Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 82: Foto kenangan


__ADS_3

”Kalian mau bawa umi kemana?" Raihanah panik sendiri, baru pulang menghadiri acara majelis taklim, pulang-pulang langsung disuguhi perilaku anak-anaknya.


”Umi diem aja," kata Afsheen.


Raihanah diajak ke lantai dua dengan mata ditutup kain. Raihanah sampai takut jatuh. Di lantai dua, Shafiyah menatap foto pernikahan mertuanya yang sudah diperbaiki, atas persetujuan Raihanah sendiri.


”Umi siap, buat lihat foto umi sama Abi?” tanya Afsheen dan Raihanah tersenyum, lalu mengangguk. Bayyin tersenyum melihat uminya datang. Afsheen membuka kain penutup dari mata uminya dan Raihanah mengucek matanya perlahan.


Raihanah mendongak dan dia terdiam sejenak, melihat foto buram di makan usia kini sudah diperbaiki, dan terlihat seperti baru.


”Ini...”


Raihanah melangkah setelah ucapannya terhenti, dia melangkah lebih dekat, menatapi wajah suaminya di foto besar tersebut. Shafiyah diam, lalu menunduk, takut ibu mertuanya tidak suka dan kecewa.


”Abi ganteng banget ya,” puji Afsheen.


”Iya, debu nya beneran gak ada sekarang. Kita bisa lihat foto umi sama abi dengan jelas,” kata Bayyin dan Afsheen tersenyum.


Bayangan masa lalu, suka dan duka bersama Gus Fashan berputar seperti komedi putar. Raihanah meneteskan air matanya, susah payah dia berusaha membersihkan debu bandel di foto ataupun di kaca piguranya, tetap saja tidak berhasil. Dan sekarang, begitu bersih selesai dulu, saat pertama kali dipajang.


”Suaminya Raihanah Sufu Embrace, Gus Fashan Ali.” Raihanah menggerakan tangannya di kaca pigura foto tersebut, sambil terus tersenyum.” Kita punya menantu yang baik, semuanya baik, Wafi sebentar lagi memiliki anak. Cucu kita sayang, cucu pertama,” gumamnya seolah-olah berbicara langsung dengan suaminya.


”Umi,” lirih Shafiyah. Mertuanya itu berbalik badan dan menatapnya.” Fiyah cuma mau umi seneng, Fiyah gak tahu umi bakal sedih begini, maafin Fiyah. Fiyah gak ada maksud apa-apa, maaf...” Kata-kata terpotong saat Raihanah tiba-tiba memeluknya.


”Umi seneng, umi terharu, mangkanya umi nangis. Makasih, fotonya jadi bagus lagi sekarang. Umi bisa lihat foto pernikahan umi sama almarhum abi jelas sekarang, gak buram lagi.” Raihanah mengelus kepala Shafiyah dan Shafiyah membalas pelukannya. Afsheen dan Bayyin tersenyum lebar melihatnya." Bayyinah, Daniyyah." Raihanah menggerakan tangannya dan kedua putrinya mendekat. Wanita renta itu kini merangkul anak dan menantunya, sambil bersama-sama memandangi foto.


”Umi, abi Fashan sosok yang seperti apa?” tanya Shafiyah.


Raihanah tersenyum lebar dam membelai pucuk kepala menantunya.” Abi, ayah mertua kamu, sosok suami yang baik, tegas, luar biasa dan romantis," ujarnya menjelaskan.


”Kayaknya a Mumu ketularan abi Fashan,” kata Shafiyah begitu polosnya dan saudara iparnya menahan tawa, begitu juga dengan Raihanah.


”Mumu sedikit genit anaknya, umi bisa melihat kalau dia memang romantis, hal kecil saja selalu dia perhatikan, apalagi tentang kamu, Habibah nya,” ujar Raihanah dan Shafiyah tersipu malu.


...-*Dia sudah tiada, tapi nama dan kenangannya, begitu mewangi sepanjang masa.-...


...Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Tutup usia di umur 35 tahun, senja terakhir dia lewati berbantal pangkuan sang istri, Raihanah*....


******


Malam hari tiba. Ibu hamil sedang mondar-mandir menunggu suaminya, sudah jam 8 malam. Seharian, Wafi juga tidak ada menelepon. Shafiyah akhirnya memberanikan diri untuk menelepon lebih dulu, dia rindu dan juga cemas, takut ada sesuatu yang terjadi, tapi tidak mungkin. Jika iya, pasti Musa dan Salam tidak akan diam saja.


Panggilan tersambung...


” Assalamu'alaikum bi.”


” Wa'alaikumus Salaam,” jawab Wafi sambil tersenyum.


”Enggak ada ngabarin aku seharian, kemana aja? Atau lupa?" tanyanya sinis.


”Asstaghfirullah sayang, ketus amat ngomongnya. Kuota aku habis, mau keluar malas, pasarannya dicepetin, biar selesai hari ini. Terus besok cuma acara makan-makan sama halal bihalal. Aku gak pulang ya hari ini,” imbuhnya santai.


”Kenapa gak pinjam hapenya A Musa atau a Salam?" sewot Shafiyah.

__ADS_1


”Sibuk sayang, boro-boro main hape. Ini aku juga baru istirahat, kenapa? Anak-anak kita gak bisa diem, pasti kangen di elus sama abi nya ya hehe,” katanya sambil terkekeh-kekeh kecil.


”Oh ya udah,” kata Shafiyah. Mendengar jawaban dari istrinya singkat dan pelan, membuat Wafi khawatir.” Aku kira abi pulang.”


”Ayang mau aku pulang? Ya udah aku pulang ya sebentar, gak apa-apa? Kamu kenapa, kenapa suaranya begitu. Ada masalah?” mendadak khawatir. Dan Shafiyah diam." Kenapa sayang? cerita atuh."


”Enggak bi."


”Atau ada masalah waktu kamu ketemu kakak-kakak kamu tadi?"


”Enggak bi, aku malah senang, semuanya sudah merestui hubungan kita dan sekarang tinggal ibu,” jawab Shafiyah dan Wafi terdiam." Usaha dan doa kita gak sia-sia.”


"Sayang, coba cerita, kakak-kakak kamu ngomongnya gimana?" Masih tidak percaya, dan dia begitu penasaran.


”Iya, kakak-kakak Fiyah bilang, gak bakal ganggu kita, atau minta Fiyah buat jauhin a Wafi, khususnya mereka gak bakal menghina a Wafi lagi. Fiyah diajak belanja tadi, banyak banget, sama makanan juga,” ia menceritakan begitu penuh semangat.


”Bilang apa sayang?" kata Wafi lembut.


"Alhamdulillah hehe,” sahut Shafiyah sambil cengengesan. Wafi tergelak mendengar istrinya seperti itu.


”Alhamdulillah, semoga nanti ibu kamu juga memberikan restu buat kita. Restu itu penting sayang, jujur, aku bahagia."


”Apalagi aku a, ya aamiin, mudah-mudahan nanti ibu juga bisa menerima hubungan kita."


”Iya sayang, aku boleh pulang? tiba-tiba kangen sama kamu, pengen peluk.” Wafi merengek-rengek dan Shafiyah mengerucutkan bibirnya.


”Ini udah malam, takut begal."


”Begal juga manusia, pengen cium." Kalimat terakhirnya sangat pelan.


"Ya apalagi besok mah gak bisa neng, aku pulang sekarang. Diizinin gak?”


”Enggak, besok aja sekalian, malam juga gak apa-apa, kan terakhir. Fiyah juga kangen sama aa, cuma ya harus tahu waktu."


”Kita kan udah nikah, kenapa harus di atur waktunya, gimana sih kamu."


"Bukan itu ih! Kan ini udah malam, Fiyah takut aa kenapa-kenapa, begal juga manusia, ya tetep aja kita harus waspada. Gak semua manusia itu berprikemanusiaan." Shafiyah menjelaskan panjang lebar, berusaha membujuk suaminya yang keras kepala, di tempatnya. Wafi terus mendelik sebal." Abi, kenapa diem?"


"Hmmm enggak! Iya deh, enggak pulang. Isi kuota aku, mau Vc sebentar,” pintanya lalu mematikkan panggilan dan Shafiyah melotot kesal.


”Matiin sembarangan,” gerutu Shafiyah, lalu dia menuruti permintaan suaminya. Btw, Shafiyah memang lagi merintis usaha kecil-kecilan, jualan pulsa, kuota dan kerudung. Setelah selesai, Wafi membuat panggilan video call padanya. Shafiyah lekas mengangkat dan dia merebahkan tubuhnya perlahan, Wafi tersenyum seraya memperhatikan.


”Capek ya?” tanya pria itu dan Shafiyah mengangguk.


”Dingin bi."


”Udah aku bilang, aku pulang.”


”Mending gak usah," timpal Shafiyah cepat. Dan Wafi cemberut.


”Pengen lihat perutnya,” pinta Wafi dan Shafiyah menarik selimut sampai ke leher." Sayang."


”Enggak mau, nanti aku kirim video tadi siang, anak-anak kita gak bisa diem, lincah banget."

__ADS_1


Kedua mata Wafi membulat mendengarnya.” Mana,” tagih nya.


”Iya nanti, habis video call. Abi udah makan?"


”Udah sayang, umi udah belum?"


”Udah, buat yang kesekian kalinya.”


Wafi terkekeh pelan." Ya enggak apa-apa, kamu kan lagi hamil, mana kembar.” Wafi tersenyum dan Shafiyah memperhatikannya.


”Abi ini lagi dimana?”


”Hah! Apa? Suaranya gak jelas sayang.”


”Abi Utun lagi dimana?”


”Di saung, malu kalau di tempat yang tadi mah.”


”Oh, kok abi makin ganteng si?”


”Kamu baru sadar ya?"


”Haha enggak, aku khawatir aja kalau abi makin ganteng begitu."


”Apa nih ngomongnya begitu, ada masalah kan, aku tahu. Kamu gak bisa bohong Habibah,” tuturnya di susul suara gemeletuk gigi, karena gemas melihat Shafiyah yang sepertinya mengantuk, membuat matanya sesekali terpejam.


”Enggak ada bi,” jawab Shafiyah lirih.


”Ayang ngantuk? Mau bobo? Sok bobo, aa temenin.”


"Ngantuk banget."


”Sholat isya belum?”


”Udah, sholawatan bi, aku kangen,” pintanya dan membuat suaminya tersebut lebar. Baru saja mengucap basmallah, Wafi berhenti dan cengengesan melihat Shafiyah.


Shafiyah diam dan matanya benar-benar terpejam. Dia begitu lelah hari ini, dan enggan menceritakan kegelisahannya tengang permasalahan sepupunya.


”Masya Allah sayang, gemes banget si!” Wafi menggigit jari telunjuknya dan memperhatikan wajah damai Shafiyah yang sudah memasuki gerbang mimpi.” Sayang, bobo ya. Aku janji, besok langsung pulang kalau acara sudah selesai,” ujarnya lembut, dengan suara perlahan-lahan sambil terus memperhatikan wajah Shafiyah.


”Love you,” ucap Wafi dan menggigit bibir bawahnya kelu saat menatap bibir Shafiyah.” Assalamu'alaikum cantik,” ucapnya lagi, memilih mengakhiri panggilan, dan membiarkan istrinya tidur tanpa gangguan. Wafi semakin tidak tahan ingin pulang, tapi memang sudah larut malam dan ia tidak mau Shafiyah marah padanya, hanya karena dia memaksa pulang.


Setelah selesai, Wafi meninggalkan saung, untuk kembali bergabung dengan yang lainnya


*****


Pagi ini, Chairil disibukkan dengan segudang pekerjaan. Dia baru pulang dari pasar dan begitu antusias untuk melihat istri dan anaknya.


”Assalamu'alaikum neng, aku pulang,” ucapnya untuk yang kedua kali. Senyumannya yang sedari merekah perlahan memudar. Chairil masuk ke kamar dan tidak melihat keduanya. Dia keluar lagi dari kamar dan melangkah menuju dapur.” Khalisah!" suaranya meninggi.


Chairil merogoh sakunya dan mencoba menelepon Khalisah, tapi nomornya tidak aktif. Chairil semakin panik saat melihat pakaian Shafiyah dan anaknya berkurang setengah. Istrinya pergi, membawa anaknya.


”Astaghfirullah Khalisah," lirih Chairil. Tubuh tingginya ambruk ke atas tempat tidur. Kenapa bisa Khalisah nekad pergi, bukannya semalam sudah baik-baik saja, bahkan Khalisah melayaninya seperti biasa sebagai seorang istri, lalu kenapa dia pergi?.

__ADS_1


Menerima maaf memang mudah, tapi rasa khawatir, kecewa dan luka atas pengkhianatan akan susah diobati.


__ADS_2