
Mendengar kabar kepergian Khalisah, Faiza langsung masuk rumah sakit, wanita itu sangat stress dengan permasalahannya akhir-akhir ini. Chairil merasa bersalah, tapi dia minta ayahnya untuk segera menyusul Khalisah.
Shafiyah dan kedua saudari iparnya sedang memotong sayuran dan yang lain untuk memasak sore ini.
”Nanti aku ke rumah sakit, kalau a Salam udah pulang,” kata Afsheen.
”Aku juga,” ujar Shafiyah.
”Lagi hamil besar juga kamu, udah diem di rumah,” hardik Bayyinah. Dan Shafiyah cemberut.
”Paling a Mumu doang, kamu gak boleh Fiyah,” kata Afsheen dan bibir Shafiyah mencebik.
”Kan aku juga pengen," merengek-rengek.
”Harus diikat pakai tali biar diem,” bisik Afsheen ditelinga Bayyin.
”Pakai rante kayaknya,” balas Bayyin lalu keduanya tertawa. Shafiyah yang tidak paham hanya diam kebingungan.
”Ngomongin aku kan? Ghibah jalur depan muka,” ucap Shafiyah sinis.
”Haha, ya kamu nya sih gak bisa diem, apa perlu aku ikat biar diem,” Afsheen menjelaskan.
”Harus banyak gerak kalau hamil gede,” timpal Shafiyah dan Afsheen terkekeh pelan.
”Niyyah,” panggil Raihanah dari ruang tamu.
”Iya umi,” sahut Afsheen langsung. Dia berdiri dan melangkah pergi untuk melihat apa yang dibutuhkan uminya. Raihanah sedang duduk dan Afsheen mendekat.” Kenapa mi?"
”Telepon bibi Fara, umi mau ngomong,” kata Raihanah dan Afsheen mengeluarkan hapenya dari saku.
Afsheen memberikan hapenya lalu dia pergi lagi ke dapur. Raihanah diam menunggu sampai panggilan diangkat, dan akhirnya Fara mengangkatnya.
”Halo, assalamu'alaikum."
”Wa'alaikumus Salaam, Fara."
”Oh teteh, kenapa? Aku kira Niyyah yang mau ngomong.”
”Iya, begini. Faiza kan lagi sakit, sementara dua hari lagi kita mau ke Jakarta, untuk hadir di pernikahannya Sabilla. Emang masih lama, tapi kita harus persiapan dari sekarang. Masa gak bawa apa-apa,” tuturnya menjelaskan.
”Oh iya sih, menurut teteh kita bawa apa?”
”Aku udah bilang sama Mumu, kalau Mumu ya pasti bawa kue, kalau kita mending yang lain aja, biar macam-macam bawanya ke sana. Terserah mau kado buat Sabilla atau apa gitu, tapi jangan kue semuanya,” imbuhnya lembut.
”Aku belum bisa ngobrol sama teh Faiza buat sekarang, kondisinya lagi begini.”
”Iya, jangan ganggu Faiza dulu, kasihan Far. Biar kita atur sendiri-sendiri.”
”Iya teh siap," Fara mengiyakan.
Setelah obrolan selesai, panggilan pun berakhir. Raihanah meletakkan hape Afsheen di atas meja.
*****
Di rumah orang tua Khalisah. Chairil masih belum bisa bertemu dengan istri dan anaknya yang berada di kamar. Ayah mertuanya sedang tidak ada, hanya saudara dan ibunya Khalisah yang berhadapan dengannya.
”Sekali berkhianat, gak ada jaminan di lain waktu kejadian itu enggak keulang lagi,” imbuh kakak laki-lakinya Khalisah.
Chairil menutup matanya dan menunduk malu.
__ADS_1
”Anak ibu emang begitu, gak baik, gak sesuai dengan keinginan kamu, tapi, apa salahnya kamu kembalikan Khalisah sama kami dengan cara baik-baik nak, gak perlu kamu selingkuh untuk menyakiti anak ibu," ujar Fatimah serak, air matanya terus berlinang sedari kepulangan anaknya. Khalisah naik angkutan umum, sambil menggendong bayinya dan menjinjing tas. Saat pertama kali melihat, Khalisah sedang menangis, matanya sudah sembab karena sepanjang perjalanan ia tak berhenti meratapi nasibnya.
”Saya minta maaf, saya salah, saya nyesel Bu. Saya mau lihat Khalisah dan anak kami, izinkan saya bu, saya gak bisa janji, dan kalian semua juga gak akan percaya dengan sebuah kata-kata, tapi saya akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang terbaik, menjaga dan mendidik keduanya,” cakap nya serak, dengan berlinang air mata yang buru-buru dia menyekanya.
Fatimah mendesah kasar, dan anak-anaknya yang ada di sekeliling nya seperti tidak memberikan izin Chairil untuk bertemu Khalisah, tapi Chairil adalah suaminya, sudah berhak dan masih berhak. Fatimah tidak mau membuat masalah semakin runyam, dengan terlalu ikut campur apalagi menghalang-halangi.
”Apa ucapan kamu bisa ibu pegang?” tanya Fatimah dan Chairil mengangkat kepalanya, mendengar ucapan ibu mertua yang sepertinya memberikannya kesempatan, walaupun setengah hati.
”Bu!" tegur kakaknya Khalisah dan Fatimah menatapinya tajam sekilas, agar ia diam.
”Ibu bisa memegang kata-kata saya Bu, saya akan buktikan itu,” imbuh Chairil serak.
”Silakan, temui istri dan anak kamu, bicara dengan baik-baik, yang kamu lakukan, sangat menyakiti hati dan mental Khalisah,” ujar Fatimah dan Chairil mengangguk-anggukkan kepalanya ragu.
Chairil akhirnya diantar ibu mertuanya menuju kamar Khalisah, suara bayi terdengar, dan membuat Chairil tersenyum tipis.
”Abi datang sayang,” gumam pria itu.
Fatimah melangkah pergi setelah sampai di depan pintu kamar Khalisah. Chairil diam dan berusaha menenangkan hati nya yang berkecamuk, antara rindu, sakit dan kecewa karena Khalisah pergi tanpa seizinnya, membawa bayi yang berumur beberapa Minggu. Kejadian buruk bisa saja terjadi, dari kampungnya ke kampung Khalisah sangatlah jauh.
Tok tok tok! Chairil mengetuk pintu dan di dalam kamar Khalisah hanya diam, dia tidak tahu jika suaminya datang. Chairil memegang gagang pintu lalu menarik dan memutarnya, betapa terkejutnya ekspresi wajah Khalisah yang sedang menangis, saat melihat suaminya itu. Sementara Chairil, menatap Khalisah sendu, dia juga tatap bayinya yang sedang meminum air Asi ibunya langsung, bayi mereka terus menangis, Khalisah tidak makan dan minum dengan benar, itu mempengaruhi air susunya.
”Assalamu'alaikum sayang,” imbuh Chairil seraya menginjakan kakinya ke dalam kamar, dia berbalik sejenak untuk menutup pintu.
”Wa'alaikumus Salaam, buat apa kesini?” jawab Khalisah dan langsung mengajukan pertanyaan dengan nada luar biasa sinis.
Chairil segera mendekat dan Khalisah membuang muka.” Tega kamu ninggalin aku Khalisah."
"Pertanyaan itu buat aku a, tega kamu berkhianat, berselingkuh dengan seorang perempuan yang dari pakaiannya tertutup, tapi mau kamu ajak untuk mengkhianati istrinya,” tuturnya penuh emosi.
”Maaf Khalisah, harus berapa lagi Maaf yang aku ucap supaya kamu maafin? Aku salah, tapi tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya,” imbuh Chairil serak, lalu menarik dagu Khalisah, dia menangkup kedua pipi istrinya agar menatapnya, tapi kedua mata sembab itu memilih menunduk, tak mau melihatnya.” Sayang, lihat aku.”
”Khalisah...” Chairil begitu lemah dan tangannya ditepis kasar oleh istrinya.” Beri aku kesempatan sayang, untuk rumah tangga kita, untuk anak kita. Tolong, jangan tinggalin aku, jangan menuntut sesuatu hal yang gak bakal aku kasih, aku gak bakal melepas kamu, aku sayang sama kamu. Lihat aku sebentar, aku nyesel, aku khilaf, ini gak mudah untuk diperbaiki, luka hati yang aku cipta, duka yang aku ukir di hati istriku sendiri, beri aku kesempatan untuk mengobati semua luka yang sudah aku buat Khalisah,” ujarnya serak, air matanya terus lolos berjatuhan ke pipi dan pangkuan.
Chairil menyentuh anaknya pun tidak boleh, dia semakin frustasi dan hancur, tapi tidak sebanding dengan lara dan kehancuran yang dirasa istrinya.
”Aku mau disini dulu, beri aku waktu buat berpikir, kita lanjut atau enggak, aku gak bisa pulang sampai aku punya keputusan, kamu gak boleh datang sebelum aku minta,” ujar Khalisah dan Chairil terdiam, bukan kesempatan yang dia dapat, tapi sebuah ancaman. Apa jaminannya Khalisah bisa berpikir untuk mempertahankan perkawinan, tapi chain juga tidak bisa memaksakan kemauannya.” Terserah kamu mau menunggunya atau enggak, kalau kamu memaksa, itu akan membuat pengajuan perceraian semakin besar," sambungnya ketus.
”Khalis..."
”Mau atau enggak?" sembur Khalisah memotong ucapan Chairil. Chairil akhirnya mengangguk.
”Iya aku tunggu, tapi beri aku kesempatan untuk meluk kamu dan anak kita,” lirihnya meminta. Dan Khalisah mendengus.
Chairil perlahan-lahan mencium kening istrinya, dan Khalisah menutup mata. Turun ke pipi dan hidungnya, lalu yang terakhir, dia mencium bibir istrinya itu cukup lama, berusaha untuk menguasainya tapi Khalisah tak memberikannya kesempatan. Ciuman hanya terjadi sekilas, dan Chairil pun mengusap bibir basah istrinya dengan telunjuk.
”Sayang,” kata Chairil, dia mengambil perlahan-lahan bayinya yang terlelap di pangkuan Khalisah. Khalisah diam dan memperhatikan Chairil yang terus menciumi seluruh tubuh mungil bayi mereka. Chairil tidak pernah jauh dari Khalisah dan bayinya, tapi sekarang, dia harus menerima, akibat dari perbuatannya.” Dede yang anteng ya nak, nanti abi jemput, Dede sama umi dulu ya sayang,” sambungnya serak dan air matanya kembali menetes.
Dengan segera, Khalisah mengambil kembali bayinya dan Khairil hanya bisa diam.
”Pergi!” usir Khalisah. Karena Khairil tak kunjung pergi, Khalisah mendorong bahu suaminya itu. Keterlaluan? Iya, tapi isi kepala Khalisah tidak bisa berpikiran jernih.
Khairil bangkit dari tempat tidur dan menatap istrinya lekat.” Sayang,” panggilnya.
”Pergi! sebelum aku berubah pikiran," ancamnya lantang.
Khairil segera mundur karena tidak mau mengambil resiko.” Aku pulang, butuh sesuatu tolong telepon, jaga anak kita, jaga kesehatan kamu juga, aku sayang sama kamu..."
”Jangan banyak ngomong bisa gak si! pergi!" serobot Khalisah kembali memotong ucapan Khairil.
__ADS_1
”Iya, maaf. Aku pergi, assalamu'alaikum.” Ia berbalik badan dan air mata Khalisah langsung berjatuhan. Apalagi saat suaminya keluar dari kamarnya.
”Hiks! kamu jahat,” makinya lirih.
Keputusan Khalisah untuk tidak ikut kembali dengan Khairil di dukung saudara-saudaranya, tapi tidak dengan ibunya.
******
Kepulangan yang dinanti-nanti, ketiga pria, anak dan para menantu Raihanah akhirnya tiba. Membawa tas berisi perlengkapan mereka selama acara, Salam dan Afsheen langsung pergi untuk jalan-jalan lalu ke rumah sakit, melihat Faiza yang sedang dirawat. Sementara Musa dan Bayyin mojok di dapur.
Wafi sudah tidak sabar ingin melihat istrinya, saat habis menaiki anak tangga, ia terdiam, menatap foto pernikahan umi dan abinya. Deru nafasnya terdengar lemah, dia melangkahkan kakinya lebih dekat ke dinding.
”Abi,” ucapnya serak, lalu menggerakan tangannya di kaca pigura foto tersebut.” Melihat fotonya saja begitu bahagia, apalagi sosoknya secara nyata. Abi, anak abi yang sering abi gendong di punggung dan bahu, sudah besar dan akan memberikan cucu. Abi, rindu itu menyakitkan. Aku rindu abi,” tuturnya lembut, dengan suara bahagia tapi air matanya tak disangka-sangka menetes deras dari kedua mata elangnya.
Shafiyah yang baru keluar begitu senang melihat suaminya pulang, tapi, senyuman merekahnya menghilang perlahan saat melihat suaminya menangis.
”Abi,” ia memanggil dan Wafi segera menyeka air matanya. Wafi menoleh dan Shafiyah mendekat.
”Kamu gak bilang kalau fotonya udah datang,” ujar Wafi seraya memeluk tubuh istrinya yang sudah di hadapannya.
”Iya, kemarin datang,” jawab Shafiyah dan terus memperhatikan kedua mata suaminya yang merah.
”Bagus, gak nyangka bisa sebagus ini,” puji Wafi dan terus tersenyum.
”Lumayan lama, tapi hasilnya gak bikin kecewa,” ujar Shafiyah.
”Iya sayang, terus reaksi umi gimana?”
”Umi bilang suka, terus nangis, sama kayak kamu."
Wafi tersenyum dan menarik niqob istrinya ke belakang, Shafiyah menunduk tersipu-sipu malu dengan tatapan suaminya.
”Kenapa malu-malu begitu?” tanya Wafi dan pipi Shafiyah memerah. Shafiyah menarik kembali niqob nya dan Wafi terkekeh-kekeh.” Aku mau lihat."
”Jangan sekarang.”
”Masa kemauan suami ditolak sih! cuma lihat muka doang juga, pelit,” tuturnya mencibir lalu bibirnya mencebik.
”Malu,” bisik Shafiyah karena pipinya sedang memerah.
”Enggak apa-apa, pipi kamu kayak jambu air tadi, mana lihat lagi."
”Tuh kan.” Shafiyah kesal dan Wafi tergelak, walaupun istrinya berulangkali memukul dadanya.
Wafi menahan tangan Shafiyah dan kedua mata Shafiyah membulat, Wafi memutar tubuhnya membelakangi foto besar itu. Lalu dia mencium bibir Shafiyah yang terhalang kain cadar, kecupan mesra sekilas.
Shafiyah diam terpaku, lalu keduanya saling menatap lekat.” Ayo makan, aku beli martabak telor, habis makan, aku sama a Musa mau ke rumah sakit.”
Shafiyah mengangguk dan Wafi tersenyum, keduanya melangkah bersama menuruni tangga, berhati-hati karena takut Shafiyah jatuh. Sesampainya di dapur, keduanya bergabung dengan yang lain untuk makan bersama.
*****
Kepanikan terjadi di kediaman orang tua Shafiyah. Sara pingsan dan Herman sedang tidak ada.
”Gimana ini?” tanya ART yang pertama.
”Kita bawa ke rumah sakit, minta supir buat nyiapin mobil, sambil bantuin gotong Bu Sara,” timpal ART yang sedang mengusap hidung Sara dengan kayu putih tapi tiada hasil.
ART yang tadi mengangguk dan bergegaslah untuk pergi ke depan. Mudah-mudahan ada orang lain yang bisa dimintai tolong.
__ADS_1