
Ismail nampak tegang, mendengar penjelasan dari bidan. Istrinya kelelahan dan stres, itu berdampak pada kehamilannya. Ismail tidak mau keduanya kenapa-kenapa, dia sangat mencintai Kamila. Dan calon anaknya.
”Tapi anak saya gak akan kenapa-kenapa kan Bu?" tanya Ismail panik, Kamila merangkul tangan suaminya itu, menenangkan.
”In sha Allah, makan nya di jaga ya, istirahat dan jangan stres.” Bu Bidan menjelaskan kembali dan keduanya mengangguk.
Setelah selesai, keduanya keluar dari klinik tersebut. Kamila terlihat cemberut dan Ismail yang sudah naik ke atas motor memperhatikannya.
”Kenapa?” tanya Ismail datar.
”Kamu sayang gak si sama aku? aku hamil anak kamu, hamil gede. Kamu sibuk main,” tutur Kamila protes, Ismail mendesah kasar dan memperhatikan istrinya kesal.
”Apaan si Mila, aku baru keluar jauh hari ini. Gus Mu butuh bantuan aku, dia temen aku, sahabat. Jangan sampai kamu jadikan dia masalah dalam hubungan kita, aku tuh kalau ada apa-apa dibantuin sama dia. Aku juga harus bantuin dia, intinya saling bantu.” Menjelaskan sedikit keras, Kamila memang mengekangnya, untuk tidak banyak bermain, padahal bergaul itu butuh, karena jika ada apa-apa harus butuh bantuan orang lain. Ismail tidak suka jika Kamila seperti itu, sekarang istrinya cemberut karena dia marahi.
”Tuh kan, giliran aku ngeluarin unek-unek marah."
”Aku gak marah, kamu boleh protes. Tapi harus jelas permasalahannya. Apa aku hilang tanggung jawab sama kamu? sama calon anak kita? aku butuh waktu sama teman-teman aku. Aku juga tahu waktu, bukan para istri doang yang butuh temen ghibah, tapi para suami juga.” Ismail geram dan menatap istrinya itu lekat.
”Masa cowok ghibah si." Kamila bingung sendiri.
”Ya ghibah dalam versi berbeda neng, pekerjaan, tentang uang. Kalau aku punya uang kan kamu juga yang seneng,” ucap Ismail sambil meletakkan telapak tangannya di perut besar Kamila.
”Iya maaf, maafin ya?" rengek Kamila dan Ismail tersenyum.
Kamila memang begitu, mudah marah, murah baik lagi. Ismail harus ekstra sabar menghadapi istrinya, istrinya adalah segalanya untuknya.
****
Di rumah Gus Mu. Ali masih ada, keduanya masih mengobrol. Segala macam dibahas, untuk hal yang tidak penting sekalipun. Ali senang bertemu Wafi kembali, walaupun sia-sia karena dia tidak berhasil membujuk pria itu untuk kembali melatih.
”Ya udah Gus, aku pulang deh. Kalau emang gak mau balik lagi,” tutur Ali kecewa. Tapi ia tidak bisa memaksa.
Wafi tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Ali tiga tepukan.” Salam buat semuanya ya, berlatih yang benar,” ujarnya sambil tersenyum lagi.
”Iya Gus,” balas Ali.
Keduanya bangkit dari duduk, Wafi mengantar Ali sampai keluar dari pagar rumahnya itu.” Jangan ngebut Ali,” ujar Wafi dan Ali tersenyum.
Dari kejauhan, Diva memperhatikan Wafi dengan seksama. Ima juga seperti itu, kedua gadis itu diam terpaku. Ima membuang nafas kasar, betapa beruntungnya Shafiyah dicintai oleh Gus Mu. Begitu juga Gus Mu yang dicintai oleh Shafiyah, Ima merasa sakit jika mengingat ucapan Wafi. Keluarganya bahkan sekarang sering mendapatkan pertanyaan, kenapa bisa hubungannya dengan Gus Mu tidak berjalan lancar.
"Aku salah Shafiyah, apa kita bisa bersahabat lagi,” gumam Ima, raut wajah begitu muram.
Diva menoleh, dia perhatikan Ima dengan tatapan tajam." Ngapain sih lihatnya sampai begitu,” ucapnya berbisik. Karena sadar diperhatikan, Ima juga menoleh dan kini Diva melangkah ke arahnya.
”Masih ngarep ya?" ketus Diva sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
”Apaan si, bocil,” cibir Ima tak kalah sinis.
”Kamu itu bukan tipenya Gus Mu,” ujar Diva dan Ima terkekeh-kekeh.
”Terus kamu ngerasa kamu yang tipenya Gus mu? Gus Mu udah dewasa, gak suka anak kecil yang arogan begini.” Ima tersenyum tipis sambil memperhatikan Diva dari ujung kaki sampai ujung kepala, tatapannya mengejek dan Diva melangkah untuk memberikan pelajaran, tapi Ima terlanjur kabur meninggalkannya.
”Awas ya kamu,” ucap Diva lantang. Dia berbalik dan sekarang entah kemana perginya gus Mu.
Keesokan paginya, Gus Mu bersiap untuk bekerja seperti biasa. Semalam, Noah mengirimkan pesan agar Gus Mu memimpin kantor cabang yang di Bandung, sekertaris Noah bolak-balik dan itu melelahkan. Berhan meninggalkan kekayaan yang luar biasa banyaknya. Di bagikan untuk kedua anaknya Noah dan Raihanah, Raihanah yang tidak memiliki hak waris karena hasil di luar pernikahan seolah menerima pemberian dari ayahnya. Raihanah menyimpan apa yang diberikan sang ayah, untuk urusan pernikahan ketiga anaknya, wanita itu sudah memikirkan semuanya sendiri. Dia bisa makan sederhana, tapi saat anak-anaknya menikah memerlukan biaya besar dan tidak mungkin para santri yang sudah seperti anak-anak nya sendiri dia abaikan. Pernikahan keluarga kyai adalah suasana yang ditunggu para santri dan santriwati, membantu dan makan gratis. Uang sebanyak apapun yang Raihanah punya, dengan seiringnya waktu semakin menipis. Dia janda, tidak bekerja, bagaimana bisa harta yang dia punya bertahan atau bertambah.
Raihanah kini memperhatikan putranya dengan seksama, dia melirik kue kering yang dibuat putranya di rumah Fara. Raihanah tersenyum, dia begitu menyukai kue buatan Nailah mertuanya. Tapi saat dia membuat kue, walaupun resepnya sama, rasanya tetap berbeda. Tapi ketika putranya yang membuat kue, rasanya sama dan sangat enak.
”Aa,” panggil Raihanah dan Wafi mengangkat kepalanya.
”Iya mi,” ucap Wafi.
”Umi gak akan maksa kamu, umi gak mau membebani kamu. Untuk biaya pernikahan kedua adik kamu, gak perlu kamu khawatirkan. Nanti antar umi ke bank, kita harus segera membayar beberapa kebutuhan pernikahan Afsheen, terus Bayyin." Raihanah tersenyum di sela ucapannya. Wafi mengernyit heran.
”Uang apa?" tanya Wafi.
"Uang dari kakek kamu, kita panen untung banyak tahun ini. Semua petakan sawah itu dari pemberian nenek buyut kamu, kita gak perlu beli beras bertahun-tahun. Jangan ada niatan untuk menjual sawah, untuk biaya pernikahan umi ada. Uang dari kakek kamu, umi mau tanya. Apa kamu tertarik untuk membuka toko kue? kamu bisa berjualan dan memperkerjakan orang-orang seperti yang kamu mau. Modalnya ada in sha Allah.”
”Kalau memang ada, kenapa umi mengajak kami bertiga hidup sederhana?" suara Wafi lemah.
”Uang itu mudah habis, semakin lama semakin berkurang bukan bertambah. Biaya sekolah kalian, biaya hidup kita sehari-hari. Umi simpan sisanya untuk kalian bertiga saat akan menikah, kedua adik kamu memang menerima uang bantuan dari pihak laki-laki, tapi itu gak cukup. Umi hanya mau menjalankan amanah abi dan kakek kamu, hiduplah sederhana, walaupun banyak uang untuk berfoya-foya.”
”Kamu bisa belajar kalau memang mau.”
”Enggak mi, aku gak bisa jauh ninggalin umi. Apalagi nanti setelah Afsheen dan Bayyin dibawa suami mereka.”
Raihanah terdiam, kenapa dia tidak memikirkan itu, kedua putrinya akan menjadi hak orang lain, dan akan meninggalkan nya. Tersisa si sulung Wafi jika kedua anak perempuannya menikah. Rumah sudah sepi sekarang, apalagi nanti.
”Ada aku, istriku nanti, terus anak-anakku. Umi sehat-sehat ya, sampai nanti umi repot gendong cucu-cucu umi.” Wafi tersenyum, berusaha menghibur uminya dan Raihanah tertawa. Menikah saja belum, anaknya itu sudah membahas cucu.
Setelah Wafi sarapan, dia mencuci piring bekasnya dan bekas uminya. Lalu keluar untuk segera bekerja, Afsheen sudah menunggu, ketegangan terlihat jelas di wajah cantiknya. Wafi memakai sepatunya dan sama sekali tidak melirik Afsheen, dia terus mengabaikannya.
”Aa,” ucap Afsheen memanggil.
”Hmmm.” Sahut Wafi seraya naik ke atas motor.” Naik cepet,” ucap Wafi dan Afsheen naik.
Wafi terdiam, saat merasakan kedua tangan Afsheen berpegangan pada pinggang nya. Dia pun menunduk untuk memastikan, ternyata benar adiknya menyentuhnya. Afsheen diam, tidak lama motor melaju dengan kecepatan sedang. Keduanya sama sekali tidak bersuara, diam dan merasa canggung. Afsheen merasa bersalah, tapi untuk meminta maaf, begitu susah untuk dia ucapkan.
****
Malam hari, di sebuah klub malam. Seorang pria masuk untuk memantau pria yang dia buntuti sedari tadi, dialah Fajar. Dia ingin tahu seperti apa Farel, dia mengikuti kemanapun pria itu pergi hari ini. Dan hasilnya, begitu menjijikkan. Farel tiga kali berganti perempuan, di rangkul di peluk tanpa ragu. Terus ibunya ingin Farel menjadi istri adiknya, adiknya Shafiyah yang begitu luar biasa. Tidak akan dia izinkan untuk bersama dengan laki-laki seperti Farel.
__ADS_1
”Farel, bukannya elu udah dijodohin ya? sama cewek bercadar." Seru seorang pria sambil menyalakan korek api nya di bawah rokok yang sudah dia gigit. Farel tersenyum lebar menanggapinya.
”Iya, gue dijodohin. Cuma penasaran aja sih, tapi gue udah lihat wajahnya. Ibunya ngirim foto dia lagi gak pake cadar, cantik anjir. Gue suka, kalau dia udah jadi istri gue. Gue siksa di atas kasur karena sekarang dia sok jual mahal terus,” tutur Farel sambil memandangi layar ponselnya, memperhatikan setiap inci foto Shafiyah. Matanya, hidungnya, bibirnya. Farel terus tersenyum mesum.
”Mana gue lihat." Teman-temannya heboh mendekat, Farel mengangkat tangannya ke udara dan dia tertawa." Pelit banget sih lu.”
”Mau lihat? bayar dulu, ini cewek dicadar Bray. Mahal." Farel tersenyum dan teman-temannya mendelik.
”Gue beli, kalau beneran cantik bisa gue jadiin objek tiap malem," ujar seorang pria berambut pirang, dan Farel tersenyum.
”Dek," bisik Fajar merasa sakit mendengar percakapan para bajingan itu. Kenapa bisa ibunya memberikan foto Shafiyah dalam keadaan wajah yang tidak terhalang, kecantikan adiknya sekarang diperjual belikan dan dimanfaatkan untuk hal gila.
Fajar tak kuasa menahan amarah, dia bangkit, melangkah begitu tegasnya lalu menyambar ponsel Farel dari tangan Farel.
”Kurang ajar!" teriak Farel.
"Gak sopan banget si!" teriak temannya Farel murka. Fajar menatap tajam Farel dan Farel tersentak, melihat kakaknya Shafiyah ada di hadapannya.
”Sialan kamu." Geram Fajar sambil mencengkram kerah baju Farel, Farel tidak bisa melakukan apa-apa. Fajar menghapus semua foto Shafiyah di hape Farel, lalu dia banting ponsel tersebut sampai hancur. Farel melongo melihat hapenya rusak, dan dia pun tidak bisa menahan amarahnya.
”Ganti gak!" bentak Farel. Dia sudah sering merusak barang, dan ayahnya mengancam, tidak akan memberikan hape baru sekaligus akan mencabut semua fasilitas, jika ia merusak barangnya lagi.
”Jangan harap kamu bisa menyentuh adik saya, apalagi menikahinya. Kamu melecehkan adik saya," ucap Fajar dan mengeratkan cengkraman nya.
”Kami akan tetap menikah, kamu hanya kakaknya. Tetap saja Tante Sara yang mengatur semuanya,” imbuh Farel sambil menyeringai lebar.
Brug! Fajar meninju wajah pria itu sekuat tenaga, Farel terjatuh ke atas meja dan membuat semua yang di atasnya berjatuhan ke lantai. Semua orang berhenti dari aktivitas, mendengar suara keributan. Farel dan Fajar berkelahi, saling memukul dan menendang. Dua temannya Farel mendekat, menahan kedua tangan Fajar.
”Awas kamu sialan!" teriak Fajar, berusaha berontak pun dia terus di tahan. Farel mengusap bibirnya yang berdarah, wajahnya terluka karena pria itu. Farel mendekat dan meninju wajah Fajar. Fajar terdiam dan kepalanya berdenyut.
Fajar berontak, membanting kedua temannya Farel sampai terjungkal, lalu ia dan Farel kembali berkelahi. Fajar mengeluarkan senjatanya dan Farel mengeluarkan senjata tajam dari saku jaketnya. Keduanya berguling saling baku hantam, tubuh Fajar membentur dinding dan Farel mundur menjauh saat dia tidak sengaja menusuk perut pria itu, senjata tajamnya bahkan tertancap di sana.
”Farel!" teriak teman-temannya.
Farel mundur dengan langkah tertatih-tatih, semua orang menjerit dan Fajar yang terluka parah terus menatap Farel lekat. Nafas Fajar terlihat lemah, teman-teman nya Farel malah memanfaatkan situasi untuk menghajarnya.
”Jangan, jangan!" teriak Farel panik.” Dia bisa mati!” teriaknya frustasi. Fajar langsung berlari sebisa mungkin.
”Dia nyakitin elu, harusnya lebih dari itu tahu gak!" temannya Farel kesal. Farel yang takut dan khawatir menyusul Fajar. Tapi Fajar sudah pergi dengan mengendarai mobil nya.
”Kalau begini, aku bisa gagal nikah sama Shafiyah. Sialan! aaa....!” Farel kesal, jengkel dan takut pernikahan nya yang hanya sebuah obsesi itu gagal.
Sementara Fajar terus mengendari mobilnya, dia tidak bisa menarik senjata tajam itu dari perutnya. Dia meringis dan merintih, semakin jauh dia berkendara, semakin tidak terkontrol. Fajar akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.
Brukkk! brakkk! suara hantaman keras terdengar, mobil pria itu menabrak sebuah pohon. Orang-orang di sekitar langsung bergegas mendekat, untuk melihat kondisi pengendara.
__ADS_1
Wafi yang sedang berjalan santai sambil mengusap peluh nya menoleh, mendengar suara hantaman keras dan teriakan orang-orang. Dia sedang berolahraga, lari di malam hari adalah kegiatan menyenangkan untuknya ketimbang joging di pagi hari.
”Asstaghfirullah, kecelakaan,” ucap nya pelan. Ia melihat semua orang berkerumun, mengelilingi sebuah mobil. Saat melihat plat nomor mobil tersebut, Wafi terkejut. Dengan segera, dia pun berlari kencang untuk melihat siapa di dalam sana. Kedua matanya berkaca-kaca, apa itu Habibah nya? tidak mungkin, dia tidak sanggup melihat Shafiyah terluka jika itu benar.