
"Selamat sore semuanya." Pekik Amel ketika sudah berada di dalam rumah, kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke sofa, matanya ia pejamkan lalu tersenyum penuh misteri.
"Sore juga sayang," balas mama Dinda.
Arman mengkerutkan dahinya, ia bingung akan sikap Amel, begitupun dengan Dinda.
"Kenapa kalian memandangi seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" Amel bertanya ketika ia sudah membuka mata dan melihat ke arah orang tuanya.
"Kamu kenapa? Tumben wajahmu terlihat berbeda, bahkan senyummu mencurigakan." Arman menelisik wajah Amel curiga.
Amel tak menjawab, ia hanya tersenyum kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama.
"Papa, mama, Reyhan pulang."
"Loh, loh, ada apa ini? Ko kamu jadi manja gitu Mel?" Rey bertanya saat melihat adiknya sedang bermanja.
"Aku juga jadi pengen bermanja sama Mama." ucap Rey kembali lalu duduk kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak sang mama.
"Kalian ini pada kenapa tiba-tiba jadi manja gini?" tanya Dinda bingung.
"Tau tuh Abang, ikut-ikutan saja." Amel mencebik melihat tingkah Kakanya.
"Biarin wlee. Kaka juga kangen bermanja sama Mama." Rey menjulurkan lidahnya dan mengacak rambut Amel.
Amel kesal kemudian ia bangun dan duduk.
"Rey kamu sudah dewasa, kapan kamu akan menikah?" celetuk Dinda tiba-tiba.
"Mama mah yang di bahas nikah mulu, entar juga kalau sudah tiba waktunya pasti akan menikah," jawab Rey.
"Entar-entar, entar jadi bujang lapuk baru tahu rasa," celetuk Amel.
"Biarin, yang penting tidak di php in orang." ledek Rey
"Abang ngeledek aku?"
"Kagak, emang kamu ngerasa?"
"Iya." Balas Amel dengan cemberut.
"Hahaha kasiaan deh loe, dekat dengan siapa jadian dengan siapa, cuman di bikin baper doang sudah baper di tinggalin hahaha." ledek Rey mengacak-acak rambut sang adik kemudian berlari dengan tertawa.
"Abaaaang! Dasar Abang durhaka, awas ya kalau ada yang mau deketin Abang lagi aku gak akan mau." Pekik Amel kesal sambil mengejar sang Kaka.
"Bodo amat, siapa suruh mau di jadiin mak comblang temen loe? Abang gak minta." Rey terus tertawa dan berlari dari kejaran Amel.
Dinda tertawa melihat tingkah mereka, sedangkan Arman hanya tersenyum.
Amel berhenti kemudian berfikir.
__ADS_1
"Benar juga ya?"
"Dasar lemot." Cibir Rey menoyor kepala adiknya.
"Abaaaang! Mama bang Rey jahat, dia menoyor kepala aku." Teriak Amel mengadu.
"Ck, dasar bocah." Delik Rey jengah.
"Reyhan, sudah Mama bilang jangan menoyor kepalanya, sekalian aja jitak kepalanya agar tidak telmi!" saut Dinda ikut meledek
"Apaan tuh mah?"
"Telat mikir." ucap kompak Rey dan mama.
Semua orang tertawa termasuk Arman.
"Ihhh kalian jahat, ter la lu, sungguh teganya, teganya padaku, kejaaam." Amel menghentakkan kakinya kesal.
"Lah, malah nyanyi?"
"Bukan, tapi ngitung beras! cebik Amel kesal
"Ooohhh kirain di php in."
"Abaaaaaaang!"
"Ka aka bu ubur, kabuuurrr." Rey berlari ke kamarnya sambil tertawa menghindari amukan Amel.
"Kalian ini, sudah besar juga masih saja berantem. Tapi, jika tidak ada kalian rumah terasa sepi.
"Tidak terasa kalian sudah dewasa dan sebentar lagi kalian pasti menikah lalu akan meninggalkan kami," timpal Arman.
"Pah," lirih Amel.
Tidak berselang lama Rey menuruni tangga, sepertinya dia sudah mandi. Reyhan mengenakan kaos berwarna hitam, celana jeans abu, tangan kirinya memakai arloji berwarna silver hitam, dan memegang handphone. Sedangkan tangan kanan ia masukan kedalam saku celana.
"Kamu mau kemana Rey! Tidak biasanya sore gini kamu udah rapi?" tanya Dinda penasaran.
"Mau ngapel lah, 'kan ini malam Minggu." Celetuk Amel menggoda sang Kaka.
"Ish, kau ini. Aku mau ke rumah Daffa, sekali-kali boleh lah main."
"Ohh, ya sudah, hati-hati di jalannya."
"Siap, Mah."
Rey menyalami Arman dan Dinda lalu pergi.
****
__ADS_1
POV Syafira.
Nada dering handphoneku terus menerus berbunyi, entah siapa yang menelpon, aku sendiri tidak tahu. Saat ini perasaanku tidak menentu, aku hanya ingin sendiri.
Semenjak memasuki usia remaja aku sudah mulai curiga tentang perbedaan ku dan ka Mita. Banyak yang bilang jika aku bukan anak ibu dan bapak karena wajahku tidak ada mirip-mirip nya dengan mereka.
Dan ketika paman Doni bilang jika aku keponakannya hatiku menjadi tidak menentu. Aku melihat keseriusan dari tatapan mata dia, aku tahu jika paman Doni bukanlah adik kandung Mama Sofi, dan kemungkinan juga aku bukanlah anak kandung ibu dan bapak.
Sebuah hamparan pasir putih dan deru ombak, serta matahari yang mulai terbenam, menemani ku di sore hari. Aku terduduk memeluk kedua lulutku sambil menikmati ciptaan Tuhan yang nyata.
Aku mendongakkan kepalaku ke atas lalu memejamkan mataku menikmati angin yang menerpa tubuhku.
"Tuhan, kenapa hidupku begitu banyak kejutan? sebenarnya apa yang kau rencanakan? dan siapa aku ini?" gumam Fira. "Membingungkan," ucapnya.
****
Di kediaman Mahendra.
"Aku tidak mau tahu, pokonya aku ingin Reyhan menjadi milikku," ucap Bela.
"Kamu tenang saja, papa dan mama akan membantumu untuk bisa memilikinya," balas Hendra.
Arabela, gadis yang sangat terobsesi pada pria tampan serta kaya. Tak peduli pria itu beristri atau tidak, tua atau muda, yang penting keinginannya bisa tercapai dan kebutuhannya bisa terpenuhi.
Saat ini Bela sedang berusaha merayu papahnya untuk bisa membantu dia memiliki Reyhan.
"Gimana kalau kita bicarakan sama Bu Saras, Pah! Dia 'kan ingin cucunya segera menikah, kita minta untuk di jodohkan saja sama anak kita, pasti dia akan setuju, apalagi kita cukup kenal dengan keluarganya," usul Elsa.
"Mama benar, nanti kita bicarakan sama mereka," balas Hendra.
"Tapi, aku ingin janda pelakor itu hilang dari kehidupanku, Pah! dia penghalang ku," kata Bela.
"Janda pelakor? siapa?" tanya Hendra.
"Kita juga gak tahu dia siapa, tapi yang pasti dia perempuan licik yang suka merayu pria kaya, Kata Bu Ratih sih gitu, Pah," ujar Elsa.
"Papah tolongin aku ya, untuk menyingkirkan dia dan anaknya," kata Bela memelas.
"Apapun akan papah lakukan demi kamu," kata Hendra.
Bela tersenyum bahagia, karena rencananya perlahan akan tercapai. "𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶!" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘉𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘭𝘪𝘤𝘪𝘬.
Bersambung....
Reyhan Al-Hussein, babang ganteng yang mungkin sebentar lagi akan bucin kepada Syafira.
Aku mengambil setiap visualnya dari pexels.com
__ADS_1
Jika mengambil artis takutnya kena hak cipta😅 maklum aku tidak terlalu faham mengambil foto orang. Dari pada kena masalah lebih baik cari aman saja.🤣