Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 72: Matjar buka


__ADS_3

Setelah sholat, Wafi dan Shafiyah bertemu. Fajar pergi untuk melihat ibunya, saat Wafi hendak menemui Sara. Shafiyah menahan, dia tidak mau suaminya dimaki-maki, itu mungkin terjadi karena ibunya dalam keadaan tidak baik-baik saja, apalagi setelah marah padanya.


”Aku capek a, mau pulang.” Pinta Shafiyah dan Wafi meraih tangannya, mengajak Shafiyah pergi dari depan musholla.


”Oh iya, kamu juga gak tidur siang hari ini yang. Tapi beneran, tadi gak ada apa-apa?" mengiyakan, tapi masih bingung kenapa Shafiyah tidak mengajaknya lagi menemui keluarganya, terutama Sara yang sedang sakit.


”Emmm iya." Shafiyah terdengar ragu.


Wafi menatapnya lekat dan gadis itu menunduk.” Aku gak suka ya kalau kamu bohong."


”Enggak, aku gak bohong, ayo. Kita pulang ya!" Shafiyah memaksa, merangkul lengan suaminya erat dan Wafi membuang nafas kasar." Di rumah juga ada Ning Bayyin sama Ning Niyyah, kita cari makanan dulu sebelum pulang," sambungnya.


”Ya udah kita pulang." Wafi akhirnya terbujuk, dia usap lembut perut istrinya itu, dia sangat ingin menciumnya tapi tidak mungkin, di tengah-tengah keramaian. Shafiyah tersenyum dan keduanya pergi berpamitan kepada keluarganya Khalisah.


Setelah pamit, keduanya keluar meninggalkan rumah sakit. Wafi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, sesekali melirik Shafiyah yang terlihat berkirim pesan dengan seseorang, entah siapa, dan Wafi tidak suka.


”Yang, kamu chat'an sama siapa si? jangan meladeni para pria hidung belang yang chat kamu ya, aku gak suka!" tandasnya.


Shafiyah terkejut mendengar tuduhan suaminya, lalu dia terkekeh geli melihat suaminya cemburu." Ya ampun a, aku chat'an sama ayah. Nih lihat, kamu kira aku selingkuh sama ayah. Gak mungkin juga aku chat'an sama cowok lain. Ada-ada aja," ucapnya sedikit mengejek lalu menggeleng geleng kepala.


”Ya habis nya serius, ada apa sama ayah?"


”Besok aku mau ketemu sama ayah, kata ayah besok ke rumah. Pagi nya anterin aku ke pasar ya bi, belanja.”


”Biar aku yang belanja, kamu diem aja di rumah, hari Minggu pasar pasti rame yang, aku takut kamu kenapa-napa."


"Iya ya, aku kan lembek, gampang jatuh kalau kesenggol juga." Sahutnya sambil memasukkan hape ke tas.


"Tapi dadanya enggak si!” celetuk Wafi enteng.


”Heh!!!” jerit Shafiyah dan langsung memukuli bahu suaminya.


”Aaaghh! beneran sakit yang, Auw!” Wafi menjerit-jerit dan Shafiyah terus menderanya.


”Rasain!" ketus gadis itu seraya mendelik.


”Mesum sama istri sendiri ya gak apa-apa kali yang, hayu ah malam ini gas ngeng!" ucapnya penuh semangat dan gairah.


”Capek bi, asstaghfirullah!" keluh Shafiyah dan Wafi menekan tengkuk istrinya sekilas, Shafiyah menjerit kegelian.


”Aku udah cuti berapa Minggu? tega kamu!" tuturnya kesal, lalu cemberut. Shafiyah mencebik, dan kedua matanya membulat.


”Malam Jum'at kemarin itu apa? hah! abinya Utun emang suka gak jelas, gak ada puasnya," tuturnya tanpa ragu dan Wafi tertawa renyah.


”Itu malam Jum'at, sekarang kan malam Minggu. Jangan nyiksa yang,” katanya merengek-rengek.


”Capek a, beneran!"


”Aku aja yang main, kamu diem. Cuma aku kayak lagi main sama patung kalau kamu diem terus," tuturnya sambil tersenyum dan mendapatkan pukulan manja dari Shafiyah di dada.


”Dih, geli dengernya! emang pernah?”


"Umpamanya." Sahutnya lembut." Mau ya?"


Shafiyah diam.


”Yang, gak usah lama-lama deh pemanasan nya. Hayu atuh yang, lagi pengen euy!"


Shafiyah diam lagi.


”Sayang!!!!!” Wafi kesal." Jangan cuek begitu, kesel lihatnya."


”Iya, iya gimana nanti aja. Kalau aku gak ngantuk." Shafiyah memberikan janji yang tidak pasti.


”Pakai baju yang itu tea nya?" Wafi tersenyum simpul, lalu menjawel dagu istrinya itu.


”Yang mana?" Shafiyah bingung.


”Yang merah!" tawarnya.


”Yang item aja."


”Iya aku juga suka yang item, tapi yang merah lebih lebih gitu yang."


”Lebih apa si? modelnya kan sama."


”Lebih hot, lebih panas, bayengyang, tahu gak kamu bayengyang?"


"Hareudang haha🤣!” Shafiyah tertawa begitu lepas dan Wafi terkekeh-kekeh.


Bayengyang-hareudang:panas.


Keduanya terus terkekeh bersama, suasana yang sering Shafiyah dapatkan, suaminya adalah sosok yang santai, sekalipun tidak punya uang banyak, suaminya tidak pernah mengeluh, dan percaya jika semuanya sudah diatur, dan dia hanya cukup berdoa, ikhtiar, beribadah dan pasrah.


Mobil terus melaju, dan akhirnya sampai. Shafiyah turun duluan, masuk ke dalam rumah dan Wafi memasukkan mobil ke garasi terlebih dahulu. Di dalam rumah, Shafiyah langsung berkumpul dengan yang lain, dia dan Wafi sempat membeli martabak dan molen pisang.


”Gimana Khalisah?" tanya Raihanah.


”Khalisah sama bayinya sehat umi, bayinya cantik banget.” Puji Shafiyah sambil tersenyum dibalik cadarnya.


"Alhamdulillah, perempuan!” seru Bayyin.

__ADS_1


”Besok aku mau ke RS deh, mau lihat,” kata Afsheen. Dia nampak murung saat ini, tapi tidak memberitahu kepada siapapun apa yang membuatnya seperti itu.


”Alhamdulillah, kalau umi mah nanti aja lihatnya, kalau pulang," ucap Raihanah dan Shafiyah mengangguk-anggukkan kepalanya.


Wafi masuk, mengucapkan salam dan semuanya menjawab. Shafiyah dan Wafi pun pergi ke lantai dua, untuk berganti pakaian. Wafi belum sempat mandi, begitu juga dengan istrinya, keduanya mandi bersama di kamar mandi yang bukan di kamar, karena kamar mandi yang dikamar sempit.


...✍️✍️...


Esok harinya, Shafiyah bangun setelah suaminya bangun. Dia langsung mandi, membersihkan diri dari keringat semalam. Setelah sholat subuh, Wafi pergi ke pasar, mengendarai motor dan Musa ikut dengannya.


Di rumah, Shafiyah sudah menyiapkan beras, cukup banyak karena banyak orang di rumah. Afsheen yang baru selesai sholat mendekatinya, tidak memakai kerudung dan masih memakai piyamanya.


”Kamu udah sibuk banget jam segini, biar aku yang masak,” kata Afsheen dan Shafiyah tersenyum.


"Enggak teh, biar Fiyah aja. Masak banyak kan banyak orang, harus dari sekarang juga, umi gak bisa telat makan, a Wafi juga. Emmm, ayah Fiyah juga nanti mau kesini,” tuturnya menjelaskan.


”Oh gitu, yah kalau tahu gitu mah, aku ke pasar. Aku ke pasar deh."


"Ih jangan, a Wafi sama a Musa lagi ke pasar ke sekarang," ucap Shafiyah dan Afsheen mengangguk.


"Ya udah, aku bikin teh hangat buat semuanya." Afsheen meraih panci untuk memasak air dan Shafiyah berjalan ke arah wastafel, mencuci beras. Dia tidak pandai memasak, kadang Raihanah dan Wafi yang membantunya, dia juga tidak dituntut untuk jago, tapi setidaknya dia harus berusaha.


Sepasang mata milik Afsheen terus memperhatikan gadis itu. Dia kagum kepada Shafiyah yang mau menerima kakaknya, padahal dari rupa, perilaku, pendidikan dan asal usul keluarga, gadis itu bisa mendapatkan pria kaya, yang bisa menjamin segalanya.


”Fiyah, kamu pernah ada niatan buat ninggalin a Wafi?" tanya Afsheen tiba-tiba dan membuat Shafiyah menoleh, langsung dan tanpa ragu, Shafiyah membantah dengan gelengan kepala.


”Enggak pernah teh, gimana bisa seorang istri meninggalkan suami seperti a wafi.”


”Tapi....”


Shafiyah berbalik badan dan menatap Afsheen lekat." Iya hehe, suami Fiyah banyak 'tapi' nya. Tapi juga banyak keistimewaannya.” Timpal gadis itu menyela dan Afsheen tersenyum lebar.


”Terima kasih Shafiyah," seru Afsheen serak." Aku sama teh Bayyin beruntung punya ipar seperti kamu, khususnya aa Wafi kami, jangan pernah ada niatan begitu ya, janji sama aku, bukan cuma sekarang, tapi juga di masa depan."


Shafiyah tersenyum tipis mendengarnya." In sha Allah, do'ain aja, semoga Fiyah yang memiliki hati yang tidak pasti ini selalu memilih a Wafi, Fiyah juga maunya terus begitu.”


”Aamiin," ucap Afsheen dan mendekati Shafiyah. Keduanya berpelukan erat dan Bayyin yang baru datang hanya tersenyum memperhatikan.


Pukul 05:30, Wafi dan Musa pulang. Para perempuan langsung memasak bersama, sambil bergurau ria. Wafi dan kedua saudara iparnya naik ke lantai dua, pergi ke balkon, menikmati teh hangat dan rokok. Wafi merokok, walaupun dia yakin Shafiyah akan memarahinya. Tapi dia tidak tahan, melihat Salam dan Musa.


”Niyyah di KB?” tanya Musa dan Salam menggeleng kepala.


Wafi diam, dan menatap lurus ke depan, merasakan angin juga yang menerpa wajahnya lembut. Pagi ini cuaca begitu dingin, dia masih memakai jaket berwarna hitam nya itu, dan memakai peci. Bisa di bayangkan, ketiga pria itu sedang duduk, bercakap-cakap bersama, dengan visual keunggulan dan ciri khas masing-masing. Memang tidak diragukan lagi, visual anak dan para menantu Raihanah.


”Ada pasaran bulan depan, Gus mau ikut?" tanya Musa.


”Berapa hari?" tanyanya.


”Dimana?" singkat Wafi lalu meraih segelas teh hangatnya.


”Gak jauh dari kawasan Saguling, aku lupa nama kampungnya apa, pokoknya katanya gak jauh dari situ,” ucap Musa lalu melepas pecinya, dia letakkan di pangkuan.


"Emang yang kerja bisa?" tanya Salam.


”Bisa, ikut yang malam nya,” ucap Musa dan Salam mengangguk-anggukkan kepala.


”Nanti aku ajak beberapa santri dari sini,” tutur Wafi langsung setuju dan Musa tersenyum.


Ketiganya diam, sampai akhirnya Shafiyah datang, memanggil ketiganya untuk sarapan. Shafiyah terlihat mendelik, dan Wafi melihatnya sekilas, Shafiyah melihat Wafi merokok, dia melihatnya walaupun pria itu berusaha menyembunyikannya.


”Awas aja kalau mau cium cium, males!" gumam Shafiyah.” Makanan udah siap, disuruh ke bawah sama umi," ujarnya memerintah dan ketiga pria itu mengangguk. Wafi sambil tersenyum simpul, dan menjatuhkan rokok dari jemarinya, dia terus menatap istrinya yang menatapnya kesal. Shafiyah turun, dan ketiga pria itu tidak lama menyusul.


Semuanya sarapan bersama, di atas tikar, Shafiyah terus memegang perutnya, bayinya terus menggeliat di dalam sana. Aktif dan membuatnya merasa kaget serta ngilu bercampur geli.


”Neng, kenapa?" tanya Wafi dan Shafiyah menggeleng kepala.” Duduk disini,” katanya sambil menepuk ruang di sebelahnya, dan Shafiyah menggeleng kepala lagi dan lagi.


”Yah marah, yaaah!!" gumam Wafi frustrasi.


”Kenapa? Mumu nakal?" tanya Raihanah dan semuanya menahan tawa.


"Umi, jangan bicara seolah-oleh aku anak kecil." Wafi protes dan Raihanah tidak acuh padanya.


”Enggak, Fiyah mau duduk deket umi aja,” ucap gadis itu seraya bergeser, menjauh dari Wafi.


”Dih! awas kamu ya neng.” Ketus Wafi dalam batinnya.


Sepanjang sarapan, Wafi dan Shafiyah tidak banyak berkata-kata, sampai akhirnya kedatangan Herman membuat semuanya senang.


”Makan pak,” ucap Afsheen menawari.


”Mumpung lagi kumpul, makan bareng aja,” ujar Raihanah.


”Iya Bu nyai,” kata Herman lalu duduk di antara Shafiyah dan Wafi.


Wafi mengambilkan piring, menyodorkannya kepada Shafiyah dan Shafiyah merebutnya kasar.


”Ya ampun sayang." Gumam Wafi.


”Berani nya ingkar janji!” gumam Shafiyah emosi.


Herman diam, dan memperhatikan keduanya bergantian, sorot mata Wafi yang terlihat takut, dan sorot mata anaknya yang nampak bengis. Entah apa yang terjadi, hal tersebut membuat Herman khawatir.

__ADS_1


”Jangan malu-malu pak, silakan," imbuh Bayyin.


”Hehe iya neng,” kata Herman dan memperhatikan Shafiyah yang menyiapkan satu piring untuknya. Herman datang pagi-pagi karena siangnya dia ada acara di luar kota, dia yang biasanya membawa hadiah, kali ini hanya datang membawa makanan ringan, dia tidak tahu jika di rumah tersebut sedang banyak orang, jika begitu, mungkin dia membeli sesuatu di jalan tadi, yang lebih baik.


Setelah makan, Shafiyah mengajak ayahnya ke lantai dua, Raihanah diantar Wafi ke kampung tetangga untuk menghadiri acara majelis taklim, dan pulang pun nanti akan dia jemput. Shafiyah dan Herman duduk di sofa yang sama, berhadapan, Herman mengelus wajah cantik putrinya itu penuh kasih sayang.


”Kamu hamil bayi kembar, ayah masih gak nyangka, ayah seneng banget.” Herman sangat antusias, untuk melihat cucu-cucunya nanti.


”Hehe iya Alhamdulillah,” lirih Shafiyah lalu meraih tangan ayahnya, mengenggamnya erat." Apa Fiyah boleh ngomong sekarang?”


"Iya, ayah juga penasaran, sebenarnya apa yang mau kamu omongin sama ayah,"imbuhnya lembut.


”Apa benar, ayah sama ibu mau cerai?” tanya Shafiyah berat. Raut wajah Herman langsung berubah, yang awalnya begitu berseri-seri sekarang terlihat murung.


”Dari mana kamu tahu?” tanyanya pelan.


”Dari kakak pastinya, ayah sama ibu kenapa si? apa karena Fiyah sama a Wafi? kenapa mau pisah?” ujarnya sambil menangis, saat melihat ayahnya datang saja, Shafiyah sudah tidak tahan, bagaimana bisa dia hidup dengan orang tua yang berpisah, didasari oleh perbedaan pendapat karena hubungannya dengan Gus Mu.


”Ibu kamu yang mau neng."


”Terus ayah juga mau?”


”Ya enggak, mana bisa ayah jauh sama ibu kamu, bagaimana pun ibu kamu, ibu kamu yang udah nemenin ayah.”


”Terus kenapa? harusnya ayah bilang sama ibu kalau ayah gak mau.”


”Ibu kamu maksa, ayah gak bisa apa-apa."


”Berarti itu sama aja ayah mau, ayah mau cari yang muda? atau apa?” tuduhnya emosi, lalu mengusap air matanya sendiri. Melihat anaknya menangis, Herman tidak tahan, menyentuh bahu Shafiyah tapi langsung di tolak anaknya itu." Ayah sama ibu kenapa begini hiks! anak-anak ibu sama ayah emang udah pada dewasa, udah pada menikah, tapi kenapa kalian mau memutuskan pernikahan? apalagi penyebabnya aku sama suami aku, apa ayah kira aku bakal tenang, sama sekali enggak!” sambungnya dengan suara serak dan terus menangis hebat.


Herman menunduk, mengelus punggung putrinya lembut.” Ayah udah gak kuat!"


"Sama! Fiyah juga capek! tapi, bukannya dunia itu tempat kepayahan ayah. Mau mencari pasangan luar biasa dan sempurna mana bisa, syukuri yang sudah ada ayah, ibu emang begitu, tapi bukan berarti itu dijadikan alasan buat ayah sama ibu pisah. Perceraian memang gak diharamkan, tapi perbuatan ini sangat dibenci Allah yah, apa ada jaminan setelah ayah sama ibu pisah, ayah bahagia, terus ibu juga? gak ada, gak akan bisa.”


”Kenapa harus perceraian yang kalian pilih, tindakan orang tua pasti suatu saat akan menjadi sebuah tindakan yang diambil anaknya, ayah mau anak-anak ayah begitu?”


”Ya jangan,,, ayah gak mau.” Suara Herman serak.


”Tolong ayah pikirkan lagi, ibu sakit, apa salahnya ayah jenguk, walaupun ayah yang terus mengalah jika itu yang menjadi ladang kebaikan apa salahnya yah, kalau sama-sama keras gak bakal bisa, yang ada nyesel di kemudian hari. Jenguk ibu, bicara baik-baik, kalau ibu kasar biarin aja, ayah harus buktiin sama ibu, kalau ayah yang terbaik dan gak mungkin bisa ibu jauh dari ayah,” ujarnya memberikan saran dan Herman terdiam, begitu dewasa pemikiran putrinya itu, berani menegur walaupun kepada orang tua, karena untuk kebaikan bersama. Bangga dan haru yang dia rasa, mendengar semua ungkapan dan protes Shafiyah saat ini.


”Sini ayah peluk,” kata terakhir Herman, seraya bergeser, merengkuh tubuh anaknya dan Shafiyah menerimanya. Herman berkaca-kaca dan Shafiyah terus menangis terisak-isak pelan. Shafiyah tidak mau orang tuanya berpisah, jika itu terjadi, entah bagaimana semua kakaknya akan menyalahkan dia dan Gus Mu.


...--------...


...✍️...


Hari ini, Matjar habibi dan habibah dibuka. Sayang, Shafiyah tidak bisa datang pagi-pagi, dia kuliah soalnya. Toko baru dikunjungi lima pengunjung, tapi sekolah negeri tidak jauh dari toko tersebut sudah sangat penasaran dengan minuman yang di jual disana. Apalagi pemilik toko tersebut ganteng, termasuk karyawannya. Para gadis remaja yang haus dengan visual, Shafiyah harus ekstra sabar jika banyak tatapan para gadis memuja suaminya.


Wafi sedang duduk, dia mengirimkan pesan kepada Shafiyah, tapi hanya di baca, tidak dibalas, perkara merokok kemarin, kemarin sampai pagi ini gadis itu terus cemberut kepada suaminya.


Abi sayang💞💞💞



Wafi mengirimkan stiker.



kirim lagi



Lagi lagi....


Tapi Shafiyah hanya melihatnya, Wafi membuang nafas panjang. Merasa kesal dan bingung.


”*Bales neng!!!!” terkirim.


”Apa si??” balasan masuk.


”Gara-gara rokok? kok aa gak di cium dari kemarin, nangis nih!"


"Dih! geli manjanya begitu!"


”Kayak yang enggak 🥴."


”Enggak aku mah😎."


”Sayang, emot kebanggaan aku itu."


”Ya biarin, bebas!"


”😘.”


”😠."


”Halaaaah! aku siksa kamu nanti kalau ketemu.”


”Bodo amat!”


”Jangan marah-marah terus ih! para Utun kasihan*."

__ADS_1


”Hahahha!" Shafiyah sampai tertawa renyah membacanya.


__ADS_2