
Setelah Dika pulang, Amel mengajak Fira ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Rey berlalu ke kamar dia, dan Felix bermain di ruang tengah bersama Arman.
Saat sedang berada di dalam kamar Amel, Fira beranjak untuk mandi dan Amel menyiapkan pakaian yang menurut ia cocok dan pas di pakai oleh Fira.
Dres bunga berwarna merah muda dengan panjang lengan sampai siku, serta panjang di bawah lutut, sangat cocok di tubuh Fira.
"Kau sangat cantik, Fira!" ucap Amel yang takjub akan perubahan Fira.
Fira hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena sudah di pinjamkan pakaian.
Fira pamit kepada Amel untuk turun kebawah, dan Amel sendiri beranjak untuk mandi.
Ketika sampai bawah, Fira melihat Dinda yang berjalan ke arah dapur, kemudian ia mengikutinya.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Fira.
Dinda menoleh. "Ehh, Mama kira siapa? emang kamu bisa?" tanya Dinda dengan ragu.
"Jangan meragukan ku! Kita lihat saja hasilnya," ucap Fira bercanda sambil terkekeh.
"Apa kamu mampu memasak semua ini?" tantang Dinda.
Fira tersenyum, dia paling suka jika sudah di suguhkan dengan bahan masakan. Di atas meja sudah ada berbagai macam bahan. Ada ikan tuna, ada tahu, tempe, bahan-bahan sambal, dan ada ayam juga.
"Siapa takut. Mama bantu memotong tahu, dan tempe saja! biar aku yang memasaknya."
"Apa kamu yakin?" tanya Dinda meyakinkan.
Fira mengangguk. Dia mulai memotong ikan tuna dengan cekatan, kemudian mencucinya sampai bersih. Fira juga memotong ayam menjadi beberapa bagian. Di lanjutkan merendam tahu, tempe pakai bumbu agar rasanya meresap.
Fira akan memasak ikan tuna bumbu kuning, ayam panggang kecap, tahu dan tempe goreng serta sambal tomat.
Pertama, Fira mengolah ikan tuna dulu. kemudian mengolah ayam panggang yang sebelumnya telah di ungkeb sebentar pakai bumbu rahasia restorannya. Dilanjutkan menggoreng tempe, tahu, dan terakhir membuat sambal goreng tomat campur terasi merah yang sebelumnya telah di blender.
Dinda memperhatikan cara masak Syafira. Dia begitu takjub dan terpesona akan kecekatan dan kelihaian tangan Fira.
"Cara masak kamu seperti Chef!" celetuk Dinda.
"Tante bisa aja. Aku hanya hobi masak, jika di bandingkan dengan Chef profesional dan handal masih kalah jauh." Jawab Fira merendah.
Satu jam telah berlalu, kini semua masakannya telah matang.
Fira menghelakan nafasnya, dan mengusap peluh yang ada di keningnya pakai tangan.
"Akhirnya," kata Fira. " Silahkan Baginda ratu, cicipi hasilnya!" kata Fira terkekeh.
Dinda tersenyum menggelengkan kepalanya. Mata dia berbinar, semua masakan Fira sungguh menggugah selera. Dan diapun perlahan mulai mencicipi semuanya. Mata dia melotot. "Sungguh luar biasa enaknya, rasanya seperti masakan bintang lima," kata Dinda yang terus mengunyah.
__ADS_1
"Hmmmm, wangi masakannya membuat lapar," kata Arman tiba-tiba.
Arman pergi ke dapur untuk melihat apa yang di masak, sedangkan Felix ia tinggal bersama Amel.
Arman mengambil tahu, kemudian mencocolkannya ke sambel. "Enak banget, tumben sambal buatan mama seenak ini?" tanya Arman sambil terus memakan tahu.
Plak, Dinda menggeplak tangan Arman karena terus menerus mengambil makanan.
"Enak ya? Tapi gak usah terus menerus juga," ucap kesal Dinda. "Nanti Papa habisin lagi," sindir Dinda.
Arman menyengir sambil tangannya mengambil satu lagi, kemudian berlari menghindari amukan macan betina.
"Papa!" pekik Dinda dengan kesal.
Fira tersenyum akan tingkah mereka.
Arman tertawa, kemudian dia duduk di dekat Reyhan.
"Papa kenapa? senang banget," tanya Rey.
"Di dapur, Papa terus mengambil tahu di cocol ke sambel. Eh, mamamu marah seperti macan betina. Habis makanannya enak banget, dan tumben sekali masakan mama seenak itu," jawab Arman.
"Itu masakan Bunda," celetuk Felix.
"Ah, masa sih?" tanya Amel.
"Benar kata Fiona, Syafira pinter masak. Semuanya dia yang masak loh, pah," sahut Dinda.
Dinda dan Fira ikut bergabung bersama mereka.
"Pantesan, sambalnya enak banget," kata Arman.
"Oohhh berarti masakan Mama gak enak," celetuk Dinda pura-pura kesal dan marah.
"Hayo... Baginda ratu marah loh, om," timpal Fira.
"Tau nih, Papa. Tanggung jawab, Pah!" ujar Amel mengompori.
"Kok jadi gini sih?" Arman menggaruk tengkuknya cengengesan.
Amel dan Reyhan tertawa, dan Felix juga ikut tertawa.
Tiba-tiba seseorang bersuara.
"Kebetulan kalian ada, kita makan malam bersama yuk! Tadi Bela membelikan makanan buat kita," kata Saras yang baru datang.
"Aduh, gimana ya? tadi Syafira udah masak, yang punya Bela kita bagikan sama yang lain saja ya Bu," ucap Dinda hati-hati.
Bela kesal, tapi ia berusaha tidak menunjukannya.
__ADS_1
"Gak pa pa tan," kata Bela.
Mata Bela melirik ke arah Reyhan, matanya melotot kaget melihat Syafira.
"Janda pelakor! Ngapain kamu di sini? pasti kamu mau menggoda Reyhan atau om Arman ya?" kata Bela sinis.
"Jangan sembarangan kamu, Bela," ujar Saras.
"Aku tidak sembarangan, Nek. Dia wanita yang aku ceritakan tadi."
"Jadi, dia orangnya?" tanya Saras.
Bela mengangguk.
"Kau pergi dari sini! Saya tidak mau kau menggoda cucu dan anakku," usir Saras.
"Bu, apaan sih? Jangan asal nuduh," sanggah Arman.
"Iya Bu, siapa tahu ucapan Bela tidak benar," sahut Dinda.
Fira menghelakan nafas, menyenderkan tubuhnya ke sofa.
Reyhan melirik ke arah Fira. "𝘈𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶? 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯.
"Ucapan ku benar, tan. Bu Ratih sendiri yang bilang. Dia 'kan tetangganya Bu Ratih," kata Bela.
"Sudahlah, kamu jangan asal bicara! Mending kita makan saja, aku sudah lapar," ujar Reyhan.
"Tapi nenek tidak mau jika ada dia!" kekeh Saras.
"Kita makan buat yang mau saja! Yang tidak mau ada Syafira, bisa makan di beda tempat!" ucap Arman tegas dan dingin sambil berlalu menuju ruang makan.
"𝘚𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘈𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘴.
Felix berlari mengejar Arman, di susul oleh Dinda yang menggandeng Fira kemudian di ikuti oleh Amel, dan terakhir Reyhan mengikutinya.
Mau tidak mau Saras dan Bela ikut bergabung dengan mereka. Mata Bela berbinar sebab ada bangku kosong dekat Reyhan, dengan semangat ia duduk di sebelah Reyhan. Namun ketika duduk ia merasakan ada yang basah di bawahnya, Bela berusa duduk senyaman mungkin.
Sedangkan Felix sudah cekikikan di balik tangan mungilnya.
Sebelum Saras dan Bela masuk, Felix menuangkan saos di kursi yang dekat Reyhan. Felix bertanya pada Arman, dimana Reyhan duduk lalu Arman menjawabnya. Tebakan Felix tepat sasaran, jika Bela akan duduk di kursi dekat Reyhan sebelah kirinya.
"Masakan kamu enak banget, Din." Ucap Saras yang terus menerus menyuapkan ayam ke mulut.
"Ini Syafira yang masak, Bu," kata Dinda.
"Ukhu..ukhu...."
Bersambung.....
__ADS_1