palsu, mobil di kendalikan oleh remot dan putriku aku titipkan kepada bi Marni asisten yang dulu pernah bekerja di rumah Ayah." Dita mulai menjelaskan segalanya kepada sang suami berharap Suaminya mau mengerti.
"Itu tidak mungkin, aku tidak percaya itu," sanggah Dika yang tidak mempercayai ucapan sang istri.
"Saya punya buktinya, Pih." jawab Dita penuh keyakinan.
Kemudian Dita berdiri, lalu memegang tembok di belakang kursi yang di duduki Dika. Seketika tembok itu berbelah menjadi dua dan terpang-panglah sebuah ruangan rahasia.
Dika dan Sofi melototkan matanya, keduanya tidak menyangka tembok itu bisa terbelah. "Ikut aku!" Dika dan Sofi mengikuti Dita.
Dika melihat semua foto yang menempel di dinding itu. Terlihat jelas foto itu memperlihatkan jika Mahendra berusaha melenyapkan putrinya sedari masih kecil. Foto saat Hendra mencampurkan serbuk racun tikus pada susu, saat berusaha membekapkan bantal pada bayi, rekaman Hendra memerintahkan seseorang untuk meculik, serta video saat Hendra ingin mendorong stoler bayi dari atas tangga.
Dika kaget, sangat kaget. Orang yang selama ini ia hormati dan sayangi ternyata berusaha melenyapkan anaknya. "Ini tidak mungkin!" gumamnya masih tidak percaya.
"Sampai saat ini Hendra masih berusaha menyingkirkan putri kita, Pih."
Dika menoleh ke samping menatap istrinya seolah meminta melanjutkan ucapannya. Tanpa banyak bicara Dita membuka kain yang menutupi sebagian dinding. Terpangpang kembali foto di mana orang suruhan Mahendra ingin melenyapkan Aurelia dewasa.
__ADS_1
"Di dia?" Dika bergetar melihat foto gadis cantik yang selama ini sering menemui mereka.
Bersambung....