Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Putus Asa


__ADS_3

Bela menatap tidak percaya pada Hendra. "Aku tidak mau melayani mu! Kau itu Papa ku, tidak seharusnya seorang anak melayani orang tuanya." tolak Bela tegas.


"Cuihhh, kau bukan anak kandungku! Saya menikahi ibumu di saat usiamu lima tahun. Maka dari itu, sebagai pertanggungjawaban atas kerugian perusahaanku kaulah yang akan membayar segalanya!" pungkas Hendra tanpa penolakan.


"Aku tidak mau! Mah, aku tidak mau melayani dia! Sudah cukup bagiku melayani pria hidung belang. Aku tidak mau lagi, Mah!" Bela memohon kepada Ibunya.


"Biar aku saja. Jangan anakku yang kau jadikan pelayan birahimu," pinta Elsa mengatupkan kedua tangannya memohon agar suaminya melepaskan Bela.


"Tidak ada penolakan! Sekarang juga kau harus melayaniku sebagai awal pertanggungjawaban kesalahannya!" pekik Hendra menarik paksa Bela.


"Tidak! Aku tidak mau...Mah, tolong aku! Aku tidak mau melayaninya!" pekik Bela meronta dari cekalan Hendra.


"Pah, jangan Bela! Kami akan mengganti semua kerugiannya dan kasih kami waktu. Tapi jangan kau jadikan Bela pemuas nafsumu!" Elsa mencegah Hendra dengan menghadangnya dan berusaha melepaskan cekalan Hendra dari tangan Bela.


"Diam kamu! Ini sudah menjadi keputusanku! Kau harus menuruti semua perintahku!" bentak Hendra mendorong keras Elsa menyingkirkannya dari hadapan dirinya.


"Aku tidak mau...! Mah, tolong aku..!" teriak Bela berontak dengan derai air mata terus membasahi pipinya.


"Pasukan..! Jaga wanita ini agar dia tidak bisa mengganggu aktivitas ku! Dan jaga kamarku supaya tidak ada yang masuk ke dalam!" pekik Hendra menyuruh anak buahnya untuk menjaga Elsa dan berjaga di depan kamarnya.


Anak buah Hendra mencekal kedua tangan Elsa supaya Elsa tidak bisa kabur.


Hendra menyeret paksa Bela. "Tidak...! Jangan paksa aku melayani mu, Pah! Kau Papa ku, aku anakmu!" pinta Bela histeris dengan tangis pilu.


"Jangan, Pah!" Elsa berontak namun tidak bisa lepas sebab kiri kanan di cekal oleh dua orang ajudan berbadan besar.


Hendra menyeret dan melemparkan Bela ke atas ranjang secara kasar. Hendra mulai melakukan aksi yang selama ini ia inginkan. Di dalam sana Bela terus menjerit, menangis, memohon, meminta tolong kepada siapa saja yang ada di sana. Tidak ada yang berani mencegah keinginan Mahendra termasuk Jhon sendiri yang memang ada di luar rumah berjaga di luar sana. Meski mendengar setiap jeritan pilu Bela, Jhon tidak berkutik sedikitpun. Walaupun di dadanya terasa sesak mendengar ucapan memohon Bela, dan dia tidak berani bertindak.

__ADS_1


Ketika Mahendra ingin menggauli Bela tiba-tiba yang ia lihat bukanlah Bela melainkan sesosok tubuh besar berwajah menyeramkan penuh darah dan orang itu menyerupai Albern Alexander.


Hendra sampai tersungkur kebelakang saking terkejut dan takutnya. "Se setaann!" pekik Hendra segera memakai pakaiannya.


Dalam hati, Bela merasa bersyukur karena Mahendra belum sempat menggaulinya. Namun, ia tetap merasa jijik dan merasa hidupnya sudah hancur. Meski ia pernah menjadi wanita bayaran, jika di perlakukan seperti ini ia merasa tidak terima.


Elsa tertunduk lesu di lantai mendengar teriakan anaknya. Hatinya sakit dan hancur dengan apa yang terjadi kepada mereka. Elsa menangis sesegukan mendengar teriakan Bela yang meminta menyudahi permainan dan memohon untuk melepaskan dirinya. Ruangan yang di tempati Hendra tidak kedap suara. Jadi bisa terdengar keluar ruangan. Elsa tidak bisa mencegah keinginan Mahendra dan tidak bisa melawan para ajudan Hendra.


Setelah berselang lama, Hendra keluar dari kamar dengan pakaian berantakan dan tersenyum puas pada Elsa. "Anakmu sungguh mantap, tubuhnya begitu terasa nikmat. Ini pertama kalinya ku menikmati seorang wanita muda dan akan ku pastikan dia terus melayaniku sampai kerugian perusahaan ku bisa terselesaikan secepatnya." Ucap Hendra tak merasa bersalah padahal ia berusaha menutupi kegagalannya.


Elsa mengepalkan tangannya, matanya sudah memerah akibat amarah yang sudah memuncak. Dia murka dan dia mengambil senjata yang ada di salah satu pengawal Hendra.


"Dasar baj****n kau Hendra! Brengsek! Tidak punya hati! Kau pantas mati...!" umpat Elsa murka.


Dorrr....


Suara tembakan menggema di ruangan tersebut.


"Tinggalkan mereka! Antar saya kerumah sakit!" titah Hendra. Kesadarannya sudah mulai melemah akibat tembakan di tubuhnya. Para pengawal yang berjumlah tiga orang itupun memapah Hendra ke rumah sakit. Namun belum juga sampai mobil, Hendra pingsan.


Jhonpun ikut meninggalkan tempat itu, sebelumnya ia menoleh ke belakang dan matanya menatap tak percaya melihat kedua pipi Elsa terdapat cap lima jari. Karena tidak mau ribet, Jhon sampai hati meninggalkan Elsa dan Bela.


Bela keluar dengan tertatih sambil memegang selimut di tubuhnya. Baju yang Bela kenakan sudah tidak berbentuk sedikitpun. Wanita itu sudah menangis sesegukan meratapi nasibnya. Dia menghampiri sang Ibu dan memangku kepala Ibunya.


"Mah, bangun! Hiks hiks hiks. Aku sudah sangat hancur, Mah. Aku tidak mau seperti ini terus. Bahkan Jhon pun tidak mau menoleh membantuku. Aku lebih baik mati saja daripada seperti ini. Perutku terasa sakit, Mah. Baji***n itu terus memaksaku secara kasar. hiks hiks hiks, aku tidak mau seperti ini." Bela menunduk, menangis pilu. Dia menjadi putus asa, hidupnya sudah tidak berguna lagi.


Dia menyesal pernah begitu saja mempercayai seseorang, menjadi berambisi, dan sekarang akibatnya ia harus mengalami hal semacam ini. Tidak ada yang mau bertanggungjawab atas anak yang di kandungnya, nama baiknya harus tercoreng akibat ulahnya, dan sekarang dia harus menjadi pelayan pemuas nafsu Papa tirinya.

__ADS_1


"Aku tidak mau hidup lagi! Lebih baik aku mati daripada seperti ini!" Bela memutuskan mengakhiri hidupnya karena merasa tidak sanggup menjalani kehidupan seperti ini.


Bela bangkit, berganti pakaian dan keluar rumah. Matanya menatap kosong, dan dia terus berjalan kemanapun dia pergi.


****


Syafira sedang berkutat di dapur Cafe menyiapkan makan siang untuk suaminya. Fira berniat memberikan makanan spesial untuk Reyhan dan ingin memberikan surprise karena tadi pagi Fira tidak sempat menyiapkan sarapan akibat ada kuliah pagi. Secara terburu-buru, Fira pergi ke kampus yang sebelumnya telah menitipkan Felix kepada orang tuanya.


Fira melangkah masuk ke toko mainan menjinjing rantang makanan. Kebetulan Cefe milik Fira dan toko Reyhan bersebrangan memudahkan keduanya untuk saling bertemu dan bertegur sapa.


"Mas, aku beli ini dong!" Fira menyodorkan mainan ke hadapan Reyhan. Rey sediri tengah sibuk mengecek laporan keuangan yang masuk.


"Maaf, Mbak. Silahkan bayarnya di kasir saja! Ini tempat saya bekerja. Tidak sopan banget sih Anda!" Reyhan mencebik kesal, namun mata dan tangan masih sibuk meneliti setiap angka.


"Hhhmmm, ya sudah. Aku pulang lagi saja, kehadiranku tidak di inginkan oleh suamiku." Ucap Fira murung. Dia menyimpan rantang di meja Reyhan lalu berbalik menghadap pintu.


Reyhan mendongak ketika mendengan Fira menyebut suamiku. Rey tidak mengenali suara Fira yang sebelumnya karena Fira merubah suaranya. "Sayang!" Reyhan segera bangkit dari duduknya dan langsung saja memeluk Fira dari belakang.


"Maafkan aku, tadi aku tidak mengenali suaramu. Aku tidak bermaksud seperti itu, maaf!" lirih Rey menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Fira.


Fira mengusap pipi Rey. " Aku yang minta maaf karena sudah mengganggu kamu."


Reyhan menghadapkan tubuh Fira kehadapannya.


"Untukmu, tidak ada kata terganggu. Kamu selalu akan menjadi prioritas utama dalam hidupku setelah orang tuaku." Kata Rey menangkup pipi istrinya. Keduanya saling memandang dan Reyhan menempelkan bibir keduanya.


"Bos, ini laporan penju... Aduh, Bos. Sorry! Saya tidak lihat!" Daffa nyelonong masuk tanpa ketuk pintu. Dirinya melotot kaget ketika melihat atasannya sedang melakukan adegan kissing. Daffa pun segera keluar kembali.

__ADS_1


"Daffaaa.... Kau mengganggu saja!" pekik Reyhan kesal.


Bersambung....


__ADS_2