Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 68: Cemberut


__ADS_3

Shafiyah duduk di sofa, memasang muka masam dan terus melirik keluar, ia sedang menunggu kepulangan Wafi.


”Neng, umi mau ke madrasah dulu.” Raihanah pamit.


”Emang ada acara majelis taklim ya mi hari ini? kok Fiyah gak tahu." Sahut gadis itu kebingungan.


”Enggak, umi cuma mau ngobrol aja sama ustadzah Zaenab,” ujarnya menjelaskan dan Shafiyah mengangguk.


”Hati-hati ya mi."


”Iya, assalamu'alaikum."


”Wa'alaikumus Salaam."


Raihanah pun akhirnya pergi, dan Shafiyah diam di tempatnya sambil memperhatikan. Wafi akhirnya pulang, pria itu mengobrol sejenak dengan uminya, menanyakan kemana uminya hendak pergi. Tidak lama, Raihanah melanjutkan perjalanannya menuju madrasah. Dan Wafi melangkah masuk ke dalam rumah, yang pintunya terbuka itu. Dia tersenyum saat melihat Shafiyah sedang duduk di sofa.


”Assalamu'alaikum sayang, aku bawa makanan yang kamu mau, kerang hijau, es Doger, sama susu, terus cemilan juga.” Wafi langsung mengeluarkan dan memperlihatkan apa yang dia bawa ke atas meja.


”Wa'alaikumus Salaam." Shafiyah menjawab begitu ketus. Wafi terdiam dan senyumannya memudar. Dia perhatikan istrinya yang sedang cemberut itu.


”Kenapa cemberut si? udah aku bawain semuanya buat kamu sayangku. Senyum dong, masa begitu sih suami pulang, tangan aku juga belum di sun," ujarnya protes. Lalu menyodorkan lengannya, Shafiyah meraihnya, lalu menciumnya dengan kasar." Sayang, kamu kenapa si?” sambungnya bertanya sambil cengengesan.


”Jangan ketawa, lagi kesel juga. Abi punya hubungan apa sama Ning Sabilla?" tuturnya serak dan Wafi terkejut mendengarnya.


”Hubungan apa yang? gak ada hubungan apa-apa, dia sepupu aku."


”Bohong banget."


” Asstaghfirullah hal adzim, Shafiyah Ummu Habibah. Enggak percaya? emang siapa yang bilang aku sama dia punya hubungan, aku samperin!” ucapnya tandas, memperlihatkan jika semua tuduhan tersebut tidak benar. Shafiyah hanya menunduk, Wafi bangkit, pindah ke sofa yang sama dengan istrinya.” Siapa yang bilang aneh-aneh tentang aku sama Sabilla?”


”Dia marah sama aku, dia seolah-olah bilang kalau aku merebut Gus Mu dari dia. Aku gak tahu apa-apa, tapi emang agak aneh, waktu Gus Mu disangka suka sama Khalisah, Ning Sabilla sering menghukum Khalisah.” Shafiyah menjelaskan semuanya, bibirnya mencebik dan Wafi mengigit bibirnya, menahan senyum. Habibah nya sedang cemburu, begitu menggemaskan kalau sedang cemberut begitu.


Cup! Wafi mengecup bibir istrinya sekilas dan Shafiyah tersentak.


”Ah abi mah, lagi cerita juga!” jeritnya kesal dan memukul bahu suaminya berkali-kali, Wafi tertawa renyah dan membiarkannya.” Kesel!" jerit nya frustasi dan Wafi lekas memeluknya.


”Maaf neng, kamu lucu banget kalau lagi Cemberut, tapi jangan lama-lama juga, senyum dong. Aku belum lihat senyuman istriku ini yang manis, gigi gingsul nya mana lihat.” Wafi mencondongkan wajahnya dan Shafiyah tetap tidak mau tersenyum, memperlihatkan senyuman manisnya." Sayang, senyum ih.”


”Enggak mau.” Shafiyah merengek, dia menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


”Ya udah iya, ayo di makan, aku udah capek-capek, masa gak di makan si.


”Suapin." Pinta Shafiyah dan mendongak menatap suaminya. Wafi tersenyum dan mengangguk. Shafiyah diam, dan membuka mulutnya saat disuapi, Wafi terus tersenyum. Shafiyah tidak pernah meminta barang berharga, makanan sudah sangat cukup baginya, tapi sebagai seorang suami. Wafi sangat ingin membelikan apapun yang sepatutnya istrinya dapatkan. Jika di sukses, Shafiyah adalah orang kedua yang akan dia penuhi kebutuhannya setengah sang ibu.


******


Keesokan harinya, Wafi berjalan-jalan sendiri, nampak sedang mencari seseorang. Saat melewati aula, dia berpapasan dengan Sabilla dan Romlah. Romlah langsung menunduk, dia gugup apalagi saat Wafi mendekat.


”Assalamu'alaikum, saya perlu bicara sama kamu Sabilla," ucap Wafi langsung ke inti.


”Wa'alaikumus Salaam.” Romlah dan Sabilla menjawab.


”Bicara disini aja, kita bukan mahram, jangan sampai jadi masalah,” ketus Sabilla dan Wafi tersenyum kecut.


”Ngomong apa kamu sama Shafiyah kemarin? dia istri saya, dan kamu sering menghukum Khalisah hanya karena salah paham waktu itu? kamu keterlaluan, berhenti mengagungkan diri sendiri karena gelar Majdi yang kamu miliki. Apa yang bisa kamu bangga kan dengan gelar itu? kakek, Muhammad Farhan Ali Zainul Majdi, yang mendapat nama ini saja biasa aja dari dulu. Jika abah masih ada, dia pasti kecewa. Nama dan gelar yang diberikan para ulama padanya, lalu diturunkan kepada anak, cucu dan cicitnya malah dimanfaatkan. Bangga kamu Sabilla? perbuatan kamu memalukan dan gak pantas!” seru Wafi setengah berteriak. Membuat Sabilla dan Romlah menciut takut.


”Kita bicara di rumah,” ucap Sabilla sambil melangkah. Dia malu karena ada Romlah di sebelahnya.


”Kita bukan mahram, di sini saja!" tegas Wafi dan Sabilla diam.” Kamu disini untuk mengabdikan diri kan? kalau disini hanya untuk cari masalah, silahkan pergi. Ini bukan karena kamu mencari masalah dengan Shafiyah, tapi ini karena sikap kamu yang berlebihan, kamu gak bisa menghukum santri atas dasar tidak suka, dan menyangkut hal pribadi. Dewasa lah sedikit, kamu bahkan lebih tua dari aku Sabilla. Jangan membuat aku repot disini. Jangan ganggu Shafiyah, ataupun sembarangan menghukum Santriwati.” Wafi tak segan-segan memberikan peringatan, Sabilla sudah berkaca-kaca akan menangis. Wafi nampak tidak perduli, jika ada santriwati atau santri yang terluka karena hukuman dari pihak pengurus pesantren, akan menjadi masalah, dan dia tidak mau itu terjadi.


”Gus!" Ikhsan memanggil. Wafi menoleh dan bahunya langsung dirangkul oleh ikhsan. Ikshan takut Wafi lepas kendali, dan Wafi pasrah saat dia dibawa pergi.” Kenapa Mu?" terus melangkah seraya berbisik di telinga Wafi.

__ADS_1


”Si Sabilla bikin gara-gara, itu anak maunya apa si? nyebelin banget, pake acara gangguin Shafiyah.” Wafi mengomel.


”Billa kan udah biasa dia mah, rese terus. Setelah suaminya meninggal, sikapnya makin parah berubah,” imbuh Ikhsan berbisik.


”Dia kayaknya emang udah harus dapat pendamping yang baru. Dia gak bisa terus sendiri, menganggu kenyamanan orang-orang disekitarnya.” Wafi mendengus sebal setelah berbicara. Keduanya terus berjalan bersama, menuju ke masjid.


Di rumah, Shafiyah sedang menikmati rujak dengan Fara. Raihanah hanya menonton dan menikmati kue bolu yang dibawa Fara, tidak seenak buatan putranya.


”Asem banget!” pekik Shafiyah, dengan raut wajah aneh dan dia merasa pipinya ngilu.


”Yang ini aja neng, udah ranum,” kata Fara sambil mengupas buah mangga, yang kulitnya sudah terlihat menguning.


”Asem bi, Fiyah mau buah jambu air nya aja." Shafiyah menawar dan Fara mengangguk.


” Assalamu'alaikum,” suara seorang pria terdengar. Shafiyah menarik niqob nya sampai wajahnya terhalang kembali, begitu juga dengan Raihanah.


” Wa'alaikumus Salaam." Jawab ketiganya.


”Biar Fiyah yang lihat,” kata gadis itu seraya bangkit. Dia mengenali suara itu, suara Fajar kakaknya. Saat Shafiyah keluar dari rumah benar saja, kakaknya dan ayahnya datang. Kedua matanya berair, dan dia langsung memeluk Herman. Herman baru bertemu dengan Shafiyah, dia bahagia saat mendengar kabar bahwa putrinya itu sedang mengandung.


”Gimana kabar kamu nak, sehat?


”Alhamdulillah ayah, aku sehat."


”Syukurlah, kamu jadi gemuk sekarang, ayah mau punya cucu dari kamu sama Wafi. Beneran?"


”Iya ayah, do'ain ya, semoga kehamilan Fiyah sehat sampai melahirkan nanti." Pintanya serak dan Herman mengelus pipi Shafiyah sambil mengangguk-anggukkan kepala.


”Selalu, setiap saat ayah do'ain kamu. Jangan stres, bebaskan semuanya,” ucap nya lembut dan Shafiyah mengangguk. Shafiyah menoleh lalu memeluk Fajar dan Fajar memeluknya.


”Gemuk nya adik kakak sekarang, lucu banget. Untung tinggi.” Ejek Fajar dan Shafiyah memukul dadanya.


”Hush!" tegur Herman dan Fajar terkekeh. Shafiyah tersenyum dan merangkul pinggang ayahnya, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Fara dan Raihanah mempersilahkan begitu ramah.


”Tadi keluar, coba neng telepon si aa." Jawab Raihanah seraya meminta kepada menantunya. Shafiyah mengangguk dan mengirimkan pesan kepada Wafi. Herman diam terpaku menatap foto pernikahan sederhana Shafiyah dan Wafi di dinding, yang baru pajang seminggu yang lalu.


”Silahkan pak,” ujar Fara, meletakkan dua gelas air minum untuk kedua tamu tersebut, dan meletakkan piring berisi kue yang dia bawa tadi.


Di masjid, Wafi langsung bergegas pergi saat mendapatkan pesan dari Habibah nya jika ayah mertua dan kakak iparnya datang.


”Kenapa mendadak ya? bikin was-was.” Gumam Wafi, tangan kanannya mengusap dadanya lembut. Dia sangat khawatir, takut Shafiyah dibawa pergi darinya. Siapa yang tidak akan khawatir, jika memilik ibu mertua dan saudara ipar yang memiliki harta, dan selalu bersikap di luar batas. Wafi berharap, Shafiyah aman, hanya dengannya, dan dia hanya untuknya.


Sesampainya di rumah, Shafiyah tersenyum melihat kedatangan suaminya. Wafi bersalaman dengan Herman dan Fajar, dia melirik sekilas, semua belanjaan yang dibelikan Fajar dan Herman untuk Shafiyah. Dia hanya bisa membuang nafas lemah, bukan merasa tersinggung, tapi hanya terus berpikir, kapan dia bisa membelanjakan barang-barang mahal untuk keluarga dan untuk istrinya.


”Gimana kabar kamu nak?” ucap Herman lemah lembut. Wafi tersenyum tipis, dan Raihanah terdiam mendengar Herman yang begitu baik berbicara padanya anaknya.


”Alhamdulillah baik." Wafi menjawab dan Herman tersenyum.” Ayah gimana?”


”Ayah baik, Shafiyah jadi gemuk begini. Kamu kasih makan apa?” ujar Herman dan Wafi menatap Shafiyah, memperhatikannya dengan seksama.


”Fiyah kan lagi hamil, terus ngemil sama makan, gak apa-apa gemuk juga, gak mungkin kan orang hamil kurus kerempeng,” tutur Shafiyah membela diri. Karena terus disebut gemuk oleh ayahnya, Wafi tersenyum menanggapi.


”Dia tetep cantik,” ucap Wafi memuji, terlontar begitu saja dan Shafiyah melotot.


”Ekhem!” Fajar berdehem cukup keras dan Wafi tersadar dari lamunannya.


”Mu," ucap Fara sambil menahan tawa.


”Hmm apa?" Wafi bingung dan melirik Shafiyah yang menatapnya sinis. Herman terus cengengesan dan membelai pucuk kepala anaknya.


****

__ADS_1


Di toko kosmetik Sara. Wanita itu sedang memilih dan memilih skincare yang sering di pakai Shafiyah, ditemani managernya yang mengikuti.


”Apa anak saya ada datang?” tanya Sara tanpa menoleh.


”Enggak ada Bu, terakhir kali, waktu ada masalah.” Jawab sang manager. Setelah kejadian Shafiyah yang diragukan oleh salah satu pegawai, dan pegawai tersebut sudah dipecat, gadis itu tidak pernah datang lagi.


Sara menghela nafas panjang mendengarnya, lalu memberikan keranjang berisi skincare kepada managernya.” Packing, kirimkan ke alamat ini." Titahnya dan memberikan alamat pesantren Al Bidayah. Managernya pun mengangguk mengiyakan. Lalu pergi meninggalkan Sara.


Sara diam, melamun, hubungannya dengan Herman semakin renggang, dengan Shafiyah apalagi, dia sangat terpuruk saat ini.


*****


Kembali ke pesantren Al Bidayah, Herman dan Wafi sedang berjalan-jalan berdua. Membicarakan kehamilan Shafiyah, dan Herman juga penasaran kenapa Wafi berhenti bekerja.


”Apa Shafiyah sudah di USG?" tanya Herman.


”Belum, in sha Allah nanti. Kalau udah 6 bulan, diajak juga Fiyah gak mau kalau sekarang,” tutur Wafi menjawab.


”Terus, gimana pekerjaan kamu?"


”Aku ada rencana mau buka toko kue, lagi cari tempat yang strategis. Mohon do'anya ayah, untuk kelancaran semuanya.” Wafi menjawab ragu-ragu.


”Pasti, mencari tempat strategis emang susah, kalau mau. Ada toko kosong di dekat sekolah SMA negeri xxx, dekat pasar dan dekat pabrik juga. Itu tempat strategis, rame terus. Kamu mau buka di sana?" tuturnya memberikan saran yang baik, untuk kebaikan Wafi dan Shafiyah.


"Harga sewa perbulan berapa ya yah? kalau boleh tahu.”


”Issh kamu!” Herman kesal dan menepuk bahu menantunya itu." Pakai aja, udah lama kosong, sekitar 6 bulan, itu milik ayah. Cuma mungkin kamu bisa mengecat ulang, supaya lebih bagus kelihatannya.”


”Aku harus tetep bayar ayah, aku mau usaha, bukan mengais gratisan.” Wafi terus tersenyum tipis dan menolak.


”Enggak Mu, tolong diterima. Hanya ini yang ayah bisa bantu, jangan ditolak, itu tempat udah bagus, daripada kamu cari tempat lain. Gak jauh dari kampus juga, umpamanya Shafiyah pulang kuliah nyusul kamu, itu gak jauh. Kamu bisa lihat dulu, kalau gak cocok ayah carikan toko yang lain.” Herman bersikukuh, mungkin itu cara untuk menebus kesalahannya, walaupun sedikit.


”Tapi...”


”Ayah punya kesalahan di masa lalu, hanya dengan ini, mungkin ayah bisa sedikit tenang sebelum tiada."


”Ayah kenapa bilang begitu, umur gak ada yang tahu, mungkin juga aku lebih dulu. Kita gak bisa menerka-nerka, kapan itu terjadi."


”Iya benar, mangkanya tolong bantu ayah sedikit keluar dari rasa bersalah."


”Emang ayah bikin salah sama siapa?" Wafi penasaran.


Herman terdiam, berhenti melangkah dan Wafi juga berhenti. Keduanya saling menatap lekat saat ini.


”Berhan Embrace, kakek kamu." Herman berseru seraya menjatuhkan tangan di bahu menantunya. Wafi terdiam, tatapannya berubah, semu wajahnya apalagi." Ayah akan jelaskan semuanya," sambungnya lirih, agar Wafi tidak salah paham, ataupun memikirkan hal buruk tentangnya.


di teras rumah, Fajar dan Shafiyah sedang mengobrol, sambil menunggu kembalinya Wafi dan Herman.


”Kamu butuh apa neng? bilang sama kakak," ujar pria itu dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Enggak butuh apa-apa kak.” Shafiyah menjawab sambil tersenyum.


”Mau belanja baju bayi?” tanya Fajar lagi.


”Kan masih lama kak.” Shafiyah menatap Fajar sambil melongo.


”Ya enggak apa-apa, atau mau apa? nanti kalau ada waktu kita jalan-jalan ke mall ya neng," imbuhnya lembut, dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Mau nya sama a Wafi." Ia menawar.


”Ya udah ajak aja, emang kenapa si." Fajar memberikan persetujuan dan Shafiyah tersenyum.

__ADS_1


”Bener?" tanya Shafiyah lagi.


”Iya, nanti kita atur waktu dulu. Jaga diri ya neng, jangan stres,” suara Fajar serak. Dia sangat khawatir, apalagi dengan tindakan Sara terakhir kali. Shafiyah hanya mengangguk dan tersenyum. Keduanya diam kembali, Shafiyah menikmati cemilannya, Fajar dan Herman membawa banyak cemilan dan buah-buahan, baju yang baru juga, setelah Shafiyah mengatakan dia mengalami ***** makan yang meningkat dan kenaikkan berat badan yang drastis.


__ADS_2