Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 65: Flashback


__ADS_3

Flashback on:


Sebagai seorang kakek pertama kali, saat Berhan ke Indonesia, dia selalu menyempatkan waktu membawa cucu pertamanya jalan-jalan. Wafi Muzammil, dibawa kemanapun, dan terkadang Raihanah juga ikut. Wafi kecil berumur 3 tahun itu kini sedang digendong seorang wanita, diajak bermain dan bercanda sampai tangisannya reda.


”Fajar, ajak main Mumu,” ucapnya kepada sang anak yang terus mendelik melihat ibunya menggendong anak orang lain.


”Enggak!” tolak Fajar.


”Fajar!” suara Sara meninggi dan Fajar akhirnya hanya bisa menurut. Fajar kecil dan Wafi kecil bermain bersama, saling bertukar mainan dan Fajar yang ringan tangan memukul lengan Wafi tanpa sebab. Wafi membalas dengan menggigit jemari Fajar.


”Aaaaaa! ibu sakit!” teriak Fajar, dan dia hampir menangis. Sara panik, meletakkan hape yang awalnya dia mainkan tadi, lalu memeriksa jemari anaknya. Sara melirik Wafi, Wafi tersenyum memamerkan giginya yang belum tumbuh sempurna dan semuanya itu. Sara langsung mencubit pipi balita tersebut kuat, tangisan Wafi menjadi-jadi. Kejadian tersebut dilihat oleh sekertaris Berhan, Berhan yang baru datang dengan Herman langsung meradang mendengar cucunya disakiti.


”Sayang, jangan nangis. Ini kakek,” ucap Berhan sambil merengkuh dan mengangkat tubuh mungil cucunya.” Apa-apaan ini Bu Sara?” tegas Berhan.


”Sara, kamu ngapain.” Herman berbisik di telinga Sara dan Sara menunduk.


”Jari saya di gigit,” ucap Fajar dan Berhan meliriknya.


”Hanya masalah anak-anak, orang tua tidak perlu ikut campur, hanya perlu menegur dan mengingatkan, kamu mencubit cucu saya sampai pipinya merah begini, ini penganiyaan,” tutur Berhan dengan menatap tajam mereka di hadapannya.


”Pak Berhan saya minta maaf, istri saya gak sengaja pak." Herman berusaha membujuk, tapi Berhan sama sekali tidak melihat ada niatan meminta maaf. Istri Herman itu memang terkenal karena keangkuhannya.” Sara, minta maaf Sara." Titah Herman Sara diam.


”Anak itu menggigit jari anak kita, dia yang duluan,” balas Sara.


”Cucu pak Berhan masih kecil, jauh dengan Fajar umurnya, belum ngerti. Cepetan minta maaf.” Herman mulai kesal dan mencekal sikut istrinya itu namun Sara tetap tidak mau.


”Cih!" Berhan berdesis. Akhirnya dia melangkah pergi untuk segera meninggalkan kantor Herman yang seadanya itu, dan Herman mengejarnya.


”Pak, saya minta maaf, maafin istri saya."


”Saya salah karena sudah datang kesini."


”Tolong pak, jangan batalkan kerja sama perusahaan kita. Saya sangat butuh kerja sama ini."


”Hanya untuk suntikan dana, saya paham itu pak Herman. Silahkan cari perusahaan lain. Saya membatalkan semuanya, karena saya juga belum menandatangani apapun,” tutur Berhan tanpa mau menatap Herman. Herman hanya bisa pasrah, dan perusahaanya diambang kebangkrutan. Berhan pergi begitu saja, membawa Wafi dan di mobil dia membuatkan susu untuk cucunya itu, sampai Wafi terlelap di pangkuannya.


Herman memarahi Sara habis-habisan, keduanya bahkan sempat bercerai setelah kejadian tersebut tapi rujuk kembali karena masa depan anak-anak mereka. Beberapa tahun kemudian, perusahaan Herman mulai bangkit, tapi dengan cara yang tidak baik yaitu dengan mencuri data-data perusahaan Berhan di kantor pusat, Kanada dengan menyuap beberapa karyawan. Berhan meradang, dia yang sudah tua tidak mungkin bisa bolak-balik ke tanah air. Sampai Noah yang mengurus segalanya. Dan berhasil membawa kasus tersebut ke pengadilan. Herman dipenjara selama dua tahun, dan Sara sangat benci dengan keluarga Berhan. Tahun ke tahun berganti, masalah pun mulai lenyap. Herman dan Sara melupakannya, dan beberapa bertemu dengan Noah hanya untuk memancing emosi Noah, Noah tidak mudah dipancing. Sampai mereka lelah sendiri, di Cv Ta'aruf milik Wafi. Sara dan Herman sama sekali tidak memperhatikan nama Raihanah Sufu Embrace. Anak perempuan Berhan yang memang tidak banyak diketahui orang.

__ADS_1


Flashback off:


_______________


Noah akan sempat melarang Wafi untuk memutuskan niatnya meminang Shafiyah, tapi Wafi tidak bisa dia libatkan dengan masalah di masa lalu. Dan Noah sangat senang, anak perempuan satu-satunya, anak emas Herman dan Sara berhasil didapatkan keponakannya. Sara yang pernah mengatakan tidak akan mau menjalin hubungan apapun lagi, kini malu jika bertemu dengan Noah, karena putrinya menikah dengan Wafi. Tapi sayang, Sara telat mengetahui bahwa Wafi adalah anak dari anak Berhan, dan cuci dari Berhan setelah Wafi dan Shafiyah menikah.


Wanita itu kini terus menatap data diri Wafi, dia pulang setelah meeting. Matanya terus menatap nama Raihanah.


”Kenapa aku bisa enggak sadar nama ibu dari pria sialan itu. Kakeknya sudah membuat kehidupan susah. Membuat mas Herman di penjara, aku dan anak-anak terlunta-lunta. Dan sekarang anak perempuan ku satu-satunya, bersama cucu pria sombong itu. Kenapa begini!!!" jerit Sara sambil membuang kertas tersebut dan menginjaknya.


”Kalian sudah mencuri rahasia perusahaan, ini penipuan, ilegal. Sejauh apapun kalian lari dari saya, kita akan tetap berhubungan, dan kalian akan terus merasa bersalah atas semua yang kalian lakukan.”


Kata-kata Berhan terus terngiang-ngiang di telinga wanita itu, Sara melangkah pergi dan Herman yang baru pulang meraih kertas tersebut. Membacanya, dan Sara melingkari nama Raihanah dengan spidol berwajah hijau. Kedua mata Herman membulat, dia sudah mulai curiga setelah melihat Noah dan melihat foto Wafi saat kecil di dinding rumah Wafi.


******


Di tempat lain, di rumah Wafi. Shafiyah baru pulang kuliah, lebih cepat dari biasanya dan dia terkejut melihat suaminya sedang terlelap di sofa, wajahnya begitu nampak lelah walaupun dia melihatnya dari kejauhan.


”Kenapa aa udah pulang ya? kenapa gak jemput aku kalau pulang cepet?” Gumam gadis itu penuh tanda tanya. Lalu dia melangkah perlahan dan berjongkok di sebelah sofa tempat pembaringan suaminya itu. Bibirnya tersenyum tipis, melihat wajah tampan suaminya. Lalu tangannya bergerak mengusap dan mengelus rambut hitam itu. Wafi membuka matanya, menangkap pergelangan tangan istrinya dan Shafiyah kaget.


”Pulang naik apa? aku pulang Dzuhur, maaf gak jemput kamu. Aku capek banget soalnya,” imbuhnya serak dan Shafiyah mengangguk.


”Kenapa kayak sedih gitu?” tanya Shafiyah dan Wafi tersenyum.


”Enggak, makan dulu, istirahat dulu. Nanti aku mau cerita,” ucap Wafi dan Shafiyah tidak mau beranjak dari pangkuan suaminya itu, sebelum suaminya berbicara dan menjelaskan.


”Apa? ada apa?”


”Nurut ya.” Wafi meminta dengan suara serak.


”Kamu bikin salah ya sama aku? kamu mau nikah lagi bi? kamu selingkuh, kamu suka sama cewek lain hah? kurang aku apa? aku berusaha keras supaya jadi istri yang baik, kenapa kamu gitu sama aku?” ucap Shafiyah dan air matanya berjatuhan. Wafi menggeleng kepala dan menangkup kedua pipi istrinya lembut, tapi Shafiyah hendak menepisnya, lalu dengan cepat Wafi memeluk istrinya itu erat. Dagunya menancap di bau istrinya itu.


Wafi menutup matanya dan Shafiyah membalas pelukan suaminya itu.” Abi mau nikah lagi? Fiyah salah apa?”


”Poligami bukan berarti karena istri sebelumnya banyak salah sayang, dan aku sama sekali gak ada niatan untuk begitu. Mungkin ini lebih buruk, dan tolong, aku minta sama kamu sebelum aku jelasin semuanya. Jangan tinggalin aku, jangan jauh-jauh dari aku karena masalah ini, masalah yang akan aku utarakan,” tutur Wafi serak dan Shafiyah kebingungan.


”Apa itu bi?”

__ADS_1


”Aku stres sayang, aku capek, aku lelah, aku gak bisa lagi bertahan di sana, di tempat yang bukan aku inginkan, aku membatin selama ini.” Keluh kesahnya pun dia ucapkan, kepada sang istri dan berharap mendapatkan dukungan. Shafiyah diam dan mengeratkan pelukannya. Wafi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya sebagaimana dia menariknya, nafasnya naik turun tidak beraturan. Takut, Shafiyah tidak menerima keputusannya.” Aku berhenti kerja." Sambungnya singkat dan pelukan Shafiyah mengendur. Tapi Wafi mengeratkan pelukannya.


”Sejak kapan?” tanya Shafiyah.


”Hari ini,” ucap Wafi dan Shafiyah melepaskan pelukannya.


”Kenapa gak tanya dulu sama aku? kenapa gak ngasih tahu aku, kenapa mengambil keputusan besar tanpa berunding dengan istri terlebih dahulu?” tutur Shafiyah dan membuat pelukan Wafi terlepas.


”Sayang,” ucap pria itu dan Shafiyah buru-buru bangkit.” Kita bisa mendapatkan rezeki dengan cara lain, dengan cara yang membuat aku juga nyaman.” Wafi berusaha meyakinkan Shafiyah tapi gadis itu tidak paham dengan jalan pikirannya.


”Tapi kenapa harus sekarang? aku lagi hamil, kehamilan aku masih muda, aku udah stres dengan semua masalah kita, bukan kamu doang yang menanggung beban tapi aku juga, aku menikah sama kamu dengan konsekuensi yang sangat besar. Kenapa harus saat ini? kita mau makan apa, anak kita? aku kamu, umi dan semua kebutuhan. Apa aku harus bekerja? memikirkan semua beban rumah tangga yang bukan kewajiban aku untuk memikirkan semua itu?” tutur Shafiyah dengan nada pelan, tapi kata-katanya begitu nusuk dada suaminya sampai ke ulu hati, Wafi begitu sakit mendengar ucapan istrinya.


”Apa kamu gak percaya dengan rezeki dari Allah sayang?”


”Aku percaya, manusia memang hanya cukup berdoa dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Tapi jika sudah diberikan yang terbaik, lalu dibuang, itu namanya tidak bersyukur bi. Apa kamu gak mikirin ini? kamu mau cari kerja di mana?" Shafiyah mulai lelah dan kepalanya berdenyut lagi sekarang.


”Kamu gak dukung aku?” suara Wafi begitu serak.


”Iya, enggak! realistis sedikit, kamu gak bisa melangkah lebih jauh, dengan masa lalu kamu bi, aku sama sekali gak ada maksud untuk menghina. Tapi kita harus sadar diri.” Shafiyah berusaha memberikan pemahaman, tapi waktu dan suasana hati yang sama-sama tidak baik sekarang, dan bisa saja membuat hubungan memburuk.


”Kamu sadar gak sih ngomong begitu sama aku?" tanyanya dengan memupuk air mata. Dia tak sanggup menahannya.


”Aku sadar bi, tolong jangan gegabah kalau mengambil keputusan!" tegas Shafiyah. Lalu membuang nafas kasar, memperlihatkan perlawanan atas tindakan suaminya.


”Kamu kira aku mengambil keputusan ini sembarangan? tanpa berpikir dulu, sama sekali enggak Habibah!” Suara Wafi meninggi. Raihanah sampai kaget dan menjatuhkan gelas dari tangannya. Shafiyah tersentak dan mundur menjauh.” Terus hina aku, hina aku sepuasnya, bukannya kamu sama saja dengan keluarga kamu, merendahkan aku terus-menerus, ayo lagi, kamu mau bilang apalagi tentang mantan napi ini, ayo!” Wafi setengah berteriak dan Shafiyah menunduk sambil terus menangis.


”Aku akan bertanggungjawab Shafiyah, karena itu kewajiban aku, tapi aku udah gak kuat di sana. Kamu gak tahu aku diperlakukan seperti apa di sana, ibu kamu bahkan......” Wafi berhenti dan Shafiyah mengangkat kepalanya, menatap pria itu yang langsung membuang muka. Tidak mau menatapnya.” Aku capek, nafkah urusan aku, kamu hanya perlu berdoa dan jangan menambah beban pikiran aku dengan caci maki.”


”Bukan begitu maksud Fiyah a." Shafiyah melangkah mendekat, Wafi sudah bangkit. Shafiyah meraih tangan suaminya dan Wgi menepisnya kasar.” A Wafi,” ucap Shafiyah serak.


Wafi mengangkat tangannya, meminta Shafiyah untuk berhenti berbicara.” Jangan sampai aku kelepasan, kamu akan membenci aku jika melihat aku lepas kendali, kamu akan takut. Kamu juga mungkin ninggalin aku,” tuturnya serak dan saling menatap lekat dengan suaminya itu.


”Bi..” Shafiyah berucap lalu melilit pinggang suaminya dengan kedua tangannya. Wafi menekan tengkuknya, mencium keningnya cukup lama. Adzan ashar berkumandang, Wafi mundur menjauh sampai tangan Shafiyah terlepas, pria itu pergi begitu saja dan Shafiyah menangis.


”Aku salah, kenapa aku harus bilang begitu? kenapa sih ini bibir.” Shafiyah kesal dan akhirnya melangkah cepat untuk menyusul suaminya. Wafi sudah keluar dari rumah dan Shafiyah menuruni tangga dengan cepat. Shafiyah terpeleset dan berpegangan sekuat tenaga. Beruntungnya dia tidak terjatuh, tapi dia kaget bukan kepalang saat ini. Shafiyah akhirnya duduk perlahan, memegang perutnya lalu menangis terisak-isak. Raihanah diam, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya sampai bisa diajak bicara. Dia tidak akan ikut campur, dia hanya akan meminta agar gadis itu tidak meninggalkan putranya.


”Ya Allah, apa yang sudah hamba ucapkan tadi, sampai menyinggung nya, menyinggung perasaan suami hamba, dia memang pemarah, tapi dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Tatapannya, suaranya, sentuhannya begitu berbeda. Aku salah, sangat salah hiks!" tangisannya begitu pilu. Raihanah tidak tahan dan akhirnya memutuskan untuk segera melihat menantunya.

__ADS_1


__ADS_2