
"Uncle om, Bunda mana?" Felix mengucek mata sesekali menguap. Sepertinya bocah kriwil itu baru bangun tidur.
Doni yang sedang menelpon seseorang membalikan badannya, lelaki sipit berwajah manis itu menghampiri Felix.
"Bunda kamu sedang ada meeting, sayang. Kamu jangan rewel dan jangan khawatir."
"Kenapa tidak membangunkan aku? Aku mau ikut Bunda!" rengek Felix memanyunkan bibir mungilnya.
"Bunda mu tidak tega, kamu tidur terlalu nyenyak." jelas Doni berusaha membujuk agar tidak menangis.
Doni memangku Felix, "Daripada manyun, mending kita cari permainan yuk!" ajak Doni.
Felix berpikir sebentar, kemudian dia mengangguk.
Doni pun berniat membawa Felix ke salah satu wahana permainan yang terkenal di kota tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang memanggil Felix.
"Felix, cucuku," pekik seseorang berlali menghampiri Doni kemudian mengambil Felix dari gendongan Doni.
"Uti, jangan lali nanti jatoh!" pekik Felix mencegah.
"Maafkan istri saya, beliau ingin segera sampai kemari dan ingin segera bertemu Felix. Kebetulan kami tadi mau mampir ke Cafe ini." Dika meminta maaf atas apa yang istrinya lakukan.
"Tidak apa, aku cenang ketemu Uti lagi." Sahut Felix memeluk Dita dan mencium pipi wanita paruh baya berwajah blasteran itu.
"Kamu ikut Uti main, Uti Rindu kamu," Dita berbicara seperti biasanya yang terlihat seperti kurang waras.
Felix menoleh ke Doni, "Uncle om, boleh aku ikut Uti?" izin Felix pada Doni. Bagaimanapun Doni adalah orang kedua yang menjaga Felix.
"Boleh, asal jangan bandel!" Doni mengizinkan dengan syarat.
"Siap, Bos!" Felix menjawab tegas, anak kecil itu begitu gembira bisa bermain lagi dengan Dita.
Felix tipekal orang yang ramah kepada mereka yang baik. Dia akan berubah jika menyangkut Bunda tercintanya di hina atau di sakiti orang lain.
****
Kediaman Mahardika.
"Hahaha uti kayak badut, lucu," Felix terus tertawa melihat wajah Dita yang cemong akibat ulahnya.
__ADS_1
Wajah Dita di dandani oleh Felix. Dia mencoretkan pensil warna ke wajah Dita, dan tingkah Felix membuat Dita bahagia.
"Uti cantik," ucap Dita ikut tertawa, dia bertepuk tangan dengan gembira.
Dika yang sedang mengerjakan pekerjaannya menoleh, dia ikut tersenyum melihat kebahagiaan istrinya.
Dalam hati Dika berkata, "𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘮𝘰𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘨𝘪𝘳𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩."
"Sibuk sekali bos yang satu ini," celetuk seseorang.
Dika mendongak. "Rupanya kau, Arman. Saya hanya mengecek email yang masuk saja."
"Gayanya, yang sudah jadi bos makanan," ledek Arman kemudian ikut duduk di samping Dika, namun matanya tertuju ke dua orang yang sedang bermain dengan bahagia.
"Sejak kapan Felix di sini?" tanya Arman.
"Dari tadi siang, kami tidak sengaja bertemu dengannya di Cafe."
"Ohh, sepertinya istrimu sangat menyukai Felix? Semua terlihat dari tawa dan perlakuannya terhadap bocah itu."
Dika menutup laptopnya, dia ikut memperhatikan. "Kau benar, Dita begitu bahagia saat bersama Fira dan anaknya. Saat awal bertemu, mereka memperlakukan istriku layaknya manusia bahkan Dita tidak mau berpisah dengan mereka."
"Mereka benar-benar baik, dan tulus," kata Arman.
"Ke toko, tapi cuman sebentar, kemudian meluncur kemari."
Dika hanya beroh ria. "Kita bergabung sama mereka saja, lebih seru kayaknya," ajak Dika lalu berdiri dari duduknya.
"Boleh juga," balas Arman mengikuti Dika.
"Bolehkah kami ikutan?" tanya Dika saat sudah dekat mereka.
"Boleh, eh ada opa Alman," jawab Felix.
Arman tersenyum, dia duduk di samping Felix dan Dika di samping Dita.
"Kamu sedang bikin apa?" tanya Dika melihat Felix membuat sesuatu di buku gambar yang di belikan olehnya.
"Aku sedang gambal kelualga," Felix menjawab, sedangkan tangannya terus mewarnai.
__ADS_1
"Bolehkah opa tahu ini siapa saja?" tanya Arman.
"Boleh, ini Bunda, ini papa cama mama, ini oma Sofi, lalu yang kecil ini aku," Felix menjelaskan satu persatu anggota keluarga yang berada di kota M.
"Kalau ini Bunda, lalu ayah kalian kemana?" Arman kembali bertanya menggali informasi mengenai Syafira. Dia mendengar Felix hanya menyebutkan Bunda tidak dengan ayahnya.
"Aku tidak punya ayah, opa," saut Felix.
Dika dan Arman saling lirik, keduanya bingung. "Lalu papa sama mama, siapanya kamu?" kali ini Dika yang bertanya.
"Kata Bunda, meleka olang tua kandung aku, dan meleka sudah bahagia di sulga," jelas Felix tangannya masih mewarnai.
Dika dan Arman tertegun.
"Jadi, Bunda kamu?"
"Bukan janda, apalagi pelakol sepelti yang meleka bilang," jawab Felix menekankan kata BUKAN JANDA dan pelakor
"Dari mana kame tahu?" Arman makin penasaran, dia ingin tahu lebih mengenai keduanya.
"Dali Bunda, Uncle om, cama bi Caca, meleka selalu jujul sama aku. Bunda emang bukan Bunda kandung aku. Tapi, aku cangat menyayanginya, dan aku tidak telima jika Bunda di sakiti olang. Bunda cepelti malaikat yang datang di saat aku membutuhkan sosok ibu." (Ingat ya, ceritanya Felix masih cadel huruf S dan R)
"Kenapa olang-olang di sini jahat sama, Bunda? Padahal Bunda baik, dia malaikat tak belsayap bagi aku." Felix memberhentikan pergerakan tangannya lalu menatap silih berganti ketiga orang dewasa di dekatnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mereka terdiam dan hatinya terenyuh, saat mendengar anak kecil ini bercerita.
"Opa, Kakung, apa salah jika Bunda menjadi Bunda aku dan mendapat gelal janda kalena aku?" tanya Felix dengan lirih. "Aku juga sedih saat meleka menghina, Bunda," lanjut Felix. "Padahal Bunda tidak pelnah jahat sama meleka. Tapi, kenapa meleka telus mencemooh Bundaku seakan Bunda adalah olang yang paling beldosa." Tidak terasa air mata kesedihan menetes dari mata bulat bocah berumur tiga tahun itu.
Dika memeluk tubuh kecil Felix, dia tidak menyangka Syafira berhati besar, mata Dika berkaca-kaca, dia ikut merasakan sakit saat orang lain menghinanya.
Begitu pula dengan Arman, lelaki blasteran indo Arab keturunan Arab dari buyutnya tak kuasa meneteskan air mata. Anak kecil selalu berkata jujur, dia tidak menyangka anak sekecil ini mampu merasakan sakit melihat orang tuanya di cemooh.
"Kakung, tolong lindungi Bunda dali meleka yang jahat!" pinta Felix dalam dekapan Dika.
"Ia sayang, Kakung janji akan berusaha melindungi Bunda kamu."
Dita menangis sangat kencang. "Huuaaaaa jangan nangis, jangan sedihh!" (Di sini ceritanya Dita agak gila)
Felix yang berada di pelukan Dika melepaskan diri, lalu dia memeluk Dita. "Aku tidak nangis Uti, jangan sedih! Aku hanya akting saja." Celetuk Felix merubah raut wajahnya untuk menenangkan Dita.
__ADS_1
Ketiga orang tadi melongo mendengar dan melihat perubahan wajah Felix yang tadinya beneran menangis sekarang bisa gembira lagi bahkan anak sekecil iini bisa dewasa dan bersandiwara.
Bersambung....