Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Jangan Lakukan!


__ADS_3

"Om, berapa lama lagi kita jagain Felix? apa pertunjukannya sudah selesai?" Amel betanya ketika dia sedang duduk memperhatikan Felix yang sedang bermain mandi bola dan perosotan.


"Sudah berapa kali ku bilang, jangan panggil Om! Aku tidak setua itu, bocah." Doni menggerutu kesal.


"Terserah akulah. Mulut, mulut aku kok Om yang sewot sih? aku nanya malah tidak di jawab." Ame mencebik melipatkan tangannya di dada.


"Saya juga tidak tahu kapan selesainya. Kita di sini saja sampai dapat kabar dari Syafira. Lagian kamu aneh malah ikutan manggil saya om." Jawab Doni, matanya tertuju kepada bocah kecil kriwil yang sedang asik bermain.


"Oohhhh, emangnya ada pertunjukan apa sampai kita harus menjaga Felix segala?" Amel masih penasaran sebab dia tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi termasuk pernikahan Rey dengan Bela.


"Ini bocah malah banyak nanya. Mending kamu main saja sana sama Felix! Bawel banget." Doni menggerutu.


"Kan aku penasaran, Om. Kalau aku tidak bawel bukan perempuan namanya?" jawab Amel cemberut.


Doni mengernyit. "Cowok juga kadang ada yang bawel, tapi tidak sebawel kamu."


"Karena kita berbeda. Ada orang yang bilang, cowok hanya memiliki satu mulut sedangkan wanita memiliki dua mulut. Jadi wanita jauh lebih bawel di bandingkan para pria."


Doni berpikir keras maksud dari perkataan Amel. Tapi dia tidak berhasil mengetahui jawabannya. "Saya tidak mengerti?" tanya Doni heran.


Amel menoleh menatap om-om manis bermata sipit itu. "Jangan di pikirkan nanti bisa penasaran terus."


****


Apartemen Syafira


Semua orang telah berkumpul di apartemen Syafira. Arman, Dinda, Dika, Dita, Sofi dan tentunya sang pengantin baru yang lagi hangat-hangatnya.


"Aku minta kamu ceritakan semuanya mulai dari awal kehadian!" kata Arman serius menatap adiknya.


Sofi menghelakan nafas secara kasar. Mungkin ini saatnya dia memberitahukan segalanya.


"Sewaktu aku masih sekolah Hendra datang kepadaku akan melamar menjadikanku sebagai istrinya. Dia tidak mau pacaran yang di inginkannya menikah langsung. Di saat itu Ibu kebetulan ada dan mendengar semua yang Hendra ucapkan padaku. Ibu marah, Ibu tidak terima dan menolak tegas Hendra karena pada saat itu Hendra hanyalah seorang penjual warteg. Ibu menghina Hendra habis-habisan bahkan di depan banyak orang. Ibu bilang kalau Hendra tidak pantas mendapatkanku karena dia miskin tidak punya apa-apa dan hanya orang kaya yang boleh menikahiku." Sofi diam sebentar berusaha untuk tegar. Fira yang ada di sampingnya menggenggam erat tangan Sofi memberikan kekuatan untuk Sofi bisa melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Dan ketika hari perpisahan sekolahku, tiba-tiba saja Ibu menyuruh ku untuk ikut Hendra makan di cafe dengan alasan merayakan hari perpisahan sekolah. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Ibu menjadi baik pada Hendra bahkan merestuinya. Aku bahkan menolak ajakan Hendra karena ku memiliki firasat tidak baik. Ibu memaksaku dengan mengancam akan bunuh diri kalau sampai menolaknya."


Mereka mendengarkan cerita Sofi serius.


"Akupun mengiakan karena takut Ibu nekat. Awalnya Hendra memang membawaku ke cafe setelah dari sana dia mengajakku ke suatu tempat. Aku tidak curiga apapun padanya namun hatiku gelisah tak menentu. Ternyata dia membawaku kesebuah Villa yang entah milik siapa. Disana..." Sofi memejamkan mata tak kuasa menahan desakan air mata.


π™π™‘π™–π™¨π™π™—π™–π™˜π™ 


"Kenapa kamu membawaku kemari? aku mau pulang!" tolak Sofi berusaha untuk melepaskan cekalan Hendra.


"Jangan harap kamu bisa pulang dari sini! Kamu sudah menjadi milikku! Aku sudah membeli mu pada Ibumu. Sekarang kau ikut aku masuk!" Hendra menyeret Sofi.


"Aku tidak mau! Lepasin aku!" Sofi mulai ketakutan.


"Diam kamu!" Hendra melemparkan Sofi ke atas kasur. Dia senyum menyeringai. "Kau akan menjadi milikku. Ibumu sendiri yang menyuruhku bebas melakukan apapun padamu."


"Kau bohong! Ibu tidak mungkin bicara seperti itu!" Sofi tidak percaya, air matanya terus menetes, ia ketakutan.


"Hahaha sayangnya itu benar. Aku memberikan dia uang dan menawarkan sejumlah harta dan tahta untuknya dan menukarnya dengan dirimu. Dan apa kau tahu, dia lebih memilih harta serta kedudukan daripada kamu."


"Sekarang layani aku!" Hendra mendekat berusaha menangkap Sofi.


Sofi menghindar turun dari ranjang namun kakinya malah di tarik hingga ia terbaring lagi. Secepat kilat Hendra mengunci tangan Sofi di atas kepalanya.


"Aku tidak mau, lepaskan aku! Jangan lakukan itu!" Sofi berusaha melepaskan diri dari Kungkungan Hendra yang sudah menjamah tubuhnya.


"Diam! Nikmatilah, sayang." Hendra kembali berusaha mencium Sofi.


Dengan sekuat tenaga, Sofi berusaha lepas. Ia menendang milik Hendra sangat keras sampai Hendra meringis kesakitan. Dan Sofi segera berlari keluar kabur.


"Aaawww, kau mau kemana, hah!" Bentak Hendra tertatih mengejar Sofi.


Karena tidak ada penjaganya, Sofi mudah kabur dari Hendra. Dia terus berlari entah kemana. Dia celingukan melihat kesekiling tempat, setelah merasa aman, Sofi diam terduduk lesu di pinggir jalan. Dia menangis pilu akan nasibnya, dan dia juga tidak menyangka Ibunya akan berbuat seperti itu. Rupanya Hendra masih menyusuri keberadaan Sofi.

__ADS_1


"Sofii, jangan lari kamu!" pekik Hendra.


Sofi terkejut dan kembali berlari namun, ada sebuah mobil yang ingin menabraknya. Sofi berteriak kencang dan pingsan.


****


"Hhhmmm, aku dimana?" gumam Sofi setelah sadar dari pingsannya. Gadis itu meneliti tempat yang ia singgahi. "Kamar!" seketika ia terkejut dan meneliti pakaian nya. "Syukurlah tidak apa-apa."


"Kau sudah bangun?" seseorang menghampirinya.


Sofi gemetar ketakutan, ia menarik selimut. "Ja jangan mendekat!"


"Kamu tenang saja, aku bukan orang jahat. Tadi kamu sempat pingsan di depan mobilku. Aku bingung mau membawamu kemana dan akhirnya aku membawamu kemari." Lelaki itu menaruh nampan berisi makanan dan air minum. "Makanlah! Aku mau keluar dulu menemui tunangan ku, kamu di sini saja sampai kamu benar-benar pulih."


Sofi memperhatikannya. "𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘡π˜ͺ𝘯𝘺𝘒 π˜₯π˜ͺ𝘒 𝘰𝘳𝘒𝘯𝘨 𝘣𝘒π˜ͺ𝘬."


"Namaku Nicholas Saputra, panggil saja Nicho. Aku pergi dulu." Lelaki itu tersenyum tulus dan meninggalkan Sofi.


Setelah beberapa lama, bel rumah terus berbunyi. Sofi yang sedang istirahatpun terbangun membukakan pintu.


Bruk...


Baru saja pintu terbuka, Nicho sudah ambruk. Untung Sofi segera menahannya jadi Nicho tidak tersungkur.


"Kenapa kau mengkhianati ku Ellen? apa kurangnya aku sampai kau tega menduakanku." Racau Nicho tak jelas.


Sofi mencium bau alkohol, sepertinya Nicho mabuk. Dia memapah Nicho masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu.


"Ellen, berani sekali kau bermain panas dengan lelaki lain." Nicho bicara ngawur, matanya mendongak menatap Sofi.


"Ellen! Kau di sini?" Nicho menyangka Sofi adalah Ellen.


"Aku bukan Ellen, ka." Sofi membaringkan Nicho di sofa namun tangannya malah di tarik dan tiba-tiba saja Nicho mencium, *******, menyesap, bibir Sofi. Sofi berontak, air matanya sudah lolos begitu saja. Itu kecupan pertama dia.

__ADS_1


"Kenapa kau menolakku, hah? bukannya tadi kau juga seperti itu bahkan kalian melakukan hubungan badan!" bentak Nicho mengcengkram kuat bahu Sofi.


Bersambung...


__ADS_2