Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 57: Diusir


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi pertama Musa di rumah keluarga istrinya. Dia nampak canggung, hanya berbicara saat ditanya, dia memang pendiam dan pemalu. Semuanya sedang sarapan saat ini, lesehan dan beralaskan tikar di ruang tamu. Shafiyah dan Wafi saling melirik, Raihanah meminta menantu perempuannya duduk di sebelahnya.


”Mau ini om?” tanya Afsheen kepada Noah.


”Iya, boleh.” Noah mengiyakan dan menyodorkan piringnya. Afsheen meletakkan lauk pauk kembali ke atas piring pamannya.” Wafi, kamu kerja yang bener ya,” ujarnya dan Wafi menoleh.


”Iya om.” Wafi mengiyakan.


”Gimana? semua orang menghormati kamu kan?” Noah tersenyum, dan berharap semua orang di kantor bersikap baik kepada keponakannya.


”Iya, jangan khawatir, mereka semua baik. Cuma aku belum paham banyak, apalagi untuk menjelaskan di depan orang-orang penting dalam sebuah meeting, gemetaran. Takut salah." Wafi mengutarakan semua ketidaknyamanannya, tidak semuanya. Ada hal lain juga yang sangat menganggu nya, semua orang di kantor sudah tahu tentang masa lalunya, kasusnya, dan dia yang sekarang mantan narapidana. Banyak yang menyepelekannya, dan menghina di belakangnya. Para karyawan bermuka dua pun semakin bermunculan, hanya untuk sekedar mendekati agar bisa naik posisi.


”Sabar, gak ada pekerjaan yang mudah. Semuanya capek, bikin stress.” Raihanah menimpali dan Wafi mengangguk sambil tersenyum.


”Bener apa yang umi kamu bilang, nanti juga terbiasa,” ucap Noah dan Wafi diam. Tatapan Noah kini beralih kepada Raihanah.” Rai, aku besok pulang.”


”Cepet banget om, beberapa hari lagi aja di sini." Timpal Afsheen.


”Kami udah kelamaan di sini, banyak kerjaan,” tutur Jane menjelaskan.


”Ya udah deh, gak apa-apa. Hati-hati di jalan.” Raihanah berseru dan Noah menganggukkan kepalanya.


”Mau nambah lagi?” tanya Bayyin kepada suaminya yang baru makan sedikit.


”Enggak neng." Musa menjawab pelan.


”Jangan malu-malu, tambah lagi aja. Makan nya baru sedikit.” Raihanah berucap sambil meletakkan nasi kembali ke atas piring menantunya, Musa tersenyum dan tidak memiliki pilihan lain selain menghabiskannya.


Setelah sarapan bersama, Wafi dan Shafiyah bersiap untuk pergi. Keduanya akan pergi ke Bandung kota, ke rumah orang tua Shafiyah. Raihanah sudah menyiapkan rantang berisi makanan, dan kue di rantang satunya lagi. Seperti apapun besan nya, Raihanah tidak bisa mengabaikan begitu saja. Wafi selesai bersiap lebih dulu, pria tidak membutuhkan waktu banyak untuk bersiap, berbeda dengan perempuan. Contohnya sekarang Shafiyah yang tak kunjung selesai, dia masih sibuk mengatur kerudung pashmina nya. Wafi perlahan menghampiri, memeluk tubuh tinggi dan langsing istrinya itu dari belakang.


”Aa, Fiyah susah mau pakai kerudungnya.” Shafiyah berusaha berontak tapi suaminya tidak mau melepaskan.


”Masih sakit gak?” tanya Wafi berbisik. Kedua mata Shafiyah membulat, apa ini? jangan sampai suaminya itu meminta jatah sebelum pergi.


”Iya masih,” ucapnya menjawab.


”Ah bohong,” ujar Wafi lalu mencium bahu Shafiyah dan membuat gadis itu bergidik ngeri.


”Kan mau pergi, jangan a.” Shafiyah berusaha maju, menghindar tapi Wafi menarik perutnya.


”Ya udah nanti kalau pulang." Bisik Wafi dengan suara serak.


”Dih, kan udah kemarin malam.” Shafiyah kesal.


”Ya itu mah beda atuh yang, masa cuma sekali, harus berkali-kali. Biar cebong nya cepat bersarang di rahim kamu.” Wafi tersenyum simpul, lalu mendaratkan bibirnya di pucuk kepala istrinya, menciumnya sekilas.


”Cebong anak katak kan?"

__ADS_1


”Anak rusa.” Wafi berkelakar lalu melepaskan pelukannya. Membiarkan Habibah nya bersiap, dia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan. Setelah Shafiyah siap, dia meraih tas nya.


”Ayo a, naik motor ya?” Shafiyah melangkah mendekati suaminya itu. Wafi meraih tangannya perlahan-lahan dan Shafiyah tersenyum.


”Pakai mobil aja ya, mendung. Takutnya hujan.”


”Ya hujan-hujanan.”


”Enggak, nanti kamu sakit,” ucapnya sangat khawatir. Akhirnya Shafiyah mengangguk dan Wafi mengajaknya keluar dari kamar.


*******


Di kediaman Chairil dan Khalisah, suasana tegang terjadi. Apa yang dikatakan Khalisah kemarin dengan santriwati sampai ke telinga semua orang, memalukan dan membuat Chairil kecewa. Harusnya, Khalisah belajar dari yang sudah-sudah. Lisan nya yang terlalu sering menyakiti perasaan orang lain, Chairil bahkan semakin takjub kepada sepupunya, gus Mu. Pria itu bisa saja membalas istrinya, tapi tidak. Gus Mu tak akan pernah melakukannya, menyakiti perempuan tidak dilakukan oleh pria sejati.


Raut wajah Khalisah nampak tegang, melihat sikap suaminya yang mendadak berubah. Apa salahnya kini? kenapa suaminya seperti marah padanya.


”Abi kenapa sih?" tanya Khalisah memberanikan diri.


”Masih belum sadar juga?” tegas Chairil dengan nada tinggi.


”Ya biasa aja dong ngomongnya, jangan bentak-bentak.”


"Enggak bentak-bentak, siapa yang begitu? pikirkan sendiri, apa kesalahan kamu. Sampai aku kesal.” Geram Chairil sampai Khalisah menunduk takut sekarang.” Jangan bikin masalah, udah aku bilang kan? kalau kamu begini terus, mending gak usah datang ke pesantren. Apa gak cukup bikin aku malu Khalis?”


”Maksud kamu apaan si? aku gak ngerti!” suaranya serak, di susul buliran bening yang satu-persatu menetes ke pipinya.


”Apa yang salah sih a? semua ucapan aku bukannya sesuai kenyataan, aku gak ghibah kok." Berusaha membela diri.


”Asstaghfirullah Khalisah,” ucap Chairil begitu frustasi.” Ucapan kamu itu gak pantas, bikin sakit hati orang.”


”Mereka yang baperan, harusnya mereka tahu diri, uwa kamu juga. Dia punya anak mantan napi, diomongin gak mau, anaknya juga mantan napi tapi gak tahu diri.” Seru Khalisah lantang, kedua mata Chairil memerah menahan amarah, tubuh besarnya kini bangkit dan telapak tangan kirinya menghantam meja.


Brak!!!!! suara gebrakan yang begitu nyaring, Khalisah sampai tersentak. Belum pernah Chairil seperti itu padanya.


”Tega ya kamu, bersikap begini sama aku,” lirih Khalisah.


”Jangan sampai aku pulangkan kamu Khalisah, sekali dua kali malah keterusan. Istighfar Khalis, gak semuanya yang kita pikirkan harus kita ucapkan, apalagi hal buruk. Menyakiti orang lain,” tutur Chairil sambil menatap istrinya itu tajam, otot-otot di lehernya menegang, betapa marahnya ia saat ini karena perilaku buruk istrinya.


Tangannya terus terkepal kuat.


”Aa dengerin aku...”


Chairil langsung melangkah pergi karena dia tidak melihat raut wajah kesadaran di wajah cantik istrinya. Begitu susah gadis itu dibuat sadar, Chairil malu dan kecewa. Melihat suaminya pergi begitu saja, Khalisah hanya bisa menunduk dan terus menangis.


*****


Di sisi lain, Wafi dan Shafiyah sudah sampai di Bandung kota. Keduanya berdiri di depan pagar rumah besar orang tua Shafiyah, pak satpam tak kunjung membukakan pintu, karena dia diperintahkan untuk tidak mengizinkan Wafi masuk. Sementara Shafiyah tidak mungkin meninggalkan suaminya.

__ADS_1


”Biar saya yang bicara sama ibu saya mang,” tutur Shafiyah.


”Maaf neng, gak bisa. Mamang takut dipecat,” lirih pria paruh baya itu. Tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya sebatas mencari nafkah dan harus menuruti majikannya.


”Ya gak mungkin dong suami saya ditinggal di luar. Dia bagian keluarga ini juga mang, dia suami Fiyah,” ucap Shafiyah meradang.


”Sayang sayang, hei. Kenapa marah, gak apa-apa aku mah. Kamu masuk ya, aku tunggu di sini. Ibu pasti seneng lihat kamu,” ucap Wafi sambil merangkul pinggang istrinya lembut. Shafiyah sudah berkaca-kaca, perintah apa ini? kenapa ibunya sampai tega mencegah suaminya masuk.


”Enggak bisa a, kamu harus masuk juga. Aku gak mau, kalau kamu gak bisa masuk," suara Shafiyah berat. Wafi lekas menyeka air mata istrinya itu, dia begitu sedih melihat istrinya menangis.


”Jangan nangis, udah. Gak apa-apa, masuk ya.”


”Enggak mau." Shafiyah tetap tidak mau dan terus menggeleng kepala.


Dari dalam rumah, Sara memperhatikan dari balik kaca jendela. Akhirnya dia melenggang keluar dari rumah, dan kedua tamu yang tak lain anak dan menantunya itu memperhatikannya. Shafiyah terus menatap ibunya sendu, berharap bisa meluluhkan hati ibunya yang begitu keras untuk memberikan restu. Raut wajah Sara tidak menampakan penerimaan, tatapannya terus mengintimidasi menantunya.


”Bu,” ucap Shafiyah dengan suara berat.


”Assalamu'alaikum bu.” Wafi berucap begitu sopan.


”Jangan panggil saya ibu!" teriak Sara." Saya gak sudi kamu panggil begitu, ngapain kalian kesini?”


"Bu, tolong jangan begini.” Pinta Shafiyah sambil memegang pagar yang tak kunjung dibuka itu.” Buka Bu, Fiyah mau masuk. Fiyah kangen sama ibu. Ibu sampai gak datang ke pernikahan Fiyah sama a Wafi. Apa ibu beneran marah sama Fiyah? sampai dihari bahagia anak perempuan ibu ini, ibu gak mau datang,” sambungnya lirih.


”Mana mungkin seorang ibu membenci putrinya, tapi sangat mungkin jika putrinya tidak tahu diri dan lebih memilih pria kriminal seperti suami kamu itu. Kalau kamu datang sendiri, kamu boleh masuk. Tapi laki-laki itu, jangan harap bisa menginjakkan kakinya lagi di rumah ini. Ibu gak mau, lantai rumah ini kotor karena dosa seorang pembunuh.”


”Ibu!!” jerit Shafiyah dan tangisannya semakin menjadi-jadi. Wafi merangkul dada istrinya itu dan memenangkannya.” Tolong, cukup. Fiyah gak suka suami Fiyah di hina hina begini, Gus Mu baik. Gak sejahat yang seperti ibu pikirkan, cukup Bu. Jangan hina suami Fiyah, dia suami Fiyah sekarang dan ibu harus mau menerima itu!” tegas Shafiyah, dia tidak sanggup lagi mendengar caci maki yang diarahkan kepada suaminya, dari keluarganya, bahkan dari ibunya sendiri.


”Ya sudah kalau begitu, mending kalian pergi. Pergi!!!!” teriak Sara begitu keras. Para tetangga yang mendengar suara dari rumah besar tersebut panik, takut ada bahaya atau yang lainnya. Shafiyah merasa hancur, melihat ibunya seperti itu.


”Pulang ayo," bisik Wafi sambil memeluk tubuh istrinya yang lemas itu. Herman yang baru datang dan langsung melihat istrinya berteriak-teriak panik, dia keluar dari mobil dan setengah berlari mendekati anak dan menantunya.


”Apa ini Sara? berisik, bikin malu kamu!" tegas Herman dan kedua matanya melotot kepada istrinya itu.


”Dia yang bikin malu keluarga kita.” Tunjuk Sara kepada Wafi dan Wafi hanya bisa pasrah, mau bagaimana lagi dia. Membantah pun tiada guna.


”Asstaghfirullah, Sara cukup!" bentak Herman tapi istrinya sama sekali tidak perduli.


”Hiks.” Shafiyah terus menangis dan Wafi memeluknya. Sara sangat tidak suka melihat anaknya disentuh Wafi, di peluk seperti itu.


”Kita pulang ya." Ajak Wafi dan Shafiyah hanya menangis.


”Sayang, pulang nak. Jangankan kamu, fajar kakak kamu aja kalau kesini di usir ibu kamu terus. Untuk sekarang jangan kesini dulu, nanti ayah temuin kamu ke rumah ya. Pulang ya nak," tutur Herman membujuk. Untuk kebaikan anaknya, dia lebih baik meminta putrinya menjauh untuk sekarang.


”Cih!” desis Sara, dia bahkan meludah, menghina Wafi begitu parah. Lalu melangkah cepat dan masuk ke dalam rumahnya.


”Tolong bawa anak saya pergi." Pinta Herman sambil menepuk bahu Wafi. Wafi mengangguk mengiyakan, Herman pergi masuk ke dalam rumah untuk menemui istrinya, menegur istrinya jika kelakuan nya semakin tidak waras sekarang.

__ADS_1


”Sayang ayo, banyak orang, banyak yang lihat. Malu, ayo.” Wafi berbisik, menarik dan merengkuh tubuh istrinya itu perlahan, untuk segera pergi meninggalkan kediaman mertuanya. Shafiyah hanya bisa menerima, padahal dia begitu merindukan kedua orang tuanya. Tapi nyatanya, ibu masih sibuk dengan status suaminya. Sara sangat merasa malu, kabar pernikahan sederhana dan diam-diam putrinya dengan mantan napi itu tersebar luas. Klien, pegawai dan teman-temannya tahu, dia diejek habis-habisan. Tapi prilakunya kepada Gus Mu sangat tidak bisa dianggap wajar apalagi benar.


__ADS_2