Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Maukah Kau Menikah Dengan Ku?


__ADS_3

Kediaman Mahendra.


"Kurang ajar!"


Brakk...


Bela melempar benda apa saja yang ia gapai termasuk handphone. "Berani-beraninya dia mempermalukan ku di hadapan semua orang!" Bela tidak terima di perlakukan seperti tadi


Matanya menatap tajam, rahangnya mengeras karena marah, tangannya ia kepalkan kemudian....


Brak...


Bela melemparkan pas bunga ke kaca yang ada di di kamarnya hingga pecah.


"Astaga! apa yang kau lakukan? ini semua barang-barang mahal, Bel!" ucap Elsa yang kaget saat mendengar keributan kamar anaknya. "Ya tuhan! pas bunga mahal ku pecah! ini lagi, handphone keluaran terbaru kenapa kau banting ? kau ingin menghancurkannya, hah?" bentak Elsa.


"Diam, Mah! Aku itu lagi pusing, di tambah Mama mengoceh memikirkan ini semua, tambah pusing," bentak Bela menghempaskan bokongnya ke kasur secara kasar.


"sebenarnya ada apa? Kenapa pulang-pulang kau malah marah tidak jelas?" tanya Elsa melemah. Elsa ikut duduk di samping putrinya.


"Janda miskin itu telah mempermalukanku, Mah. Aku tidak terima di perlakukan seperti itu. Seharusnya Jhon telah melenyapkan wanita yang menghalangi ku. Kenyataannya kenapa dia masih hidup?" Nafas bela memburu akibat marah.


"Apa! Ka kalian berusaha melenyapkan seseorang?" Elsa kaget, dia tidak tahu akan rencana anaknya.


"Dia berusaha mengambil Reyhan dariku, Mah. Sampai kapan pun aku akan berusaha mendapatkan Reyhan, walau sampai harus melenyapkannya akan aku lakukan!" kata Bela berapi-api.


"Tapi, tidak melenyapkannya juga, Bela! Itu tindakan kriminal!" Elsa tidak setuju mengenai ucapan putrinya.


Bela menoleh, "Kenapa Mama malah membelanya? seharusnya Mama mendukungku!" balas Bela dengan sengit. Dia tidak mengerti pikiran Mamanya.


"Kita bisa lakukan cara lain, tidak untuk menghilangkan nyawa seseorang!"


"Aaaaaa, aku tidak peduli! Akan ku singkirkan mereka yang menghalangi keinginanku!" bentak Bela lalu dia pergi meninggalkan Elsa yang mematung.


Elsa terdiam syok dan khawatir, meski dia gila harta, terkadang suka menghina, tapi dia tidak suka jika ada tindakan kriminal.


"Kenapa putriku jadi ambisius gini?" gumamnya.


****


Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, dan Fira memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ketika sudah berada di depan, Fira melihat Rey yang sudah berdiri di dekat mobilnya.


"Malam calon istri?" sapa Rey ketika melihat Fira dan anaknya keluar Cafe.

__ADS_1


"Ck, kamu aneh! Apa segitu inginnya kamu menjadikanku calon istrimu?" tanya Fira sambil menggerakkan alisnya ke atas ke bawah.


"Eh.. enggak! Bukan gitu maksudku, aku sudah terlanjur bilang kepada mereka bahwa kamu calon istriku. Jadi, mau tidak mau kamu harus mau!" Reyhan mengelak.


"Alesan... Bilang saja kamu suka!" kata Fira memicingkan matanya.


Rey gelagapan, matanya melirik kesana kemari menghindari tatapan mata Fira.


"Bunda, aku ngantuk," celetuk Felix.


"Iya sayang, kita pulang ya!"


"Kasian anak mu, aku antar kalian pulang!" kata Rey.


"Cieee...yang nungguin kita," ledek Fira.


"Gak usah ngeledek deh! Buruan naik! sebenarnya aku males, karena ini permintaan Mama, jadi aku tungguin kamu pulang," balas Rey banyak alesan lalu dia membukakan pintu belakang mobilnya.


"Iya...aku tahu. Tadi Tante Dinda juga nelpon aku untuk pulang bareng kamu." Sahut Fira sambil masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil mereka hanya diam, sedangkan Felic sudah tertidur pulas.


"Syafira."


"Hmmmm."


"Hah! Kamu gak salah? hahaha becandamu gak lucu." Fira tertawa, dia merasa lucu akan ajakan Rey yang secara tiba-tiba.


"Aku serius! Aku tidak tahu apakah aku benar atau salah? tapi aku serius ingin menjadikanmu istriku," balas Rey serius.


"Mas, menikah itu bukan hanya sekedar aku dan kamu lalu menjadi kita. Tapi menikah itu membutuhkan sesuatu yang matang, matang dalam pikiran, matang dalam persiapan, dan matang menerima setiap keadaan pasangan. Lagian kita juga baru saling kenal, dan kita juga tidak saling mencintai."


"Aku tahu itu, kalau soal cinta? cinta bisa tumbuh karena terbiasa, Ra. Dengan berjalannya waktu pasti kita akan saling mencintai, yang penting kita saling berkomitmen untuk melangkah ke depan," balas Rey.


"Tapi..."


"Aku akan menerima kamu apa adanya, dan aku juga akan menerima Felix seperti anakku sendiri," kata Rey meyakinkan.


"Ceritanya ngelamar nih?" ledek Fira tersenyum usil ke arah Reyhan.


"Ck, aku serius Syafira! Maukah kau menikah denganku?" tanya kembali Reyhan


Fira terdiam sejenak. "Nanti aku pikirkan lagi, sebab masih banyak hal yang harus ku pertimbangkan."

__ADS_1


Reyhan membuang nafas secara kasar. "𝘚𝘢𝘭π˜ͺ𝘡 𝘴𝘦𝘬𝘒𝘭π˜ͺ π˜₯π˜ͺ 𝘡𝘒𝘬𝘭𝘢𝘬𝘒𝘯."


"Baiklah, aku tunggu jawabannya secepat mungkin!"


****


Pagi-pagi sekali Reyhan terbangun dari tidurnya, dia sudah bersiap untuk menjemput Syafira. Rey menuruni tangga dengan sedikit tergesa hingga tak sengaja kakinya tersandung kaki dia sendiri sampai jatuh.


"Aduhh...!" ringis Rey.


"Kamu ngapain tengkurap di situ, Rey?" tanya Dinda heran, saat berjalan menuju dapur.


Reyhan mendongak ke atas dia cengengesan dan berkata, "Aku lagi push up, Mah. biar badanku sehat." Reyhan mencoba berkilah, dengan memperagakan olahraga push up.


Dinda mengernyit heran. "Sejak kapan olah raga di ujung tangga?"


"Sejak Abang jatuh, Mah," celetuk Amel dari atas lalu menuruni tangga.


Reyhan bangun kemudian duduk dan melirik ke arah Amel. "Abang bukan jatuh, tapi lagi olahraga," kekeh Rey.


"Abang itu lagi jatuh, jatuh kedalam pesonanya Syafira," kata Amel terus tertawa.


Dinda berpikir keras dan ia pun mengerti, "Oh... jadi ceritanya tadi kamu buru-buru turun mau jemput Syafira? tapi malah jatuh, begitu?"


"Enggak! Bukan gitu! Aku beneran lagi olah raga, Mah!" Reyhan masih mengelak.


"Ck, alesan, jatuh bangun aku mengejarmu," ucap Amel menyanyikan sebuah lirik lagu.


"Apa sih? anak kecil diam saja deh!" balas Rey gelagapan.


Rey bangun dari duduknya, Amel melihat gelagat sang Abang langsung menghindar. "Asyik asyik jos, jatuh cinta sejuta rasa, ada rindu bila tak jumpaaaa," Amel masih terus meledek sang Kaka dengan menyanyikan lagu.


"Ow ow Abang ketahuan."


"Ameliaaa!" Pekik Rey, wajah dia sudah memerah karena malu ketahuan sang Mama.


Hahahaha, Dinda tertawa, kini dia yakin jika sang anak memang telah jatuh kedalam pesona janda muda anak satu itu.


****


Reyhan sudah sampai di depan rumah Fira, jantungnya berdegup kencang seakan mau copot. Dia mengatur nafasnya berusaha menetralkan kegugupannya. "Aneh, mau ketemu juga pakai acara nervous. Tenang! Tenang! Huuhhh," Reypun keluar dari mobil dan perlahan menghampiri.


"Ce, ce, lihat tuh! Pasti dia salah satu pelanggan janda itu," ucap sinis Bu Ratih, saat itu dia ingin ke mall tapi melihat ada pria turun dari mobil, kemudian dia memberhentikan mobilnya dan turun menghampiri para ibu-ibu yang sedang ngerumpi.

__ADS_1


"Pelanggan gimana maksudnya...?"


Bersambung...


__ADS_2