
Mahendra dengan gagah dan dengan angkuhnya melangkah ke ruangan kerja adiknya Dika, semua yang disana menundukan badannya memberi hormat kepada Mahendra. Sebagian orang ada yang segan sebagian lagi ada yang tidak suka dengan kesombongan Hendra.
Hendra langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Di dalam Hendra melihat Dika sedang berhadapan dengan seseorang yang membelakanginya.
"Dika, mas mau minta tolong sama kamu, tolong pinjamkan mas modal usaha!" Tanpa peduli ada orang lain di ruangan Dika, Hendra dengan spontan langsung bicara pada intinya.
Dika saling lirik dengan orang itu.
"Duduk dulu, Mas! Kita ngobrol dulu, ngopi dulu, cerita dulu permasalahannya apa sampai seorang Mahendra pemilik perusahaan bahan bangunan yang terkenal se Indonesia meminjam uang kepada adiknya, kayak yang lagi di kejar pinjaman saja." Dika terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Mas tidak banyak waktu, ayolah Dika, kamu sekarang sudah jadi bos Restoran, masa kamu tidak mau meminjamkan kakanya modal?!" Hendra menghiba, dia tidak peduli dengan orang yang ada di ruangan itu, dia berpikir orang itu pasti asisten Dika.
"Mas duduklah!" Dika menyuruh Hendra duduk, dengan terpaksa Hendra menurutinya.
"Sekarang ceritakan masalahnya apa?"
"Semua berawal dari skandal yang Bela buat. Akibat ulahnya, para klien tidak mau bekerjasama denganku dan dari sebagian mereka ada yang kembali menarik investasi nya. Bahkan Mas rugi milyaran rupiah." Hendra berusaha menjelaskan kepada Dika dengan mimik wajah sedihnya agar Dika merasa iba dan mau membantu dia.
"Itu semua resiko atas apa yang telah Bela perbuat. Dan kenapa bisa seperti itu?" Dika tidak terlalu menanggapi Hendra.
"Entahlah, apa saya kena hipnotis ya?" tanya Hendra pura-pura bingung.
Dika menyunggingkan senyum tipis nya, bisa-bisanya kakanya itu berbohong. Padahal Dika tahu uang itu Hendra gunakan untuk membayar wanita simpanannya. Dia tahu itu karena selama ini dia mengawasi pergerakan Mahendra.
"Berapa uang yang mas butuhkan?"
"500 milyar," ucap Hendra enteng.
"Apa?! sebanyak itu? maaf, aku tidak memiliki uang sebanyak itu."
"Dika, kamu itu bos, masa segitu aja tidak bisa ngasih, bahkan istrimu sendiri seorang anak tunggal Albern Alexander." Suara Hendra mulai meninggi karena dia merasa sedikit prustasi sebab dia tidak bisa bermain bersama wanita bayarannya untuk menghilangkan stress akibat memikirkan cara melenyapkan Syafira dan mendapatkan Sofi.
__ADS_1
"Mas pikir aku mudah mendapatkan uang sebanyak itu? aku masih pengusaha amatiran yang hasilnya tidak sebanyak itu dalam sebulan. Dan untuk istriku sendiri, meski ia anak tunggal, Dita sudah tidak punya peninggalan harta."
"Halaahh, bilang saja kamu tidak mau memberikannya karena takut tidak saya kembalikan," balas Hendra membentak.
"Jika aku tidak mau memberikan, lalu kenapa harta warisan dari Papa semuanya ku kasih buat Mas? bahkan bagian harta istriku kau ambil!" Dika sedikit menyentil masalah dulu, ia ingin tahu apakah Hendra akan terpancing atau tidak.
"Bukan kau yang kasih, tapi aku sendiri yang rebut semua milikmu bahkan milik istrimu pun ku curi, kalau tidak Papa akan memberikan bagianmu lebih besar dan aku tidak terima itu." Dengan emosi memuncak, tanpa sadar Hendra membuka rahasianya di hadapan Dika.
Dika menyeringai, dia berhasil membuat Hendra bicara lalu dia pura-pura kaget.
"Apa?! jadi selama ini aku juga mendapatkan warisan banyak?"
Hendra tertegun dia baru menyadari ucapannya, dia marah ternyata Dika menjebaknya, karena kepalang basah dan karena pengaruh stress dan alkohol membuat Hendra terang-terangan mengakuinya.
"Kenapa? kau marah? aku iri karena kau mendapatkan apa yang kau mau, sedangkan ku tidak bisa mendapatkan orang yang ku cintai karena ku tidak memiliki apapun. Maka dari itu anakmu ku habisi, harta istrimu semuanya aku ambil. Dan lihatlah, sekarang istrimu gila, wanita itu sudah gila, aku puas itu!" ucap Hendra murka, dia mengeluarkan rahasianya.
Deg..!
Dika tertegun, dia mematung, jadi karena harta dan rasa iri Mahendra sampai seperti itu.
Tapi sekarang, anak yang di sangka Hendra mati ternyata masih hidup, Kembalinya Fira membuat Hendra semakin prustasi takut harta yang selama ini ia kelola di ambil kembali.
Apalagi saat dia harus kehilangan jejak Sofi membuat Hendra prustasi dan di saat itulah Hendra bertemu dengan Elsa seorang janda beranak satu yang menyukainya dan menjebak Hendra agar menikahi Elsa.
Hendrapun memutuskan untuk menikahi Elsa dengan alasan agar mampu melupakan Sofi. Namun nyatanya sampai sekarang Hendra tidak bisa melupakannya.
Dika tertegun mendengar perkataan Hendra, dia tidak menyangka cinta dan rasa iri membuat Kakanya buta sampai menghalalkan segala cara agar tujuannya bisa tercapai.
Orang yang berada di situ tak lain dan tak bukan adalah Doni. Dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Dika yang sedang terduduk lesu di Sofa.
"Sekarang kau tahu kan alasannya apa? dan mengapa kakamu sampai hati melakukan ini karena dia merasa iri padamu."
__ADS_1
"Mahendra tidak sebaik yang kau katakan, meski kalian lahir dari rahim yang sama namun sifat kalian jauh berbeda." Doni menepuk-nepuk pundak Kaka Iparnya. Tadi dia dan Dika sedang membahas masalah kerja sama soal Restoran yang sempat Fira setujui.
****
Toko Mainan
"Aku antar kamu kedepan, ya!" Reyhan menggandeng Fira keluar dari ruangan kerjanya.
Setiap perjalanan keluar toko Fira menunduk dan menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang Reyhan karena malu bertemu teman sekaligus pegawai Rey yaitu Daffa dan Gilang.
"Eehemm, eheemm, yang habis mandi seger bener ya Lang?" celetuk Daffa melirik Reyhan dan sengaja mengeraskan suaranya agar Reyhan mendengar.
"Bener Daf, padahal tidak panas tapi mengapa suasana hari ini terasa panas ya? Duuhhh, gerah!" Gilang ikut menyaut sambil mengipasi wajahnya pakai tangan.
"Gue juga heran, apa mungkin karena ada adegan panas ya sampai suasana menjadi panas begini? mana gue jomblo, pasangan tidak punya, istri pun belum ada."
"Sama, gue juga jomblo. Enak ya jadi dia, punya doi sudah bisa di cicipi. Gue juga pengen."
Pletak...
"Aduhhh, Bos!" Pekik Gilang sebab kepalanya di sentil pakai kelereng.
"Gue tahu kalian sedang ngomongin gue. Emangnya istri gue makanan sampai harus di cicipi?" ucap Reyhan kesal.
"Hah..!! Istri?" Daffa dan Gilang saling pandang, keduanya terlihat bingung. "Sejak kapan loe punya istri?" tanya keduanya kompak dan mereka belum melihat jelas wajah di balik punggung Reyhan.
"Satu Minggu yang lalu. Jadi, sah-sah saja gue main panas sama istri gue. Kalian nya saja yang tidak punya sopan santun main masuk ruangan orang tanpa permisi," Reyhan mencebik.
Keduanya semakin terkejut akan berita yang Rey bawa. "Dengan siapa loe nikah?" tanya mereka kembali.
"Dia." Reyhan menggeser tubuhnya memperlihatkan Syafira. Syafira sendiri tersenyum kikuk dan malu.
__ADS_1
"Janda muda?!" ucap kaget keduanya.
Bersambung....