
"Bukan cuman pelayan, dia juga janda pelakor," timpal Bela.
"Kalian kenapa selalu menjelekan Syafira? salah dia apa sama kalian berdua?" tanya Arman yang sudah geram.
"Fira tidak seburuk yang kalian pikirkan," saut Dinda.
"Kalian yang kenapa? asal kalian tahu, dia wanita murahan!" sela Saras meninggi, hingga membuat orang memperhatikan. Saras dan Bela di kirim foto oleh Ratih ketika Fira berpelukan dengan Doni, dan ketika Reyhan membantu melepaskan seat belt.
"Cukup, Bunda tidak sepelti itu," bentak Felix marah.
"Kau lihat! Anaknya saja tidak punya sopan santun. Dasar janda miskin."
"Kalian dengar! Wanita ini berusaha menggoda calon suamiku, dia janda pelakor," timpal Bela dengan tinggi.
"Aku bukan calon suamimu, Bela? dialah calon istriku, jadi dia tidak pernah menggodaku," sela Rey.
"Reyhan, apa kamu sadar dia itu janda, dia janda murahan!" saut Saras
Fira menghelakan nafas secara kasar. Dia berusaha menahan emosi agar tidak kelepasan.
"Aku tahu dia janda, akan tetapi dia tidak murahan, Nek!" jawab Rey.
"Lihatlah, Nek! Janda miskin itu sudah meracuni pikiran Reyhan. Apa yang telah dia berikan padamu? hartapun dia tidak punya, tubuhnya, apa dia memberikan tubuhnya untukmu?" sergah bela sengit.
Plak... "Saya tidak serendah itu Arabela Mahendra!" Fira menatap tajam Bela dan tanpa sengaja Fira menyebutkan nama lengkap Bela.
"Hei...! Berani-beraninya kau menampar calon istri cucuku!" Saras berdiri dari duduknya lalu mendorong Fira dengan keras hingga menyebabkan Fira jatuh terduduk.
Saras menyiram wajah Fira dengan air jus yang berada di mejanya. Fira memejamkan matanya, masih berusaha menahan amarah. Semua orang terkejut dengan peristiwa yang terjadi.
"Bunda!" pekik Felix turun dari pangkuan Rey dan langsung memeluk Fira.
__ADS_1
"Ibu! Kau keterlaluan!" bentak Arman ikut berdiri menghampiri Fira.
"Nek, sudah ku bilang calon istriku itu Syafira bukan Bela!" Reyhan pun ikut berdiri menghalangi Saras agar tidak berbuat hal yang tidak di duga lagi. Bela tersenyum sinis, dia merasa puas atas apa yang terjadi pada Fira.
"Nenek tidak sudi memiliki menantu janda miskin sepertinya, dia tidak pantas untukmu, Reyhan! Dia murahan, dia matre, dia itu janda miskin!" Saras tetap saja mengatai Fira janda miskin murahan tanpa mengetahui siapa Syafira yang sebenarnya.
Suasana semakin memanas, banyak orang yang mencibir Fira. Mereka saling berbisik, bilang jika Fira hanya pelayan janda miskin yang berusaha menggoda anak dari pemilik toko mainan terkaya di kotanya.
Fira mendongak menatap Saras. "Apa salahnya jika saya janda?" tanya Fira yang sudah geram. Lalu dia bangun dan dengan tegak berdiri di hadapan Saras. "Apa kalian pikir saya mau jadi janda? Apa kalian pikir semua wanita mau jadi janda? Tidak! kami tidak mau menjadi janda! Tidak ada yang mau!" ucap Fira tegas dan lantang. Matanya menyorot tajam, dia sudah muak dengan tingkah Saras.
"Apa nyonya sadar jika nyonya sendiri janda di tinggal mati! Lalu kenapa jika aku janda, hah?"
"Syafira!" Sela Reyhan sedikit tidak suka.
"Kenapa? kau ingin marah, Reyhan? memang benarkan jika nenek mu janda? lalu kenapa mereka menghina janda seolah-olah mereka paling benar?"
"Sadarlah! Buka pikiran kalian! Jangan pernah menghakimi sembarang janda! Dan kau Bela," tunjuk Fira pada bela dengan tatapan menusuk. "Kau sering bilang aku pelakor? mana buktinya? buktikan jika saya memang pelakor! Jangan pernah kalian berucap tanpa bukti failed."
"Saya tanya sekali lagi kepada kalian? apa salah menjadi janda?" teriak Fira.
Tidak ada yang menjawab, semuanya terdiam membenarkan ucapan Fira termasuk Bela dan Saras yang kicep akan ucapan Fira.
"Jawab saya nyonya! Apa salah jika saya menjadi janda sedangkan anda sendiri janda?"
"Tidak ada yang salah dengan janda miskin, lebih baik jadi janda miskin dari pada jadi gadis pelakor demi menjadi kaya," sahut teman Bela yang merasa bersalah sudah mengikuti arahan Bela.
"Benar, kau benar nona Tiara. Lebih baik janda miskin asli janda daripada gadis pelakor yang menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan." Timpal Fira sambil menatap Bela tajam. "Lebih baik janda dari pada perawan rasa janda."
Dinda tersenyum tipis, dia begitu puas melihat Bela dan Saras kicep. Sedangkan yang lain terdiam mendengarkan penuturan Fira. Bela merasa tersindir, tanpa di sadarinya dia membalas perkataan Fira karena tidak suka di tatap terus olehnya.
"Saya bukan pelakor, dan saya masih gadis!" sela Bela dalam bentakannya.
__ADS_1
Arman, Amel, Dinda, dan Saras menoleh ke Bela. Mereka cukup terkejut mendengar perkataan Bela.
"Saya tidak bilang jika itu anda! Kenapa malah anda yang marah nona Bela? Apakah anda merasa?" telak Fira.
Bela gelagapan, dia menyadari ucapannya.
"Iya, nona itu tidak menyebut dirimu pelakor, dia juga tidak menunjukmu sebagai gadis rasa janda! Lalu kenapa anda malah tersinggung?" sahut salah satu pengunjung.
"Apa mungkin yang di katakan nona pelayan itu benar lagi." timpal pengunjung lainnya. Mereka yang ada di sana ikut menyimak semuanya. Mereka rupanya cukup cerdas dalam membaca situasi dan raut wajah seseorang.
"Saya tidak seperti yang kalian bilang! Saya bukan pelakor! Dialah pelakor, dia murahan!" tunjuk Bela tepat di wajah Fira.
Fira tersenyum sinis, dia sudah tahu siapa Bela yang sebenarnya. Bukan Syafira namanya jika dia tidak tahu seseorang yang dekat dengannya. "𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘋𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘮 𝘋𝘪𝘬𝘢."
"Jika kalian tidak percaya saya punya buktinya." Bela mengambil handphone lalu melihatkan gambar yang di kirimkan oleh Ratih. "Lihatlah! dia wanita murahan. Dia bahkan melakukan hal yang tidak senonoh di dalam mobil.
Reyhan mengernyit, dia merasa mengenali foto itu lalu dia ingat-ingat kembali. Seketika tawanya pecah, "Hahaha orang yang ada di dalam foto itu adalah saya sendiri, Bela. Lalu, apa salahnya jika saya mencium calon istri sendiri?"
Orang tua Reyhan melotot karena terkejut, begitupun dengan Amel dan Saras. Mereka tahu jika Reyhan bukanlah orang yang yang suka main sosor.
Fira memutar bola matanya. "𝘏𝘢𝘥𝘦𝘩, 𝘥𝘳𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪." gumam batinnya. "Terserah apa katamu, sekarang kau keluar dari Cafe ini! Kehadiranmu tidak di perlukan, Nona!" titah Fira tegas.
"Kau! Kau akan tahu akibatnya jika berurusan denganku!" bentak Bela.
"Silahkan keluar, atau saya akan laporkan anda ke polisi atas pencemaran nama baik saya!" ancam Fira tegas.
Dengan marah Bela meninggalkan Cafe itu karena sudah kepalang malu.
Huuuuuuuu....semua orang menyorakinya.
Bersambung...
__ADS_1