Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 47: Ngamen buat mas kawin


__ADS_3

Setibanya di kampus, Shafiyah keluar dan berlalu pergi. Wafi dari kejauhan memperhatikan.


”Menoleh sekali aja, aku yakin kamu bohong. Kamu gak bisa memutus semuanya begitu aja.” Tutur Wafi lalu mengusap wajahnya kasar. Fajar dari dalam mobilnya memperhatikan, tidak lama Wafi pergi karena Elang meneleponnya.


Di kantin kampus, Shafiyah meletakkan dagunya di atas meja, menatap minumannya di hadapannya. Minuman dengan toping lemon dan serbuk selasih, masih pagi. Tapi dia membutuhkan minuman segar dan dingin, untuk mendinginkan tubuhnya yang mendadak panas, berkeringat karena gugup melihat Gus Mu tadi.


”Dor!" seru Nur dan Shafiyah terperanjat.


”Nur, bikin kaget.” Shafiyah merengek-rengek dan Nur terkekeh.


”Kenapa si melamun?” tanya Nur sambil memangku dagunya, dia perhatikan Shafiyah yang nampak sedang dilema. Kemarin-kemarin, gadis itu juga seperti itu. Tapi hari ini sepertinya tambah parah. Shafiyah tidak menjawab, hanya gelengan kepala yang mewakili.


*****


Sesampainya di kantor, Wafi keluar dari mobil. Tidak membawa tas kerja ataupun berkas berja, karena dia bingung harus apa yang dia bawa. Dia hanya menenteng tas ranselnya, berwarna hitam sedikit lusuh. Isinya sajadah, kain sarung, peci dan Al-Qur'an kesayangannya. Wafi mendekap tas nya setelah kedua talinya dia gantung di bahu kokohnya itu. Semua karyawan perempuan melongo, melihat kedatangan seorang pria tampan dan gagah yang baru pertama kali datang itu.


”Eh pak mau kemana?" seru satpam dan Wafi berhenti.


”Saya...” Wafi bingung harus bagaimana. Elang entah dimana pria itu, sebuah mobil mewah datang. Sosok Elang si tampan akhirnya keluar, Wafi diam dan tangannya dirangkul kuat oleh satpam.


”Pak, ini pak Wafi Muzammil. Lagi di apain aduh?" tutur Elang dan pak satpam langsung melepaskan tangan Wafi.


”Maaf pak, maaf. Jangan pecat saya,” seru si bapak satpam sambil memohon-mohon dengan merapatkan kedua tangannya, membungkuk hormat dan Wafi mundur menjauhinya. Elang cengengesan melihat raut wajah bingung Wafi.


”Iya pak iya.” Wafi berseru agar pria paruh baya itu berhenti.


Elang tersenyum dan mendekati Wafi, mengajak pria itu masuk dan Wafi menunduk. Dan Elang mengajak Wafi ke lantai 7. Sesampainya di sana, Wafi terdiam melihat foto kakeknya di dinding, Berhan Embrace, dan foto om nya Noah di atas meja. Wafi tersenyum, jemarinya dia dapatkan di atas meja, lalu melangkah dan jemarinya bergeser lembut. Dia sering bermain di ruangan ini, banyak yang berbeda, karena perusahaan tersebut sempat di renovasi. Berhan sering menggendong Wafi, membawanya kemanapun dia pergi saat datang ke Indonesia. Wafi memiliki dua kakek yang begitu menyayanginya.


”Mau minum apa pak? saya belum tahu bapak sukanya apa." Tutur Elang sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja.


”Terserah," singkat Wafi dan Elang mengerutkan keningnya. Wafi berdiri di depan jendela besar, menatap pemandangan yang memanjakan mata. Elang pun pergi, dan Wafi memejamkan matanya. Belum lama matanya terpejam, bayangan gadis itu muncul dan dia lekas membuka matanya.


”Saya gak jadi pergi Bibah, kapan kamu mau mengabari saya. Kita berkirim pesan, untuk menanyakan kabar dan keadaan. Atau memang kamu sudah melupakan semuanya, dan menganggapnya benar-benar berakhir. Jika benar, apa kamu gak bisa menghormati saya sebagai seorang Gus. Bukan seperti kamu mencintai saya sebagai Wafi. Ya Allah, hamba bingung.” Wafi menunduk lesu, memijat tulang hidungnya sesekali, dia kembali berdiri dengan tegap. Memasukkan kedua tangannya ke saku celana, kedua matanya berair. Dia hanya ingin bersama gadis yang dia suka dan cinta, saat remaja. Wafi sama sekali tidak pernah meladeni para gadis yang menggodanya, untuk menjadikannya pacar. Masa mudanya habis untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Tidak ada yang bisa menarik perhatiannya, mengalihkan pandangannya kecuali Shafiyah, yang rupa wajahnya pun dia tidak tahu seperti apa jelasnya. Jika bukan jodohnya dia pasrah, tapi dia ingin diberikan kekuatan untuk melupakannya. Melupakan semua angan-angan yang dia bangun, yang kini runtuh dan hancur berantakan.


Di sisi lain, Elang dihampiri pada karyawan wanita. Untuk menanyakan siapa pria yang dibawa oleh Elang tadi, bahkan dibawa ke ruangan CEO. Yang biasanya hanya dimasuki Elena sekertaris nya Noah, Elang dan office boy kepercayaan.


”Pak Elang, yang tadi siapa si?” Tanya seorang wanita berambut pendek.


”Itu cucunya almarhum bapak Berhan, dia bos kita semua mulai hari ini. Belum diperkenalkan, karena ini mendadak. Minta yang lain untuk berkumpul di aula segera," tutur Elang menjawab dan memberi perintah. Semuanya mengangguk dan Elang pergi lagi.


”Masih muda ya," ucap seorang perempuan berbadan langsing, seksi, cantik dan berambut sepinggang. Cindy.


”Iya ih, ganteng banget. Pak Muzammil, pak Wafi, apa ya nyebutnya?”


”Itu kan Gus Mu, yang mantan narapidana itu. Kalian harusnya protes ke pak Noah, kenapa bisa perusahaan cabang kita ini diasuh sama mantan napi.” Timpal seorang pria berbadan tambun, dengan pipi gemuk dan tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan kehadiran Gus Mu.


”Enggak boleh begitu heh, kita harus sopan,” sahut wanita beruban, Ina.


”Ah emang dasar perempuan, yang good looking selalu di bela," kata pria berbadan kurus, Izal.


”Ya emang good looking, gak kayak kamu, bad looking, bad attitude." Maki Cindy sambil mengibaskan rambutnya, lalu merangkul lengan Ina dan membawanya pergi. Izal mendengus sebal dan bergosip dengan para karyawan pria yang tidak suka dengan Wafi.


Semua karyawan berkumpul di Aula. Wafi masih duduk di sebelah Elang, dia risih dengan tatapan para karyawan perempuan. Para wanita berbisik-bisik membicarakan ketampanan dan aura pria itu, dan banyak juga yang tahu kasus yang menjerat pria tersebut, bukan sepenuhnya kesalahan, keadaan terdesak dan khilaf adalah alasan yang utama.


”Silahkan pak Wafi." Seru seorang wanita, dengan memegang mic dan Wafi mengangguk. Dia bangkit dan melangkah begitu tegasnya, lalu naik ke atas panggung lebar dengan dinding yang memperlihatkan layar lebar. Wafi memegang mic dan semua wanita tersenyum ke arahnya.


”Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...!!" Seru Wafi lantang.


”Wa'alaikumus Salaam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka yang muslim.


”Perkenalkan saya Wafi Muzammil, saya ditugaskan untuk memimpin perusahaan cabang ini. Jujur, saya grogi sekarang..." Wafi mengusap peluh di keningnya dan semua orang tertawa, padahal Wafi tidak melucu, dia hanya terlalu jujur." Saya kuliah di jurusan teknik sipil, ini sangat jauh dari perusahaan kita ini bekerja. Saya belum memiliki banyak pengalaman bekerja, saya mohon kerjasama dan bantuannya. Terima kasih," tuturnya ringkas dan Cindy mengangkat kepalanya, Wafi diam dan meliriknya sekilas.


”Si Cindy malu-maluin," gerutu karyawan perempuan yang lain.


”Iya, bisa saya bantu?" tanya Wafi.


”Usia bapak berapa ya? biar kami lebih mengenal lebih dekat gitu pak hehe. Emmm satu lagi, udah menikah belum ya?” tutur Cindy dan Wafi menggaruk pelipisnya. Elang menggeleng kepala dan menatap Cindy tajam.


”Oke, akan saya jawab. Kita bisa dekat, ya boleh lah tapi harus tetap ada batasan. Bukan karena saya CEO di sini, tapi saya berharap untuk karyawan perempuan menjaga jarak dengan saya. Karena kita bukan mahram, jangan genit juga, karena itu bisa menganggu keprofesionalan dalam bekerja, saya tidak mau ada kejadian buruk terhadap perusahaan. Nama lengkap saya Muhammad Wafi Muzammil Ali Majdi, bebas panggil saya apa saja, usia saya tiga bulan lagi pas 28 tahun. Saya masih sendiri sekarang, tapi saya sudah memiliki calon istri, kita akan menikah sebentar lagi. Mohon do'anya, terima kasih. Sekian dari saya, wassalamu'alaikum...”


”Yaaaaah....!" Seru para karyawan yang masih lajang, mereka kecewa apalagi Cindy yang mengajukan pertanyaan.


*******

__ADS_1


Sore harinya, Wafi pulang dengan wajah kusut, lelah dan letih. Ditambah penyemangat nya sudah tiada. Wafi langsung mandi, dan bergegas ke masjid. Setelah sholat magrib, dia mendatangi asrama santri laki-laki, karena ada beberapa santri yang membandel. Tidak piket, tidak setor hafalan dan bolos sekolah. Di tangannya, spidol berwarna hitam tergenggam.


”Kenapa gak piket?” tanya Wafi begitu tegas, sambil mengacungkan spidol yang tutupnya sudah dibuka.


"Ketiduran Gus,” jawab santri sambil menangkup kedua pipinya, tidak mau pipinya di coret.


Srett!!! Wafi mencontreng kening santri tersebut dan santri yang lain tertawa. Wafi berlalu pergi dan menegur santri yang lain.


”Sekolah, sekolah itu penting. Kenapa bolos? kalau alasan kamu ketiduran lagi, nanti di masa depan kamu jangan banyak nanya kenapa hidup kamu susah, sekolah aja males." Gerutu Wafi sambil mencoret pipi dan kening santri nya, santri tersebut hanya terkekeh dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya.


Setelah selesai, Wafi pergi. Bergegas menuju ke rumah, yang terhalang baju perut kotak-kotak, kekar dan seksi itu terus dia usap, dia merasa lapar saat ini. Ingin pulang, makan dan istirahat. Raihanah merasa ada kesempatan untuk berbicara, dia mendekat dengan membawa data diri Romlah.


”Umi udah makan belum?” tanya Wafi.


”Udah tadi,” jawab Raihanah seraya duduk perlahan. Wafi melirik amplop coklat di tangan uminya sekilas, dia sudah tahu isinya apa, ditambah wajah uminya yang berseri-seri.” Adiknya Aidan.” Raihanah meletakkan amplop di atas meja, di depan piring putranya.


”Oh,” hanya itu reaksi Wafi.” Aku gak mau,” sambungnya kembali.


”Lihat dulu, cantik a, usianya juga masih muda, baik, di cadar juga. Yang begitu kan yang kamu mau.”


”Iya, tapi kenyamanan kan gak bisa disamain umi. Kalau kita udah nyamannya sama satu orang, gak mungkin ada orang kedua apalagi ketiga.” Wafi tersenyum dan Raihanah mendelik. Bug! Raihanah memukul bahu putranya itu." Auw!" jerit Wafi sambil tertawa.


”Susah banget sih kamu a, yang deketin banyak, tetep aja ngarep sama yang jelas-jelas susah digapai.”


”Iya mi, Shafiyah juga sekarang jauhin aku, gak mau berjuang lagi sama aku. Setelah umi minta dia buat jauhin aku, umi udah puas? umi bahagia sekarang? umi juga tahu, bahagia umi adalah bahagia aku juga. Tapi kali ini, kebahagiaan umi adalah kesengsaraan buat aku. Umi tenang aja, aku gak marah kok. Mana bisa aku marah sama umi, aku malah berterima kasih. Karena kasih sayang umi begitu luar biasa, terima kasih sudah berjuang membesarkan aku, Niyyah dan Bayyin sampai seperti ini, terima kasih sudah menjadi sosok ibu terbaik untuk mengobati kerinduan kami sama Abi. Tapi tolong, kali ini saja. Do'ain aku ya, supaya aku bisa bahagia dengan sumber kebahagiaan aku,” tutur Wafi dengan suara serak, bergetar dan diakhir suaranya begitu lirih. Raihanah terdiam, merasa hancur dan tersayat mendengar ucapan putranya.


”Mumu," ucap Raihanah, dia belai lembut rambut putranya itu. Wafi membiarkan dan kembali menghabiskan makanannya. Raihanah menatap putranya lekat, bisa saja anaknya itu marah padanya. Tapi ternyata, putranya masih mengutamakan dirinya, dan Shafiyah yang menolak untuk menjauh, tiba-tiba menuruti ucapannya. Ada rasa bersalah yang membayangi Raihanah saat ini, dia tidak akan memaksa. Dan semoga Aidan paham, serta bisa menyampaikan penolakan Wafi dengan baik agar Romlah tidak tersakiti.


*******


Di toko kosmetik.


Sseorang gadis sedang menikah dan memilih skincare dan kosmetik yang biasa di pakai, di tangan kirinya menggantung keranjang bewarna merah, dia memasukkan barang yang dia pilih ke sana. Dia Shafiyah, sedang berusaha mengusir kesengsaraan akan rasa rindu dengan menyibukkan diri sendiri. Para karyawan toko kosmetik ibunya tersebut memperhatikan, jarang-jarang putrinya Sara kemari. Mereka sibuk memperhatikan gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, begitu tertutup sempurna tapi tetap saja terlihat mempesona.


”Teh maaf, serum yang ini apa ada yang ukuran 30 gram nya?" tutur Shafiyah kepada seorang karyawan.


”Habis neng,” jawab si wanita dan Shafiyah mengangguk.


”Apa itu beneran anaknya Bu Sara?” ucap seorang wanita bertubuh gemuk kepada karyawan lain.


"Takutnya salah, cuma ngaku-ngaku." Katanya seraya melipat kedua tangan di dada, lalu kembali memperhatikan Shafiyah. Setelah Shafiyah selesai, dia mendekati kasir.


”Teh, tolong bungkus ya," pinta Shafiyah.


”Maaf teh, ada bukti kalau teteh beneran anaknya Bu Sara?" tanya karyawan yang tadi. Shafiyah terdiam, mana dia tidak membawa uang cash banyak, kartu ATM nya tertinggal di tas yang lain.” Tolong kerjasamanya," tutur wanita itu lagi.


Dengan mendelik sebal, Shafiyah mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan isi percakapan dia dan ibunya. Disitu jelas terlihat, Shafiyah meminta izin untuk datang ke toko dan Sara memberinya izin.


”Saya telepon Bu Sara dulu," ucap wanita itu masih tidak percaya.


”Asstaghfirullah hal adzim, mending gak usah. Terima kasih!" ucap Shafiyah begitu tandas, dia sedang mumet ditambah wanita itu seolah menuduh nya.


”Neng Fiyah tunggu dulu, sini cepet. Ambil make up nya!" teriak seorang wanita dengan seragam berbeda, berwarna hitam dan dia manager toko. Dia mengenal Shafiyah dan malah diragukan karyawan lain.


Shafiyah tidak mau, dan melangkah pergi keluar dari toko. Wanita tadi ketakutan, melihat sang manager menatapnya kesal.


Saat di luar mall, Shafiyah mengangkat panggilan dari Rosa. Rosa dan yang lain sudah menunggu Shafiyah, untuk membicarakan tugas dan makan bersama di sebuah restoran.


”Assalamu'alaikum Ros?”


”Wa'alaikumus Salaam, kamu dimana? hayu atuh cepetan. Aku sama yang lain udah nunggu di depan resto. Kamu gak akan masuk kalau gak bareng."


”Iya, ini aku lagi di mall. Kurang lebih 10 menitan lagi sampai, kan dekat. Ya udah, udah dulu assalamu'alaikum."


”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab Rosa dan memutus panggilan.


Shafiyah pergi ke restoran menggunakan angkot, sesampainya di sana. Teman-temannya merasa lega karena dia datang, Shafiyah memang selalu menghindar, dia semakin pendiam setelah hubungannya dengan Wafi gagal.


”Ayo, aku udah pesan meja." Kata Nur dan Shafiyah mengangguk.


Di dalam restoran, suasana begitu ramai. Tidak ada meja kosong, semuanya penuh dan suasana sangat berisik, menyamarkan suara vocalis band di atas panggung kecil itu. Seorang pria dengan kemeja berwarna maroon, dan celana hitam. Rambut yang biasa tertutup peci itu kini terpampang jelas, sedikit berantakan dan dia lekas merapihkan nya, mengusap rambut tebalnya ke belakang, dengan mata tajamnya yang terus memperhatikan seorang gadis bercadar. Wafi ada di sana, di tempat yang sama. Dia tersiksa dengan rasa rindu, dan takdir membawa gadis itu ke pandangannya. Mail yang melihat Wafi diam, berhenti tertawa dan tatapannya berubah lemah memperhatikan seseorang.


Mail menoleh, ingin melihat siapa yang diperhatikan Wafi. Dia memicingkan matanya saat melihat gadis bercadar, dengan gamis hitam, kerudung Army dan cadarnya berwarna hitam.

__ADS_1


”Mu,,," ucap Mail berbisik.


”Iya, itu dia," balas Wafi dan Mail sama sekali tidak bisa membedakan mana Shafiyah, karena ada dua teman Shafiyah yang juga bercadar.


Shafiyah menunduk, dan mengikuti langkah teman-temannya, dia berjalan di paling belakang. Nur duduk, diikuti semuanya. Shafiyah meletakkan tas nya dan dia menoleh ke arah seseorang yang dia sadari sedang memperhatikannya.


Deg! Jantungnya berdegup kencang, dia menunduk cepat saat tatapannya dengan tatapan Wafi bertemu.


”Ya Allah, kenapa Fiyah harus ketemu lagi sama a Wafi.” Gumam gadis itu dan Wafi jelas melihat Shafiyah gugup.


Rosa menyenggol lengan Nur, dan Nur baru sadar ada Gus Mu juga di sana. Nur merapatkan kedua tangannya, dan Wafi juga.


" Assalamualaikum Gus," ucap Nur.


” Wa'alaikumus Salaam, habis dari mana? rame-rame." Balas Wafi basa-basi, meja para gadis itu bersebelahan dengan meja dimana Wafi dan teman-temannya berada.


”Dari kampus langsung kesini, mau makan hehe," jawab Nur dan Wafi mengangguk.


”Santai aja, anggap aja saya gak ada," tutur Wafi dan Nur serta yang lain mengangguk-anggukkan kepala, tapi tidak dengan Shafiyah.


”Mu, kenalin gue sama cewek yang diem terus itu dong." Bisik Rangga.


”Mau gue cekek atau mau gue lempar ke kandang buaya?" tanya Wafi ketus dan tatapannya begitu tajam.


”Itu kecengan dia oon." Seru Mail sambil menoyor kepala Rangga dan Rangga tersentak. Pantas saja Wafi marah.


”Ada yang mau request lagu? silahkan jangan sungkan-sungkan.” Seru vocalis dan semua pengunjung resto menoleh saat Wafi mengangkat tangannya, Shafiyah terus menunduk dan teman-teman nya kini menatap ke arahnya.


”Gus mau request lagu, buat Shafiyah pastinya hihihi," bisik Rosa dan nur cekikikan. Shafiyah diam dan pura-pura tidak perduli.


”Mau request lagu apa bang?" tanya vocalis.


Wafi berdiri dan melangkah mendekat ke panggung. Wafi dan mendekatkan bibirnya ke samping telinga si vocalis.


”Oh teman-teman, jadi si aa ini mau bawain lagu katanya. Tepuk tangan dulu dong!” seru MC dan semuanya bertepuk tangan, banyak pengunjung gadis-gadis sebaya dengan Shafiyah begitu antusias, menyiapkan kamera untuk merekam Wafi. Shafiyah mendengus sebal melihatnya.


"Buat siapa lagunya a? buat seseorang yang tersayang ya?" goda vocalis dan Wafi melirik Shafiyah.


”Iya," singkat Wafi menjawab.


”Orangnya pasti ada disini ya?"


"Iya ada," ucap Wafi dan Shafiyah mencengkram kuat gamisnya.


”A Wafi ... Tolong, jangan bikin malu aaaaa!!" gumam Shafiyah frustasi.


”Yang mana?" seru Vocalis begitu penasaran dan pengusaha yang lain juga.


”Enggak, saya gak bisa ngasih tahu yang mana orangnya. Pokoknya dia ada di sini, lagi diem. Dia pemalu banget soalnya," tutur Wafi sambil memegang mic dan semua orang terkekeh. Shafiyah membuang nafas kasar dan hanya pasrah yang bisa dia lakukan sekarang.


”Yah sayang banget, pokoknya ini si teteh nya beruntung pisan. Mau di nyanyiin sama si aa nya. Mangga, silahkan." Vocalis mempersilahkan, lumayan tenggorakan nya bisa istirahat. Wafi meminjam gitar, dia duduk di atas sebuah kursi, dan di hadapannya mic yang di simpan di penyangga.


”Untuk calon istri saya, yang berinisial S. Lagu ini buat kamu, mewakili perasaan dan keinginan saya. Semoga hubungan kita lebih baik dan saya minta maaf. Tolong hatinya dijaga, di sana tempat saya singgah soalnya. Saya tidak akan menyebut nama kamu, menunjuk kamu yang mana. Cukup saya yang tahu dan biarkan saya saja yang melihat kamu di sini,” tutur Wafi. Dengan tatapan mata yang begitu teduh, dia pandangi sekilas Shafiyah yang terus menunduk. Shafiyah sangat malu, tapi juga bahagia. Nur terus menyenggol lengan gadis itu dan Shafiyah tetap menunduk.


Suara petikan gitar pun mulai terdengar, Wafi merasa suaranya akan fals saat ini. Dia gugup.


”Malu gus, seseorang tolong bawa aku pergi!!!" jerit Shafiyah dalam hati.


”Tak kan kubiarkan,


Insan lain mencuri hatimu.”


Wafi memulai, suaranya begitu merdu dan membuat Shafiyah menoleh ke arahnya. Wafi menunduk dan Shafiyah berpaling.


”Terlalu,,,indah dirimu untuk di tinggalkan....Oooo.”


Begitu tulus pria itu bernyanyi, meluapkan kegembiraan dan sebuah pengakuan atas gadis yang belum dia miliki, semoga menjadi doa.


”Ku merasa tenang,,,,bila kau tersenyum..”


Wafi tersenyum, dia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Shafiyah gelisah karena ulahnya.


”Tak akan ku biarkan, rasa ini menghilang....”

__ADS_1


Bait-bait lagu terus terucap dari bibir pria itu. Shafiyah mulai tenang, mendengarkan dengan baik dan pura-pura bermain hape. Gadis mana yang tak tersipu, diperlakukan seperti itu oleh seorang pria. Wafi bingung bagaimana caranya memberitahu, jika dia masih berharap banyak kepada Shafiyah. Bukan dia memaksa, ingatannya semakin kuat, bukan memudar. Dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.


__ADS_2