Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Mama Sofi!


__ADS_3

"Pelanggan gimana maksudnya?" tanya tetangga para tetangga.


"Pelanggan tidur ce, dia kan janda, bisa saja dia melayani para pria kaya untuk mendapatkan uang," tuduh Bu Ratih.


"Ah masa sih? diakan bekerja di cafe, Bu Siti sendiri yang bilang," jawab tetangga dua yang kurang percaya akan ucapan Bu Ratih.


"Itu bisa saja kedok dia untuk menyembunyikan keburukannya, lagian kalian harus tahu, sudah ada tiga pria yang ku pergok dengan janda itu," Bu Ratih terus mengompori para tetangga.


"Saya tidak percaya jeng, neng Fira itu baik, sopan, selama tinggal di kampung sini tidak pernah melakukan hal yang memalukan," bela tetangga tiga.


"Saya beneran, kalian gak percaya?" tanya Bu Ratih.


Ketiga ibu itu saling lirik. "Kalau informasi dari Bu Ratih, saya kurang percaya," celetuk tatangga dua yang menurut dia Bu Ratih itu suka bohong.


Bu Ratih geram, "Terserah kalian saja deh! Saya punya bukti yang akurat kalau janda itu bukan wanita baik-baik, saya akan tunjukan ke kalian jika nanti anak saya pulang," kata Bu Ratih kesal.


"Apa hubungannya bukti sama anak jeng Ratih?"


"Biar anakku tahu dan tidak tergoda oleh dia, kalian hati-hati, jaga suami kalian agar tidak kepincut janda murahan itu!"


Bu Ratih pun pergi meninggalkan ketiga tetangga itu.


Mereka sedikit was was akan ucapan bu Ratih. "Tapi ucapan Bu Ratih ada benarnya juga, kita harus waspada! Takut nya nanti suami kita ke pincut janda muda itu," ujar tetangga satu dan yang lainpun mengangguk.


Di dalam rumah, Fira sudah mendandani anaknya, tinggal dirinya yang belum siap, dan Fira masih memakai kaos serta celana hotpants.


"Kamu tunggu ya! Bunda mau berganti pakaian dulu."


"Baik, Bunda," jawab Felix sambil meminum susunya.


Firapun masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Reyhan masih berdiri di depan, mondar mandir gak jelas. "Ketuk, enggak, ketuk, enggak," gumam Rey.


Ceklek...


Pintu rumah terbuka, menampilkan Felix yang curiga jika ada orang di depan rumah. Tapi Rey masih terus mondar-mandir tidak mendengar pintu terbuka, Felix bingung sendiri melihatnya.


Felix menutup kembali pintu secara perlahan. Bocah kriwil itu merencanakan sesuatu. Dia mengambil sesuatu di kamarnya, dan kemudian Felix memakainya. Dia keluar saat Reyhan membelakangi lalu Felix berdiri tepat di hadapan Rey. Ketika Reyhan membalikan badan, Reyhan terlonjak kaget hingga tersungkur kebelakang.


"Han...han..hantuuu..bocil!" teriak Rey, kemudian bersembunyi di samping kursi kayu.


"Ampun hantu! Saya orang baik, jangan ganggu saya! hus hus pergi sana!" Reyhan memejamkan matanya, terus mengusir orang yang ia sangka hantu, mulutnya komat Kamit membacakan bacaan yang ia bisa, sambil kedua tangannya menengadah.


"Tuhan, tolong singkirkan hantu bocil ini!" ucap Rey yang masih terpejam.


Felix sudah cekikikan melihat tingkah Rey, dan Fira sudah tertawa terbahak karena tak mampu lagi menahan tawanya. Tadi saat mendengar teriakan, Fira langsung keluar dan matanya tertuju pada orang yang sedang bersembunyi.


Reyhan heran, perlahan dia mengintap, lalu dia melotot kaget ketika melihat hantunya tertawa.

__ADS_1


"Hahaha Ayah Leyhan lucu, masa anak imut, manis, dan ganteng kaya aku di cangka hantu, hahaha," ucap Felix sambil membuka topengnya.


"Hahaha kamu ngapain disitu? takut hantu? terus, ngumpet ya?" ledek Fira.


Rey bangun lalu duduk dengan kasar.


"Iiisss, kalian ini benar-benar keterlaluan!" kesal Reyhan.


"Abisnya Ayah mondal mandul telus, ya udah aku keljai saja," celetuk Felix.


"Emangnya mau ngapain kamu datang kemari?" tanya Fira yang sudah bisa menguasai tawanya.


"Mau jemput kalian, lah!" jawab Rey ketus, dia masih kesal kepada mereka.


"Cieee yang lindu Bunda!" celetuk Felix.


"Eehh! Kenapa bawa-bawa Bunda?" tanya Fira bingung.


"Mau ngapain lagi kesini jika bukanrindu dan jemput kamu," sahut Reyhan.


"Tuh kan, Ayah gak mengelak," balas Felix cekikikan.


Wajah Rey sendiri sudah memerah malu, sedangkan Fira hanya menatap Rey dengan tatapan aneh namun wajah putihnya memerah.


"Kalian mau berangkat? ayo aku antar!" kata Rey berusaha menormalkan kegugupannya.


"Kami bukan mau ke cafe," ujar Fira.


"Ayah sopil dong," celetuk Felix polos. Felix kembali tertawa, dan Fira sudah mengulum senyumnya.


"Gak pa pa jadi sopir, asalkan bisa selalu bersama kalian."


"Gombal...." sergah Felix dan Fira secara bersamaan.


Rey hanya cengengesan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Baiklah pak supir, ayo kita berangkat! Kita sudah di tunggu oleh seseorang," kata Fira yang sudah berjalan duluan sambil menggandeng anaknya


"Seseorang? Cewek apa cowok?" tanya Rey mengikuti langkah Fira, lalu dia membuka kan pintu mobil dan Rey pun masuk setelah mereka masuk.


"Cowok, dia dekat dengan kami," balas Fira saat Rey sudah berada dalam mobil.


"Apa!" Rey cukup kaget, batinnya berkata, "𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯."


"Kenapa?" tanya Fira. "Gak papa," balas Rey cemberut


Dan merekapun meluncur ke tempat yang Fira tunjukan jalannya. Dalam hati, Reyhan terus bertanya, siapa pria yang di maksud Fira, hatinya mendadak panas saat Fira berkata akan bertemu dengan pria.


Kini mereka tiba di sebuah Restoran, Reyhan masih terus mengikuti langkah Fira.

__ADS_1


Dari jauh Syafira sudah melihat Doni, dia tersenyum, tapi dia terheran sebab ada seorang wanita yang duduk di meja pesanan Doni, dan posisinya membelakangi arah pintu masuk.


"Maaf, sedikit terlambat," Fira mendekati.


"Tidak apa, kita juga baru sampai," balas Doni lalu berdiri dari duduknya.


"Halo, Uncle om," sapa Felix.


"Halo, juga kesayangan Uncle om, ganteng sekali kamu."


"Iya dong om, aku yang paling ganteng," celetuk Felix dengan PD.


Dengan gemas Doni mencium kedua pipi Felix lalu dia memangku Felix.


Rey semakin merasakan hawa panas melihat keakraban Felix dan Fira. "𝘎𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴, 𝘴𝘢𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵. 𝘌𝘩! 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘙𝘦𝘺 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘋𝘰𝘯𝘪.


Doni melirik ke arah Reyhan, dia tersenyum tipis melihatnya.


Sedangkan wanita itu sudah deg degan, dia begitu gugup saat ingin bertemu Fira. Dia juga tahu jika Fira di antarkan oleh seseorang, dia tahu itu dari pesan masuk yang dikirimkan anak buahnya.


"Ra, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap Doni.


"siapa?"


Doni melihat ke arah wanita yang di hadapannya lalu mengangguk, perlahan wanita itu berdiri kemudian membalikan tubuhnya.


Deg..!


Fira, dan Reyhan tertegun, mata mereka saling memperhatikan, menyiratkan banyak pertanyaan.


Fira sudah berkaca-kaca, dia mengucek matanya memastikan apa yang di lihatnya tidak salah. Felix juga ikut bingung dan kaget, sebab wajah itu yang sering Fira tunjukan di foto jika itu Omanya.


Bibir Fira bergetar menahan tangis, dia begitu rindu. "Mama Sofi!" ucap Fira dengan lirih.


Sofi tersenyum mengangguk, dia merentangkan tangannya.


"Aku gak salah lihat kan? ini Mama Sofi? bukan hantu kan?" tanya Fira memastikan.


Mata Rey membola, "Mama?" Reyhan terkejut.


"Ini mama, sayang. Mama Sofi mu."


Fira menghambur kepelukan Sofi dengan tangis yang mulai pecah, "Mama, aku merindukanmu, sangat rindu."


Sofi membalas pelukan Fira, mengusap punggungnya, dan dia juga ikut meneteskan air mata.


Rindu, kata yang menyesakkan di dada.


Rindu, sebuah kata yang tidak ada obatnya selain bertemu.

__ADS_1


Apalagi jika rindu pada orang yang sudah tiada, rasanya sakit hingga tak mampu berkata.


Bersambung...


__ADS_2