Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Membantu part 1


__ADS_3

Sebelum pulang, Fira memutuskan untuk makan di pinggiran jalan.


Mata Felix celingukan kesana-kemari, mulutnya terus mengunyah. Mata kecilnya melihat banyak anak yang mengkerumuni seorang wanita, sepertinya wanita itu mencari sesuatu.


"Orang gila, orang gila." Anak-anak meneriakinya orang gila.


"Anakku! Dimana anakku? kau anakku? bukan, kau bukan anakku." Wanita itu terus melihat sekeliling, terkadang menangkap sang anak untuk melihatnya.


Dia menangkap salah satu anak yang meneriakinya bahkan melemparinya.


"Anakku."


Anak itu menangis karena takut, dia yang mengejar, meneriaki, dia juga yang ketakutan.


"Hei, orang gila pergi kamu! Jangan sakiti dia!" Usir salah satu orang tua dan berusaha memukul wanita itu.


"Jangan memukulnya!" cegah Fira.


Tadi Felix menunjuk kepada Fira jika ada orang yang ingin memukul wanita menggunakan kayu dan Fira segera mencegahnya.


"Dia orang gila, dia sudah jahat pada anak saya."


Fira menjawab, "Anak ibu yang jahat padanya, dia meneriaki wanita itu gila, bahkan dari mereka ada yang melemparinya dengan batu."


Wanita gila itu mendekati Fira menyembunyikan tubuhnya di belakang Fira, tanpa takut Felix memegang tangan wanita itu untuk menenangkan.


"Dia pantas mendapatkan itu, dia gila!" katanya tak mau kalah.


"Orang gila juga punya perasaan, meski dia gila tapi dia bisa merasakan apa yang kalian lakukan. Jika ibu masih menyakitinya saya gak akan segan-segan membawa anda ke kantor polisi. Saya punya bukti jika anak anda dari tadi menyakitinya dan anda sendiri ingin memukulnya. Orang yang ibu sebut gila hanya celingukan mencari seseorang dan hanya meneliti apakah dia anaknya atau bukan." Fira berucap panjang lebar sambil menunjukan rekaman dari Felix.


Ibu itu ketakutan kemudian ia pergi menuntun anaknya karena tak mau berurusan dengan polisi.


Fira balik badan, tanpa di duga wanita itu memeluk Syafira dengan erat seolah tidak mau kehilangan.


"Anakku," ucapnya.


Felix bengong, dan Fira sendiri terkaget, ia merasakan perasaan yang aneh saat di peluk. Entah perasaan apa? Fira sendiri Tidak tahu. Tapi yang pasti ada kehangatan, dan kenyamaan saat berada di dalam pelukannya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Fira.


"Anakku, jangan pergi!" Wanita itu tidak mau melepaskan pelukannya.


"Tidak, aku tidak akan pergi lagi, sekarang kita duduk ya!" Fira berusaha membujuknya.


"Uti, kita duduk dan makan yuk!" ajak Felix.


"Uti?" Tanya nya dengan bingung, saat sudah mengurai pelukannya.


"Uti itu eyang putli, altinya nenek," kata Felix.


Wanita itu berucap, "Nenek, uti, ya ya aku mau." Jawabnya jingkrak-jingkrakan.


Dan kini mereka duduk kembali menyantap makanan yang sempat tertunda bersama wanita yang mengaku namanya Dita.


****

__ADS_1


Seorang lelaki sedang kebingungan mencari keberadaan sang istri, sudah kesana kemari dia mencari namun masih belum juga menemukannya. Dia adalah Mahardika Prasetyo suami Dita sekaligus teman Arman.


"Kemana lagi ku harus mencarimu?" batin Dika putus asa.


Karena waktu sudah semakin sore, Dika memutuskan untuk pulang.


"Dari mana, Dik?" Tanya seseorang saat Dika masuk Mansion keluarga Siregar.


Dika menjawab, "Habis cari Dita, mbak."


"Orang gila seperti itu masih kau cari? Ck mending ceraikan saja dia dan cari yang baru! merepotkan," ujarnya dengan sinis.


Dika geram, tangannya mengepal marah. "Dia istriku, aku mencintainya. Jika bukan karena mas Mahendra, kau sudah ku buang dari Mansion ini, Elsa."


****


Kediaman Arman.


"Mah, tadi hebatkan Syafira!" ucap Amel bangga.


Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga, Arman dan Rey sibuk meninjau toko mainan di beberapa tempat dan kemungkinan mereka akan pulang larut malam.


Tadi Dinda dan Amel habis belanja bulanan dan pulangnya mampir ke cafe untuk membeli pesanan Saras. Sementara saat ini nenek Saras sedang tidur siang di kamarnya


"Kamu benar, dia cantik, jago bela diri juga. Meski udah punya anak, tapi Mama lihat dia masih gadis, auranya berbeda."


"Bagaimana kalau kita jodohkan sama Abang?" usul Amel.


"Huuss, ngawur kamu! kamu gak lihat dia punya anak? kemungkinan dia juga punya suami."


"Iya juga ya."


****


Kontrakan Syafira.


"Uti kita pulang ya, ini udah cole." Felic berusaha membujuk Dita tapi Dita selalu menggeleng.


Dita sendiri enggan berpisah dari Syafira. Karena tidak mau pulang, Fira memutuskan membawanya ke kontrakan.


"Felix, kamu mandi dulu ya! ini udah mau jam 6 loh!" bujuk Fira.


"Baik, Bunda," jawab Felix.


"Tante tunggu di sini dulu! aku mau mandiin Felix."


Ucapan Fira di angguki oleh Dita.


Setelah selesai mengurus anaknya, ia mulai mengurus Dita. Dengan telaten dan sabar Fira memandikannya dan memakai kan pakaian yang Fira punya.


"Sekarang tante sudah cantik dan wangi." Kata Fira saat sedang menyisir rambut Dita.


"Terima kasih, " ucap tulus Dita.


Fira tersenyum.

__ADS_1


"Kamu temenin uti dulu ya, sayang! Bunda mau masak buat makan malam kita."


Felix mengangguk, dia terus mengajak Dita berbicara dan bermain. Dita hanya menepuk-nepuk tangannya layaknya anak kecil.


Waktu terus berlalu makan malam pun telah selesai, setelahnya mereka memutuskan untuk tidur di ruang tengah, beralaskan kasur lipat. Felix berada di tengah-tengah Fira dan Dita. Karena lelah mereka berdua tertidur lebih cepat, sedangkan Dita terus memperhatikan keduanya.


"Terima kasih." Batin Dita mengelus kepala mereka secara bergantian.


Ke esokan harinya Fira terbangun lebih awal. Dia melakukan semua kegiatan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci baju, mencuci piring, menyapu bahkan mengepel lantai dapur dan depan.


"Fira," ucap Dita saat melihat Fira mengepel lantai depan.


"Tante sudah bangun, mau mandi?"


Dita menggeleng, Fira mengernyit heran.


"Lapar," lirihnya.


"Aku ambilkan ya, Tante tunggu saja!"


Fira berlalu mengambil makanan yang ia masak tadi pagi, ia menawarkan diri untuk menyuapi Dita tapi Dita menolak, dan diapun kembali melakukan kegiatannya.


Setelah selesai Fira meminta ijin untuk beli bubur.


"Tante aku mau beli bubur dulu, soalnya tadi malam Felix minta sarapannya bubur."


Dita hanya mengangguk mengiakan, setelahnya dia pergi berjalan kaki ke depan. Tak lama kemudian dia tiba di tukang buburnya.


"Eh, neng Fira. Beli bubur neng?" tanya bapak-bapak yang juga sedang membeli.


"Iya, pak. Buat anak saya," jawabnya ramah.


"Hai, loe yang waktu itu 'kan?" tanya seseorang yang juga sedang membeli bubur.


Fira mengernyit berpikir. "Oh, iya, gue baru inget."


"Kenalin gue Haikal. Cowok paling ganteng dan terkaya di kampung sini, anaknya bu Ratih." Dengan sedikit sombong dia memperkenalkan diri.


Tukang bubur berucap, "Hati-hati, neng! dia itu playboy kampung."


"Iisssh, jangan menjelekan saya napa, pak!" cebik Haikal.


"Emang kenyataannya ko," balas bapak-bapak.


Haikal tak menggubris.


"Boleh minta no nya gak? siapa tahu kita cocok!" Dengan percaya diri Haikal meminta no hp, dia yakin pesonanya gak akan membuat Fira menolak.


"Maaf, gak punya." jawab Fira cuek, lalu ia mengambil mangkuk dan pergi meninggalkan Haikal.


"Loh loh loh, tunggu Fir! Mang sih, jadi kabur kan dianya."


Tukang bubur cuek tak menanggapi ocehan Haikal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2