
Shafiyah duduk, dan meletakkan segelas teh hangat di hadapan Burhan.
”Makasih neng,” ucap Burhan seraya meraih gelas lalu meniupnya, Shafiyah mengangguk dan memperhatikan bayi yang sedang terlelap itu.
”Masya Allah, makin cantik aja. Khalis, namanya siapa?” tutur Shafiyah memuji dan penuh syukur, atas bayi sepupunya itu.
”Namanya Nurul Salsa Khazanah." Khalisah menjawab dan Shafiyah mengangguk sambil menggerakkan tangannya, dia usap kepala bayi itu lembut, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku gamisnya. Shafiyah menyelipkan amplop berisi uang sedikit untuk bayi Khalisah di balik selimut bulu itu.
”Aku gak punya apa-apa Khalis."
”Makasih Sha." Singkat Khalisah.
”Cantik nya, ngomong-ngomong bayi kamu di USG, perempuan atau laki-laki?” ucap Burhan dan Shafiyah menoleh padanya.
”Gak kelihatan, mau laki-laki atau perempuan yang penting sehat " Jawab Shafiyah sambil tersenyum.
”Kenapa gak kelihatan? kata dokternya gimana?” tanya Burhan lagi dan Khalisah memperhatikan sorot mata Shafiyah.
”Ya gak kelihatan kek, belum."
”Kamu di USG atau enggak? USG yang murah ya, yang buram?” tutur Khalisah dan Shafiyah menoleh.
”Bayi aku kan dua, pas di USG bagian sensitifnya susah dilihat, kenapa kamu sinis banget sih?" tutur Shafiyah tidak suka dengan ucapan Khalisah, Burhan langsung meraih tangan Shafiyah dan matanya mengarah kepada Khalisah begitu tajam.
”Jaga ucapan kamu, lagi banyak orang juga. Punya malu sedikit saja neng." Tegur Burhan dan Khalisah mendelik sebal.
”Emang kakek lebih sayang sama Shafiyah, dari dulu begitu,” ucap Khalisah serak dan Shafiyah langsung menunduk.
”Merusak suasana aja kamu!" tegas Burhan dan Khalisah bungkam.
”Kek, udah." Bisik Shafiyah dan Burhan sangat emosi saat ini.
Ketiganya akhirnya diam, bayi yang sedang terlelap tiba-tiba terbangun dan menangis. Khalisah sangat ingin ke kamar mandi, suaminya sedang ke pasar. Wafi tiba-tiba masuk, untuk mengajak Shafiyah lekas pergi, istrinya harus kuliah.
”Biar aku yang gendong,” kata Shafiyah dan Khalisah pergi tanpa rasa malu. Burhan membuang nafas kasar melihat tingkah laku seenaknya Khalisah, Burhan hanya dekat dengan Shafiyah, dia tidak pernah nyaman dengan Khalisah tapi harus bersikap adil.
”Aku mau gendong neng." Pinta Wafi dan Shafiyah tersenyum.
”Ya udah," kata gadis itu dan akhirnya Wafi duduk, menggerakkan tangannya, dan perlahan mengais bayi perempuan itu. Shafiyah tersenyum dan memperhatikan bayi itu dalam gendongan suaminya.” Aa udah pantes banget gendong bayi," ujar gadis itu dan Wafi tersenyum.
”Kurang lebih dua bulanan lagi anak kita lahir,” ujar Wafi yang hanya sibuk menatap bayi yang kini mulai terlelap kembali dalam gendongannya.
”Salah ngitung gak ya? takutnya kayak Khalisah, salah ngitung kehamilan a." Shafiyah diam dan mengingat-ingat lagi masa subur nya saat itu.
”Ya itu mah bidan nya salah. In Sha Allah kamu mah enggak." Timpal Wafi.
”Iya sih hehe." Shafiyah terkekeh-kekeh dan kembali memperhatikan bayi itu. Saat Khalisah datang, Wafi meletakkan bayi itu kembali di pembaringannya, lalu dia mundur menjauh.
”Khalis, aku gak bisa lama-lama, aku mau kuliah." Shafiyah pamit.
”Iya, habis kuliah langsung kesini aja," tutur Khalisah, menimpali Shafiyah tapi matanya sibuk memperhatikan Wafi yang begitu dekat. Shafiyah terdiam dan meraih tangan suaminya itu. Raut wajah Khalisah berubah, dan tatapannya beralih kepada Shafiyah yang menatapnya sinis.
”Ayo bi." Ajak Shafiyah dan Wafi mengangguk.
”Wafi, bisa anterin kakek sekalian ke rumah Fajar?" tanya Burhan dan Shafiyah mengerutkan keningnya.
”Kek, bukannya kakek tadi bilang mau disini dulu?" bisik Shafiyah dan Burhan menggeleng kepala. Mana mau dia tetap di rumah tersebut, jika pemilik rumahnya tidak bisa menjamu dengan baik, dia malah malu dan tidak betah.
”Enggak." Hanya itu yang dikatakan Burhan, dan akhirnya Shafiyah tidak banyak bertanya lagi.
”Aku pamit ke yang lain dulu," ucap Shafiyah dan melepaskan tangan suaminya.
"Iya, ayo sama-sama." Ajak Wafi dan meraih tangan Shafiyah, lalu menariknya, Shafiyah tersenyum simpul dan mengekor di belakang suaminya.
Saat masuk ke dapur, keduanya menjadi pusat perhatian.
”Bi, Fiyah mau kuliah dulu. Aa Wafi juga mau ke toko sebentar katanya,” tutur Shafiyah dan Faiza mendekat.
”Sarapan dulu.” Ajak Faiza dan menarik lengan Shafiyah.
”Emm.." Shafiyah bingung.
”Bi, hari Senin." Wafi memberikan kode dan Faiza baru paham, keduanya sedang tidak bisa sarapan, karena berpuasa.
”Ya ampun, pokoknya nanti magrib makan di sini. Jangan sampai enggak!" tegas Faiza dan keduanya hanya saling menatap.
”Iya, in sha Allah." Wafi menjawab sambil tersenyum tipis.
”Ya udah hati-hati ya,” imbuh Faiza sambil mengusap punggung Shafiyah lembut.
”Iya, Assalamu'alaikum,” ucap Wafi.
”Wa'alaikumus Salaam.” Semuanya menjawab.
Wafi, Shafiyah dan Burhan akhirnya melangkah pergi, meninggalkan rumah Khalisah. Di perjalanan, Burhan terus mengomel. Membicarakan tingkah buruk Khalisah, Wafi diam begitu juga dengan istrinya, keduanya hanya menjadi pendengar.
Sesampainya di rumah, ketiganya bersiap, dan Raihanah juga kembali ke rumah Faiza diantar santriwati menggunakan motor. Wafi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Shafiyah duduk di tengah dan Burhan di depan bersama suaminya. Perempuan itu sibuk membaca Alquran yang dia bawa, menunggu sampai dia sampai di tempat tujuan. Masya Allah, Wafi sangat bahagia, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Burhan juga diam mendengarkan. Dan Wafi menyimak bacaan istrinya.
...--------...
...✍️...
Siang harinya, Wafi datang ke rumah Ismail bin Mail. Membawa kue seadanya dan minuman untuk sahabatnya itu, dia sudah lama tidak melihat Ismail. Pasalnya, setelah bayinya lahir, Ismail sangat sibuk, hobinya nongkrong saja dia tinggalkan. Dia tidak mau membuat Kamila lelah sendiri, padahal Kamila sering memintanya pergi bertemu teman-temannya jika mau, asal ingat waktu.
Ismail sedang menggendong anaknya, mengayunkannya ke kanan ke kiri, bayi perempuan bernama Celica itu sedang dia gendong dengan kain. Wafi tersenyum saat melihatnya, dan Mail begitu antusias melihat kedatangan sahabatnya.
”Assalamu'alaikum!" seru Wafi.
__ADS_1
”Wa'alaikumus Salaam!" jawab Mail. Bayinya yang baru terlelap kini terbangun lagi, karena mendengar suaranya yang keras." Ya ampun dek, bobo dek, dedek keganggu sama suara papi ya, maaf ya sayang," tuturnya lembut dan berusaha menidurkan bayinya kembali.
Saat sampai di hadapan Ismail, Wafi memperhatikan Celica yang menangis tanpa air mata, matanya terpejam kuat dan terus menangis histeris seperti kesakitan.
”Anak kamu sakit Mail?" ujar Wafi bertanya, dia letakkan punggung tangannya di kening bayi itu.
"Enggak! untung lu datang Mu, bantuin gue deh, dari semalam Celica nangis terus.” Ismail menjawab dan Wafi meletakkan kantong plastik yang dia jinjing.
”Sakit?”
"Enggak, dari semalam begini sekarang Kamila lagi pergi beli obat sama keponakan gue."
"Duduk deh sini.” Ajak Wafi, dia duduk lebih dulu dan Ismail duduk di sebelahnya. Wafi mengambil alih Celica dari gendongan Ismail, dia mengusap sekujur tubuh bayi perempuan itu dan Mail memperhatikan bibir Wafi yang terus melantunkan doa-doa untuk bayinya.
Tangisan Celica semakin kencang, Wafi mengelus telapak kaki bayi itu bergantian, dan setelah itu meletakkan telapak tangannya di dada kiri, tepat di hatinya. Ismail sudah berkaca-kaca, berbagai macam cara tak bisa membuat bayinya tenang dari semalam.
Perlahan-lahan, tangisannya mulai mereda, air matanya mulai keluar, kedua kaki yang awalnya dingin kini mulai menghangat. Ismail merasa lega, lalu mengecup kening bayinya lembut.
”Semalam darimana?" tanya Wafi dan Ismail menatapnya.
”Gue semalam pulang jam 1, cuma nongkrong di rumah tetangga yang lagi hajatan, Celica langsung bangun gak lama, sampai pagi, gak ada tenang nya,” tutur Mail dan Wafi menghela nafas panjang.
”Mail, bayi itu wangi, gue aja kalau pulang dari mana-mana gak pernah deketin Shafiyah langsung, kadang ke masjid, wudhu atau sholat dulu. Yang gaib itu, ada yang iseng, ada yang kasar. Bismillah dulu kalau mau masuk ke rumah. Jangan langsung deketin bayi." Wafi berterus terang dan sekujur tubuh Ismail langsung berkeringat, pria itu bergidik ketakutan dan menatap putrinya lekat.
”Asstaghfirullah Mu, orang tua Kamila juga ngomong kayak gitu, tapi gue lupa. Tapi anak gue gak apa-apa kan Mu?” suara Ismail serak dan Wafi mengangguk mengiyakan.
”Enggak apa-apa, biarin tidur, jangan diganggu." Wafi berucap seraya menyelimuti tubuh Celica dengan kain sorbannya.” Gue bawa minuman, sama kue, buat lu sama Kamila. Gue tungguin gak ada datang terus ke toko."
”Gus sibuk Mu, makasih deh, masuk aja Mu. Angin nya kenceng, takut Celica masuk angin.” Ajak Ismail dan Wafi mengangguk lalu bangkit perlahan. Dia mengikuti langkah Mail masuk ke dalam rumah.
Celica terus menggeliat di pangkuan Wafi, sampai akhirnya Wafi memindahkannya ke kasur kecil khusus bayi yang sudah disiapkan Ismail. Ismail tersenyum melihat anaknya tenang, suara motor di luar membuat kedua pria itu menoleh bersamaan.
”Iya,” suara Kamila terdengar, berbicara dengan keponakannya Mail lalu dia masuk ke dalam rumah, dia terkejut melihat Wafi, mungkin mobil yang terparkir di lahan kosong di sana milik pria itu.
”Kapan datang Mu?” tanya Kamila.
"Baru sampai.” Wafi menjawab.
”Wafi bawa kue buat kita, aku masukin ke kulkas. Bikinin minum yang,” tutur Ismail dan Kamila mengangguk.
”Aku lagi gak minum hari ini Mail." Bisik Wafi dan Ismail terdiam sejenak.
"Kopinya gak jadi yang, Wafi lagi puasa!" seru Ismail dan Kamila tersenyum.
”Rajin kamu Gus, kapan suami aku ketularan kamu ya?” Timpal Kamila dan Ismail cemberut." Kenapa Shafiyah gak kamu bawa Mu? aku kan seneng kalau ngobrol sama istri kamu itu."
"Dia kuliah, sebentar lagi pulang, aku jemput dia habis dari sini.”
”Yaah! lu gak lama dong.” Ismail kecewa.
”Iya, ada acara juga, acara akikah anak sepupu, gue harus nyiapin anak Hadroh buat acara nanti malam. Datang ya, kalau bisa,” tuturnya sambil menyenderkan punggung dan Ismail mengerucutkan bibir.
”Alhamdulillah, ya namanya dagang, sekarang rame, kalau suatu saat sepi harus siap-siap. Lagi usaha cari kerja nih gue."
”Kontraktor?" tanya Ismail dan Wafi mengangguk.” Kemarin udah dapat kerja malah berhenti, gimana sih lu!"
"Ya gimana, orang gak srek! gak nyaman, capek pikiran. Capek badan bisa istirahat, kalau capek pikiran mah susah Mail."
”Iya juga sih, gue cuma bisa do'ain Mu."
”Iya, makasih.”
Keduanya diam saat Kamila datang. Mail memilih mengajak Wafi keluar. Sementara Kamila membawa Celica ke kamar, dia merasa lega melihat putrinya sudah anteng kembali.
Di tempat lain, di rumah Fajar. Burhan sedang mengobrol dengan Sara. Sara tidak banyak bicara seperti biasa. Mendengar anak dan menantunya tidak jadi cerai, membuat Burhan senang.
”Apa kamu masih gak bisa menerima Wafi?" tutur Burhan dan Sara mendesah kasar.
”Jangan sebut-sebut pria itu ayah."
”Ya ampun Sara! kamu masih begini? kapan kamu sadar.” Suara Burhan meninggi.
”Susah ayah, aku belum rela anak aku hidup susah!" tegas Sara dan Burhan tidak habis pikir.
”Terus kamu mau ikut apa enggak ke rumah Khalisah?"
”Aku enggak! di rumah sakit aku udah lihat dia. Terserah yang lain kalau mau pergi,” tuturnya sinis dan Burhan menggeleng kepala.
”Shasha bahagia sama Wafi Sara!"
”Tapi apa yang aku lihat beda ayah, Shafiyah anakku! dan dia lebih memilih pria itu, aku kecewa dan khawatir, setiap saat aku merasakan itu ayah. Tapi apa? Shasha gak ngerti, Shafiyah hanya mikirin pria itu."
”Karena Wafi suaminya. Harusnya kamu bangga, memiliki anak seperti Shafiyah, menantu seperti Wafi.” Burhan berbicara dengan suara serak, Sara yang merasa kesal akhirnya bangkit, lalu melenggang pergi meninggalkan ayahnya. Burhan hanya diam, malas menyusul anaknya yang tidak tahu diri itu.
...-----...
...✍️...
Di kampus, Shafiyah sedang menunggu suaminya datang, dia sudah keram, dan akhirnya dia duduk. Shafiyah menoleh saat mobil suaminya datang.
”Lama!" bentaknya pelan, begitu kesal karena dia kepanasan dan kram menunggu suaminya.
Melihat sorot mata sang istri, Wafi sudah tidak tenang. Istrinya sensitif, dia paham dengan keadaan istrinya, tapi dia begitu takut menghadapi kemarahan Shafiyah, dan bingung mengatasinya.
Wafi langsung keluar dan Shafiyah tak kunjung bangkit dari duduknya." Sayang maaf, telat ya? macet tadi."
”Udah jelas telat bi, pake nanya!"
__ADS_1
"Ya ampun yang biasa aja dong, cium nih!"
”Gak tahu malu ngomong begitu."
”Ya biarin! ayo pulang ah.” Ajaknya seraya membantu Shafiyah bangkit, setelah berdiri, Wafi merangkul pinggang istrinya itu lalu mengelus perut istrinya lembut." Abi telat nak. Umi kalian cemberut."
”Abi ih!" tegur Shafiyah dan Wafi terkekeh.
”Masuk," ucap pria itu yang sudah membuka pintu mobil. Shafiyah masuk dan Wafi menutup pintu mobil. Shafiyah merasa lega dan menyenderkan kepalanya.
Bi haus. Aku nungguin kamu 30 menit bi."
"Maaf yang." Wafi berseru lalu mendelik karena Shafiyah terus mengomel, dia mengambil air minum dan memberikannya kepada Shafiyah. Shafiyah menarik niqob nya, Wafi melongo melihat keringat di wajah Shafiyah, dengan segera dia meraih tisu dan mengelapnya perlahan-lahan." Asstaghfirullah yang, sampai keringetan begini."
Shafiyah diam karena sedang minum. Setelah selesai, dia menutup botol minum milik suaminya itu dan meletakkannya.
”Bi aku capek banget, gak langsung ke rumah Khalisah.”
Wafi terdiam, dan menatap Shafiyah lekat. Shafiyah bingung dan balik menatapnya." Asstaghfirullah hal adzim!!" seru Wafi lantang.
"Kenapa?” Shafiyah sampai kaget.
”Ayang kan puasa," lirih Wafi hati-hati, kedua mata Shafiyah membulat, sangat kaget.
”Astaghfirullah!!" jeritnya kencang.
Plakk...
Shafiyah memukul bahu suaminya itu dan Wafi diam.” Abi kenapa gak ingetin aku?” suaranya serak dengan kedua mata yang sudah berair.
”Ya lupa, sama. Enggak apa-apa sayang kalau lupa mah, lanjutin aja.”
"Hiks! tetep aja aneh. Mana minumnya banyak, asstaghfirullah hal adzim, kenapa bisa lupa si, hiks!” Shafiyah menangis dan Wafi langsung memeluknya, menutupi wajah cantik yang memerah itu kembali." Abi, gimana?"
”Ya gak apa-apa, kan lupa. Kalau sengaja baru batal. Udah jangan nangis, Allah maha tahu sayang."
”Aaaa! tetep aja gak enak bi."
”Terus mau niat batalin beneran?"
”Ya enggak hiks!"
”Iya bagus kalau begitu, ya udah diam. Shut! jangan nangis, kita pulang, istirahat, baru nanti malam kamu ke rumahnya Chairil. Aku gak bisa nemenin kamu tidur siang ya sayang, aku mau lihat tim Hadroh sama keperluan yang lainnya nanti, udah cup! cukup nangis nya," tutur Wafi sambil cengengesan, melihat istrinya merasa bersalah karena lupa. Shafiyah akhirnya berhenti, tapi isak tangis kecil masih terdengar, dia terus mengusap air matanya dan Wafi mulai melajukan mobilnya.
Sore hari tiba, keluarga Shafiyah datang ke rumah Chairil kecuali Sara. Herman menanyakan keberadaan anak dan menantunya tapi tidak ada yang tahu.
”Mau ke rumah Fiyah, yah?" tanya Fajar.
”Enggak deh, nanti aja habis acara selesai.” Herman menjawab.
”Kita sholat dulu." Ajak Burhan dan semuanya mengangguk. Ada musholla tidak jauh dari rumah Chairil. Para lelaki Sholat disana. Di dapur rumah Chairil, Raihanah sedang membungkus nasi. Yang lain juga sibuk mempersiapkan kotak makanan untuk dibagikan.
”Teh Hira mau datang besok ya?” tutur Fara dan Raihanah menoleh.
"Yang bener Far?" tanya Raihanah.
”Iya teh, kalau sekarang mah gak bisa."
”Biar aku sisain kue buat keluarga teteh, tapi kalau masakan kayaknya enggak bisa. Gimana ya?” tutur Faiza.
"Ya masak aja lagi besok, aku bantuin, tenang," imbuh Fara dan Faiza tersenyum.
”Iya Za, kenapa harus khawatir sih." Timpal Raihanah dan Faiza tersenyum.
Di rumah Gus Mu. Shafiyah sedang menunggu, dia tidak memasak karena Faiza mengirimkan makanan untuknya dan Wafi, dia hanya memasak nasi hari ini. Shafiyah memperhatikan makanan di atas meja, es campur yang belum tersentuh, dan teh manis hangat yang baru di minum setengah gelas, miliknya dan milik suaminya.
Suara pintu dibuka membuat Shafiyah tersenyum." Abi akhirnya pulang."
"Assalamualaikum,” ucap Wafi seraya melangkah ke dapur.
”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab Shafiyah. Shafiyah bangkit lalu menyalami tangan suaminya, Wafi mengecup rambut istrinya itu lalu keduanya duduk.
”Mau makan sepiring berdua neng." Wafi meminta dan Shafiyah mengangguk mengiyakan.” Habis makan antar kamu ke rumah Chairil ya, pakai baju yang warnanya sama kayak aku,” meminta kembali dan Shafiyah menatap baju Koko suaminya yang berwarna maroon.
”Iya abi, siap."
”Istri Gus Mu Masya Allah banget ya."
”Biasa aja. Jangan colek colek, mau makan juga. Cuci tangan dulu gih."
”Iya sayang." Wafi bangkit dan mencuci tangannya. Setelah selesai, dia duduk, dan membaca basmalah. Makan berdua di piring yang sama dengan istrinya menjadi kegiatan yang sangat dia sukai.
”Eh!" Shafiyah memegang perutnya dengan tangan kiri.
”Kenapa?” ucap Wafi serak, panik.
”Anak-anak kita gak bisa diem, pas aku makan.”
Wafi tersenyum dan meletakkan tangannya di perut istrinya.” Anak-anak abi, jagoan, dibawa puasa sama umi ya hari ini,” Tuturnya lembut dan bayi kembar di dalam sana terus menggeliat, Shafiyah tersenyum dan saling menatap lekat dengan suaminya itu.
”Aku sayang banget sama kamu Shafiyah,” ucap Wafi tiba-tiba.
”Apalagi aku Gus Mu."
”Dasar, jangan panggil aku begitu, aku suami kamu, kamu bukan santriwati lagi, kamu istri aku. Gak kerasa, kita udah hampir satu tahun menikah."
”Iya, Alhamdulillah.” Shafiyah tersenyum simpul dan Wafi mengelus rambut istrinya itu lembut.
__ADS_1
”Alhamdulillah." Balas Shafiyah, pria sederhana, tidak kaya, tapi memiliki tanggung jawab yang luar biasa, menghargai dan melindungi, mau meminta apalagi dia sekarang, dia hanya meminta, semoga rumah tangga nya terus berjalan, sampai maut memisahkan.