Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Makan Di Cafe


__ADS_3

Siang berubah malam, Syafira berusaha menidurkan anaknya. Tadi Felix di antar pulang oleh Dika.


"Bunda, maafkan aku," kata Felix memeluk sang bunda dari samping.


"Kenapa kamu minta maaf? kamu tidak salah apapun kok!" Fira mengusap punggung anaknya.


"Kalena aku Bunda halus jadi janda," celetuk Felix sambil menatap Fira.


Deg...!


"Kamu ini kenapa? Mau Bunda jadi janda atau tidak, ini bukan karena kamu. Ini semua sudah takdir dari Tuhan, mending sekarang kamu tidur!" Mata Fira terpejam, dia memeluk anaknya, dan mencium pucuk kepala Felix.


****


Pagipun telah tiba, Fira, Felix telah siap untuk berangkat ke Cafe, mereka berangkat bareng pak Komar. Sebab pak Komar sudah sembuh dan kembali narik lagi.


"Bu, saya pamit ya," ucap Fira menyalami Bu Siti kemudian di susul oleh Felix.


"Yang semangat kerjanya, jangan bikin bos marah, meski sebagai pelayan kita harus kerja dengan jujur."


"Siap, Bu."


Fira bilang jika dia bekerja sebagai pelayan cafe.


****


Di hari Minggu cafe cukup ramai, banyak muda mudi, tua muda berdatangan untuk makan sambil nongkrong.


Fira begitu sibuk melayani pembeli, sedangkan Felix anteng berada di ruangan Fira.


Fira tersenyum melihat anaknya "Kamu sedang bikin apa?"


"aku sedang mewalnai, Bunda." Felix paling suka menggambar.


"Boleh Bunda bantu?"


"No! Bunda tidak boleh bantu, ini pekeljaan aku!"


"Hmmm, padahal Bunda ingin bantu kamu," ucap Fira pura-pura sedih.


"Jangan sedih, maafkan aku," kata Felix.


Fira tersenyum dia mengusap kepala Felix penuh sayang. "Bunda kerja lagi ya, kamu di sini baik-baik!"


"Baik, Bunda."


Firapun turun ke bawah kembali melayani pembeli.


****


Toko mainan


"Papah, Abang," pekik Amel.


"Gak usah teriak, Mel! Papa masih denger kok,"


"Hehe maaf pah."


"Tumben kalian datang kemari? Bertiga lagi," tanya Reyhan bingung.

__ADS_1


"Kita mau makan di Cafe, Pah," tunjuk Dinda ke arah Cafe.


"Kalian saja, papa sama Rey nanti nyusul."


"Ayo lah, pah!" bujuk Dinda.


Arman melihat istrinya dan mengangguk. "Ayo Rey!" ajak Arman.


"Duluan saja! tanggung ini ada pembeli," tolak Rey.


Dan Arman pun akhirnya ikut bersama Amel, Dinda dan Saras.


****


Dalam cafe


Amel sudah memilih tempat duduk untuk mereka, dia memilih tempat dekat dengan taman bunga mini, serta di situ terdapat kolam ikan dengan air mancurnya. Amel mengangkat tangannya, fan datanglah seseorang.


"Mau pesan apa, Mbak?"


Mereka menoleh. "Syafira! Kamu kerja di sini?" tanya Dinda kaget.


Fira tersenyum. "iya, Tante" balas Fira.


"Ck, cuman jadi pelayan," cibir Saras ketika melihat penampilan Suafira


"Silahkan mau pesan apa?" Fira menyodorkan buku menu ke atas meja tanpa mendengarkan Saras.


Amel dan Arman memilih sedangkan Dinda dengan antusias mengajak Fira terus berbicara. "Di mana anakmu? apa dia ikut kamu kesini?" tanya Dinda.


"Dia ada, mau aku panggilkan?" tanya Fira dengan sopan.


Fira celingukan, kemudian dia memanggil Om Endro pria yang pernah Fira hajar saat menjambret dan menyuruhnya untuk melayani keluarga Arman dulu, sedangkan dia pergi ke ruangannya.


Ketika Fira sudah masuk, ada segerombolan anak muda, mereka celingukan mencari tempat duduk.


"Bel, bukankah itu keluarga Amel?" ucap teman bela.


"Mana?"


"Itu, yang dekat taman mini kolam ikan," tunjuk dia.


"Ternyata jeli juga matamu, ayo kita ke sana?" ucap Bela yang berjalan duluan ke arah Amel dan di ikuti oleh teman-temannya.


"Siang nenek, tante, om."


Mereka menoleh. "Bela, kamu makan di sini juga?" tanya Saras ramah.


"Iya nek, habis nonton kita kesini," balas Bela dan ingin duduk dekat Amel.


"Bel, itu untuk duduk seseorang," sela Amel.


Bela mengernyit bingung, dia ingin bertanya tapi keburu Fira datang bersama anaknya.


"Siang semuanya," suara Felix mengalihkan mereka.


"Siang juga, sayang" balas Arman, Amel dan Dinda semangat.


Bela melotot terkejut, batinnya berkata, "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢? 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘑𝘩𝘰𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢?"

__ADS_1


Felix menyalami mereka, Amel tersenyum gemas melihatnya, dan diapun mencubit pipi Felix.


"Aunty, jangan cubit pipiku, sakit!" Felix cemberut sambil kedua tangannya ia lipatkan di dada.


Semua orang tertawa, tapi tidak dengan Saras dan Bela.


"Uluhhh sakit ya? maafin aunty, abisnya kamu gemesin."


Amel mengusap pipi gembul Felix. "Di maafin gak aunty nya?"


Felix berpikir sambil telunjuknya berada di kening. "Aku lagi mikil, apa aku maafin aunty apa tidak?"


"Aunty nya nangis nih," kata Amel memasang wajah sedih.


Felix mengusap pipi Amel. "Aku maafin, jangan cedih ya!"


Amel gemas, dia memangku Felix dan mendudukannya di pangkuannya, dia menggelitiki Felix.


"Hahaha ampun aunty, geli, ampun!"


"Kayaknya seru nih?" celetuk seseorang.


Mereka menoleh dan tersenyum.


Bela begitu semangat ketika melihat Reyhan, dia mendekat ingin memeluk tapi terhenti ketika Felix minta di gendong.


"Ayah, aku mau di gendong!" Semunya terkejut saat Felix menyebut Ayah. Reypun tersenyum dan menggendongnya lalu duduk dekat Amel.


Bela mengepalkan tangannya marah. "𝘑𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘮𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶."


"Hei, pelayan, kau kan pelayan, tolong layani kami?" sela teman bela pada Fira.


"Maaf, mau mau pesan apa?" tanya Fira sambil berjalan ke meja sebelah dan menunjukan menu makanan.


"Di tunggu ya nona!" kata Fira setelah mencatat yang mereka pesan dan Fira memberikannya kepada preman yang membawa pesanan Amel, sedangkan pesanan Amel Fira yang bawa.


"Fir, itu kok kaya preman, ya?" tanya Dinda saat Fira menyajikan makanan.


"Dia yang waktu itu jambret Papah?" tanya Arman terkejut.


"Apa?!" yang lainpun terkejut


"Iya, beliau memang preman yang waktu itu jambret om, dan kalian gak perlu khawatir, mereka sudah jinak dan bertaubat, dari pada ngerampok, mending bekerja jadi pelayan, biarpun kecil asalkan halal."


"Kamu benar, dan uang halal akan terasa berkah serta cukup," timpal Arman.


"Jahat tetap jahat, mana ada jahat jadi baik," celetuk Bela.


"Sebenarnya semua manusia tidak ada yang jahat, karena pada dasarnya mereka baik. Tapi, karena nafsu dan keadaan banyak orang yang menjadi jahat, padahal jika mereka mempercayai adanya tuhan, berusaha di jalan yang tuhan tentukan, mereka tidak akan pernah menjadi jahat," saut Fira.


Rey terkagum akan pikiran Fira, dia terus memandang wajah Fira dan itu membuat Bela marah dan dia mengkode ke temannya.


"Pelayan, mana pesanan gue? lama banget," bentak teman Bela.


"Tiara, sabar dong! yang pesan itu banyak," bela Amel.


"Amel, dia itu pelayan, tugasnya melayani kami, bukan cuman bisanya cari muka di depan kita," saut Saras.


"Bukan cuman pelayan, tapi dia juga janda pelakor," timpal Bela sengit. Dia sudah berencana akan mempermalukan Syafira.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2