
Di rumah sakit, Wafi dan Musa duduk di luar kamar rawat Faiza. Bersama Yaman dan yang lain, jujur, Wafi hanya tahu bibinya sakit. Dan tidak tahu menahu tentang permasalahan hati antara Chairil, Khalisah dan Romlah. Dia baru mendengar dari Yaman langsung, dia juga tidak penasaran kenapa Shafiyah tahu tapi tidak bicara padanya. Dia lebih suka istrinya diam, walaupun tahu tentang masalah orang lain. Bangga? Jelas Wafi bangga, memiliki istri luar biasa dari sikap dan tutur kata, kekurangan ya wajar, namanya juga manusia, dan dia sendiripun masih banyak cacat nya.
”Kalau bibi bangun, tolong bilang, kami semua datang,” pinta Wafi dan Yaman mengangguk pelan.
”Iya, terimakasih kalian semua udah datang," imbuh Yaman dan keduanya mengangguk.
”Kami gak bawa apa-apa mang, maaf,” ujar Musa dan Wafi memberikan bingkisannya kecil berisi makanan dan minuman kepada Yaman.
”Jadi ngerepotin,” imbuh Yaman belum menerima pemberian keduanya.
”Sama sekali enggak,” timpal Wafi.
”Iya mang, diterima ya,” ucap Musa memaksa, dan akhirnya Yaman menerima.
Hening sejenak, Musa dan Wafi saling menyenggol, agar salah satu diantara keduanya segera berpamitan. Sama-sama jauh dari istri, waktu bersama istri kurang, membuat keduanya didera perasaan yang sama, yaitu rindu.
”Cepet," bisik Wafi.
”Ih Gus aja,” kata Musa dan Wafi terbelalak.
Wafi menghela nafas, siap untuk bicara. ”Mang, kita gak bisa lama-lama,” ujarnya pamit.
”Oh iya, makasih udah datang. Hati-hati di jalan, kalian naik apa?” sahut Musa.
”Mamang gak bisa nganter, gak apa-apa?” Yaman bertanya.
”Enggak apa-apa mang, mamang disini aja, temenin bibi,” imbuh Wafi.
Yaman tersenyum lebar menanggapinya. Dia berdiri mengikuti kedua pria itu berdiri, setelah berjabat tangan dan mengucapkan salam, Yaman juga menjawabnya. Wafi dan Musa pergi meninggalkannya. Yaman diam memperhatikan, setelah jauh, dia masuk ke kamar rawat untuk melihat istrinya.
****
Pagi yang cerah, pukul 8 pagi. Wafi dan Shafiyah sedang dalam perjalanan menuju toko. Wafi menerima suapan dari istrinya yang sedang memakan potongan buah semangka.
”Aku kepikiran ibu,” celetuk Shafiyah dan Wafi menoleh sekilas.
”Mau ketemu ibu? Habis bikin kue mau kesana?" Wafi menawarkan dan Shafiyah diam.
”Aku takut ibu gak mau ketemu kita lagi, apalagi setelah semua kakak-kakak aku dukung hubungan kita, aku takutnya ibu makin marah, terus kamu yang jadi sasaran...” Imbuhnya serak dan Wafi membungkam mulut Shafiyah dengan jari telunjuknya.
”Shuttt! Jangan suudzon sayang, apalagi sama orang tua kamu.”
”Ya bukan begitu, tapi... Astaghfirullah! Harusnya aku gak ngomong begitu,” ucapnya merasa bersalah.
Wafi mengelus pucuk kepala istrinya lembut dan mobil berhenti di lampu merah. Shafiyah menarik niqob nya kembali dan takut ada yang melihat wajahnya. Wafi tersenyum dan menerima suapan demi suapan dari istrinya itu.
”Makan yang bener." Shafiyah menggerakan tangannya, mengusap sudut bibir suaminya yang basah dan Wafi menatap tangan istrinya lekat sambil menahan senyum, dia salah tingkah.
Shafiyah berhenti dan menatap suaminya lekat. ”Kenapa?” ujarnya bertanya.
”Emmm enggak,” pria itu benar-benar salah tingkah, dia lekas menjauhkan wajahnya lalu lampu hijau kini menyala. Tanpa berpikir panjang, Wafi langsung melajukan kendaraannya kembali.
Shafiyah diam dan kembali melanjutkan memakan cemilan buahnya. ”Abi mau lagi?” katanya menawari.
”Enggak yang, buat kamu aja, habisin.” Satu tangan pria itu bergerak mengelus pucuk kepala Shafiyah, perempuan itu tersenyum dan tangan Wafi kini sudah terlepas.
Pukul 08:30. Wafi dan Shafiyah sampai, kedua pegawai mereka sedang sibuk bekerja. Wafi keluar lebih dulu dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya. Shafiyah keluar perlahan, dengan telapak tangan memegang perutnya.
Wafi merangkul pinggang Shafiyah dan keduanya berjalan bersama. Kedua pegawai mereka tersenyum melihat kedatangan keduanya.
”Assalamu'alaikum,” ucap Wafi dan Shafiyah.
”Wa'alaikumus Salaam,” pegawai dan beberapa pembeli menjawab.
”Sayang, masuk duluan,” titah Wafi dan Shafiyah mengangguk.
”Tumben Ning kesini?” tanya Hanan.
”Iya, sengaja, mau bikin kue katanya. Udah pada makan belum?” imbuh Wafi, masih berdiri.
”Udah Gus, tenang aja,” kata Hanan dan Wafi menepuk bahunya lembut.
”Saya masuk dulu.” Wafi melangkah pergi dan kedua pegawainya diam.
Di dalam toko, Shafiyah memperhatikan kue pesanan, rata-rata kue untuk ulang tahun. Shafiyah menoleh sekilas saat pinggangnya dirangkul suaminya yang baru datang.
”Alhamdulillah, toko rame terus ya bi.”
”Iya, Alhamdulillah sayang. Rezeki kita semua.”
”Kita harus siap-siap kalau toko mulai sepi, gak seramai diawal." Shafiyah berbalik ke arah suaminya. Keduanya saling menatap begitu dalam.
”Aku sudah siap, untuk untung dan rugi, itu resiko dalam berdagang. Apa kamu bisa janji Habibah,” tuturnya lembut.
__ADS_1
”Apa?” tanya Shafiyah.
”Janji, untuk tetap bersama dalam keadaan apapun, kaya, miskin, sehat atau sakit,” suaranya serak penuh ketakutan.
”Fiyah sayang sama a wafi,” sahut Shafiyah cepat dan Wafi terdiam. ”Bukannya keadaan itu sudah aku jalani dari awal kita menikah? Keuangan yang enggak pasti, kadang kita sakit, lalu sehat lagi,” tuturnya sambil tersenyum.
”Ish....” Wafi berdesis lalu tersenyum. ”Kamu emang pandai kalau bikin aku melayang, senang dan bahagia. Kenapa begitu?”
”Karena, Gus Mu yang aku sayang.” Shafiyah memeluk Wafi langsung, merasa malu dengan ucapannya sendiri, dan Wafi tertawa-tawa melihat istrinya malu-malu.
”Mau bikin kue?” tanya Wafi dan Shafiyah mendongak, lalu ia mengangguk.
”Iya, ajarin. Masa istrinya pemilik toko kue gak bisa bikin kue.”
”Ya gak apa-apa, kamu jadi penikmat pertama kue buatan aku.”
”Enggak, aku mau belajar," Shafiyah merengek.
”Ya udah,” Wafi mengiyakan dan Shafiyah tersenyum. Dia melepas pelukannya, lalu meraih celemek begitu semangat.
*****
Toronto, Kanada. Seseorang sedang menelepon, nampak serius karena dia sedang menanyai orang kepercayaannya tentang keadaan keluarga adik tersayangnya, terkhusus semua keponakannya.
”Pernah ketemu sama Wafi?” ujarnya.
”Enggak pak, terakhir kali waktu pak Wafi menikah. Kami sama-sama sibuk, tapi istri dan anak-anak saya sering datang ke toko pak Wafi," ujar Elang menjelaskan.
”Apa kata istri kamu?” tanya Noah lagi.
”Toko makin ramai, penasaran via offline dan juga online. Pak Wafi memang cocok dalam berniaga, dia juga nampak nyaman, saya gak pernah melihat Instastory nya galau lagi, apalagi setelah pak Wafi menikah," kata Elang sambil tersenyum.
”Ya sudah, minta anak buah saya terus mengawasi, saya gak mau ada yang terluka lagi, khususnya Mumu,” kata Noah penuh penekanan.
”Mumu?” Elang terheran-heran. Kedua alisnya naik, wajahnya kebingungan mendengar satu nama yang asing di telinga nya.
”Maksud saya, Wafi,” tandasnya menjawab.” Itu panggilan kesayangan, pastikan kamu jangan menyebut panggilan ini di depan dia,” sambungnya serak dan Elang nyaris tergelak. Dia membungkam mulutnya sambil menjauhkan hape dari telinganya.
”Saya banyak kerjaan,” ucap Noah lagi.
Dengan cepat, Elang merapatkan hape kembali ke telinganya.” Siap pak.”
Panggilan pun berakhir, diakhiri oleh Noah. Elang melangkah pergi dari tempatnya sambil terkekeh kecil, bagus juga. Kira-kira seperti itulah batin Elang, menguji sekaligus mengejek, sosok dingin Wafi yang memiliki panggilan begitu lucu.
”Kurang lembut,” ucap Wafi.
Shafiyah sedang menghaluskan gula dan margarin dengan blender. ”Segini?” tanya Shafiyah untuk yang kesekian kalinya. Wafi tersenyum dan mendekat, dia berdiri di belakang tubuh istrinya dan Shafiyah diam.
Shafiyah tidak sabaran ternyata, membuat Wafi terus tertawa.
”Harus lembut sayang,” imbuhnya sambil terkekeh.
”Lama banget," keluh istrinya.
”Ya harus sabar dong, biar hasilnya juga sempurna."
”Kamu tiap bikin kue begini bi? pantas lama,” ejeknya begitu berani.
”Hah! Apa?” Wafi meradang dan Shafiyah tersenyum.” Teganya ledekin suami, hobi kamu ya?” terus tersenyum.
”Ya lama sayang, aku kalau jadi kamu gak sabaran, udah hancur semuanya.”
Wafi diam terpaku.” Bilang aku apa barusan?” mempertanyakan sesuatu yang jarang dia dengar, kita semua tahu, istrinya Gus Mu sangat pemalu, jika suaminya bukan sosok genit dan gombal seperti Gus Mu, mungkin sudah bosan.
Definisi, lebih baik dicintai ketimbang mencintai. Karena setelah dicintai dengan cara yang begitu istimewa, rasa cinta untuk membalas hadir tanpa diduga.
”Emmm enggak,” Shafiyah menunduk malu-malu.
Wafi melepaskan tangan Shafiyah dan tangannya berbalik ke perut istrinya. Bibirnya menempel di bahu istrinya itu.
”Bilang sekali lagi,” pintanya berbisik.
Shafiyah menyikut dada suaminya kesal, karena tidak bisa diam.” Nanti ada yang lihat, diem kenapa sih. Aku pengen makan kue, kue buatan aku sendiri. Cepetan bantuin,” tuturnya merengek dan Wafi tersenyum.
”Iya, iya. Aku cuma peluk doang juga,” imbuhnya beralasan dan Shafiyah cemberut.
Keduanya pun sibuk kembali membuat kue, Shafiyah berkeringat dan sesekali mengusap alisnya yang basah.
Waktu yang cukup lama dihabiskan untuk membuat kue, Shafiyah diam menunggu kuenya di dalam oven. Sementara Wafi menyiapkan Buttercream dan yang lainnya untuk hiasan kue nanti.
”Punten, ini minumannya,” Hanan datang, membawa dua minuman boba dingin dan spesial, dengan rasa alpukat dan moccachino. Untuk kedua majikannya.
”Makasih kang,” kata Shafiyah dan Hanan hanya mengangguk. Setelah meletakkan minuman yang dia bawa, dia pun kembali pergi.
__ADS_1
Shafiyah mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan, sambil memperhatikan Wafi.” Boleh dibuka?” tanya Shafiyah, sambil menarik ujung niqob nya, dia merasa gerah.
Wafi mengangkat kepalanya dan menatap Shafiyah sejenak. ”Iya boleh, tapi hati-hati, wajahmu milik suamimu,” kata pria itu dan sontak saja membuat istrinya tersenyum bahagia.
Wafi mengangkat kepalanya lagi, dan memperhatikan wajah istrinya yang berseri-seri. Shafiyah menikmati minumannya dan terus menunduk.
Selang beberapa menit, Wafi memeriksa kue, ternyata sudah matang dan dia mengeluarkannya. Aroma wangi dari kue menyeruak, Shafiyah sudah tidak sabar tapi dia menunggu kue dihias dulu, sedikit ribet, tapi Wafi tak masalah menuruti keinginan istrinya. Wafi juga memberikan kesempatan Shafiyah untuk menghias kue, dia harus berdiri di belakang tubuh Shafiyah, memegang tangan mungil itu agar bisa bergerak perlahan-lahan.
Kue dengan bertuliskan Mumu Habibah, ditulis oleh Shafiyah, kenapa harus nama panggilan dia sengaja, dan suaminya kini cemberut.
”Foto dulu,” katanya begitu antusias dan Wafi diam, dia sedang meminum minumannya.
Shafiyah terus tersenyum dan mendekati suaminya, dia duduk serta bersandar di bahu suaminya. Wafi tersentak saat Shafiyah mengambil foto.
”Jangan di-posting,” ucapnya sewot, karena Shafiyah tidak memakai niqob nya dengan benar. Shafiyah membetulkan niqob nya lebih dulu, lalu mengambil foto kembali. Sekali, dua kali, tak ada habisnya. ”Udah yang, asstaghfirullah,” Wafi mulai kesal dan Shafiyah berhenti.
Shafiyah mencium pipi suaminya itu yang sedang kesal padanya.” Jangan marah,” pintanya. Bagaimana bisa Wafi kesal apalagi marah sekarang.
”Iya,” kata Wafi lembut.
”Kita cobain sekarang... Kuenya," Shafiyah terus tersenyum dan Wafi memangku kepalanya dengan tangan kiri, jemari tangan kanannya sibuk mencubit hidung dan pipi Shafiyah, padahal tangannya berminyak. Istrinya tidak marah, dan membiarkannya. Setelah kue di potong, diletakkan ke atas piring kecil, Shafiyah ragu untuk mencobanya.
”Ayo cobain,” titah Wafi.
”Takut...”
Wafi mengernyit heran. ”Loh, kenapa?”
”Takut gak enak,” rengek nya.
Wafi tersenyum dan meraih garpu, lalu dia mengucap basmallah. Shafiyah diam memperhatikan dan ekspresi wajah Wafi tidak menunjukkan kue buatannya enak.
”Tuh kan...” Shafiyah menunduk sedih. Wafi mencolek kue dan mengoleskannya ke pipi Shafiyah, di susul dengan kecupan mesra di pipi istrinya. Kedua mata Shafiyah membulat sempurna, dan dia menoleh ke arah suaminya saat bibir suaminya terlepas.
”Enak, ini kue paling enak yang pernah aku coba,” puji Wafi agar Shafiyah senang. Dan mau berusaha lebih keras lagi, jika mau.
”Bohong,” ucap Shafiyah menuduh.
”Beneran, kamu cobain sekarang.” Wafi meraih sendok, lalu menyuapi istrinya. Shafiyah diam, merasakan kue yang masuk ke mulutnya, tatapannya dan tatapan suaminya saling beradu.
”Emmm, ini gak seenak buatan abi,” protesnya dan tetap menelannya.
”Masa beda sih? Kan kita berdua yang bikin.”
”Bener,” Shafiyah menegaskan.
Wafi meraih tangan istrinya dan mengenggamnya.” Aku yakin, nanti kamu bakal bisa bikin kue lebih enak dari kue buatan aku, belajar terus kalau ada waktu.”
Shafiyah tersenyum lalu mengangguk. Wafi melirik ke arah pintu, dia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Shafiyah. Tapi Shafiyah menahan bibir suaminya itu.
”Sebentar,” pinta Wafi, bibirnya masih dihalangi jari telunjuk istrinya.
”Enggak, aku mau makan kue, lapar, anak-anak abi juga gak bisa diem,” katanya dan Wafi tersenyum. Wafi menunduk dan meletakkan pipinya di perut Shafiyah, tendangan dan bayinya menggeliat bisa dia rasakan.
”Masya Allah, sehat-sehat nak, beberapa Minggu lagi," imbuh Wafi, lalu menjauhkan pipinya.
Keduanya kini menikmati kue bersama, pegawai mereka juga dibagi, dan setelah itu, Wafi akan mengajak Shafiyah pulang.
*****
Sara berbaring lemah, dia membuang muka, dan tidak mau mendengarkan ocehan suaminya.
”Jujur, apa kamu sering sakit karena beban pikiran? Memikirkan anak kita dan menantu kita, jika begitu, mungkin dengan bertemu bisa mengobati kamu Sara,” tutur Herman dan Sara diam.
”Sara! Suami kamu ngomong dari tadi,” tegur Burhan dan Sara menoleh.
”Kalian bisa keluar? Aku butuh istirahat,” ucap Sara ketus. Herman menggeleng kepala dan menatapnya sinis, Sara mendelik dan kembali membuang muka.
”Herman, mending kita keluar, gak bakal bener kalau ngomong sama dia,” ajak Burhan dan Herman menurut.
Di luar kamar rawat, anak-anak Sara dan Herman berserta menantu sedang menunggu.
”Kita telepon Shafiyah?” ujar Adi.
”Ibu kamu gak mau,” jawab Herman.
”Ibu maunya apa sih?" Qais kesal, berusaha masuk tapi Fajar menahannya.
”Gak bakal bener kamu masuk dengan emosi begini,” tandas Fajar dan adiknya menjauh darinya.
”Ibu keras, di susah diajak bicara setelah Shafiyah pergi,” ujar Adi.
”Pergi? Wafi sama sekali gak bawa Shafiyah kabur, Shafiyah dan Wafi terus datang, tapi ibu kan yang nolak?” Fajar menimpali dan Adi mendengus.
__ADS_1
”Kalian kenapa jadi berantem begini? Biar kakek yang telepon Wafi, Shafiyah dan Wafi harus harus kalau Sara sakit. Kalau Sara menolak kehadiran mereka berdua, kakek yang bertanggung jawab,” lantang Burhan seraya merogoh sakunya untuk menelepon Wafi.