Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Gugurkan Kandunganmu!


__ADS_3

Setelah semuanya selesai, Sofi melanjutkan tujuannya untuk bertemu Syafira. Sebelumnya dia mampir sebentar ke toko mainan membelikan oleh-oleh untuk cucunya Felix. Wanita itu begitu serius memilih barang yang menurutnya akan di sukai Felix dan membawanya kekasir. Tanpa di sadari oleh dia ada sepasang mata terkejut menatapnya.


"Sofi!" gumam wanita paruh baya tak lain dan tak bukan adalah Saras. Dia mengucek matanya berharap tidak salah lihat, namun ketika melihat kembali Sofi sudah tidak ada.


Saras segera ke kasir untuk memastikan, di sana dia tidak melihat Sofi. "Mungkin aku berhalusinasi."


Saras ke toko berniat menghampiri Arman di ruangannya, namun ketika ingin masuk dia tidak sengaja melihat Sofi. Diapun tidak jadi menemui Arman karena kepalanya mendadak pusing.


****


Setibanya di rumah, Saras segera ke kamar tanpa memperdulikan panggilan Dinda.


"Kenapa cepat sekali pulangnya, Bu?" tanya Dinda. "Ada apa dengan Ibu? tumben dia tidak menjawab?" Dinda mengernyit dan dia mengangkat bahunya.


Dalam kamar Saras termenung, dia kembali teringat pada peristiwa yang pernah ia lakukan pada anaknya. Matanya terpejam berusaha menghilangkan bayangan masa lalu yang terus menghantui dirinya.


Flashback :


Seorang wanita berumur berdiam diri melamun, ia memperhatikan wajah sang putri yang terlelap akibat pingsan. Entah apa yang saat ini di pikirkan. Suara lenguhan sang putri menyadarkan dia dari lamunannya. Wajahnya sudah memerah menahan amarah, mulutnya ingin segera mencerca pertanyaan-pertanyaan yang ingin segera ia lontarkan.


"I ibu!" lirihnya ketika sudah sadar.


"Ada apa denganku, Bu?" dia kembali berucap, tangannya memegang kepala yang terasa pusing. Dengan perlahan dia bangun dan duduk menyenderkan tubuhnya ke penyangga ranjang.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Ibu tegas langsung pada intinya.


Deg..!


Jantung Sofi berdegup kencang. Dia merasa takut sesuatu yang tidak di inginkan terjadi padanya. Sofi gugup, tubuhnya sudah mulai berkeringat dingin, dia terus memilin selimut yang ia pakai, dia begitu takut dan wajahnya terus menunduk takut.

__ADS_1


"Jawab Ibu? siapa laki-laki itu Sofi!" tanya ibu kembali, namun kali ini suaranya lebih meninggi.


"Laki-laki siapa, Bu?" Ujarnya terbata.


"Jangan pura-pura bodoh kamu! Ibu tanya siapa laki-laki itu? laki-laki yang menghamilimu!"


"Ha hamil?!" Sofi tertegun ketika mendengar kata hamil.


Dia mengusap perut ratanya, ada mahluk kecil yang tidak dia inginkan tumbuh di perutnya. Pipinya terasa basah oleh air mata yang terus menerus keluar. Dia merasa sedih karena masa mudanya hancur berkeping-keping, dia merasa menyesal karena dia tidak bisa menjaga kehormatannya.


"Iya, kau hamil. Hamil di luar nikah! Ibu tidak percaya ternyata kau seperti itu!"


"Maafkan aku, Bu. Aku juga tidak ingin seperti ini, ini di luar kendaliku, Bu." Sofi berucap sambil menangis.


"Di luar kendali kamu bilang? Berarti kamu sering melakukannya, iya 'kan?" tuduh sang ibu masih dengan suara tingginya.


Sofi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Sumpah aku tidak seperti itu, a aku di paksa, Bu. Aku sudah berusaha menjaga kehormatan ku. Tapi, aku tak mampu, aku tak mampu melawannya." Tangis Sofi pecah, ia tak kuasa menahan air matanya. Dia sendiri merasa kotor dan jijik pada dirinya.


Sofi terus menggelengkan kepalanya, dia tidak mau ngasih tau siapa pria itu. Nafasnya sesak, dadanya sakit mengingat apa yang ia alami. Lebih baik dia membesarkan anaknya sendiri daripada harus meminta pertanggung jawaban pria itu.


"Kalau gitu, kamu gugurkan kandunganmu! Ayo ikut ibu." Ucap Saras tanpa rasa bersalah. Ia menyeret anaknya untuk ikut dengan dia.


Deg...!


"Tidak, Bu aku tidak mau!" Sofi menolak tegas permintaan Ibunya.


Bu Saras tak mendengarkan penolakan sang anak, ia terus menyeret tanpa rasa iba. Dia merasa malu mengetahui anaknya hamil tanpa suami, ia tidak mau reputasinya sebagai ibu sosialita yang cukup terpandang tercoreng oleh aib sang anak.


"Jangan, Bu! Ku mohon jangan gugurkan kandunganku." Sofi terus meronta-ronta dari genggaman sang Ibu.

__ADS_1


"Pokoknya Ibu tidak mau tau! Kamu harus menggugurkannya. Apa kata orang Sofi? Ibu malu!" Bentak Saras masih terus menyeret sang anak, sedangkan Sofi masih terus berusaha berontak.


"Lebih baik aku mati daripada harus membunuhnya, Bu! Bayi ini tidak bersalah!" suara Sofi tak kalah tinggi, dia sudah prustasi, dia tidak mau membunuh janin yang tidak berdosa itu.


Plak...Plak...


Sebuah tamparan keras Saras layangkan pada sang anak, hingga membuat Sofi tersungkur ke lantai sambil memegangi perutnya. Tanda merah di pipi menjadi saksi, untuk pertama kalinya sang Ibu memperlakukannya kasar. Sofi meringis dan menangis sesegukan memegangi pipi sebelah kanan yang terasa kebas dan perih.


"Pergi kamu dari sini! Ibu gak sudi punya anak memalukan sepertimu. Nama baik Ibu sebagai orang kaya akan tercoreng oleh kelakuan kamu! Lebih baik kau pergi daripada aku harus kehilangan muka." bentak Saras mengusir Sofi tanpa rasa bersalah.


"Jangan usir aku, Bu! Ku mohon jangan usir aku, aku harus kemana?" Sofi bersimpuh di kaki sang ibu, dia bingung jika dia keluar dari sini dia akan kemana?


Saras menghempaskan tangan Sofi dengan kasar, seolah dia jijik di pegang sang anak.


"Ibu tidak peduli! Jika kamu masih mempertahankan anak harammu, jangan harap Ibu mau menerimamu lagi!"


Saras menyeret anaknya ke luar rumah tanpa peduli dia anak kandungnya atau bukan.


"Pergi kamu! Ibu gak mau muka ibu tercoreng oleh mu, Ibu gak sudi punya anak seperti mu. Ibu gak sudi!" Saras menegaskan setiap kata yang ia lontarkan.


Saras menutup pintu rumahnya tanpa memperdulikan suara sang anak yang terus memanggil dan menggedor pintu.


"Bu, jangan usir aku, Bu! Bu,buka pintunya! Akuu harus kemana jika Ibu usir? Bu, kumohon buka pintunya!" Lirihnya penuh permohonan, Sopi terus menggedor pintu meminta untuk di bukakan.


Sofi tertunduk, dia memeluk kedua lututnya menangis sesegukan. "𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪?"


Flashback end.


"Sofiii...!" Saras terbangun, wajahnya pucat, keringat dingin sudah berjatuhan di dahinya. Dia terbangun dari tidurnya, dia memimpikan kembali peristiwa dimana dirinya mengusir Sofi. "Maafkan Ibu. Ibu menyesal, dimana kamu sekarang?" ucapnya penuh penyesalan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2