
”Kaki kamu kurang kuat, kasih tenaga sedikit lagi.” Titah Wafi sambil menekan lutut seorang pemuda dan pemuda itu penurut.
Wafi terus melangkah, memperhatikan semuanya yang sedang berlatih, bayangan masa lalunya kini muncul, dia sangat ingat, bagaimana dia berlatih, berjuang dan bertanding, tidak ada pujian untuknya saat ini, semuanya hanya cacian yang dia dengar.
"Sialan!" Maki seorang pria kepada rekannya, karena hidungnya sengaja di tinju sampai berdarah, Wafi menoleh dan melangkah cepat untuk segera melerai keduanya.
Dua pelatih lain sedang tidak ada, Wafi sepertinya akan kewalahan menghadapi keduanya.
”Razi cukup, Razi!" Bentak Wafi keras, suaranya menggema. Tangan kanannya menahan Ali dan tangan kirinya menahan Razi.
”Dia yang mulai," ucap Ali kesal.
Wafi merangkul bahu Ali dan Razi di tahan yang lain, Wafi menarik Ali pergi, Ali memang emosian. Dia takut Ali malah tidak bisa bertanding nanti.
”Sabar sabar, amarah itu musuh terbesar diri kita sendiri Ali. Jangan sampai kamu menyesal nanti," tutur Wafi dan Ali mendengus sambil mengusap hidungnya." Masalahnya apa?"
”Aku punya pacar."
”Oh jadi perempuan yang sama, dicintai dua lelaki?"
"Ya," singkat Ali lalu Wafi mengajaknya duduk.
Ali meminum air nya kasar dan Wafi juga meminum air nya, keduanya diam, merasakan hembusan angin yang menerpa kulit wajah mereka. Ali terdiam melihat dua gadis masuk, melewati gerbang sambil celingak-celinguk mencari seseorang.
”Ngapain mereka?" Seru Wafi kesal saat dua gadis itu ternyata Zoya dan Sabila.
”Cantik nya." Puji Ali dan Wafi menoleh, Wafi bangkit dan dua gadis itu berlarian ke arahnya." Buset dah, pelatih pacarnya dua." Ali tidak habis pikir dan memperhatikan ketiganya.
”Assalamu'alaikum," ucap Sabila.
”Wa'alaikumus Salaam, ngapain kalian berdua kemari?" Ketus Wafi.
”Kami sengaja datang buat ngelihat kamu hehe." Zoya cengengesan. Dan Wafi tersenyum.
__ADS_1
"Dari kampung kesini itu jauh, dapat izin dari siapa kalian kesini?"
”Gak dari siapa-siapa." Jawab Zoya.
”Siapa yang tahu kalian berdua kesini?" Wafi mulai kesal.
”Gak ada yang tahu Wafi, kalau mereka tahu. Mana bisa kami diizinin." Tegas Zoya dan Wafi terbelalak.
”Gila ya, kalau kalian kenapa-kenapa di jalan gimana? Asstaghfirullah, nanti aku yang disalahin. Sekarang pulang!” tegas Wafi mengusir dan Zoya menggeleng kepala, merengek-rengek.
”Jangan sampai ada yang tahu, aku bawa makanan kesukaan kamu Wafi, telur puyuh."
"Aku alergi."
”Tukang bohong dasar. Aku sama Sabila gak bakal kena masalah kalau kamu bisa tutup mulut, oke?"
”Enggak, sekarang pulang. Mumpung masih siang, pulang gak!" Wafi mengarahkan tangannya dan Zoya tetap tidak mau, sementara Sabila hanya diam memperhatikan Wafi, Wafi terlihat baik-baik saja, dia senang melihatnya. Sabila seorang janda, suaminya meninggal karena sakit keras. Dia tidak punya anak, dan menjadi pengajar di pesantren.
Meneruskan amanah suaminya.
”Mending kita makan, ayo." Ajak Zoya dan Wafi menggeleng kepala.
"Pulang Zoya pulang, pulang gak kamu!" Usir Wafi lagi dan dia menyesal memberikan alamat sanggar kepada Zoya, dia tidak menyangka gadis itu begitu berani datang, dan Sabila juga sama saja.
”Hai cewek." Sapa Ali genit sambil merangkul bahu Wafi, Wafi langsung menepisnya cepat. Zoya mendelik dan Ali memperhatikannya.” Zoya, nama yang bagus. Cocok nya kalau sandingan sama Ali."
”Idih, Ali. Mau saya hukum kamu." Ancam Wafi dan Ali tersentak, bisa-bisanya dia gombal tidak melihat situasi.
Zoya tiba-tiba tersenyum, Ali sepertinya bisa dimanfaatkan." Berarti nama kamu Ali ya? Kamu mau makan sama kami? Tolong bujuk pelatih kamu ini." Pinta Zoya dan Wafi sangat ingin memukul gadis itu.
"Diam Zoya!" Tegas Wafi yang tidak suka melihat gadis pecicilan seperti itu.
”Ayo pelatih." Ajak Ali Merengek-rengek.
__ADS_1
”Ayo Wafi, ayo lah. Mau ya?" Ajak Zoya dan Wafi diam mendengarkan suara Ali dan Zoya yang begitu menyiksa telinga.
"Wafi?"
”Oke! Oke di belakang. Dan jangan ngomong lagi, aku pusing." Wafi melangkah pergi dan Zoya tersenyum lalu menyusulnya, di susul Ali dan terakhir Sabila.
Di belakang bangunan sanggar, udara begitu sejuk, pepohonan dan hamparan petakan sawah menjadi pemandangan yang begitu indah, itu adalah tempat favorit Wafi di sanggar. Untuk menenangkan diri dan memperbaikinya mood nya di kala rusak. Keempatnya makan bersama, Wafi terlihat tidak terlalu bersemangat. Setelah makan, Wafi berjalan-jalan bersama Sabilla.
Sabilla menceritakan almarhum suaminya, Wafi diam dan nampak sedih.
”Jujur, aku bahagia saat mendengar kabar kamu menikah, tapi dua tahun kemudian kabar duka aku dengar. Umur memang gak ada yang tahu, berakhir dan habisnya kapan. Bukan itu yang seharusnya dikhawatirkan, sebanyak apa amal yang akan kita bawa, lebih banyak amal baik atau buruk. Kematian datang tanpa izin, merenggut orang terkasih. Dan aku tahu rasanya seperti apa," lirih Wafi berat, dia memalingkan wajahnya saat Sabilla menoleh ke arahnya.
"Aku syok, aku trauma, sebaik apapun sikap aku, salah sedikit saja, orang mencaci aku. Ini gak mudah, status janda lebih banyaknya dipandang buruk." Sabilla mengusap wajahnya kasar dan Wafi merasa prihatin mendengar keluh kesah Sabilla.
”Jadi sudah lama, apa sudah ada pria yang membuat kamu tertarik lagi Sabilla?"
”Jujur, sebelum aku dijodohkan, aku lebih dulu menyukai seseorang dan sampai sekarang rasa suka ini masih sama." Sabilla tersenyum dan Wafi mengernyit heran.
”Siapa itu? Apa perlu bantuan untuk mengatakan rasa suka kamu sama pria itu Sabilla?”
”Pria itu kamu Wafi." Tegas Sabilla.
Deg! Wafi berhenti melangkah mendadak, mendengar dirinya lah yang Sabilla ceritakan.
Wafi mengusap tengkuknya, dan Sabilla memperhatikannya.
”Nikahi aku Wafi, aku sudah lama memendam rasa sama kamu, aku mau kita menikah, kita sepupu, dan itu gak ada masalah. Aku sedikit memaksa, dan aku harap kamu gak nolak." Pinta Sabilla dan Wafi membuang nafas panjang ke udara. Tatapannya begitu tajam, kedua alisnya terangkat dan raut wajah kekecewaan muncul di wajahnya.
”Jawab, apa kamu pernah seperti ini ke pria lain?"
Sabilla tersenyum." Mana mungkin, aku begini cuma sama kamu doang.”
”Syukurlah, ini memalukan dan merendahkan harga diri seorang perempuan." Tegas Wafi dan Sabilla terdiam, kedua matanya berkaca-kaca, mendengar ucapan Wafi yang sebuah hardikan untuknya." Aku gak bisa, memaksa pun percuma. Aku sibuk memperbaiki nama aku Sabilla, gak ada waktu buat ngomongin masalah hati. Dan aku gak suka sama kamu, aku tegaskan sekali lagi supaya gak ada salah paham, atau kamu yang malah berharap jawaban lain. Aku gak suka, tolong ajak Zoya, dan kalian berdua pergi dari sini. Secepatnya!" usir Wafi dan menatap tajam Sabilla sekilas.
__ADS_1
Air mata Sabilla jatuh, dan dia menatap kepergian Wafi, tidak ada yang salah dengan perasaan Sabilla, tapi cara dia mengungkapkan, bahkan terang-terangan memaksa Wafi untuk menikahinya, jika itu pria lain, mungkin jawabannya akan sama seperti Wafi. Wafi tidak memiliki waktu untuk mengurusi prihal cinta, dia mau membahagiakan keluarganya lebih dulu, dan mengubur dalam-dalam rasa ingin mencari pendamping hidup, karena memang sejak dulu impiannya adalah menikah muda, sementara nasib nya tidak mendukung.