
Wafi terus mengendarai motor nya, menuju pulang. Dia menjadi pusat perhatian, tidak hujan tapi bajunya basah semua. Dia menghalangi wajah kusut dan menyedihkan nya dengan kaca helm berwarna gelap itu. Saat akan melewati gang dimana Ismail tinggal, Wafi berbelok. Dia akan mampir sebentar, untuk sekadar meminjam pakaian. Dia tidak mau pulang dengan baju kotor seperti itu, padahal uminya menyiapkan begitu tulus. Kemeja putih itu bahkan baru dibeli oleh Raihanah, untuk menunjang penampilan putranya. Jika wanita itu tahu semuanya sia-sia, dan hanya mendapat luka. Entah bagaimana perasaannya.
Ismail yang sedang menyapu halaman terdiam, melihat kedatangan mendadak sahabatnya.
”Bro!" seru lantang sambil mengangkat tangan kanan ke udara. Ismail tersenyum lebar, tapi saat Wafi turun dan membuka helm nya, senyumannya memudar.” Wafi kenapa lu?" tanya Ismail seraya melangkah mendekat.
”Pinjem baju,"
"Ngaco," ucap Ismail sambil terkekeh.” Mana muat.”
”Ya udah pinjem jaket deh,” ucap Wafi lalu dia duduk dan Ismail masuk, untuk mengambil air minum dan jaket permintaan sahabatnya. Wafi diam merenung, lalu menundukkan kepalanya, dia usap usap bajunya yang kotor.
Ismail kembali, membawa dua botol minuman dingin, kue dan jaket. Wafi meraih satu botol, membuka, lalu meminumnya kasar. Ismail diam memperhatikan, dia yakin. Ada sesuatu yang terjadi.
”Kenapa?" tanya Ismail lalu duduk dan Wafi diam. Mengenggam botol minuman kuat, sampai air yang sisa setengah itu tumpah kemana-mana. Caci maki yang diucapkan Sara, terngiang-ngiang di pikirannya, menghantui dan tidak bisa dia lupakan sampai kapanpun.
”Aku ke rumah Shafiyah tadi," ucap Wafi dan Ismail bergeser lebih dekat.
"Terus?”
”Aku izin dulu sama Shafiyah, terus diizinin. Bawa Cv ta'aruf, tapi penerimaan yang aku harap cuma angan-angan. Mereka nolak, dengan cara yang bikin sakit banget. Aku malas pulang, umi pasti nanya, umi tuh udah berharap banyak. Gak bisa dibayangin, kalau umi lihat anaknya begini," tutur Wafi menjelaskan. Ismail menarik pipi Wafi, dan Wafi menepisnya.” Geli anjir, jangan pegang-pegang," ketus nya emosi.
”Muka lu begini karena keluarga Shafiyah? mana alamatnya, gue hubungin yang lain, kita demo, kita rusak rumahnya sekalian. Berani banget mereka," ucap Ismail lalu berdiri dan berkacak pinggang dengan tangan kirinya, dia rogoh sakunya, untuk menghubungi yang lain.
Wafi menoyor kepala Ismail dan merebut hape itu.” Sinting, yang ada kita semua balik lagi ke penjara.” Wafi mendelik dan Ismail mendengus.
”Terus lu diem aja gitu? cewek banyak anjir, lu ngapain bela-belain. Harga diri lu dimana Muzammil, dia juga pakai cadar kan. Nanti lu bela-belain sampe mampus, pas nikah lihat mukanya jelek. Nyesel lu, gue yakin." Ismail kesal dan Wafi menggeleng kepala.
"Enggak, aku maunya Shafiyah. Aku mau dia. Gimanapun dia, aku tetap maunya dia." Wafi bersikukuh dan Ismail yang merasa stres melihatnya.
”Terserah elu deh, capek gue Mu. Elu dari dulu begini, mau A ya harus A, mau B ya harus B. Tapi ini bedanya cewek, kita juga gak tahu itu jodoh elu apa bukan. Santriwati banyak kan? lelaki itu bisa menikah 4 kali, pilih dah tuh yang mana yang elu mau, nikahin. Kalau gak mau paksa!” tutur Ismail begitu mudahnya." Kalau gue jadi elu, gue bakal begitu. Pilih santriwati yang paling cantik, beuhhh elu mah.”
”Gue bilangin Kamila ya?" ancam Wafi dan Ismail melotot.
”Awas lu,” ucap Ismail panik dan Wafi tersenyum kecut.
”Kamila gak ada?"
”Gak ada, lagi ke rumah orang tuanya. Santai aja dulu disini, gue bikin kopi bentar.” Ismail sudah bangkit tapi Wafi menarik bajunya. Ismail pun duduk kembali sekarang.
”Kalau ada perempuan yang lebih segala-galanya dari Kamila, lu pilih Kamila atau perempuan itu?" tutur Wafi dan Ismail tertawa.
”Ya Kamila lah, gila aja. Kamila itu nemenin gue dari dulu, sampai gue masuk penjara dia tetep nungguin gue. Gak mungkin gue bisa berpaling, gue sayang banget sama dia Mu." Ismail terus tersenyum, dia sangat menyayangi istrinya, walaupun Kamila lebih tua darinya, tidak cantik seperti perempuan lain, tapi Kamila sangat cantik di matanya.
”Ya sama, walaupun ada 4 perempuan atau mungkin lebih, yang jauh lebih menarik dari Shafiyah, gue tetep pilih Shafiyah. Cuma dia yang bikin gue nyaman, bikin gue semangat. Padahal gue cuma sebatas melihat matanya, dia cantik karena lemah lembut bicaranya, dia cantik karena pakaiannya, dia cantik karena pemalu nya. Dan dia mau gue perjuangin, dan gue gak mungkin bisa nyerah gitu aja,” tutur Wafi sambil tersenyum manis. Ismail menunduk, tangannya kini jatuh di bahu Wafi, lalu menepuk nya lembut.
”Datang kalau lu mau Mu, rumah gue selalu terbuka. Jangan sungkan-sungkan, gue bikin kopi dulu ya. Lu istirahat aja dulu, kalau udah tenang baru pulang,” ujarnya sambil bangkit dan Wafi mengangguk.
*****
Malam hari tiba, seorang gadis diam di balkon dan memperhatikan pintu gerbang pesantren, tak ada tanda-tanda Wafi akan pulang. Perasaannya tidak karuan, dia takut terjadi sesuatu.
”Gus Mu, aku harap kamu baik-baik saja. Aku mohon, pulang." Gumam Shafiyah lalu mondar-mandir.
Suara motor terdengar, Shafiyah tersenyum tipis melihat kepulangan Wafi, Wafi tidak melihatnya. Dan bergegas masuk, Shafiyah tidak apa-apa. Dia merasa lega lalu pergi meninggalkan balkon.
Raihanah yang sedang mengaji menutup Al-Qur'an nya, mengakhiri kegiatannya saat mendengar suara motor. Kenapa begitu lama? membuatnya tersiksa dengan rasa khawatir.
”Kenapa aa lama? kok bajunya ganti? yang tadi bagus,” ucap Bayyin kebingungan, lalu Raihanah keluar dari kamarnya. Wafi menunduk lesu, meraih tangan uminya dan menyalaminya lembut.
”Gimana?" tanya Raihanah penuh harap.
”Aku ke rumah Ismail, terus ke rumah bibi Fara. Aku aku mau mandi," tutur Wafi. Tidak menjawab pertanyaan Raihanah, dia menghindar dan berlalu pergi. Raihanah diam, dan baru sadar saat melihat pakaian Wafi adalah pakaian Nafis.
__ADS_1
”Aa," panggil Bayyin. Raihanah menahan putrinya itu dan kedua matanya berkaca-kaca, tanpa harus menjelaskan, raut wajah dan tingkah laku putranya sudah memberikan jawaban.
Setelah bersih-bersih, Wafi tidak keluar dari kamar. Raihanah naik ke lantai dua tersebut perlahan, membawa satu piring makanan untuk putranya itu. Wafi sedang meringkuk, dia masih terjaga. Bantalnya basah karena air matanya, dia lemah? tentu saja tidak, tangisan bukan berarti seseorang lemah. Lelaki dan perempuan sama, memiliki perasaan, dan menangis untuk meluapkan rasa sakit yang teramat menyiksa, berhak dilakukan semua orang.
Suara pintu yang dibuka dari luar membuat Wafi kaget, dia mengusap air matanya lalu menutup matanya rapat-rapat. Setelah masuk, Raihanah memperhatikan putranya, dia meletakkan piring di atas meja dan botol minuman putranya. Lalu duduk di tepi ranjang sambil membuang nafas panjang.
”Mumu," ucap Raihanah, memanggil putranya begitu lembut. Dia belai rambut putranya itu, Wafi menggeliat dan akhirnya berbalik ke arah uminya.” Makan dulu nak,” ucap Raihanah.
”Aku gak lapar umi,"
”Sabar, kalau jodoh gak akan kemana. Kalau kamu dan Shafiyah gak berjodoh, ikhlaskan. Semoga Allah pertemukan kamu dengan gadis yang jauh lebih baik,” tutur Raihanah. Wafi menunduk dan tidak mau mengatakan apapun. Dia akan tetap berjuang untuk mendapatkan cintanya.
”Umi suapi ya?” bujuk Raihanah, sambil membelai rambut Wafi ke belakang, dia terkejut saat melihat kening dan pelipis putranya terluka, Wafi menutupi nya dengan rambut, tapi akhirnya ketahuan juga.” Kamu kenapa?" Raihanah panik.
”Enggak kenapa-kenapa.”
”Gara-gara keluarganya Shafiyah?" suara Raihanah meninggi.
”Enggak umi, suapi aku umi.” Wafi mengalihkan pembicaraan, meraih piring dan Raihanah terlihat menahan emosinya. Akhirnya dia menyuapi putranya itu, keduanya sesekali saling menatap dan sama sekali tidak mengobrol. Melihat tatapan mata tajam ibunya, Wafi sampai kesulitan menelan makanannya, dia takut uminya melarang ia mendekati Shafiyah.
****
Pagi ini, Shafiyah bersiap untuk kuliah. Dia sangat ingin berbicara dengan Wafi, tapi entah bagaimana caranya. Shafiyah melangkah begitu malas, dan akhirnya dia melihat Wafi. Wafi menggerakan tangannya sekilas, meminta gadis itu pergi ke belakang pesantren.
”Ima!" panggil Shafiyah dan Ima menoleh.
”Kenapa?" tanya Ima.
Shafiyah merangkul lengan Ima dan Ima bingung. Setelah melihat Wafi, akhirnya Ima paham. Dia diam menunggu, dan membiarkan keduanya berbicara.
”Gus itu...” Tunjuk Shafiyah, dan dia khawatir melihat Wafi terluka. Wafi tersenyum dan menyentuh lukanya sekilas.
”Cuma lecet,” ucap Wafi dan Shafiyah menunduk.
”Enggak apa-apa, saya mau bilang tentang kemarin.”
”Ditolak kan? melihat Gus Mu terluka, saya juga tahu. Saya mohon berhenti aja Gus,” pinta Shafiyah dengan berderai air mata.
”Kamu gak mau saya perjuangkan?” Wafi terlihat kecewa, dan merasa Shafiyah begitu plin-plan dengan ucapannya.
”Saya takut Gus terluka,” ucap Shafiyah.” Tolong cukup, saya gak tega.” Shafiyah hanya khawatir, dia tidak mau anak lelaki satu-satunya di keluarganya itu kenapa-kenapa, karena dia tahu, banyak hal yang harus diurus oleh Wafi.
”Kamu emang tega ternyata, kalau kamu lemah, kamu meminta saya menyerah. Gimana bisa kita sama-sama Bibah?” suara Wafi yang kini berat, dengan tatapan tidak bersemangat setelah mendengar ucapan Shafiyah.
”Saya takut,” lirih Shafiyah.
”Saya tanya sekali lagi, mau gak sama saya? mau saya perjuangkan atau enggak?" tegas Wafi kesal.
"Mau hiks,,,, tapi.” Shafiyah menangis dan Ima panik.
”Jangan nangis, saya gak bisa ngapa-ngapain kamu kalau sekarang, kita kan belum nikah. Jangan nangis, nih usap air mata kamu. Udah diem." Wafi tidak suka melihat tangisan Shafiyah, dia hendak melemparkan kain sorbannya dan Shafiyah tidak mau.
”Jangan bercanda Gus, nyebelin banget.”
"Saya gak bercanda, ya saya bingung. Udah jangan nangis lagi.”
”Saya minta maaf ya, keluarga saya kasar sama Gus. Saya minta maaf," tutur Shafiyah dan Wafi mendelik. Dia kesal melihat Shafiyah lagi-lagi seperti itu.
”Jangan minta maaf Bibah,” ucap Wafi merasa gemas sendiri.” Gue cium juga nih,,,,,,, nanti kalau dah kawin." Wafi bergumam.
”Saya gak tega," ucap Shafiyah.
”Berhenti Bibah, kamu gak tahu apa, kamu itu....” Wafi tidak jadi melanjutkan ucapannya.” Lucu banget kalau lagi merengek,” gumam Wafi dan memperhatikan Shafiyah.
__ADS_1
Ima semakin bingung melihat keduanya, apalagi melihat tatapan mata Gus Mu yang nampak kesal. Ima terus menatap keduanya bergantian.
Setelah selesai berbicara, dan Wafi meyakinkan Shafiyah jika ia akan tetap berusaha, selama Shafiyah mendukungnya. Shafiyah terlihat mengangguk-anggukkan kepala.
”Semangat calon suami," ucap Shafiyah.
Ima diam dan menggaruk kepala, entah Shafiyah mengatakan apa tapi yang jelas, membuat wajah Gus Mu memerah.
”Sekali lagi," pinta Gus Mu sambil tersenyum lebar dan Shafiyah menggeleng kepala. Gadis itu melangkah pergi setelah mengucap salam, Wafi tersenyum dan menunduk. Lalu membalas salam gadis itu. Keduanya pun berpisah, berjalan ke arah lain.
”Kamu bertengkar sama Gus Mu?" tanya Ima dan Shafiyah tersenyum.
”Enggak, cuma ada masalah aja sedikit. Ayo," ajak Shafiyah dan keduanya melangkah pergi.
*****
Sore harinya, sebuah mobil Jeep datang. Seorang pria berbadan tambun keluar, memakai seragam polisi dan melangkah mendekati kantor pusat pesantren, untuk menanyakan dimana Gus yang dimaksud ibunya, dan dia juga akan menjemput adiknya.
”Cari siapa pak?" tanya santri.
”Saya mau ketemu Gus kalian, panggil dia kesini,” tegas Fajar dan santri tersebut menciut ketakutan. Wajahnya begitu menyeramkan, apalagi suaranya. Fajar menunggu di depan kantor. Wafi yang sedang bersama beberapa pengurus pesantren, kebingungan melihat santri itu.
”Gus, ada polisi. Serem, bentak-bentak saya tadi,” seru santri panik. Semua orang yang mendengarnya apalagi, apa yang diperbuat Gus mereka sampai polisi datang? apa mantan narapidana itu kembali berulah?.
”Bilang sama Bu nyai," titah seorang ustadzah kepada santriwati.
Gus Mu langsung berjalan cepat untuk melihat siapa yang datang. Kabar tersebut pun sampai di telinga Shafiyah, gadis itu langsung bergegas untuk meninggalkan asrama dan takut jika polisi itu adalah kakaknya.
Saat sampai di depan kantor. Wafi terdiam, melihat polisi tersebut dari belakang. Nampak tidak asing, tapi dia lupa pernah melihat dimana bahu lebar, dan punggung berisi itu.
”Cari saya?" seru Wafi. Fajar pun berbalik badan dan keduanya sama-sama melotot, saat melihat satu sama lain. Tangan Fajar terkepal lalu melirik santri tadi.
”Ini Gus,” ucap santri dengan suara bergetar hebat.
Fajar langsung melangkah cepat, tangannya melayang dan menghantam pipi Gus Mu.
Plak! suaranya begitu nyaring terdengar, darah menetes dari sudut bibir Wafi. Pukulan kuat, tapi tetap saja tak mampu membuat tubuh pria itu tersungkur.
”Hei!!!" teriak Chairil dan semua santri senior. Wafi merentangkan tangan kanannya, menahan mereka semua agar tetap tenang.
”Dimana adikku, berani sekali kamu melakukan ini. Apa kamu melakukannya karena dendam?” geram Fajar, dia mencengkeram kuat kerah baju Wafi. Chairil dan Ikhsan menarik tubuh Fajar tapi Fajar tetap mempertahankan cengkeramannya, dia bahkan memukul wajah Wafi berulangkali, mendorongnya kasar sampai tersungkur ke atas tanah.
Deg! kedua mata Shafiyah membulat, melihat pria yang dia cintai terjatuh berlumuran darah setelah di dera kakaknya.
”Kakak," ucap Shafiyah, dia dekati fajar, langsung berusaha menahan tubuh besar itu agar tidak mendekati Wafi kembali.
”Muzammil!" jerit pilu Raihanah, dia langsung terduduk lemah dan menarik putranya ke dalam dekapannya.
”Saya akan nikahi adik anda, dengar ini!!" teriak Wafi dan saling menatap tajam dengan Fajar. Dia mengusap hidung nya yang meneteskan darah, Shafiyah menangis melihat kondisi Wafi.
”Aaaaaaghhh sakit hiks,,,, sakit!" jerit Shafiyah, saat tengkuk nya di cengkeram oleh Fajar, rambutnya yang tertarik begitu terasa ngilu.
Wafi tidak terima melihat Shafiyah kesakitan, dia bangkit dan Ikhsan menahannya.” Wafi diam Wafi!" bentak Ikhsan dan terus menahannya.
”Sakit!" Shafiyah terus menangis, meringis menjadi satu. Dia di dorong kasar oleh Fajar, dan tengkuknya semakin terasa ngilu, saat melewati Wafi. Dia dan Wafi saling menatap lekat sekilas, Wafi menunduk dan kedua matanya berair.
”Kamu di kirim kesini untuk belajar, bukan untuk pacaran,” ucap Fajar dan terus menggiring Shafiyah menuju ke mobilnya.
"Pak tolong bicarakan baik-baik dulu, Shafiyah santriwati disini. Tolong pak," tutur seorang ustadzah berusaha menahan tapi Fajar tidak perduli.
”Aaaghhh sakit hiks!" jerit Shafiyah dan Wafi merasa hancur mendengarnya, gadis itu dipaksa masuk ke dalam mobil. Shafiyah duduk sambil terus menatap semua orang, terutama Wafi.
Mobil itu melaju kencang, meninggalkan Pesantren, Wafi terus memperhatikan sampai mobil tersebut tidak terlihat lagi. Raihanah terus memeluk putranya itu, tak kuasa dia melihat darah dari bibir dan hidung putranya. Luka yang kemarin saja masih belum kering, dan sekarang berdarah kembali karena pukulan bengis Fajar.
__ADS_1