
"Kamu mau bawa aku kemana? Sudah datang tiba-tiba, langsung asal narik aja, dan sekarang muter-muter gak jelas," Fira menggerutu kesal ketika di dalam mobil.
"Gue gak suka loe pakai pakaian kayak gini!"
Fira meneliti pakaian yang ia pakai.
"Pakaiannya bagus, gak terbuka, dan yang pasti ini pakaian kerja, apanya yang salah?" tanya Fira bingung masih dengan meneliti setiap pakaian yang ia kenakan.
Dengan gamblangnya Rey berkata, "Karena loe terlalu cantik dan menarik buat mereka, puas loe!"
"Hah!" Fira terpekik mendengar perkataan dari orang ganteng keturunan Arab itu. dia menempelkan tangannya ke dahi Rey. "Gak panas, tapi kenapa kamu aneh?"
"Mending kamu diam, gak usah banyak bicara!" kata Rey, sambil terus mengemudi.
Batin Fira berkata, "ππ―π¨π¨π’π¬ π«π¦ππ’π΄ π£π’π―π¨π¦π΅."
Tiba-tiba handphone Fira berdering, kemudian dia mengangkatnya dengan suara halus dan sopan.
"Hallo," ucap Fira.
"Kamu dimana?"
"Aku lagi di jalan, kenapa emangnya?"
"Kata Sari, tadi kamu di tarik paksa oleh seorang pria, apa kamu baik-baik saja?"
Fira melirik ke arah Reyhan, setelahnya melihat ke depan sesekali tertawa ketika bertelponan. "Ohh itu, iya, dia temanku, jangan khawatir gitu, aku baik kok, tidak aka terjadi apapun denganku," jawab Fira terkekeh.
Semua yang Fira bicarakan terdengar jelas di telinga Rey, dia merasa panas saat Fira bicara begitu lembut dan sopan. Dengan kesal Rey menambahkan kecepatannya.
Fira melirik ke arah Reyhan dengan bingung. "Kalau gitu, aku tutup dulu, ini lagi di jalan, nanti aku kabarin lagi," kata Fira dan kemudian ia mematikan panggilannya setelah mendapat balasan dari sebrang telpon.
"Reyhan, kamu itu kenapa? Bahaya, jangan ngebut! Ini jalan umum, Rey." ucap Fira mengingatkan, ia sedikit panik saat mobil melaju semakin kencang. Syafira masih sedikit trauma tentang kecelakaan waktu itu. Bayang-bayang mobil melaju kencang sambil saling mengejar kembali terlintas di benaknya.
"Kenapa, kamu takut? Mana Syafira yang pemberani? ini gak seberapa, mau lihat?" ucap Rey menyeringai, lalu dia menambahkan kecepatan mobilnya.
"Reyhan jangan gila! Ini terlalu bahaya!" bentak Fira.
"Hahaha ini seru...."
__ADS_1
Reyhan tak peduli akan ocehan Fira, hatinya saat ini begitu kesal. Dia ingin mengerjai Syafira agar hatinya sedikit lega.
Beda lagi dengan Fira, wajahnya menegang, matanya berkaca-kaca, ia teringat kembali akan peristiwa naas yang dulu ia alami. "Reyhan, aku mohon jangan ngebut!" pinta Fira dengan lirih.
"ini seru Syafira..." Rey masih terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Reyhan, berhenti...! Ku mohon jangan ngebut..!" bentak Fira yang sudah tak bisa membendung rasa ketakutan nya dan Fira pun mulai menangis.
Rey menoleh, dia terkejut, dia tidak menyangka jika Fira benar-benar takut. Kemudian Rey menormalkan kadar kecepatannya.
"Syafira!" Reyhan panik melihat wanita cantik seperti Barbie itu menangis.
"Apa kamu ingin membunuh kita, hah? kamu pikir ini lucu? kamu pikir seru? kamu gila Reyhan, kamu benar-benar gak jelas!" bentak Fira dengan air mata yang semakin deras.
Reyhan yang melihat Fira histeris merasa bersalah, dia menepikan dulu mobilnya, kemudian membuka seat belt nya dan memiringkan tubuhnya menghadap ke Fira.
"Gue minta maaf, gue gak tau kalau loe benar-benar takut," ucap Rey menyesal.
"Apa dengan maaf akan merubah segalanya jika terjadi sesuatu? bagaimana jika kita menabrak? bagaimana jika nanti ada yang meninggal lagi, hah? aku gak mau itu terjadi lagi Reyhan," kata Fira yang masih meninggi.
Dengan Replek Rey memeluk Fira, berusaha menenangkan dan terus menerus minta maaf. "Maaf, maaf, gue gak akan seperti ini lagi, loe tenang, tarik nafas dulu! Tidak akan terjadi sesuatu pada kita, percayalah!"
Rey semakin bersalah, hatinya sakit melihat Fira seperti ini, dia benar-benar tidak tahu jika Fira mengalami hal seberat ini. Rey semakin mempererat pelukannya, menyalurkan rasa bersalahnya, dan berusaha menenangkan Fira.
Setelah beberapa lama, Fira tersadar, dia mengurai pelukannya, menghapus air matanya secara kasar.
"Kenapa?" tanya Rey bingung.
"Kamu yang kenapa? tiba-tiba gak jelas, dan tiba-tiba juga memelukku?" ucap Fira menatap Rey dengan intens.
Reyhan gelagapan, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jantungnya berdegup kencang saat bertatapan dengan Fira.
Rey meletakan tangannya di kiri, dalam hati berkata, "ππ¦π―π’π±π’ π¨πΆπ¦ π«π’π₯πͺ π₯π¦π¨ π₯π¦π¨π’π― π¨πͺπ―πͺ? π’π±π’ π¨πΆπ¦ π΄π’π¬πͺπ΅ π«π’π―π΅πΆπ―π¨?"
"Diihh, di tanya malah bengong, hei!" Fira melambaikan tangannya di depan wajah Rey.
"Gak tahu," jawab Rey, kemudian merubah posisinya, menjadi lurus ke depan, dan kembali melajukan mobilnya.
"Iiih....aneh, gak jelas."
__ADS_1
****
Reyhan mengantarkan Syafira pulang, karena Fira minta di antarkan pulang, dan Saat ini mereka masih di dalam mobil.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya," ucap Fira.
Reyhan berkata, "Maaf, saya tidak tahu jika kamu memiliki trauma."
"Lupakan saja," balas Fira dingin. Matanya masih menyiratkan kesedihan, bayangan kecelakaan dan kehilangan secara bersamaan membuat ia kembali terpuruk.
Lalu Fira berusaha membuka seat belt nya, tapi sayang, dia kesuhahan. Rey yang melihat itu mendekat untuk membantu sehingga tubuh keduanya berdekatan.
"Ehh, kamu mau ngapain?" tanya Fira was was.
"Bantu bukain seat belt nya."
Fira terdiam, dia memundurkan kepalanya ke belakang agar tidak terlalu berdekatan dengan wajah Reyhan.
Rey berhasil membukanya, sejenak dia memandang wajah Fira. Jika di lihat dari luar mereka seperti melakukan adegan kissing.
Kebetulan ada yang lewat, dan kebetulan juga kaca mobil Rey bisa terlihat dari luar, sehingga ada yang memotret mereka dari luar.
"Cuihh, janda murahan, sudah dua kali kau ku pergok, lihat saja, saya akan bikin kamu di usir dari kampung sini," ucapnya sinis.
"Terima kasih," ucap Fira.
Rey tersadar, dia menjauhkan tubuhnya dengan wajah yang sudah memerah.
Fira keluar kemudian di ikuti oleh Reyhan, saat sedang melangkah tangan Fira di cekal oleh Reyhan, Fira menoleh.
"Sekali lagi, maaf," kata Rey.
Fira hanya mengangguk, melepaskan genggaman tangan Rey dan masuk ke dalam rumah. Dia pun pergi meninggalkan tempat itu setelah Fira masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Fira termenung, tak terasa air matanya menetes. Dia terduduk di lantai sambil menyenderkan tubuhnya ke pintu dan memeluk kedua lututnya, Fira menunduk. "Ternyata aku masih belum siap untuk kehilangan kalian, aku rindu kalian, kenapa rasanya sesakit ini? aku rapuh tanpa kalian," ucap Fira lirih dengan dada yang terasa sesak saat mengingat kembali kebersamaan dengan keluarganya.
Meski kini Fira tahu mereka bukan keluarga kandung, tapi mereka membesarkan Fira layaknya keluarga kandung. Perhatiannya, kasih sayangnya, kebersamaannya yang membuat Fira belum siap kehilangan.
Bersambung...
__ADS_1