Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Terpaksa


__ADS_3

Seperti biasanya Fira akan bangun pagi menyiapkan segala keperluan dia dan anaknya. Hari ini dia kembali masuk kuliah, dan dirinya akan menitipkan Felix pada Doni sampai pulang kuliah setelahnya akan ke Cafe.


"Fira." panggil seseorang ketika Fira dan Felix menunggu angkot pak Komar nyala.


"Iya." Jawab Fira menoleh ke asal suara.


"Mau kuliah? bareng gue saja, yuk!" ajak Haikal memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Pak Komar.


"Terim kasih atas tawarannya. Aku menunggu pak Komar saja!" tolak Fira halus.


Pak Komar masih berusaha menyalakan angkutan umumnya, tetep tidak mau menyala. "Aduh, Neng. Mobilnya dari tadi tidak mau nyala, kenapa ya? padahal bensin penuh, mesin bagus." Pak Komar terus berusaha menyalakannya.


"Yah, gimana dong! Aku harus cepat berangkat kuliah karena ada kuis dadakan." Fira ikut bingung, dia melihat arloji di tangannya.


"Bapak juga tidak tahu kenapa bisa tidak nyala? nanti Bapak benerin dulu, kamu ikut nak Haikal saja dulu!" usul Pak Komar.


Haikal yang berada di dalam mobil sudah tersenyum girang. "𝘠𝘦𝘴, 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘦 𝘥𝘦𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘪."


Fira berpikir terlebih dulu, "𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘴𝘯 𝘫𝘦𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘐𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘢𝘩. 𝘚𝘰𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢?"


"Bagaimana, mau ikut denganku?" tanya Haikal.


"Om, jangan modus sama Bunda aku!" celetuk Felix dari tadi memperhatikan tingkah Haikal.


Rupanya bocah kriwil itu sangat posesif terhadap sang Bunda. Dia juga bisa membaca apa yang di pikirkan seseorang.


"Eh! Tidak kok! Om tidak modus, Om hanya ingin bantu Bunda kamu saja."


"Ok, kali ini aku ikut denganmu. Kali ini saja! Aku tidak mau ada masalah jika terus ikut bersamamu." Kata Fira penuh peringatan.


"Iya, baiklah," balas Haikal.


"Pak, kami berangkat dulu." Pamit Fira pada pak Komar.


"Iya, Nak. Maafkan Bapak tidak bisa mengantarmu." Pak Komar merasa tidak enak hati, mau bagaimana lagi mobilnya saja tidak nyala.


"Tidak apa." Fira dan Felix menaiki mobil Haikal. Fira tidak sempat pamit pada Bu Siti sebab Bu Siti sudah berangkat ke pasar.


Tanpa di sadari ada sepasang mata memperhatikannya. "Tidak akan ku biarkan kau mendekati anakkku janda miskin."

__ADS_1


****


Kampus


Fira dan anaknya sudah turun duluan, lalu Haikal pun turun setelah memarkirkan mobilnya. Tidak berselang lama mobil Rey tiba di area parkiran dan berhenti tepat di dekat Fira.


Fira sudah tersenyum melihat Amel keluar dari bagian belakang, dan mata Fira menatap Rey yang juga ikut turun. Namun, seketika senyuman itu luntur saat Rey membukakan pintu sebelah kiri. Keluarlah Bela dengan senyuman kebahagiaannya.


Bela dengan sengaja menggandeng lengan Rey di hadapan Fira, memamerkan kemesraan di depan mantan kekasih dan rival nya.


Reyhan merasa risih, lelaki itu berusaha melepaskan gandengan Bela. Mata Rey menatap Fira lalu menatap anak kecil yang di gandengnya, terlihat sorot kecewa di mata gadis bak boneka itu. Tapi, tidak dengan Felix. Bocah itu hanya memperhatikan serius setiap gerakan Reyhan.


"Hai, mantan. Hai, janda miskin." Bela sengaja menyapa keduanya.


"𝘊𝘬, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶." 𝘤𝘦𝘣𝘪𝘬 𝘈𝘮𝘦𝘭 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.


"Kita masuk yuk, Ra!" Ajak Amel, dia sudah geram melihat Bela yang terus-menerus bergelayut manja di lengan abangnya.


Fira membalikan badan, matanya menatap mata Reyhan memperlihatkan sorot mata yang kecewa. Reyhan tidak berani menatap mata sebening embun itu, dia memalingkan penglihatannya ke arah lain agar tidak melihat sorot kecewa.


"Eiits, jangan pergi dulu! Gue mau loe jangan ganggu lagi Reyhan! Kami akan segera bertunangan dua Minggu lagi." Ucap Bela saat mencegah langkah Fira.


"Saya tidak peduli! Terserah kalian mau tunangan ataupun menikah juga! Masih banyak pria yang mengejar saya!" balas Fira dingin lalu dia kembali melangkah. Dia memejamkan mata, membuang nafas secara kasar, dan melanjutkan langkahnya sambil menuntun Felix.


"Hei, kau dengar ucapan ku tidak! Jangan pernah kau mendekatinya lagi!" pekik Bela, dia tersenyum puas penuh kemenangan.


Amel kesal dia ikut mengejar langkah Fira.


"Ck, rupanya kau murahan, Bela. Baru saja putus denganku sudah menggandeng pria lain." Cibir Haikal, diapun ikut mengejar langkah Fira dan merangkulnya dari belakang sambil menoleh ke arah Reyhan. Dia memberikan senyuman mengejek kepada Reyhan seolah Fira akan menjadi miliknya.


Reyhan mengepalkan tangannya, dia tidak terima Fira di dekati pria lain. "𝘉𝘳𝘦𝘯𝘨𝘴𝘦𝘬, 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬!" Reyhan melepaskan gandengan tangan Bela secara kasar lalu begitu saja meninggalkan Bela.


"𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶." Dengan girang Bela masuk kedalam kampus.


****


"Aaaaaaaaa." Reyhan berteriak kencang di dekat danau. "Kenapa jadi begini, Tuhan?" teriaknya prustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. Rey menyenderkan tubuhnya ke pohon rindang yang ada di tepi danau lalu duduk untuk menjernihkan sejenak pikirannya.


"Maafkan aku, Fira. Aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Nenekku."

__ADS_1


𝗙𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸


"Jangan...!" pekik semua orang saat Saras ingin menggoreskan silet ke pergelangan tangannya.


"Lebih baik aku mati jika kau tidak mau menuruti permintaanku!" pekik Saras.


"Bu, jangan lakukan itu! Itu bahaya!" Arman mencegah agar ibunya tidak nekat.


"Iya, Nek. Rey mohon jangan nekat seperti ini! Kita bicarakan baik-baik, ok!" bujuk Rey khawatir.


Dinda dan Amel sudah panik melihat aksi nekat wanita paruh baya ini.


"Tidak mau! Kau harus janji dulu akan menuruti perintah Nenek maka nenek akan membuang benda ini." Saras kembali mengancam menggunakan benda kecil nan tajam.


"Aku tidak mau! Aku tidak menyukainya!"


Sreettt...


"Aaaaaa." jerit Dinda Dan Amel histeris. Saras nekat menggores sedikit kulitnya hingga mengeluarkan darah.


"Baiklah, baiklah, aku akan menuruti kemauan Nenek termasuk menikahi Bela." Pekik Reyhan pasrah, dia tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk neneknya agar tidak nekat.


"Reyhan!" ucap Dinda dan Arman.


"Abang!" kata Amel. Mereka terkejut akan keputusan Reyhan.


"Apa kau serius?" Saras memastikan, wajahnya sudah terlihat cerah mendengar keputusan cucunya.


Reyhan mengangguk lesu. "Aku serius. asalkan Nenek jangan nekat lagi.


Saras membuang benda itu. "Nenek janji!" jawabnya. "𝘉𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭, 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯, 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘩. 𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘪𝘯."


𝗙𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸 𝗲𝗻𝗱.


"Di saat aku mencintai seseorang, kenapa cobaannya begitu besar. Aku harus terpaksa menyakiti perasaanmu demi nyawa Nenekku. Maafkan aku, maafkan aku." Reyhan terus bergumam di bawah pohon itu.


"Kami bisa membantumu keluar dari masalah ini." Celetuk seseorang dari balik pohon. Kemudian keduanya melangkah maju menjadi sejajar dengan Reyhan.


Reyhan menoleh, matanya tertegun melihat dua orang yang ia kenali berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2