Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
EXTRA PART ( Akhir Cerita )


__ADS_3

"Ayo dorong, Bu!...tarik napas, lalu buang. Tarik napas lagi dan mengejan!" intruksi sang Dokter.


Fira mengikuti apa kata Dokter. Dia mulai menarik napas dan mengejan kuat sampai rambut Rey ia jambak.


Namun sang bayi masih belum keluar juga.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa. Aku tidak apa-apa jadi sasaran kamu asal anak kita bisa keluar." Racau Reyhan menyemangati.


"Ayo, Bu..! Kepalanya sudah terlihat."


"Ayo, sayang. Aku bantu! Tarik napas yang dalam lalu mengejan!" Rey mengintruksi dan Fira pun mengikuti.


"Huuffhhh...huuffhhh...huuffhhh...aku lelah, Mas." lirih Fira mulai melemah.


"Ayo, Bu! Semangat! Satu kali tarikan napas lalu mengejan kuat pasti bayinya keluar." Kata Dokter juga ikut menyemangati.


"Iya, sayang. Kamu bisa!" timpal Rey.


Fira kembali menarik napas kuat-kuat... Rey juga ikutan menarik napas kuat-kuat juga...


"1....2....3....Mengejan Bu...!" perintah sang dokter.


Fira dan Reyhan mengejan berbarengan dan....


"Oooaaaaa.....oooaaaaa..."


"Duuuutttttttt....preeetttt..."


Suara bayi menggema di ruangan itu dan tak lama kemudian di susul oleh suara kentut Rey yang juga terdengar tak kalah keras.


Reyhan membelalakkan mata saking terkejutnya si angin yang keluar secara tiba-tiba di situasi yang tidak terduga.


Satu tangan Rey di pegang Fira dan tangan satunya memegang pantat dia. "Aduuhhh, Sayang...! Angin aku ikutan keluar juga..!"


"Sayang, kentut kamu bau ihhh. Jorok banget," kata Fira di sela rasa lelahnya merasa ingin tertawa akan tingkat Rey.


"Maaf, sayang. Kelepasan." Reyhan cengengesan, wajahnya sudah merah karena malu.


Dia melirik ke arah dokter dan para suster. "Hehehe maaf, Dok. Saking semangat ikut keluar juga."


Suster dan Dokter sudah ingin tertawa namun mereka tahan karena mengingat masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.


Reyhan tiba-tiba menangis haru melihat perjuangan sang istri yang mempertaruhkan hidup dan mati. Dia semakin mencintai wanita yang telah melahirkan anaknya. Di kecupnya kening sang istri dan kedua pipinya penuh sayang. "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."


Reyhan memangku bayi mungil itu yang berjenis kelamin perempuan setelah bayinya di bersihkan. Ia pun menggendongnya dan menatap lekat-lekat wajah sang anak penuh haru.

__ADS_1


"ANINDIRA ARKADEWI AL-HUSSEIN. Semoga kamu menjadi anak perempuan pemberani sang bidadari cantik penerang keluarga dan juga baik hati."


Sang bayi menggeliat-geliat kecil dalan bedongnya menampilkan senyum kecil seolah bayi itu mengukai nama pemberian sang Ayah.


Syafira kembali berkaca disaat bayi cantiknya ia tempelkan di dada. Mulut mungilnya mencari-cari titik sumber ASI dan langsung menyusu kuat setelah mendapatkannya.


Sedangkan di luar ruangan persalian, para orang tua yang tadinya cemas merasa lega ketika mendengar suara bayi.


"Cucu kita sudah lahir, adik kamu sudah lahir, Sayang." Kata Dita kepada semuanya dan juga kepada Felix.


"Aaaa senangnya kita dapat cucu lagi." Pekik Dinda memeluk Dita dan Sofi silih berganti.


"Kira-kira wajahnya mirip siapa ya? mirip Fira atau Abang? atau mirip aku?" sahut Amel yang juga sudah ikut bergabung bareng mereka.


"Pasti mirip kita, lah." Ucap Dika dan Arman kompak.


"Mirip aku, Dik. Aku kan kakeknya," kata Arman.


"Mirip aku. Aku Kakungnya," kata Dika tak mau kalah.


"Bisa diam tidak sih? enggak usah berebut juga yang pasti mirip orang tuanya." Nicho menyela.


"Tau, Nih. Seperti bocah saja berebut mainan," timpal Doni.


Ceklek...


"Rey," ucap mereka bersamaan.


Rey sejenak terdiam mematung lesu, kemudian ia tiba-tiba memangku Felix dengan sangat antusias memutarnya. "Adik Abang sudah lahir." pekik Rey bahagia.


"Horeeee....sekarang aku udah jadi Abang." Felix ikut senang dan juga sangat antusias atas kelahiran adiknya.


"Cucu kita lahir, cucu kita lahir," para orang tua juga tak kalah antusias.


Para wanita saling berpelukan sedangkan para pria juga ikut berpelukan. Mereka berpelukan sambil berputar-putar.


Doni, Amel, dan Nicho yang waras. Mereka secara bersamaan menepuk jidat saking herannya melihat kelakukan para orang tua yang kelewat batas. "Keluarga sengklek."


****


Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu begitu anteng di dalam box bayi meski banyak orang berisik tak mengganggu tidurnya. Bayi itu hanya sesekali menggeliat kecil di dalam bedongan.


"Hahaha kamu ikutan mengejan dan malah kentut di dalam? Astaga Rey, sampai segitunya kamu.." ledek Dinda menertawakan ada cerita di balik persalinan Syarifa


"Gak kebayang malunya seperti apa, untungnya kuning tidak ikutan keluar kalau keluar iiiihhhh kebangetan." Timpal Arman juga tertawa.

__ADS_1


Para orang tua tertawa namun tawanya tidak terlalu kencang.


"Lagian Mas Rey aneh, Aku yang lahiran dia juga ikut lahiran dan hasilnya lahirin suara Duuuuutttt....preeetttttt...." Syafira juga ikutan tertawa. Dia menceritakan bagaimana kedaan saat di dalam ruabgan persalinan.


Rey hanya diam cengengesan tak membalas ledekan para orang tua karena memang itu benar apa adanya.


"Gimana Bang rasanya bini mau lahiran? panik gak? panik gak?" tanya Amel.


"Paniklah masa kaga..." jawab para orang tua secara bersamaan kemudian tertawa.


"Malah dia ingin kerumah sakit cuman pakai kolor doang...hahahaha... dan apa kalian tahu, Mel, Don, Nic, dia pakai kolor gambar hello Kitty hahaaha" Dinda tertawa ngakak.


"Dan yang lebih parah lagi, dia sampai pakai baju terbalik," timpal Sofi ikut menambahkan ketika drama sebelum melahirkan terjadi.


"Yang bikin heran tuh mereka. Aunty tahu tidak, mereka malah saling berdempetan di pintu keluar kamar dan malah menyalahkan pintu yang kekecilan dan malah menyalahkan tukang kayunya. Ya udah aku sama Bunda duluan saja berjalan pelan. Aneh kan?" timpal Felix yang sedang duduk di ranjang dekat Fira.


"Masa sih?" kata Amel, Doni, dan Nicho secara bersamaan.


"Iya, bener-bener sengklek kita. Siapa yang mau lahiran siapa yang buat kegaduhan." Sahut Syafira membenarkan.


Ada cerita tersendiri dalam proses persalinan Baby ANINDIRA, cerita ini akan mereka simpan sampai kelak untuk mereka ceritakan ke keturunan-keturunan berikutnya.


Mereka semua berbahagia setelah banyak terpaan menghadang. Mereka akan selalu kompak dalam segala hal, meski terkadang jarak dan waktu suka memisahkan.


RUMAH TANGGA terletak pada kata “tangga” sebagai kata yang menerangkan “rumah” dalam idiom tersebut.


Pertama, tangga itu terdiri dari beberapa pijakan yang terus menanjak menuju tempat yang lebih tinggi. Ini digambarkan sebagai perjalanan dalam menuju kehidupan yang lebih baik, dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Menanjak dimaknai sebagai usaha yang memerlukan energi yang lebih banyak dan diperlukan kehati-hatian dalam menapaki setiap tahapan.


Dalam pernikahan pijakan-pijakan dalam tangga itu bisa banyak macam artinya. Misalnya, bagi yang baru menikah biasanya perjuangan untuk kecukupan materi masih berada pada pijakan tangga pertama, jangan aneh kalau awal-awal nikah rejekinya agak seret.


Kedua, jika kita lihat tangga, dari satu pijakan ke pijakan lain terdapat ruang kosong, bahkan ketika sebelum menapaki pijakan tangga yang pertama didahului terlebih dahulu dengan ruang kosong.


Ruang kosong tersebut bermakna kehampaan, keraguan, keputus-asaan, dan tidak jarang adalah air mata. Ruang kosong sebelum pijakan tangga yang pertama adalah masa-masa pencarian sebelum menapaki jalinan cinta yang sesungguhnya dalam bentuk pernikahan.


Bahkan setelah sampai ke tangga yang sebenarnya, yaitu dalam bentuk pernikahan, ketika kita menapaki setiap pijakan-pijakan tangga tersebut selalu ada ruang kosong di antara pijakan-pijakan tersebut.


Itu bermakna pernikahan pun selalu mengalami cobaan, selalu ada masalah yang ditemui. Air mata, penderitaan, bahkan sakit hati, pertengkaran, itu suatu yang wajar dalam ruang kosong tersebut ketika hendak menaiki tangga selanjutnya.


Ketiga, bagaimana solusinya? Ingat tangga itu ditopang oleh dua tiang di kanan-kirinya. Jika tiang itu kuat maka pijakan-pijakan tangga tidak akan hancur. Ia akan tetap utuh. Tiang itu adalah lambang dari ikatan yang solid antara suami dan isteri.


Sikap saling pengertian mutlak diperlukan disertai komunikasi yang baik di antara keduanya. Semua hal harus dikomunikasikan agar antara tiang-tiang tetap terhubung. Tapi jika tanpa komunikasi antara keduanya itu berarti antara tiang sudah tidak terhubung, maka tinggal tunggu waktunya, di mana kedua tiang akan cerai berai.


Keempat, kedua tiang tangga (suami-isteri) harus selalu lurus. Tiang penyangga tangga jika salah satu sudah bengkok maka akan dipastikan tangga akan tidak kuat berdiri.


Lurusnya tiang tangga adalah, syukuri yang ada di rumah, tidak usah lagi cari-cari yang lain. Karena ketika sudah memilih seseorang menjadi isteri maka berarti sauh atau jangkar sudah ditambatkan, kapal harus berhenti di pelabuhan hati pasangannya.

__ADS_1


TAMAT.......


__ADS_2