
Setelah mendengar penjelasan Shafiyah, sambil sesekali menenangkannya, Wafi nampak gusar. Bisa-bisanya Ima mengatakan hal yang sama sekali belum pasti, sampai Habibah nya menangis seperti itu. Panggilan tidak bisa berlangsung lama, karena kembalinya orang tua Shafiyah membuat Shafiyah langsung mematikan telepon. Wafi paham, Shafiyah masih labil, mudah terusik, tersinggung dan baperan. Dia tidak bisa memaksa Shafiyah untuk bersikap dan memiliki cara berpikir seperti dirinya yang sudah dewasa, dia mau melihat Shafiyah tumbuh sesuai fitrahnya. Ada masanya dia paham, dan memperbaiki sikap yang kurang baik. Bukannya cinta memang harus seperti itu, apalagi dalam pernikahan. Tidak selamanya pasangan harus sempurna, karena semua manusia pasti memiliki kekurangan. Berpasangan adalah dengan saling menyempurnakan kekurangan dan kelebihan.
Sudah terlanjur nyaman, cinta sudah tumbuh dengan sempurna. Pernikahan yang diidam-idamkan oleh Wafi pun semakin menyiksanya. Dia sangat takut, pria yang dijodohkan dengan Shafiyah kembali menyentuh Shafiyah. Dia juga bisa, tapi dia tidak mau. Dia hanya mau menyentuh Shafiyah lebih dari berpegangan tangan, dan itu hanya bisa dia lakukan setelah menikah.
”Kamu mau kemana?" tanya Raihanah, saat melihat putranya menuruni tangga terburu-buru.
”Umi jangan ngomong aneh-aneh lagi sama Ima, apalagi kalau sampai ke keluarga Ima. Aku sudah bilang aku gak mau.” Pinta Wafi serak dan Raihanah mendelik, tidak suka mendengar ucapannya.
”Pikirkan lagi nak,” bujuk Raihanah.
”Harus aku jelaskan bagaimana lagi umi, aku gak mau,” suara Wafi lemah, serak dan sangat pusing dengan situasi saat ini.. Raihanah tidak menjawab, dia diam membisu. Segila itu anaknya mencintai Shafiyah, sampai menentang keputusannya. Sesuatu hal yang tidak pernah dilakukan Muzammil sebelumnya.
”Assalamu'alaikum." Afsheen masuk sambil menenteng helm, dia baru pulang bekerja, lalu memperhatikan ibu dan kakaknya.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Raihanah dan Wafi. Wafi menunduk, melangkah untuk segera pergi meninggalkan rumah, dia melewati Afsheen begitu saja. Afsheen nampak kacau dan galau karena Wafi terus mendiamkannya, ucapannya benar-benar membuat kakaknya marah, lalu dia harus apa sekarang. Sementara Pernikahan dia dengan Salam sebentar lagi, Salam menolak untuk menunda pernikahan, karena dia dan Afsheen lebih dulu mengatur pernikahan ketimbang Bayyin dan Musa. Sementara Bayyin dan Musa tidak bisa menikah sebelum Afsheen dan Salam, karena ada banyak yang hal yang harus disiapkan. Dan semuanya tidak bisa diatur dalam waktu yang singkat.
”Aa kamu susah banget kalau diatur, umi mau yang terbaik, tapi dia memilih yang sulit," gerutu Raihanah dan Afsheen hanya diam.
Wafi melangkah mencari Ima, ada yang bilang gadis itu pergi ke tempat memanah. Raut wajah Wafi nampak kesal, masam dan membuat mereka yang melihatnya ketakutan. Entah apa yang terjadi dengan Gus Mu, sampai terlihat semarah itu, semua orang sibuk bertanya-tanya.
”Ima,” bisik santriwati, dan Ima menoleh. Gadis itu langsung tersenyum melihat kedatangan Gus Mu, tapi dia menciut melihat tatapan pria itu yang begitu menyeramkan.
”Assalamu'alaikum Gus." Para santriwati menyapa.
”Wa'alaikumus Salaam, saya mau bicara sama Ima." Ungkap Wafi. Ima terus menunduk malu-malu, pipi tirusnya nampak memerah merona. Santriwati yang lain menjauh, dan kini Wafi dan Ima berhadapan cukup jauh.” Kamu ngomong apa sama Shafiyah? Sampai dia menangis, apa kamu pura-pura gak tahu bahwa saya sangat mencintai Shafiyah. Kamu bahkan perantara berkomunikasi antara kami berdua.” Wafi berucap begitu tegas, Ima tegang, menggigil ketakutan. Wafi sama sekali tidak terlihat dalam keadaan baik-baik saja, dia sedang emosi dan sangat ingin memaki Ima saat ini, tapi dia tahan. Dia tidak bisa seperti itu kepada perempuan.
”Saya cuma bilang apa adanya Gus," ucap Ima serak.” Keluarga kita juga sama-sama setuju.”
”Saya gak perduli!” Wafi setengah berteriak, gadis itu benar-benar tidak memikirkan perasaan Habibah nya.
”Sekuat apapun Gus menolak, kita sudah dipilih untuk bersama oleh Bu nyai."
”Takdir duniawi, bukan umi saya yang mengatur. Manusia hanya berencana, tapi semuanya hanya Allah yang menentukan, akan terjadi atau enggak.."
”Tapi Gus saya.....”
”Jangan menyela ucapan saya, saya belum selesai," ucapnya begitu geram dengan sikap Ima.
”Maaf," ucap Ima serak.
__ADS_1
”Saya ini lelaki, hakikat seorang lelaki membeli bukan di beli, menikahi bukan dinikahi. Jangan mencela ucapan saya, sopan sedikit. Sekali lagi kamu ngomong macam-macam dan mengakui saya akan menikah sama kamu, awas saja kamu.” Wafi melotot, dengan suara keras dan Ima meneteskan air matanya.” Saya gak suka sama kamu, saya gak mau menikah sama kamu."
”Tapi saya sudah bilang sama keluarga dan semua orang, di pesantren, semua orang tahu. Saya malu kalau sampai gak jadi.” Ima kebingungan, dia akan malu, semua keluarganya sudah bersuka cita atas pernikahannya dan Gus Mu, padahal ta'aruf dan Khitbah juga belum. Dalam Islam, bukannya semua itu penting untuk pernikahan. Untuk sama-sama saling mengenal, tahu data diri lengkap masing-masing agar tidak menjadi perselisihan dikemudian hari. Ima terlanjur bahagia, sampai hal tersebut dia lupakan begitu saja.
”Itu bukan urusan saya.” Wafi berpaling ke arah kiri, saat Ima mendongakkan kepalanya, menatapnya.
”Saya mohon Gus hiks..." Tangisnya pecah dan Wafi tidak terusik sedikitpun, tidak ada yang harus dia kasihani, dari seorang gadis yang tidak menghargai perasaan Habibah nya.
”Saya gak akan bicara lagi, ini kali pertama dan terakhir kita berbicara cukup panjang. Bilang sama umi saya, kamu menolak perjodohan ini, kalau enggak, kamu dan keluarga kamu akan semakin malu, mengakui seorang pria yang bahkan jelas-jelas menolak kamu sebagai calon istrinya."
”Assalamualaikum.” Wafi melangkah pergi, setelah berbicara panjang lebar untuk yang terakhir, Ima menangis dan terus menatap kepergian pria itu. Pria impian yang menolak untuk dia miliki.
”Waalaikumsalam." Balas Ima, lirih dan serak. Air matanya tak kuasa dia tahan, rasanya ditolak oleh seorang pria begitu menyakitkan.
********
Keesokan harinya, Burhan mengatakan semuanya, menceritakan apa yang terjadi saat Wafi datang untuk mengajukan CV ta'aruf. Dengan berderai air mata, Shafiyah mendengarkan. Membayangkannya saja dia tidak sanggup, apalagi jika dia melihat langsung kejadian tersebut.
”Gus Mu sama sekali gak cerita ini sama aku, secara detailnya. Kenapa ibu tega seperti itu sama Gus Mu, apa salah Gus Mu. Sampai kapan ini terjadi,” tutur Shafiyah serak. Burhan meraih tangan cucunya itu, mengusap air mata cucunya lembut.” Kakek, apa sebaiknya aku menyerah? Membiarkan Gus Mu dengan gadis lain?” tanya Shafiyah, meminta pendapat.
”Enggak neng, justru jangan pernah kamu melepaskan pria seperti itu. Itu yang terbaik, dan hanya pria yang seperti Wafi yang cocok buat cucu kakek.” Burhan berusaha meyakinkan dan menghibur Shafiyah, Shafiyah tersenyum. Kakak iparnya Meri dan kakeknya memberikan restu, hal tersebut sangat berharga untuk hubungannya dengan Wafi.
Malam harinya, Ima memberanikan diri untuk menelepon ibunya, memberitahu jika Gus mu menolak untuk melanjutkan persiapan pernikahan. Ima bingung harus memulainya dari mana, keluarganya pasti sangat sedih, apalagi dirinya sedang merasa hancur dan patah hati, di tolak dan kalah saing dengan Shafiyah. Padahal tidak ada persaingan yang dipikirkan Shafiyah, Ima hadir dan merebut kesempatan karena tawaran Bu Nyai. Tapi Shafiyah merasa beruntung, dengan begitu, dia bisa melihat karakter asli seseorang yang sudah dia anggap lebih dari seorang sahabat. Apapun yang Shafiyah punya, pasti Ima memakainya, makanan apapun yang Shafiyah bawa, dia selalu kenyang dan Shafiyah bukan sosok perhitungan dengan apa yang dia miliki, lalu dinikmati orang lain.
”Bu," ucap Ima serak.
”Kenapa nelepon ibu malam-malam begini neng?" bertanya begitu antusias, berharap ada kabar baik dari putrinya.
”Bu, hentikan semuanya ya Bu. Aku sama Gus mu gak jadi nikah.” Tutur Ima hati-hati, ibunya langsung terduduk lesu, ada apa sebenarnya? Kenapa di putus di tengah jalan seperti ini. Padahal kerabat jauh pun sudah diberitahu. Itulah akibatnya terburu-buru menyebar kabar berita yang belum pasti.
”Ada apa neng? Apa kamu melakukan kesalahan sampai membuat gus mu marah sama kamu?” suara ibunya Ima serak, kecewa dan merasa malu.
Ima terisak-isak pelan mendengar nya, tak sanggup dia menjawab pertanyaan itu. Seorang gadis malah tersenyum lebar di atas penderitaan Ima, betapa senangnya gadis itu saat mendengar Gus mu membatalkan pernikahan. Dia adalah Diva, saingannya Shafiyah sudah pergi, dan malah Ima dengan sombongnya mengatakan akan menikah dengan Gus mu.
”Enggak Bu, ini salah paham. Ada kesalahan, nanti Ima pulang dan jelasin semuanya. Kalau ada yang nanya, bilang aja gak jadi,” ucap Ima sambil menyeka air matanya. Ima terus menangis saat mendengar ibunya juga menangis. Keduanya hanya saling melempar suara tangisan, tidak berbicara lagi dan Diva menjadi penonton. Tadi dia berdiri, sekarang sudah berjongkok sambil tersenyum psikopat.
*****
Hari ini, Shafiyah dan ibunya jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Bersamaan dengan Wafi yang mengantar Fara dan Faiza, Wafi yang menyetir dan dia juga sedang tidak ada kesibukan, dari pada dirumah melamun tidak jelas, lebih baik jalan-jalan.
__ADS_1
”Wafi kita beli baju buat kamu ya,” ucap Fara dan Wafi mengangkat bahunya tidak mau.
”Aku udah punya banyak, dibeliin om Noah.” Wafi berucap sambil memperhatikan sekitarnya.
”Itu kan dari om kamu, dari bibi belum. Keponakan bibi, yang ganteng, harus selalu rapih.” Fara tersenyum seraya mengusap-usap punggung Wafi, Wafi tersenyum kecut dan diam saat dirangkul kedua bibinya.
Ketiganya melangkah bersama, menjadi sorotan, apalagi si ganteng Wafi yang sarungan, Koko dan berpeci. Wafi terus menolak saat ditawari ini dan itu, dia hanya ingin minum.
”Mau rasa apa Mu?" tanya Faiza.
”Terserah," ucap Wafi.
"Ya udah alpukat aja samain," ucap Fara.
”Aku mau ke toilet bi," Wafi pamit. Fara mengarahkan jarinya ke arah toilet dan Wafi mengangguk, pria itu melenggang pergi untuk ke toilet. Saat sedang melangkah, ia terdiam sejenak melihat Shafiyah.
”Habibah," ucap Wafi berbisik.
Shafiyah yang melihatnya juga terdiam, dan Shafiyah panik.” Aduh, kenapa Gus ada di sini. Jangan sampai ibu lihat.” Gumamnya seraya menunduk. Wafi tidak bisa menahan senyumannya, dia kembali melangkah begitu juga dengan Shafiyah.
”Bu, kita ke sana dulu yuk." Ajak Shafiyah.
”Ngapain, ibu lapar. Ayo ah,” ucap Sara menolak. Shafiyah gugup dan Wafi semakin dekat padanya, sementara Sara belum juga sadar. Shafiyah tersenyum dan merasa lega saat Wafi melewatinya, tapi....
Deg! kerudungnya tertarik dan Shafiyah menekan pucuk kepalanya.
”Heh, kerudung anak saya!" jerit Sara dan menepuk punggung Wafi. Wafi tegang dan takut ketahuan, dia berhenti melangkah lalu menunduk, manik berlogo merk kerudung yang Shafiyah pakai yang terbuat dari besi tersangkut di resleting tas selempang nya.
”Maaf," ucap Wafi dan Shafiyah diam. Wafi menarik tas nya, membuka resleting lebar-lebar dan mengeluarkan ujung kerudung syar'i Shafiyah yang terjepit. Shafiyah diam memperhatikan wajah tampan itu, Sara yang melihat itu adalah Wafi langsung emosi.
”Sengaja ya kamu?" teriak Sara.
”Bu...” Shafiyah merangkul lengan ibunya itu dan Wafi terus menunduk.” Kita pergi, ayo."
”Kamu ngikutin kita kan?" ketus Sara dan Wafi tetap diam. Dia tidak perduli dengan makian Sara, yang jelas dia bahagia bisa melihat Shafiyah.
”Bu udah,” ucap Shafiyah, dia tarik paksa ibunya itu dan Wafi masih diam mematung di tempatnya berdiri.
”Kamu kenapa kurus neng, aku khawatir jadinya." Ucap Wafi yang melihat jelas perubahan tubuh Shafiyah, begitu kurus, dia takut Shafiyah sakit atau yang lainnya.” Sehat-sehat neng, saya belum bisa jagain kamu, ngingetin kamu makan dan yang lainnya. In Sha Allah nanti." Gumam Wafi seraya berbalik dan melangkah pergi.
__ADS_1
Shafiyah terlihat menoleh, memperhatikan punggung pria itu sekilas. Fara dan Faiza diam saat melihat Shafiyah, malas menyapa karena ada Sara bersama gadis itu. Melihat kedua bibi Wafi begitu jutek, Shafiyah tidak berani menyapa, apa kedua bibinya Wafi tidak suka padanya? seperti Bu nyai yang tidak suka sampai meminta Ima menjadi pendamping putranya? pikiran Shafiyah kemana-mana, tidak tenang dan terus berprasangka.