Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 59: Keluarga Majdi


__ADS_3

♥️♥️♥️


*********


Wafi melangkah mendekat, dan Shafiyah tersentak saat dia dipeluk di depan semua orang.


”Tuh kan, itu beneran istrinya,” ucap para karyawan wanita. Cindy merasa sesak nafas melihatnya. Tega-teganya pria yang sedang dia incar itu meluluh lantakkan perasaannya, pantas saja begitu susah di rayu, ternyata sudah menikah dengan si hitam. Cindy menyebut Shafiyah si hitam karena pakaiannya.


”Cindy mau kemana?” teriak teman dekat Cindy. Cindy berlari ke toilet dengan wajah memerah.


”Aa lepas." Shafiyah berbisik dan Wafi melepaskannya.


”Datang gak bilang dulu, nakal." Wafi menyentil hidung terlindung itu, Shafiyah meraih tangan suaminya, dan mengenggamnya kuat agar diam.” Ayo ke ruangan pribadi kita saja." Ajak Wafi.


”Asstaghfirullah hal adzim, suami Fiyah kesambet apaan ya Allah?” gumam Shafiyah.


”Ayo sayang jangan malu-malu,” kata Wafi dan merangkul pinggang istrinya itu. Keduanya melangkah bersama dan Shafiyah terus menunduk." Istri saya, istri saya." Wafi terus memperkenalkan istrinya kepada semua karyawannya, Shafiyah sangat ingin kabur karena malu saat ini.


”Hehehe iya pak.” Sahut beberapa karyawan sambil tersenyum grogi.


”Cantik gak? cantik kan, pasti lah cantik. Istri saya.” Wafi tersenyum lebar sambil sesekali mencubit pipinya. Elang menahan tawa sedari tadi melihat tingkah Wafi, Wafi lelah dengan karyawan wanita yang sering menggodanya, mereka semua harus tahu, jika dia sudah beristri.


”Haha iya pak itu istri bapak, kami baru tahu. Kalau bapak udah nikah," ucap karyawan laki-laki. Sambil kebingungan, karena tidak paham cantik seperti apa yang dimaksud bos mereka. Sementara Shafiyah sangat tertutup, wajahnya saya tidak kelihatan. Hanya kedua matanya saja yang nampak.


Wafi tersenyum dan mengajak Shafiyah pergi, keduanya masuk ke dalam lift dan Wafi merasa lega. Setelah kepergian keduanya, para karyawan sibuk bergosip karena melihat tingkah laku aneh bos mereka yang jauh dari biasanya. Ada beberapa karyawan wanita yang malah memuji sikap Wafi kepada istrinya, pria ketus itu begitu jinak di hadapan istrinya.


Dan sekarang, Wafi harus menerima pukulan demi pukulan dari tangan mungil Shafiyah.” Aa bikin malu! aku gak mau datang lagi!" jerit Shafiyah dan Wafi terkekeh, lalu memeluk istrinya itu paksa.


”Hehe maaf ya, justru dengan begitu semua orang tahu aku udah punya istri, gak bakal ada yang godain aku lagi sayang. Kamu harusnya bangga, aku jago akting.” Wafi terus tersenyum dan Shafiyah tidak mau dipeluk olehnya, akhirnya pintu lift terbuka. Wafi merangkul pinggang istrinya itu dan mengajaknya keluar. Shafiyah diam karena di lantai yang dia pijak sekarang juga banyak orang.


”Pak,” para karyawan menyapa dan Wafi mengangguk sambil tersenyum, sebuah senyuman yang sangat jarang terlihat di wajah rupawan itu. Shafiyah akhirnya dibawa masuk ke dalam ruangan, Wafi menelepon bagian office dan meminta mengirimkan makanan ke ruangannya.


Shafiyah memperhatikan seisi ruangan tersebut, dengan seksama, lalu dia mendekati kaca jendela besar, menatapi pemandangan sekitar dan Wafi memeluknya dari belakang.


”Naik apa ke sini?” tanya Wafi berbisik, kedua matanya tertutup. Merasakan aroma tubuh istrinya yang membuatnya candu.


”Taksi, kejutan. Aku mau bikin kamu kaget tahu, tapi malah gak ada yang percaya aku istri kamu.” Shafiyah sedikit kesal dan Wafi tersenyum.


”Harusnya bilang ke aku dulu, maafin mereka ya sayang.” Bujuk Wafi agar Shafiyah tidak kesal lagi.


Enggak perlu minta maaf. Tadi Fiyah beli makanan, tapi udah dingin.” Shafiyah merasa sedih, dia berbalik badan dan tangan Wafi berada di pinggangnya. Keduanya berhadapan, saling menatap lekat, lalu Wafi menarik niqob istrinya itu. Dia tersenyum melihat wajah cantik istrinya, lalu dia kecup mesra bibir istrinya sekilas dan Shafiyah menunduk malu-malu.


”Enggak apa-apa, kita makan sama-sama nanti.” Wafi tersenyum dan Shafiyah merasa senang mendengarnya.


”Ayo makan,” ajak Shafiyah. Dia mundur menjauh untuk menyiapkan semuanya, tapi Wafi menarik pinggangnya dan mencondongkan kepalanya. Shafiyah tersentak saat hidungnya beradu dengan hidung suaminya.


”Sun dulu.”


Shafiyah tersenyum tipis.” Kan udah tadi, aku dicium sama aa."


”Itu kecup doang umi.”


”Haha, kok umi si manggilnya. Aneh." Shafiyah tertawa dan Wafi tersenyum melihat tingkah laku istrinya.


”Kok aneh si?” Wafi mengerucutkan bibirnya lalu mengelus perut istrinya itu.” Nanti kan bakal jadi umi dari anak-anak kita, umi Habibah.”


”Abi Muzammil, gitu?” Shafiyah tersenyum dan Wafi mengangguk.


Cup! Wafi mengecup bibir istrinya sekilas, lagi dan lagi sampai keduanya sama-sama menutup mata, menerima ciuman masing-masing.


Tok tok tok


”Permisi pak, saya office boy!” seru seorang pria setelah mengetuk pintu. Shafiyah kaget dan melepaskan ciumannya. Wafi menutupi wajah istrinya kembali setelah mengusap bibir istrinya itu lembut, dia meminta Shafiyah duduk di kursi kerjanya, dan dia melangkah pergi mendekati pintu untuk mempersilahkan office boy masuk.


”Simpan di meja kerja saya." Pinta Wafi sambil menggeser beberapa berkas ke tepi meja sebelah kanan. Office boy tersebut diam-diam memperhatikan Shafiyah, yang sedang berusaha menyalakan hapenya, tapi hapenya lowbat.” Biar saya aja, kamu pergi sekarang!” tegas Wafi penuh penekanan, dia tidak suka kedua mata pria muda itu menatap istrinya lekat, bahkan hampir menjatuhkan gelas yang akan dia letakkan. Semuanya bisa saja tumpah, membuat kekacauan.


”Tapi pak!" panik.


”Pergi saya bilang,” ucap Wafi lemah tapi penuh ketegasan. Pemuda tersebut menciut takut, hanya bisa menurut dan akhirnya pergi meninggalkan ruangan.


”Aa kenapa marah-marah?” tanya Shafiyah bingung. Dan Wafi menggeleng kepala, tidak mau menjawab. Dan Shafiyah tidak mau memaksa bertanya." Ada charger? hape aku lowbat."


”Mana sini." Wafi mendekat, meminta hape istrinya dan Shafiyah memberikannya.


”Mau ini boleh?" Shafiyah menunjuk jus jeruk dan Wafi menoleh sekilas, pria itu sedang mengecas hape istrinya.


”Semuanya buat Bibah, terserah mau ambil yang mana,” tutur Wafi dan Shafiyah tersenyum. Shafiyah meminum jus nya, mencoba kue dan Wafi mendekat. Wafi menarik bahu gadis itu agar bangun, Shafiyah bangun dan Wafi duduk, lalu Wafi menarik gadis itu ke pangkuannya.

__ADS_1


”Takut ada yang masuk," ucap Shafiyah sambil menoleh menatap suaminya.


”Enggak bakal, suapi aku.” Jawab Wafi sambil meminta. Shafiyah menyuapinya dan Wafi menarik niqob itu kembali ke belakang.


”Jangan dibuka terus." Protes gadis itu.


”Aku kangen banget sama kamu sayang, aku sibuk terus akhir-akhir ini. Kadang aku pulang kamu udah tidur, aku seneng kamu datang. Tadi aku ngerasa capek banget, tapi sekarang enggak setelah ada kamu.” Wafi mulai mengeluh dan Shafiyah paham, suaminya sangat sibuk.


”Ah lebay aa mah.” Cibir Shafiyah dan Wafi menarik dagunya.


”Beneran, jadi pengen." Wafi berbisik dengan suara serak, lalu tersenyum mesum. Shafiyah terperanjat, berusaha bangun tapi Wafi menahan, memeluk perutnya erat.


”Fiyah mau turun, awas,” ketusnya.


”Canda sayang.” Wafi tersenyum lebar dan Shafiyah mendelik sebal.


”Aku mau ngambil makanan yang aku bawa tadi, makan nya di sana aja. Duduk di sini gak cukup buat berdua.”


”Biarin, kan kamu duduk di pangkuan aku.”


”Kan Fiyah mau aa makan juga."


”Ya suapi aja."


”Ya susah kalau posisinya begini aa, jangan manja deh. Ayo pindah ke sana, baru Fiyah suapi nanti.” Shafiyah membujuk dan akhirnya Wafi menurut, tapi punggungnya di kecup beberapa kali, barulah dia dilepaskan.


*****


Di rumah, Raihanah kedatangan tamu. Faiza dan anaknya sendiri Afsheen, tapi Afsheen sedang tidur di kamar bersama Bayyin. Bayyin masih tinggal di rumah tersebut, dan sudah mulai merencanakan kepindahan.


”Alhamdulillah Khalisah hamil teh,” ucap Faiza begitu senang. Dan dia amat sangat bersyukur.


”Alhamdulillah, akhirnya kamu mau punya cucu ya Za. Semoga kandungan Khalisah sehat-sehat sampai lahiran, lahirannya juga lancar. Udah berapa bulan?”


”Aamiin, kemarin dibawa ke bidan. Perkiraan, sekitar dua bulanan. Cuma gitu hamilnya, susah makan, muntah terus, mual-mual, aku habis dari sini mau jemput dia, mau diajak tinggal sama aku dulu.”


”Ya ampun kasihan, capek banget kan itu kalau hamil mual-mual sama muntah terus, kita juga pernah ngerasain. Kamu sebagai mertuanya, orang tuanya, kasih tahu aja makanan apa yang bagus, makan mah harus tetep dipaksain, takutnya kalau gak masuk apa-apa nanti dehidrasi.”


”Iya, aku bawel sekarang sama Khalisah. Tapi agak takut, anaknya Pundungan. Kadang ngomong sama Chairil, biar Chairil yang ngomong sama dia."


”Iya sih mending gitu, gak tahu Fiyah juga, lagi berusaha. Soalnya gak di KB. Mumu kan udah tua, udah pengen punya anak. Fiyah nya juga mau, do'ain ya, semoga menantu aku segera hamil.”


”Aamiin, semoga. Makasih doanya. Untuk ibunya Fiyah, masih belum bisa ditemuin, terakhir kali Mumu sama Fiyah ke sana malah di usir, aku tahu karena pak Herman nya pas kesini bilang terus minta maaf juga. Si Mumu mana mau jujur, aku gak bakal tahu kalau mertuanya gak datang waktu itu.”


”Aku malah khawatir sama Shafiyah teh, kasihan dia. Nikah sama Mumu, harus dijauhin ibu sama saudara-saudaranya.”


”Iya, tiap saat aku ingetin dia, gak ada yang mustahil. Allah maha membolak-balikkan hati manusia, kita hanya bisa sabar dan berdoa. Fiyah pasti sedih, mana mungkin dia gak sedih. Apalagi nikah aja ibunya sama sekali gak mau datang,” tutur Raihanah serak. Faiza meraih tangannya, dan mengusapnya lembut.


”Fiyah anak baik, dia pasti kuat, sabar ya kalian semua. Aku yakin situasi ini pasti berakhir, pasti bakal rukun kembali, walaupun gak tahu kapan.”


”Aamiin, itu harapan aku Za,” lirih Raihanah. Lalu meletakkan telapak tangan kirinya di atas tangan Faiza yang mengenggam tangannya.


Kembali ke kantor, Wafi dan Shafiyah melangkah bersama untuk pulang. Semua karyawan memperhatikan, Wafi menggandeng jas nya dan menjinjing tas nya dengan tangan kiri, tangan kanannya merangkul pinggang istrinya.


”Nanti," bisik Wafi dan Shafiyah mendengus.” Terserah aku lah,” ujarnya kembali dan Shafiyah benar-benar merasa malu, suasana begitu hening sampai suara suaminya yang terdengar, mereka bisa saja mendengar ucapan suaminya yang penuh teka teki itu. Setelah langkah Wafi dan Shafiyah keluar dari gedung perusahaan tersebut semuanya ribut.


”Pak Wafi manis banget si, kalau senyum begitu. Istrinya harus sering datang nih, biar kita bisa lihat wajah pak Wafi yang berbeda," tutur wanita paruh baya dengan tubuh tambun itu.


”Bener Bu, pak Wafi seneng banget istrinya datang.” Sahut yang lain. Cindy mendelik sebal mendengar pujian para karyawan untuk bos mereka itu. Suasana terasa berbeda setelah kedatangan Shafiyah. Suasana yang biasanya tegang karena aura kejutekan dari bos mereka.


Malam hari tiba, acara Manaqib digelar. Shafiyah duduk di dekat ibu mertuanya, mendengarkan dan menyimak tausiyah yang dibawakan suaminya sendiri. Pembahasan Minggu ini tentang doa-doa penolak bala, bala adalah dimana Allah menurunkan berbagai macam penyakit dan kesukaran, dan semua hamba-Nya harus lebih giat meminta pertolongan hanya pada-Nya.


”Jangan dipandang terus, simak ceramahnya.” Goda Afsheen dan Shafiyah langsung menunduk.


”Ah teteh jangan gitu." Shafiyah merasa malu.


”Teh Fiyah." Bisik Bayyin memanggil.


”Ih Fiyah udah bilang jangan manggil Fiyah begitu, Fiyah jauh lebih muda.” Gadis itu protes.


”Kan kamu istri a Mumu, ya harus dipanggil begitu." Balas Afsheen dan Shafiyah cemberut.


”Jangan berisik, kalian ini." Raihanah menegur sambil mencubit lengan Afsheen agar berhenti mengajak Shafiyah berbicara.


”Hihihi dimarahin,” ucap Shafiyah mengejek dan Afsheen terbelalak mendengarnya.


”Acara selanjutnya, dilanjutkan dengan doa yang dipimpin ustadz Amran," ucap Ikhsan dan Amran menerima mic. Wafi sudah duduk dan merapihkan kain sorban yang dia jadikan selimut di bahunya. Udara malam ini begitu dingin, angin berhembus begitu kencang.

__ADS_1


Musa langsung melirik Bayyinah, saat Amran yang bersuara sekarang. Dia cemburu, karena Amran memang sering mencuri-curi kesempatan untuk mengobrol dengan Bayyin, walaupun sesuatu hal yang tidak penting.


”Mau kopi a? aku bikinin sekalian” ucap Salam menawari.


”Iya deh mau, maaf ngerepotin." Musa menerima tawaran tersebut dan Salam tersenyum.


”Gus Mu makin ganteng ya.”


”Pinter juga orangnya, suaranya bagus."


Para wanita paruh baya memuji. Dan terus memperhatikan pria itu, Shafiyah yang mendengar hanya tersenyum. Tidak apa-apa, mereka sudah tua, asal jangan para gadis muda yang terang-terangan memuji begitu.


Acara terus berlangsung, sampai akhir dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Acara di tutup dengan bersholawat bersama, kembali dipimpin oleh Gus Mu. Setelah acara selesai, semuanya bubar dengan tertib. Para santri kembali ke asrama, mereka yang berasal dari kampung lain kembali ke kampung mereka. Shafiyah pulang bersama mertua dan saudara iparnya, Wafi, Salam dan Musa masih sibuk mengobrol dengan para ustadz senior dan yang muda juga.


Afsheen mengajak Bayyin untuk membuat seblak, tapi Bayyin menolak, dia mengantuk apalagi Raihanah. Akhirnya Afsheen berniat untuk mengajak Shafiyah.


”Neng, bikin seblak yuk." Ajak Afsheen dan Shafiyah yang sudah menaiki tangga menoleh, dan menatapnya.


"Ya ampun teteh jam segini?” ucap Shafiyah sambil melirik jam dinding.


”Ya enggak apa-apa, udah beli ceker nya, bakso nya, toping nya yang lain juga. Ayo cepetan!" Afsheen memaksa. Raihanah di kamar yang mendengar suara anaknya itu hanya tersenyum tipis.


”Ya udah deh, tapi teteh yang masak.”


”Ya iyalah, masa kamu. Nanti jadi bubur,” ejek Afsheen dan Shafiyah cekikikan.” Jangan ketawa begitu, serem. Udah malam."


”Ya habisnya pengen, mau gimana lagi." Shafiyah terus terkekeh dan keduanya pergi ke dapur. Shafiyah yang menyiapkan bumbu, dan Afsheen memotong semua untuk toping seblak. Bakso, sosis, sayur kol dan kembang tahu. Keduanya sambil mengobrol, dan tertawa kecil.


Kedua menantu laki-laki dan si sulung akhirnya pulang. Mengucapkan salam dan kedua perempuan di dapur menjawabnya, Musa langsung masuk ke kamar. Salam juga ke kamarnya dan Wafi ke dapur.


”Haduh seblak lagi seblak lagi, pagawean si Niyyah,” ucap Wafi dan melihat semua bahan-bahan di meja. Lalu dia duduk.


pagawean/kelakuan.


”Ya biarin,” ucap Afsheen menjawab.


”Aa kalau mau tidur, tidur aja duluan,” kata Shafiyah dan Wafi mengedipkan matanya, lalu melirik Afsheen dengan ekor matanya yang sibuk dengan wajan saat ini.


”Ayo ke kamar," ajak Wafi berbisik.


”Ih, Fiyah mau bikin seblak sama teh Niyyah dulu a." Seru Shafiyah dan Afsheen mendengarnya. Wafi mendengus sebal karena istrinya begitu tidak paham.


”Kebiasaan kalau ada Niyyah pasti Shafiyah susah banget di deketin, dasar si jenong Niyyah." Gumam Wafi kesal. Afsheen selalu membuat Shafiyah sibuk bersamanya jika datang ke rumah.


”Ya udah deh, aku tidur duluan." Wafi begitu pasrah. Sambil menutupi kepalanya dengan kain sorban. Apa tidak ada jatah untuknya malam ini? jatah obat segala macam kemumetan.


"Iya." Singkat Shafiyah dan Wafi semakin sedih.


Seblak sudah mulai di masak, Afsheen dan Shafiyah mencobanya berulangkali sampai bumbu terasa pas, tidak asin, tidak tidak terlalu gurih tapi sangat pedas. Setelah seblak matang, keduanya menikmati nya bersama. Afsheen melirik hapenya, pesan beruntun masuk dari Salam, padahal pria itu di kamar. Salam meminta Afsheen segera ke kamar tapi Afsheen tak kunjung membaca pesan darinya, sampai Salam akhirnya menelepon dan Afsheen menolak panggilan tersebut, lalu mengirim pesan bahwa ia masih sibuk dengan Shafiyah.


”Pedes banget,” ucap Shafiyah.


”Untung bikin nya sedikit, tapi enak,” tutur Afsheen.


”Ih gak kuat aku, teteh aja yang habisin.” Shafiyah menyerah.


”Biasa juga, pedes dari mananya si neng.”


”Pedes banget itu, aku jadi penonton aja deh.” Shafiyah bangkit, melangkah ke kulkas dan mengambil air dingin. Lalu duduk kembali dan merasakan bibirnya semakin panas.


Setelah seblak habis, keduanya berpisah. Di kamar, Wafi belum tidur dan menoleh saat istrinya masuk. Shafiyah mengunci pintu dan melepas cadar serta kerudungnya.


”Kenapa?" tanya Wafi.


”Pedes banget, bibir aku panas."


”Mangkanya jangan banyak-banyak cabe nya kalau bikin seblak, kamu makan yang pedes terus beberapa hari ini aku lihatin. Stop, nanti sakit," tutur Wafi mengomel, dia turun dari ranjang dan mendekati istrinya. Menangkup kedua pipi istrinya itu lembut dan melihat sekitar bibir Shafiyah memerah. Wafi meniupnya, dan Shafiyah diam memperhatikan wajah tampan suaminya itu.


”Lagi a." Pinta Shafiyah dan Wafi tersenyum. Dan Wafi meniupnya lagi.


”Udah, bersih-bersih, ganti baju, tidur. Aku tungguin, pengen peluk.” Wafi merengek dan Shafiyah memukul dada suaminya manja.


”Awas kalau lebih dari sebuah pelukan."


”Ya terserah aku dong, terserah nanti.” Wafi tersenyum tipis dan Shafiyah mendelik. Shafiyah melangkah dan meraih handuk khusus untuk wajahnya, wajahnya terasa berdebu dan berminyak sekarang.


Shafiyah bersih-bersih dan keluar hanya memakai handuk mandinya, dia terdiam melihat suaminya sudah terlelap. Begitu terlihat lelah dan dia sangat khawatir melihatnya. Shafiyah pun lekas memakai pakaian, melepas ikatan rambutnya, lalu dia naik ke atas ranjang. Wafi terbangun dan Shafiyah mendekapnya hangat.

__ADS_1


”Dingin neng,” ucap Wafi antara sadar dan tidak.


”Aku peluk,” kata Shafiyah. Dia menarik selimut lebih dulu, lalu memeluk suaminya erat. Wajah Wafi tenggelam di dada ranum istrinya, yang ukurannya sedikit berbeda sekarang. Mahakarya dari tangannya yang sangat memuaskan dan anti gagal.


__ADS_2