Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Menyusun Rencana


__ADS_3

"Apa Kalian tahu mereka membawa Felix dan Mama kemana?" Fira sudah gelisah dan cemas dia terus mondar mandir sambil berpikir.


Kedua tangan Fira ia taruh di pinggangnya, Reyhan pun ikutan mondar mandir seperti yang Fira lakukan dan...


Duuggg...kening Fira terbentur dada Rey.


"Aduhhh, kenapa kamu ikutan mondar mandir?" ucap Fira sambil mengusap keningnya.


"Aku cuman ngikutin kamu saja."


"Astaga!" Fira menepuk jidatnya nya.


"Sudah-sudah kita harus segera menemukannya, sebelum terjadi sesuatu terhadap mereka!" kata Arman.


Keluarga Arman datang ke kediaman Dika setelah di beritahu oleh Reyhan.


"Ra, bukannya kamu memasang alat di gelang Felix dan di cincin Bibi supaya bisa mengetahui dimana letak mereka." Amel ingat jika Fira pernah bercerita mengenai alat itu.


"Kamu benar, Mel. Terima kasih sudah membantuku adik ipar." Dengan segera, Fira mengambil handphone.


"Gimana, Ra. kamu menemukan mereka?" tanya Dika.


"Sebentar, Dad!"


Fira mengecek handphone nya yang sudah terhubung dengan gelang dan cincin. "Aku menemukannya."


"Dimana?" tanya mereka semua.


Fira menunjukan dimana keduanya berada.


"Tunggu! Ini alamat rumahnya Nicho." Arman terkejut dimana keberadaannya Sofi.


Fira diam tak menjawab karena dia tahu siapa Nicho yang di maksud papanya.


"Jangan dulu banyak bertanya! Sekarang juga kita ke sana menyelamatkan mereka!" sela Reyhan.


"Rey, benar. Malam ini juga kita beraksi. Ra, apa kita perlu menghubungi Doni?" tanya Dita.


"Jangan dulu, Mih! Paman Doni sedang mengecek Cafe di kota M, biarkan dia pokus pada pekerjaannya dulu. Lagian aku dan anak buahku masih bisa menghadapinya."


"Kalau itu mau mu Mami tidak jadi menghubungi Doni."


Mereka semua menyusun rencana, para wanita di perintahkan untuk diam di rumah sedangkan para lelaki akan ikut dengan Fira. Fira sendiri yang memutuskannya.


****


Sofi mengerjap-ngerjapkan matanya saat sudah tersadar. Matanya meneliti tempat sekitar. Sebuah kamar mewah bernuansa modern, "Dimana aku? di rumah?" Sofi bangun, dia berjalan keluar kamar.


Samar-samar Sofi mendengar pembicaraan dua orang dan dia mengendap mendengarkan pembicaraannya.


"Jadi dia wanita yang kau rusak? selama ini kau tidak menikah karena menunggunya?"


"Iya, Mam. Aku ingin bertanggungjawab atas apa yang telah ku lakukan dulu. Walaupun terlambat."

__ADS_1


"Mami tidak masalah kamu menikahinya asalkan kamu bahagia dan tahu dulu siapa keluarganya, Nicho."


Sofi mematung, tubuhnya gemetar, ia kembali teringat ke peristiwa dulu. "Nicho...!" gumam Sofi, dia membekap mulutnya saking terkejut dan tak sengaja menyenggol pas bunga..


Nicho dan maminya menoleh. "Kamu..sudah bangun?" Nicho menghampiri.


"Ja jangan mendekat! Ja jangan sentuh saya! Pergi kamu dari hadapan saya!" pekik Sofi histeris.


Nicho memberhentikan langkahnya. Dia benar-benar menyesal telah menyakiti wanita yang ada di hadapannya.


Maminya Nicho menghampiri Sofi dan memeluknya. "Kamu tenang, tidak akan ada yang menyakitimu."


"Dia....dia...sudah menghancurkan hidupku, dia sudah merenggut apa yang seharusnya ku jaga. Dia brengsek, dia baji***n." Sofi menangis di pelukan Mami Karin.


****


"Om, aku lapal belum makan. Apa om tega menyiksa anak kecil seimut dan seganteng diliku?" Felix menatap polos para ajudan Hendra.


"Saya tidak peduli, mending kau diam saja disitu!"


"Om, dosa loh nyakitin anak yatim sepeltiku. Apa Om tidak takut masuk nelaka? nanti om di cambuk pakai api, di lebus di ail panas, nanti tubuh om di cincang pakai golok besaaaaal sebesal laksasa," celoteh Felix tak takut sedikitpun.


Felix berada di tempat dimana Saras menyekap Sofi cuma beda ruangan.


"Emangnya kamu anak yatim?"


"Iya, om." Felix mengangguk.


"Duuuuh bos, kasihan. Kata emak saya kalau kita jahat sama anak yatim Tuhan akan menghukum kita di dunia dan di akhirat. Bisa jadi ucapan anak ini kenyataan." Salah satu dari mereka ketakutan.


Felix memanyunkan bibir mungilnya. "Iiiiiih, om jahat. Aku doakan semoga ada petir menyambar olang sepelti kalian."


Dan tiba-tiba suara petir terdengar mengagetkan mereka.


"Cepetan beli makanan yang banyak! Tanya dia maunya apa!" sang Bos pun ketakutan dan dia akan membelikan makanan untuk anak yatim ini.


Felix sumringah, dia menyebutkan setiap makanan dan minuman yang di inginkannya.


****


"Apa ini tempatnya?" Tanya Dika menatap bangunan tua tak berpenghuni jauh dari kota.


"Dari GPS sih ini." Fira keluar dari mobil melihat sekeliling rumah tua itu.


"Hiii, tempatnya serem banget, Sayang." Reyhan bergidik ngeri.


"Kalau takut jangan iku! pulang saja sana!" Fira malah mengusir suaminya.


"Enggak ah."


"Tunggu sebentar!" Dika mencegah Fira dan Rey. "Itu Mahendra dan Nyonya Saras masuk ke sana. Daddy benar-benar tidak menyangka mereka bisa sekeji ini?"


Dengan langkah pelan namun pasti, mereka masuk mengendap-endap. Tapi, langkahnya di ketahui oleh salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Berhenti!" pekikannya mampu mengundang para penjaga lainnya.


"Aduh kita ketahuan." Ucap Rey.


Mereka menoleh dan terpaksa harus menghadapinya. "Daddy, Mas."


"Kita siap."


"Tangkap para penyusup itu!"


Mereka pun saling serang di bantu oleh anak buah Fira.


****


Hendra masuk ketempat yang Saras tunjukan sambil membawa uang di dalam koper. "Tunjukan dimana dia!" kata Hendra menyodorkan koper kepada Saras.


Saras melotot tak percaya di depannya uang begitu banyak. "Ada di dalam." Dengan segera, Saras merebut koper itu.


Mahendra pun masuk mencari keberadaan Sofi. "Dimana dia Saras?" pekik Hendra.


Saras tersentak kaget sampai menjatuhkan kopernya dan uangpun berserakan di lantai. "Dia ada di da....lam." matanya membola melihat kamar itu kosong. "Tadi dia ada di sini, beneran."


"Kalau ada ya harus ada. Ini tidak ada, gimana sih kau ini." Hendra marah merasa di bohongi.


"Bos, mereka datang." Salah satu anak buah Hendra memberitahukan.


Hendra menyeringai. "Syafira." Diapun segera menghampiri.


****


Fira dan Rey masuk ke dalam mencari keberadaan Felix, Sedangkan Dika melawan para anak buah Hendra. Ada lima penjaga di salah satu ruangan, dengan berani Fira menampakan dirinya di hadapan mereka dan Rey bersembunyi mencari celah untuk membebaskan Felix.


"Keluarkan anakku!" kata Fira.


Ke lima orang tadi menoleh. "Woow, ada cewek nyasar, Bos."


"Iya, Bos. Lumayan buat penghangat tidur." timpal yang lain.


"Jangan banyak omong, keluarkan anakku!" gertak Fira.


Bos mereka mendekat dia berusaha memegang Fira tapi Fira mencekalnya dan memelintirkan tangan dia kebelakang lalu menerjangnya.


"Bos!"


"Sialan kau! Hajar wanita itu!"


Fira bersiap untuk melawan, dari mereka ada yang melayangkan pukulan tendangan lalu Fira membalasnya.


Rey yang sempat bersembunyi keluar membuka pintu dimana mereka menjaganya.


Felix yang sedang makan pun menoleh. "Ayah...!"


"Shhtttt, ayo keluar!" Felix mengangguk dan keluar bersama Reyhan.

__ADS_1


Suara senjata api terdengar di telinga mereka. "Berhenti kalian?" bentak Hendra.


Bersambung....


__ADS_2