
"Berhenti kalian!"
Mereka menoleh, Dika yang berada tidak jauh pun kaget melihat Kakanya menggunakan senjata api.
"Hahaha rupanya kau datang juga Aurel." Kata Hendra menatap tajam Fira.
"Mau mu apa om?" tanya Fira.
"Mau ku kau menandatangani pengalihan surat wasiat dan kau mati di tanganku."
"Ck, aku tidak akan memberikan tanda tangannya."
"Baik, jika itu maumu, kalian keluar!" perintah Hendra.
Keluarlah beberapa orang lagi dari tempat persembunyiannya.
Fira menghitung jumlahnya dan ternyata lebih banyak dari anak buah dia. "Kita kalah jumlah," ucap Fira.
Kini posisi mereka di kelilingi oleh 40 orang pria bertubuh besar dan menyeramkan. Sedangkan Kelompok Fira hanya 25 orang saja.
"Di antara kita harus ada yang membawa Felix keluar!"
"Aku saja, Ra. Kalian pokus ke mereka!" Kata Leo.
"Kalian tidak bisa lari lagi, hajar mereka!" Hendra menyuruh mereka menghajar kelompok Fira.
Orang suruhan Hendra menyerang Rey, Fira dan Dika bersamaan, sedangkan Leo mencari cara untuk keluar membawa Felix.
Hendra yang melihat Felix segera menerjang tubuh Leo dan mengambil Felix. Felix diam tak berontak.
"Lepaskan dia!" Teriak Leo berusaha mengejar Mahendra yang sudah naik ke atas.
Dika yang sedang melawan melirik ke suara Leo, dia terus melawan sambil mendekati Hendra.
Fira dan Reypun berusaha melawan, kadang mereka bekerja sama untuk menumbangkan lawannya.
Leo mendekati Hendra namun sambil berusaha melawan beberapa orang yang mehadangnya.
Fira dan Rey berhasil menumbangkan sebagian orang meski tenaga mereka terkuras habis.
"Apa kau lelah?" tanya Rey masih dengan suara ngos-ngosan.
"Sangat, mereka cukup kuat."
"Mas, berhenti! Kita ini saudara, jangan saling menyakiti!" Teriak Dika behasil mendekati Mahenda yang sudah berada di ujung tangga.
"Aku tidak peduli! Saya harus mendapatkan apa yang saya inginkan! Syafira.....kalau kalian berani melawan maka anak ini akan saya jatuhkan ke bawah!" Hendra mengancam Syafira menggunakan Felix.
Syafira mendongak ke atas, matanya melotot terkejut. "Jangan kau coba-coba menyakiti anakku! Kau menginginkan nyawaku bukan? maka dari itu lakukanlah sesuai yang kau inginkan!" Fira menatap tajam Hendra.
__ADS_1
"Hahaha rupanya anak ini kelemahanmu."
"Mas, kau jangan gila!" pekik Dika kebingungan dan takut jika Fira menuruti Hendra.
"Bunda..." Felix memanggil Bundanya.
Fira tidak mendengarkan Hendra, dia malah mendekatinya membuka jaket kulit yang ia kenakan.
"Tembak dia...!" teriak Hendra.
Dooorr....
"Syafira....!" teriak Reyhan dan yang lainnya.
Syafira benar-benar kena tembakan di bagian lengannya. Namun peluru itu tidak menumbangkan tubuhnya justru malah membuat Fira terlihat semakin marah.
Hendra terbengong melihat seorang wanita sekuat itu. Dia jadi gemetar ketakutan. "Tembak dia lagi..!"
Secepat kilat Fira berlari menaiki tangga dan di saat itu Mahendra secepat kilat juga menjatuhkan Felix dari atas lewat samping tangga sampai Felix jatuh kebawah.
"Feliix...!" mereka menjerit. Mata Fira melotot sempurna ketika melihat Reyhan berhasil menangkap anaknya. "Syukurlah."
"Mas, bawa Felix keluar dari sini. Bang Alex, kawal mas Rey dan Felix!" titah Fira melihat ke bawah.
"Baik, Ra. Kita harus segera menyelesaikan ini. Tempat ini di pasangi bom oleh mereka, Ra." teriak Alex sambil melawan para anak buah Hendra yang menghadang mereka.
Fira menoleh ke Mahendra, matanya memerah, dia paling tidak suka anaknya di sakiti. Tangannya mengepal kuat bersiap menyerang Hendra. "Sudah ku katakan jangan menyentuh anakku. Jangan salahkan aku jika ku menghabisimu Mahendra...!" amarah Fira memuncak. Di saat itulah tubuhnya menjadi lebih kuat lagi.
Perkelahian sengit pun terjadi antara Fira dan Hendra, Fira berusaha menepis, mengelak bahkan dia tak segan memukul dan menerjang Hendra hingga kembali tersungkur.
Hendra memuntahkan darah akibat pukulan yang Fila layangkan tepat mengenai dadanya.
"Menyerahlah, Paman! Maka hukumanmu akan ringan." Ucap Fira tajam setajam silet.
"Tidak semudah itu!" bentak Hendra bangkit lalu menarik pelatuk yang ia sembunyikan di balik punggung mengarahkan ke Fira dan....
Dorrr....
Tangan Dika gemeteran, dia menjatuhkan pistolnya, dan diapun terduduk lemas menumpu kan kedua lututnya di lantai.
Dika berusaha mencegah dengan mengarahkan senjata api milik salah satu anak buah Hendra ke tangan Hendra. Tapi sayang, peluru itu malah nyasar tepat di dada Hendra mengenai jantungnya.
Darah segar berbau anyir mengucur di tubuh Hendra. Hendra memejamkan mata tak kuat lagi menahan berat tubuhnya dan ambruk jatuh kebawah karena posisinya dekat pagar lantai atas.
"Syafiraaa...Cepat pergi dari sini! Bom akan meledak dalam waktu 15 detik lagi." Teriak Leo yang sudah berhasil meringkus para anak buah Hendra.
Fira tersadar dari keterkejutannya, dan dia segera memapah Dika tanpa mengingat ada Saras di dalam.
Saras yang melihat kejadian itu benar-benar di buat syok. Dia segera berlari mengambil uang yang tadi berserakan dan akan kabur membawa uang itu. Saras segera turun dari tangga berharap selamat. Karena terburu-buru, Saras malah tersandung dan jatuh. Uangnya kembali berhamburan dan dia kembali mengambilnya.
__ADS_1
Fira, Dika serta semua orang-orang Syafira sudah berhasil keluar dan menjauh dari tempat itu. Mereka semua berjalan beriringan membelakangi bangunan itu.
Fira menalikan lengan jaketnya ke pinggang sambil berjalan. Sedangkan Felix yang ada di pangkuan Rey menoleh ke belakang dan menghitung mundur. "5...4...3...2...1...boooom..."
Duaaarrrr......
Ledakan dahsyat terjadi tepat Felix mengucapkan kata, "Boooom." kobaran api menjulang tinggi menghancurkan bangunan tua itu.
Fira memberhentikan langkahnya di kala ia mengingat sesuatu, dia membalikan tubuhnya.
"Ada apa?" tanya mereka bingung.
"Nenek Saras di dalam..!" pekik Fira tercekat.
"Apa?!" Mereka terkejut. Terutama Rey dan Dika.
Felix menatap kobaran dan bangunan yang sudah runtuh, hatinya berkata, "Inilah akhir dari kisah mereka yang tamak akan harta dan tahta. Itu balasan dari Tuhan atas apa yang mereka lakukan selama ini."
****
Kediaman Nicho
Mami Karin berhasil menenangkan Sofi. Dia masih menemani Sofi yang ketakuatan. Hatinya sakit melihat wanita yang telah anaknya rusak sampai memiliki trauma. Dari dulu Nicho sudah menceritakan segalanya mengenai apa yang terjadi, dan dari dulu mereka mencari wanita ini. Namun mereka tak berhasil menemukannya.
Suara bel rumah terdengar. "Siapa sih yang bertamu dini hari?" Nicho tertidur di ruang tamu pun bangun. Dia melihat jam dinding dan tenyata baru pukul 3 dini hari.
Lalu kakinya melangkah membuka pintu. Matanya melebar melihat sahabatnya. "Arman! Tumben sekali mampir ke rumahku?"
Arman langsung saja bertanya mengenai adiknya. "Dimana adikku?"
Nicho mengernyit. "Adik? tidak ada adikmu di sini. Bukannya kau belum menemukannya?" Nicho belum mengenal siapa adiknya Arman karena dulu dia tidak pernah bertemu meski suka main ke rumah Arman.
"Dimana kau sembunyikan adikku?" kali ini Arman meninggikan suaranya.
Sofi mendengar suara Kakanya. Dia segera keluar menghampiri.
"Mau kemana, Nak?!" pekik Mami Karin.
"Kaka.." Sofi memanggil lirih Arman. Mata dia berkaca-kaca dan dia enggan mendekati Arman karena takut melihat Nicho.
Arman menoleh. "Dek.."
"Kaka?!...Adek?!..." Nicho terkejut melotot sempurna.
Bersambung....
𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗽𝗶𝗸𝗶𝗿𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗮𝗽𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗮𝗽𝗮. 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗶𝗻𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹𝗻𝘆𝗮. 𝗧𝗮𝗽𝗶, 𝗴𝗮𝗸 𝗽𝗮𝗽𝗮, 𝘀𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘀𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝘂𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝘀𝗮𝗻 𝘆𝗮.
𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗸𝘂, 𝘀𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘀𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗷𝗲𝗷𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮.
__ADS_1
𝗢𝗵 𝗶𝘆𝗮, 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗸𝗲 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮𝗸𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗷𝘂𝗱𝘂𝗹 : 𝗞𝗔𝗥𝗘𝗡𝗔 𝗞𝗔𝗠𝗨, 𝗧𝗔𝗞𝗗𝗜𝗥𝗞𝗨.
𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵😊 𝗠𝗼𝗵𝗼𝗻 𝗺𝗮𝗮𝗳 𝗽𝗮𝗯𝗶𝗹𝗮 𝗮𝗱𝗮 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝘁𝗮. 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽 𝗱𝗶 𝗺𝗮𝗸𝗹𝘂𝗺. 😅