
Wafi sedang berbicara dengan bos nya langsung, tanpa perantara. Dia memberanikan diri untuk berhenti dari sanggar, dan sudah mencari pengganti untuk bertanggung jawab, dia menunjuk seorang pelatih baru untuk menggantikannya, setelah meminta persetujuan dengan bos nya akhirnya usul nya di terima, dan dia akan pergi ke sanggar hanya untuk mengambilnya barang-barangnya nanti sore.
”Jujur Wafi, sebenarnya saya berat melepas kamu,” ujar bos nya.” Ada masalah apa sebenernya? bilang sama saya.”
”Saya punya orang tua tinggal sebelah pak, umi saya. Sudah tua, sakit-sakitan, bapak juga tahu. Saya lama di penjara, saya cuma mau bekerja yang bisa pulang pergi, supaya bisa menjaga umi dan adik-adik saya di sini. Terima kasih atas semua bantuan yang bapak berikan untuk saya, untuk keluarga saya, terima kasih banyak,” ucap Wafi begitu lemah lembut dan bos nya tersenyum mendengarnya, ia tidak bisa memaksa. Itu sudah menjadi keputusan Wafi.
”Baik kalau begitu, jaga diri, hubungi saya kalau butuh sesuatu.”
”Terima kasih pak.” Wafi tersenyum. Panggilan pun berakhir dan Wafi menjauhkan hapenya dari telinga, dia melangkah pergi meninggalkan tempatnya.
”Shafiyah," ucap Ima lantang, Wafi langsung mengedarkan pandangannya. Mencari dimana gadis itu, Ima cengengesan sendiri dan Shafiyah menunduk saat melihat Wafi.
”Neng nong." Panggil Wafi dan Shafiyah tetap diam.” Neng, neng neng neng." Panggil nya lagi sambil tersenyum. Shafiyah mendengus dan terus melangkah.
”Dipanggil tuh,” ucap Ima dan Shafiyah hanya mengangkat bahu.
"Habibah, shut!" panggil Wafi kembali dan Shafiyah meradang.
”Eh ciye di panggil 'kesayangan'." Ima terkejut mendengar panggilan Wafi kepada Shafiyah. Shafiyah berbalik dan Wafi tersentak, jangan sampai dia terjungkal lagi.
”Aku mau bicara sama Gus sebentar, kamu tunggu di sana Ima." Tunjuk Shafiyah dan Wafi tersenyum, Ima berlari. Gadis itu bukan diam di tempat yang di tunjuk Shafiyah, tapi malah lari ke asrama sambil cekikikan." Ima ish." Shafiyah kesal dan dia berbalik, banyak orang di sekitar, tidak akan ada yang mengira aneh-aneh. Ini obrolan antara Gus dan pengabdi, sangat penting. Itulah yang dipikirkan Shafiyah.
”Kenapa mau ngomong sama saya?”
”Gus jangan manggil saya 'Habibah' terus,” ucap Shafiyah begitu ketus.
”Itu nama terakhir kamu kan? Shafiyah Ummu Habibah. Apa salahnya saya manggil kamu begitu?” tutur Wafi beralasan, padahal bukan Habibah nama gadis itu, tapi memang gadis itu adalah Habibah nya, kesayangannya.
”Ya tapi gak boleh gus.” Shafiyah mulai kesal. Dia mendelik dan Wafi tersenyum.
"Biarin, mulut-mulut saya.” Balas Wafi tak kalah ketus, Shafiyah terbelalak mendengarnya.
”Ya iya si, tapi ....”
”Tapi apa?” Wafi menyela ucapan Shafiyah, dan Shafiyah meradang.
”Enggak tahu," ucap Shafiyah dan wajahnya kini memerah, dia terus menunduk. Wafi diam dan dari kejauhan seseorang meradang melihat keduanya. Shafiyah berbalik dan melangkah pergi begitu saja, mana dia tahan berhadapan dengan pria itu. Wafi diam tidak menahan, bukan saatnya dia mempertahankan, karena sekarang masih proses dalam perjuangan untuk mendapatkan.
”Jantung, jantung tolong tenang.” Shafiyah menepuk-nepuk dadanya.” Emmmm aaaakh," dia gigit ujung kerudungnya dan bersembunyi di balik tembok.
”Dia ganteng banget kalau pakai baju item begitu, ya Allah Fiyah mau yang itu, maksud Fiyah itu dia ya Allah.” Gumam Shafiyah merasa gemas sendiri. Dia mengintip sedikit dan Wafi sudah melangkah pergi dengan seseorang, entah mau kemana.
__ADS_1
Wafi berjalan dengan Rama dan yang lain bergabung.
”Kenapa rapat nya mendadak ya? saya baru tahu,” ujar Wafi saat tahu mereka semua di sebelahnya, menuju ke aula dan mengajaknya.
”Loh Gus gak tahu? bukannya udah ada pengumuman di grup chat wa ya?” ucap Radit menyahut.
”Oh jadi sebelum rapat, pengumumannya di grup chat?” tutur Wafi dan semuanya mengangguk.” Memangnya siapa aja anggota nya?"
”Banyak Gus, para ustadz senior, pengabdi. Banyak sih,” ucap Rama dan Wafi berhenti melangkah.
”Siapa saja pengabdi yang masuk?" tanya Wafi dan berharap Shafiyah juga ada, jika gadis itu ada. Dia juga ingin masuk
”Banyak Gus," ucap Radit.
”Santriwati nya ada?" tanya Wafi lagi dan Rama mengangguk mengiyakan.
”Ada, kayak Ima, Shafiyah, Rosa, Nur. Masih banyak lagi Gus yang masuk,” tutur Rama dan Wafi tersenyum lebar. Selalu ada jalan ketika ada niat dalam kebaikan, akhirnya dia bisa mendapatkan nomor Shafiyah.
”Ya sudah masukin nomor saya ke grup chat," pinta Wafi seraya mengeluarkan ponselnya. Rama mengangguk dan Wafi terus tersenyum.
”Akhirnya aku bisa dapetin nomor telepon kamu neng." Gumam Wafi sambil cengengesan. Setelah selesai, semuanya melanjutkan perjalanan.
Keesokan harinya, pesantren kedatangan santriwati baru. Cantik, baik dan begitu antusias saat melihat pria yang dia lihat tempo hari ada di tempat yang sama. Dia Diva, yang tempo hari melihat Wafi dengan Noah di pusat perbelanjaan. Entah mau kemana Wafi saat ini, bersama keluarganya. Keluarga Noah hari ini akan pulang, dia ingin Ziarah lebih dulu dan semuanya sepakat untuk pergi bersama.
”Itu siapa ya?” tanya Diva kepada teman sekamarnya, Lena.
Lena diam, dan melihat siapa yang Diva tanyakan.” Oh itu Gus." Jawab Lena dan Diva mengernyit heran.
”Gus?” Diva nampak terkejut.
”Iya, itu Gus Mu. Anak lelakinya almarhum pak kyai." Lena tersenyum dan Diva terdiam, lalu memperhatikan mereka kembali. Wafi dan keluarganya sudah jauh, semuanya menuju ke makam dengan berjalan kaki.
”Dia seorang Gus ternyata, anaknya almarhum Gus Fashan kan? berarti dia yang dibicarakan orang-orang. Mantan napi itu,” gumam Diva.
Sesampainya di pemakaman, makam yang berdekatan antara ustadz Farhan, Nailah, dan makam putra mereka Gus Fashan. Raihanah menatap batu nisan tidak jauh dari makam suaminya, dua kuburan bayi pertama dan bayi terakhirnya. Jika ada, Wafi memiliki kakak, dan Afsheen memiliki adik. Saat tahu akan memiliki adik lelaki, Wafi begitu bahagia. Tapi keguguran, ikut pergi bersama sang ayah.
Semuanya membersihkan makam bersama, dari rumput dan dedaunan kering. Doa di pimpin oleh Wafi sendiri, baru saja mulai. Tangis Raihanah sudah terdengar, terisak-isak di samping putranya. Semuanya menadahkan tangan saat Wafi menadah tangannya, setiap doa-doa dari bibirnya terdengar begitu syahdu. Bayyin, diam-diam memperhatikan kakaknya itu. Noah nampak begitu takjub melihat keponakan lelakinya, dan berharap kehidupan Wafi baik-baik saja.
”Aamiin!” seru semuanya mengamini semua doa-doa yang dilantunkan Wafi. Kedua mata Wafi menatap batu nisan abinya lekat, tidak lama kedua matanya tertutup. Setelah selesai, ia mengusap wajah nya lembut di susul yang lain. Tangannya kini mengusap-usap batu nisan abinya. sudah 22 tahun gus Fashan Ali pergi.
”Ayo kita pulang,” ajak Noah dan semuanya mengangguk.
__ADS_1
”Sudah mi,” ucap Afsheen sambil merangkul pinggang uminya. Semuanya melangkah pergi, dan Wafi paling belakang, air matanya menetes dan dia lekas menyekanya. Sepanjang perjalanan menuju pulang, banyak yang menyapa dan mereka membalasnya. Wafi menjadi pusat perhatian, dan dia tidak perduli.
****
Di pesantren, Shafiyah terkejut melihat keberadaan Khalisah. Bukannya gadis itu sudah dikeluarkan, lalu kenapa ada di sini? Shafiyah takut ada keributan kembali terjadi.
”Kamu ngapain di sini?" ketus Shafiyah. Khalisah tersenyum dan terus melangkah, keduanya sudah berada di pacuan kuda.
”Emang gak boleh ya aku di sini?" ketus Khalisah balik bertanya.
”Jangan macam-macam Khalisah, kamu gak bisa kesini sebelum ada keputusan dari pengurus pesantren.” Tegas Shafiyah berbisik-bisik dan Khalisah kesal mendengarnya. Keduanya saling menatap lekat saat ini.
”Aku akan menikah sama ustadz Chairil, salahnya dimana kalau aku kesini? nanti, aku akan setiap saat disini.” Khalisah tersenyum dan Shafiyah mendengus sebal.
”Kamu gak tahu malu banget ya, kamu udah menghina Gus Mu. Apa kamu gak punya hati? jangan bikin malu, keluarga sudah malu sama kelakuan kamu ini Khalis,” tegas Shafiyah dan Khalisah mengepalkan tangannya.
”Keluarga aku kan? bukan keluarga kamu, keluarga kita gak deket Shafiyah. Ingat itu,” ketus Khalisah dan Shafiyah terbelalak mendengarnya.
”Kalau benar kamu sama ustadz Chairil mau menikah, sebaiknya jaga sikap kamu Khalis. Jaga sikap, jaga lisan kamu. Berprilaku pantas sedikit aja, apa gak bisa?” suara Shafiyah pelan tapi begitu tegas mendengar, membuat Khalisah kesal. Khalisah melangkah untuk memberi Shafiyah pelajaran, tangannya sudah melayang di udara dan Shafiyah diam.
Kedua mata Shafiyah melotot saat melihat tubuh besar Wafi sudah masuk di antara dia dan Khalisah.
Plak! tamparan keras mendarat di pipi kiri pria itu, Khalisah terkejut dan mundur menjauh. Dia tidak sengaja, sumpah dia tidak sengaja. Dia ingin menampar Shafiyah, tapi Wafi muncul melindungi gadis itu. Tangannya yang sudah melayang tidak bisa dia tahan.
Wafi diam, tatapannya begitu tajam, jika tangan Khalisah menyentuh tubuh Shafiyah, dia pastikan. Gadis itu tidak akan berani untuk datang kembali.
”Maaf, saya....”
”Pergi!" usir Wafi dan Khalisah mundur menjauh. Shafiyah bingung dan melangkah ke dekat Khalisah. Wafi sama sekali tidak mau menatapnya, semua orang yang ada di sana kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.
”Apa ada masalah?” nur bertanya-tanya.
”Ayo kita lihat," ajak Ima dan menarik tangan Nur. Aidan awalnya sedang duduk santai langsung berdiri mendengar suara tinggi Wafi.
”Gus maaf, Khalisah gak sengaja. Saya minta maaf," tutur Shafiyah dan merapatkan kedua tangannya. Wafi diam dan Khalisah terus menunduk. Shafiyah menarik tangan Khalisah dan membawanya pergi, Wafi mendengus sebal dan pipinya kini memerah. Tidak terasa apa-apa untuknya, tapi jika pipi Shafiyah yang kena, mungkin gadis itu sudah meringis ngilu.
”Aku sudah bilang jangan bikin masalah,” bisik Shafiyah kesal dan Khalisah diam. Khalisah ketakutan melihat tatapan bengis Wafi.
”Kenapa?" tanya Ima. Dan Shafiyah menggelengkan kepalanya.
”Dia marah pasti, pipinya sampai merah begitu. Khalisah, bikin malu aja si kamu.” Gumam Shafiyah kesal dan menoleh melihat Wafi, Wafi yang sedang memperhatikan gadis itu langsung berbalik badan.
__ADS_1