
"Halo, Mel. Apa kamu mendengar Bibi? Halo."
"Ada apa?" tanya Dita penasaran.
"Amel bilang Syafira di rumah sakit," jawab Sofi.
"Huaaaa Bunda..." Felix menangis mendengar Bunda nya di rumah sakit. "Mau Bunda."
"Jangan nangis ya, kita ke Bunda sekarang." Sofi memangku Felix menghapus air mata bocah kriwil itu.
"Kita kesana sekarang!" Dita menjadi panik takut putrinya kenapa-kenapa.
Keduanya sudah berada di luar rumah ingin masuk mobil. Mereka berhenti masuk saat seseorang memanggil Sofi.
"Sofi..." pekik Saras yang langsung memeluk anaknya. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu menyesal telah menyakiti hatimu dan Ibu menyesal membuatmu seperti ini." Saras menangis meminta maaf atas perbuatannya kepada Sofi.
Sofi diam tak menjawab maupun membalas pelukan sang Ibu. Hati kecilnya masih belum percaya Ibunya menyesali perbuatannya.
"Maaf, Bu. Nanti kita lanjutkan bicaranya, aku mau ke rumah sakit dulu." Sofi mendorong pelan bahu Saras agar lepas dari tubuhnya.
"Ibu ikut ya?" pinta Saras.
Sofi melirik ke Dita setelah Dita mengangguk, Sofipun mengiakan.
"Ayo."
Sofi menyeringai. "𝘈𝘸𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬. 15 𝘮𝘪𝘭𝘺𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯."
"Sini, biar anak janda eh anaknya Syafira ibu yang gendong." Sofi menyodorkan tangannya siap mengambil alih Felix yang ada di gendongan Dita.
Felix malah menatap bengong kemudian berkata, "Nenek lampil pula-pula baik." Celetuk Felix.
Sofi dan Dita saling menatap seolah keduanya berkata, anak kecil saja tahu.
"𝘉𝘰𝘤𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬, 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬." 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘫𝘶𝘵.
"Mau ikut tidak?" tanya Sofi dingin.
__ADS_1
"Iya ikut." Balas Saras langsung masuk mobil.
****
Rumah Sakit
Fira masuk ke ruangan rawat Bela. "Bagaimana keadaanmu." Tanya Fira menghampiri brangkar Bela.
"Ngapain kau kesini? pasti kau akan menertawakanku kan? dan kenapa kau menyelamatkanku? pasti kau mau membalas semua perbuatanku?" cerca Bela bertubi-tubi enggan melihat Fira.
"Aku kesini untuk memastikan keadaan janin mu. Aku tidak akan puas hanya dengan menertawakan dirimu. Alasan ku menyelamatkanmu karena ku kasihan kepada anak yang tidak berdosa yang ada di dalam Kandunganmu. Jika ku ingin membalasmu, sudah ku lenyapkan kau di dalam air." Dengan santai dan dingin Fira menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Bela.
Bela terdiam, namun matanya kembali berembun. "Kenapa kau tidak membiarkan ku mati saja, hah! Hidupku sudah tidak berguna lagi, kau bahkan merebut Reyhan dari ku di hari pernikahan kami. Kau juga sudah membuka semua keburukan ku di hadapan semua orang, bahkan sekarang aku menjadi pemuas nafsu Papa sambungku." Pekik Bela prustasi.
"Apa dengan membiarkanmu mati hidupmu akan kembali tenang? untuk Reyhan, apakah kau benar-benar mencintainya atau hanya terobsesi saja? aku membuka seluruh rahasiamu bukan maksudku mempermalukan mu melainkan agar kau sadar bahwa bahwa yang kau lakukan salah. Dan untuk pelecehan yang kau alami, maaf itu tidak ada sangkut pautnya denganku." Fira kembali memberikan pertanyaan dan menjawab setiap ucapan Bela.
"Setidaknya dengan mati, aku tidak mengalami hal seperti ini lagi. Aku mau mati saja!" pekik Bela melepaskankan jarum infus di tangannya.
"Kau ingin mati? ambillah! Aku beri keringanan supaya kau tidak capek harus jalan kaki ke jembatan dan lompat ke bawah." Fira menyodorkan sebuah pisau lipat yang ia ambil di balik jaket kulit yang ia kenakan dan memberikannya ke Bela.
"Ambil! Kenapa kau diam saja? bukan kah kau ingin mati? maka aku menyiapkan ini untukmu kala kau ingin mencoba bunuh diri lagi." Fira memaksa Bela memegang bendanya.
Tangan Bela gemetar, dia malah menepis tangan Fira sampai bendanya jatuh.
"Dengarkan aku? dan tatap mataku" Fira menatap serius Bela. Bela tidak mau menatap Fira lalu Fira mencengkram bahu Bela agar Bela menatapnya.
"Apa kamu tidak kasihan kepada anakmu? dia tidak berdosa, janin itu suci bersih. Kalau kamu nekat mengakhiri hidupmu sama saja kau melakukan dosa kembali dengan melenyapkan nyawamu dan nyawa anakmu. Dan aku yakin, di alam sana kau tidak akan tenang. Tuhan masih memberikanmu kesempatan hidup agar kau memperbaiki kesalahan yang kau buat dan mempercayakan kau untuk merawat anakmu."
Bela diam menatap bola mata Fira. Bela seakan terhipnotis oleh tatapan teduh dari mata sebening embun milik Fira. Tapi matanya masih meneteskan air mata menyesali setiap yang pernah ia lakukan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Bela luluh.
"Bertaubatlah selagi masih ada waktu! Rawat anakmu selagi Tuhan belum mengambilnya kembali. Jangan ulangi lagi kesalahan yang kau buat karena itu akan kembali menghancurkan dirimu sendiri. Buang rasa egois dan rasa sakit hatimu karena itu hanya akan menjadikanmu pribadi yang sulit." Fira berusaha bicara dari hati ke hati agar Bela mengerti dan mau merubah segalanya demi kebaikan dia sendiri.
"Bagaimana dengan anak ini? aku tidak mau dia lahir tanpa Ayah." Kata Bela bimbang masih menatap mata teduh Fira.
"Jangan pikirkan tentang Ayahnya! Kau pokus saja pada dirimu dan anakmu dan buktikan kepada dia bahwa kau mampu hidup dan mampu merawat anakmu tanpa sosok Jhon di sampingmu."
__ADS_1
"Kenapa kau baik padaku? padahal selama ini aku sudah berbuat jahat padamu."
"Karena kau saudaraku. Kita semua adalah saudara. Aku bisa melihat penyesalan di matamu. Aku percaya kau sudah menyesalinya."
"Hiks hiks hiks maafkan aku. Aku menyesali semua yang ku lakukan, aku tidak mau lagi melayani mereka. Aku ingin menjauh dari tempat ini. Aku ingin bertaubat sungguh-sungguh." Bela menunduk menangis menyesali segalanya.
"Aku akan membantumu pergi dari kota ini. Jika kau berkenan, maukah kau tinggal di kota M? akan ku pastikan mereka tidak menyakitimu termasuk Mahendra. Di sana aku akan memberikanmu tempat tinggal dan memberikanmu salah satu Cafe milikku sebagai ladang usaha untuk kau kelola. Anggap saja sebagai hadiah atas kehadiran keponaku ini." Fira tersenyum ramah dan mengusap perut Bela sayang.
Bela kembali menangis, dia tidak menyangka wanita yang ia sakiti dan bully adalah orang pertama yang merangkul dan menolongnya. Dia berjanji akan berubah menjadi lebih baik lagi. Dan dia berjanji tidak akan mengganggu Reyhan maupun Syafira lagi. "Terima kasih."
Fira memeluk Bela. "Sama-sama."
Apa yang di lakukan keduanya di perhatikan oleh Rey dan Amel dari jendela kaca. Mereka juga bisa mendengar sebab pintunya sedikit terbuka.
"Kaka ipar sangat baik sekali, hatinya sangat lembut. Aku semakin sayang padanya." Celetuk Amel berkaca-kaca.
"Apalagi Abang, aku semakin mencintainya dan takut kehilangan bidadari sepertinya."
"Amel, Reyhan, dimana Syafira?" tanya Sofi ngos-ngosan.
"Bibi," ucap keduanya ketika menoleh.
"Ayah..." sahut Felix merentangkan tangannya.
"Kenapa menangis, sayang?" Rey mengambil alih Felix dari gendongan Sofi.
"Mau ke Bunda."
"Bunda ada di dalam lagi nungguin aunty Bela yang sakit." Rey mengusap air mata yang mengalir di pipi Felix.
"Jadi bukan Fira?" tanya Dita yang baru saja ikut gabung bareng Saras.
Rey mendongak matanya mendadak malas melihat sang Nenek. "Bukan."
"𝘔𝘢𝘭𝘦𝘴 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬." 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘳𝘶𝘵𝘶.
Bersambung....
__ADS_1